Yang Mereka Lakukan Hanyalah Ber-kepedulian

Selasa, 22 Januari 20190 komentar


Yang Mereka Lakukan Hanyalah Ber-kepedulian
 
Suatu ketika mereka membagi sarapan gratis kepada kaum dhuafa. Tumpukan bungkusan nasi itu merupakan hasil urunan mereka. Ada yang urun nasi, ada yang urun lauk dan lain sebagainya sehingga menjadi sebungkus nasi komplit siap untuk di santap. Tidak berhenti sampai disitu, mereka pun menabung sisa belanja sehari-hari di rumah, mengumpulkannya dan kemudian dijadikan paket baksos (baca : bhakti sosial)  yang di bagikan ke kawasan-kawasan pinggiran dimana ada kelompok masyarakat yang hidupnya tergolong kurang beruntung. Kepedulian itu ternyata tidak berhenti sampai di situ saja,  mereka pun berinisatif  men-solusikan persoalan beberapa siswa/i yang sedang kesulitan menunaikan kewajiban di sekolah karena keluarganya sedang mengalami kesluitan ekonomi. Tidak terhitung sudah berapa kali mereka melakukannya. Uniknya adalah ketika si penerima (siswa/i dan juga orang tuanya) pun tidak pernah tahu siapa yang sudah melunasi kewajibannya di sekolah. Mereka tidak ingin siswa/i penerima bantuan itu merasa minder karena keadaan ekonomi keluarga yang  kurang berpihak.  Cara ini mereka pilih demi menjaga semangat siswa/i tersebut untuk tetep belajar dan menuntut ilmu. Disisi lain, cara ini juga bentuk menjaga kemurnian niat dalam melakukan kebaikan.  

Semua berlangsung alamiah dan terus tumbuhkembang seiring menguatnya pegalaman spiritual dari setiap orang yang melibat di setiap aksi kebaikan berlangsung. Mungkin saja semua melakukan aksi serupa (misalnya memberi sarapan pagi gratis), namun bisa saja mendatangkan pengalaman spiritual yang berbeda antara satu dengan lainnya. Namun demikian, saat kebanyakan mereka memilih tetap berada dalam barisan Annisa Community, mungkin tidak berlebihan berkesimpulan bahwa mereka telah menemukan hikmah yang menentramkan dari ragam kebaikan yang mereka persembahkan, sehingga berbuat baik telah menjadi satu kebutuhan.  

Tidak  ada yang memerintahkan untuk memulai dan atau mengulangi nya untuk kesekian kali. “ semua ini dilakukan bukan untuk pujian yang bisa melambungkan atau membawa pada posisi kemuliaan tertentu di mata manusia lainnya, tetapi semata-mata ingin belajar berkepedulian dan keinginan kuat dipedulikan Tuhan. Berbagi atau berkepedulian bukanlah aksi menandaskan lebih baik daripada si penerima, tetapi bentuk rasa syukur dan belajar berbagi kebahagiaan walau dari memulainya dari hal-hal sederhana”, ungkap salah satu anggota yang tidak berkenan namanya dituliskan dalam artikel ini. “Sepi dari pemberitaan dan jauh dari hiruk pikuk publikasi, mungkin kalimat ini tepat menggambarkan segala hal yang telah mereka lakukan”.

Mereka merupakan ibu-ibu yang layak dicap  super keren, walau mereka pasti tidak berharap pujian semacam itu. Sebagai simbol spiri yang mempersatukan dan menguatkan semangat, mereka mendefenisikan kelomponya dengan istilah   Annisa Community”. Mereka dipersatukan oleh kesamaan status sebagai wali murid di lingkar SD Al Irsyad Alislamiyyah 02 Purwokerto, Mereka sering bertemu dan bercengkrama di sekitar pagar sekolah sambil menunggu bel pulang  berbunyi.  Komunitas yang berisi kaum ibu ini sebagian besar  berprofesi sebagai “pendo’a paling mujarab” bagi perjuangan suami dalam menunaikan tugasnya sebagai kepala rumah tangga.  Dalam kesehariannya, mereka selalu membaur dengan lainnya. Mereka juga  mempersilahkan siapa saja yang ingin bergabung sepanjang bersedia dan sanggup menjaga pagar-pagar spirit dan panji-panji perjuangan yang sudah menjadi tradisi dan menubuh ke dalam diri anggota komunitas.  

Sebagai catatan akhir,  awalnya redaktur pun mengalami kesulitan mendapat izin  untuk menuliskan  segala hal baik nan inspiratif yang telah mereka torehkan. Alasan mereka sederhana saja, “khawatir merusak niat”. Namun demikian, ketika ditandaskan bahwa penyusunan tulisan dimaksudkan untuk menginspirasi lebih banyak orang untuk melakukan kebaikan, akhirnya mereka pun berkenan dengan harapan semakin banyak orang yang tergerak men-solusikan ragam keresahan yang kerap mewarnai keseharian sebagian anggota masyarakat. Anak-anak usia sekolah perlu memiliki percaya diri di ruang kelasnya tanpa perlu terganggu dengan persoalan uang sekolahnya yang menunggak, sebab diluar sana banyak yang ber-kepedulian dan ber-kemauan untuk berbagi.  

Dari berbagai hikmah, pelajaran dan inspirasi dari serangkaian aksi heroik tersembunyi yang mereka lakukan, ada satu pelajaran menarik dimana kolektivitas (baca: kebersamaan) yang berujung dengan penggabungan sumber daya, telah membuat aksi kepedulian melebihi imajinasi awalnya. Siapa yang menduga akumulasi sumber daya dari kaum ibu ini pun bisa berkontribusi dalam bedah rumah.  Andai saja semakin banyak orang yang bergabung dan atau melakukan hal serupa di tempat-tempat lain, maka hal ini bukan saja tentang menyelesaikan persoalan dan keresahan masyarakat, tetapi juga menyentuh ke titik penguatan persatuan dan kesatuan bangsa.



Mungkin di luar sana masih banyak praktek  serupa  berangkat dari kepedulianyang belum tersajikan dalam tulisan, semoga tulisan sederhana ini melengkapi tulisan-tulisan yang sudah ada dan juga berharap bisa memantik kehadiran tulisan-tulisan serupa yang menandaskan bahwa aksi-aksi kegotongroyongan itu masih kental di lingkar keseharian masyarakat Indonesia ditengah derasnya godaan individualisme dan egoisme yang menggirik untuk asik dengan diri sendiri.  



berita serupa : klik disini  dan klik disini

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved