KETIKA IBU SETENGAH BAYA ITU “TAK TERGODA”

Rabu, 29 Januari 20200 komentar


KETIKA IBU SETENGAH BAYA ITU “TAK TERGODA”

Usai mengisi satu acara di sebuah tempat, kulihat jam menunjukkan pukul 10.45 wib. Aku pun bergegas pamitan ke panitia penyelenggara dan langsung menuju parkiran. Aku harus segera bergerak agar bisa mencapai titik agenda berikutnya yang kuperkirakan memerlukan waktu  sekitar 45 menit. Namun, langkahku terhenti seketika kala salah satu panitia berlari kecil mengejarku sambil memanggil. Ternyata beliau membawakan oleh-oleh  berupa makan siang dan snack. Aku pun tersenyum memandangnya, mengucapkan terima kasih sambil memasukkan ke dalam tas rangselku dan kemudian melanjutkan langkahku menuju parkiran.  

Aku memulai memacu kendaraan roda duaku dengan kecepatan lebih dari biasanya karena khawatir terlambat. Namun, aku terpaksa menurunkan kecepatan dan kemudian berhenti saat akan melewati pertigaan dimana beberapa kendaraan terlihat sudah siap-siap menyeberangi jalan. Saat berhenti dan mempersilahkan mereka menyeberang, aku melihat ada becak dibarisan paling belakang antrian kendaraan itu. Seketika aku ingat oleh-oleh yang dibawakan panitia dan kemudian ter-ide berbagi padanya. Bukannya aku menolak pemberian oleh-oleh dari panitia, sebab di tempat acara berikutnya juga dipastikan ada agenda makan siang, sehingga membaginya kutetapkan sebagai pilihan yang paling menarik untuk dilakukan. Untuk niat itu, aku pun meminggirkan kendaraan dan kemudian menyapa tukang becak itu saat akan melintas didepanku.

Alhamdulillah, sapaanku disambut baik dan tawaranku diterimanya dengan wajah langsung berbinar sambil mengucapkan “maturnuwun” berkali-kali. Tadinya aku sempet khawatir beliau menolak. Hal ini mungkin saja beliau  lakukan sebagai bentuk kewaspadaan mengingat beliau tidak mengenalku sama sekali dan lagi pula aku juga hanya orang lewat yang tengah melintasi jalan. Sesaat kemudian, bapak tukang becak itupun pamit dan menyeberang sambil melempar senyum sumringah padaku. Aku masih ingat kalimatnya yang mendoakan  kemudahan rejeki dan keselamatanku dalam perjalanan. Aku juga masih terbayang kuat tentang wajah yang tengah membinar itu sampai tulisan ini dibuat.

Saat akan melanjutkan perjalanan, terik matahari yang panas cukup membuat silau  dan kemudian berinisiatif  mengeluarkan kacamata hitam dari saku celanaku. Saat sudah kupakaikan dan siap melanjutkan perjalanan, tiba-tiba ada suara seorang ibu setengah baya, “Pak..itu uangnya jatuh”. Ternyata aku tidak sadar beberapa lembar uangku jatuh bersamaan saat aku merogoh saku  mengambil kacamata. Aku pun mengucapkan terima kasih kepada ibu tersebut dan kemudian langsung membungkukkan badanku mengambilnya tanpa harus turun dari kendaraan karena masih terjangkau. Selanjutnya, aku berpamitan padanya dan langsung memacu  kembali kendaraan.

Aku tersenyum-senyum sendiri sambil menjaga konsentrasi sebab sedang memacu kendaraan dikecepatan antara 90 - 100. Tiba-tiba ada perasaan bersalah karena telah melewatkan satu peluang kebaikan yang sungguhnya tengah dibukakan.”mengapa tadi tidak sekalian aku berikan saja uang itu kepada beliau?”, tanyaku dalam hati. Tapi mungkin  saja ditolak karena niat beliau benar-benar hanya ingin memberitahuku agar tidak kehilangan uang. Atau bisa jadi  beliau tadi sempet menyaksikan saat kerdus makanan dan snack dari dalam tasku berpindah ke tangan tukang becak itu?. Ragam tanya tak berjawab sempet menemani perjuanganku memacu kendaraan lebih cepat dari biasanya karena tengah memburu waktu.  Ketimbang terjebak dalam deretan tanya yang pasti tak berjawab, kubangun fikiran positif dan men-simpulkan bahwa  ibu itu adalah orang baik. Bagaimana tidak?. Bisa saja beliau membiarkanku berlalu begitu saja melanjutkan perjalanan dan kemudian mengambil uang itu saat aku sudah beranjak jauh. Disitulah letak kemuliaan sang ibu yang memilih  tidak memandang kejadian kecil itu sebagai peluang mendapatkan uang, tetapi memaknainya sebagai peluang menyajikan kebaikan.  

Aku sendiripun pun berupaya keras untuk tidak terjebak men-simpulkan bahwa kehadiran ibu berikut sikap mulianya itu karena menyaksikanku   saat berbagi makan siang dan snack kepada tukang itu.  Lebih dari itu, Aku pun berusaha menjaga fikiran untuk tidak merasa heroic hanya karena  telah melakukan sesuatu yang mungkin tampak baik dan mulia dipandangan manusia. Sebab, aksi itu sesungguhnya hanyalah   tentang aku yang sedang belajar ber-Tuhan.  Andai  kemudian Sang Tukang Becak merasa bahagia atas  apa yang telah kulakukan padanya, semoga hal itu melipatgandakan keyakinannya bahwa rezeki itu bisa datang dari sudut manapun atas izin dan kasih sayang-Nya   

Pada akhirnya, perjalanan  siang itu mengajarkan bahwa sesungguhnya diantara anggota masyarakat masih bisa saling mempercayai walau hanya bertemu beberapa menit saja. Perkenan tukang becak   menerima sesuatu dari orang yang baru dikenalnya menjadi salah satu contoh-nya. Andai saja sang tukang becak itu berfikir dus yang kuberikan berisi bom atau racun, tentu beliau langsung menolak pemberian itu.  Kemuliaan sikap yang ditauladankan sang ibu tersebut juga menguatkan keyakinanku bahwa  masih banyak orang baik didunia ini dan pada setiap diri manusia selalu ada semangat kebaikan. Ragam hikmah dan pelajaran yang menemani perjalanan  itu pun tercukupkan saat kendaraanku mencapai  tujuan dan kemudian bergabung dengan rapat yang sudah dimulai beberapa saat sebelum kehadiranku.   

Perjalanan yang meng-inspirasi hikmah

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved