KETIKA DISPERINDAG KAB.BANYUMAS MEN-SINERGIKAN PARA PELAKU INDUSTRI

Senin, 07 Desember 20200 komentar

 KETIKA DISPERINDAG KAB.BANYUMAS MEN-SINERGIKAN 

PARA PELAKU INDUSTRI   


Hari ini, 08 Desember 2020, Dinas Perindustrian dan Perdagangan menggelar Forum Temu Usaha Antara Industri Kecil Dengan Menengah/Besar di Wilayah Kab, Banyumas. Agenda yang diikuti oleh 20 Pelaku IKM (Industri Kecil Menangah) ini tergelar di Aula DIsperindagkop Kab. Banyumas. Agenda ini juga menghadirkan 2 (dua) narasumber, yaitu : (i) Bapak Drs.Purwadi Santoso,M.Hum, Assekbang Sekda Kab.Banyumas dan; (ii) Muhammad Arsad Dalimunte, Sekjen Kadin Banyumas.

Bapak Amin,SE selaku penangungjawab pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa pelaksanaan kegiatan ini dimaksudkan untuk:  (i) meningkatkan pengetahuan IKM terkait pentingnya membangun jejaring; (ii) terjalinnya kenitraan bisnis antara Pelaku Industri Kecil dengan Pelaku Industri Menengah/Besar di Lingkungan Kab. Banyumas.


Dalam sambutannya, Bapak Drs.Junianto,MM  selaku Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Banyumas, menandaskan perlunya peningkatan jiwa kewirausahaan yang senantiasa kreatif dan  berujung dengan produktivitas berkelanjutan. Beliau juga menyampaikan bahwa agenda ini merupakan bagian dari wujud fungsi negara, yaitu pemberdayaan. Sejalan dengan itu, beliau berharap seluruh peserta memaksimalkan momen ini secara maksimal, khususnya dalam mengakelerasi tumbuhkembang para pelaku IKM.  Dipenghujung, beliau menyampaikan bahwa dikarenakan masih dalam kondisi Pandemi Covid-19, kepesertaan dibatasi hanya 20 (dua puluh) orang. 


Bapak Drs.Purwadi Santoso,M.Hum membincang tentang Peran Pemerintah dalam meningkatkan peran pelaku IKM kaitannya dengan perekonomian di lingkungan Kab. Banyumas. Beliau menandaskan perlunya akselerasi tumbuhkembang IKM melalui aksi-aksi pemberdayaan.   Dalam slide presentasinya, beliau menyajikan data bahwa jumlah UKM 86.000 dengan jumlah IKM 40.000 (80% berbasis pertanian). Sementara itu, beberapa persoalan industry dijelaskan sebagai berikut; (i) produktivitas; (ii) link dengan  industry besar; (iii) akses perlindungan; (iv) akes permodalan dan; (v) akses teknologi. Menurut beliau, posisi IKM sangat sentral karena berkaitan dengan produk. IKM juga sangat strategis ditinjau dari skenario pembangunan ekonomi. Beliau juga menjelaskan bahwa penghentian impor jagung dan kedelai oleh pemerintah dimaksudkan untuk mendorong para petani lokal tumbuhkembang. Petani harus berani melawan arus dengan menciptakan kreativitas dan terobosan baru sehingga melahirkan nilai tambah yang lebih men-sejahterakan. Hal ini mengingat bahwa mulai dari bibit, pupuk dan paca panen sudah dikendalikan.  Bapak Purwadi Santoso juga menyoroti tentang etos kerja IKM yang perlu terus ditingkatkan sehingga produktivitasnya naik secara dinamis dan berkelanjutan. Disamping itu, Bapak Purwadi mendorong agar para pelaku IKM untuk memiliki assosiasi sehingga lebih kuat dan terlindungi. Melalui assosiasi, para pelaku IKM bisa menghimpun persoalan  


Sementara itu, Bung Arsad yang mengangkat tema seputar pembangunan dan maintenance relasi bisnis, dalam presentasinya menandaskan perlunya setiap pelaku usaha mengembangkan jejaring kerjanya.  Untuk itu, para pelaku IKM harus membangun komunikasi pada siapa saja, “positif thinking tanpa menghilangkan kewaspadaan”, ungkap Bung Arsad. Selanjutnya, Bung Arsad menambahkan.“Teruslah memperluas relasi dan kemudian mendorongnya menjadi kerjasama saling menguntungkan yang berkelanjutan”, ungkap Bung Arsad.  Selanjutnya, Bung Arsad mengingatkan bahwa “tidak akan pernah ada kerjasama tanpa saling percaya”. Untuk itu, setiap pelaku usaha perlu membangun karakter yang layak dipercaya dan berkomitmen tinggi serta memiliki konsistensi. Dengan demikian, semua pihak merasa nyaman dalam kerjasama karena kepentingannya senantiasa terjaga. 


Dipenghujung acara, segenap peserta berdialog langsung  dengan pelaku Industri Menangah/besar yang sengaja dihadirkan oleh DIsperindag Kab. Banyumas, antara lain: (i) PT.Indesco yang bertemu langsung dengan pelaku bisnis rempah-rempah; (ii) Sari Rasa, Chocho Clik dan Omae Nyong dihadirkan langsung untuk bertemu dengan pelaku IKM di sector Makanan dan Minuman dan; (iii) Bapak Kokos yang hadir untuk bertemu dengan para pengrajin bambu. Bapak Kokos juga adalah Ketua Assosiasi Kerajinan Bambu Jawa Tengah.  Diskusi pelaku Industri Kecil dengan Pelaku Industri Menengah/Besar berlangsung gayeng. Setiap peserta mencoba meng-campaign produknya dan kemudian menjajagi kemungkinan untuk bekerjasama berkelanjutan. 

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. ARSAD CORNER - All Rights Reserved