KALA PARA LANSIA ITU MENGHUJAM RASA & MENYISAKAN TANYA

Selasa, 22 Januari 20190 komentar


KALA PARA LANSIA ITU MENGHUJAM RASA & MENYISAKAN TANYA

Terdiam, terhenyak dan kemudian terduduk lemes tak bertenaga.  Itulah sederetan kecamuk rasa yang  hadir di kalangan personil Annisa Community (AC) yang ikut dalam agenda baksos (bakti sosial) ke perkampungan lansia  Sudagaran  di Kecamatan Banyumas. 

Pada wajah-wajah lansia itu, mereka mendapati kesan kesepian yang begitu dalam. Sebagian penghuni tampak masih meinginginkan  kehidupan  normal  dan menjauhi realitas keseharian  barak yang kerap diwarnai dengan bau beragam. Hunian yang sebenarnya sangat baik dan layak ini kerap kali menjadi bau dikarenakan ngompol yang tidak terkontrol dan bahkan pub yang tidak terencana dari penghuni yang memang sudah ujur.  Sebagian lagi menunjukkan wajah pasrah karena ketiadaan pilihan sehingga mengikhlaskan diri. Sebagian lagi terlihat sudah terlatih berdamai dengan keadaan. Adapula wajah renta itu seperti sudah berketetapan hati memilih panti asuhan sebagai tempat terakhir untuk menyaksikan geliat dunia di sisa umurnya. Ragam makna wajah-wajah keriput itu pun seperti mewakili  musabab  yang membawa mereka berstatus penghuni.

Mungkin saja mereka terpaksa berada di camp ini karena keliru memilih jalan hidup saat masih bertenaga. Mungkin juga sebagian karena sanak keluarga tidak kunjung memiliki kelonggaran hati untuk merawatnya. Atau bisa saja keruwetan ekonomi anak-anak yang dilahirkannya tak mencukupi untuk berbagi dan mengurusnya dengan baik. Atau bukan tidak mungkin sebagian dari mereka merasa lebih dimanusiakan dalam pondok ini karena anak dan cucunya terlalu asik dengan kehidupan mereka sendiri. Ragam hipotesa ini pun berujung pada satu tanya besar di benak personil AC, “bagaimana kehidupan tuaku nanti?”.

Merenung dan merancang” menjadi respon alam bawah sadar. Berkeinginan untuk mendapati hari tua yang tenang dan menentramkan menggiring alam bawah sadar untuk merangkai langkah ke depan, melukis hari tua di ruang panti jompo membawa personil AC terpaku diam di sudut ruang.  Kegembiraan suasana memecah lamunan. Kemampuan Pak Kardi selaku petugas dalam membangun keceriaan membuat semua larut dalam lantunan lagu yang dibawakan oleh salah seorang penghuni panti. lagu Ebit G Ade bernada kesendirian seolah bentuk kejujuran tentang rasa yang sering menyelimuti hari-hari mereka.    

Sesudah perwakilan dari ibu-ibu orang tua/murid level VI SD Al Irsyad Al Islamiyyah 02 Purwokerto yang terhimpun dalam AC itu menyerahkan sekedar bingkisan kepedulian, mereka pun berpamitan pada para penghuni dan kemudian meinggalkan panti jompo milik Pemkab Banyumas ini. Tidak lupa para insan AC juga membeli keset hasil kerajinan para lansia itu. “ini bentuk mengapresiasi dan sekaligus menyemangati mereka”, ungkap salah satu personil AC.  

Sepertinya, Baksos kali ini tidak saja tentang kepedulian, tetapi juga menjadi semacam perjalanan spiritual yang memberi pesan banyak tentang hidup, khususnya relevansi antara cara hidup yang dipilih saat ini dengan warna hidup kala tua renta yang pasti tiba pada waktunya dan tidak mungkin tertolak
    
Selasa, 22 Januari 2019
camp lansia Sudagaran yang meng-inspirasi

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved