KEBERANIAN BERKEPUTUSAN YANG INSPIRATIF

Rabu, 11 Desember 20190 komentar


KEBERANIAN BERKEPUTUSAN YANG INSPIRATIF

Ada perasaan haru dan sedikit  shock saat mendapat berita di pagi ini bahwa dia mantap memilih keluar dari tempat kerjanya.  Bagaimana tidak, kemarin siang (baca kisah sebelumnya : klik disini) . baru saja bertukar fikir seputar dilema panjang yang membebani fikirannya dan pagi ini kuperoleh kabar dia mengambil satu keputusan penting dalam hidupnya, yaitu “keluar dari tempat kerja”. Berkeputusan semacam itu memang mutlak hak beliau, namun karena baru saja kemarin mendiskusikannya keputusan hari ini menjadi terkesan begitu mendadak dan terasa mengagetkan.    

Alasannya sangat bisa dimengerti, karena pasti menjadi sulit ber-hijrah dari “pertautan bathin nan keliru” bila lelaki yang terkait masih sekantor dengannya. Namun, berani menanggalkan karir di kantor merupakan sebentuk keberanian yang tidak biasa. Apalagi keputusan itu juga berkaitan dengan kehidupan ekonomi keluarga dan tentunya juga masa depan serta status sosial. Ini keputusan dan sekaligus pengorbanan yang luar biasa demi menjaga komitmen hati untuk mencukupkan kekeliruan.  

Akan tetapi, ketika langkah ini didasarkan pada satu niat baik yang terkemas dalam “hijrah” alias “move on”, tentu keputusan ini layak  diapresiate walau bisa dipastikan prosesnya melalui perang bathin yang sengit untuk sampai di titik keberanian. Dalam konteks semangat berbuat baik dan berjuang terhindar dari hal-hal yang potensial terjebak dalam keburukan, tentu keputusan ini sangat keren. Keyakinan berbuat baik akan mendatangkan hal-hal baik tentu ikut menyumbang keberanian itu. Dikeputusan itu Tuhan hadir hingga kemantapan pun berujung tekad untuk menjalani hidup dengan cara baru. Saatnya membangun kesempurnaan di ketidaksempurnaan itu sendiri. Saatnya kenyamanan dan ketentraman diperjuangkan dalam ruang kehahalan walau penuh kerumitan pada awalnya.

Fokus pada keluarga, mengabdi pada suami agar tergolong menjadi istri solekhah di pandangan Sang Pencipta dan concern mengurus anak-anak demi keterbentukan generasi berkualitas dan beraklahk mulia, menjadi deretan misi dari hijrah itu. Perlahan berjuang melupakan kekeliruan dan bertahap membangunkan faham dan maaf pada suami menjadi   agenda besar demi melanjutkan pelayaran hidup di lingkar kebersamaan dan kesetiaan.

Berpasrah pada Tuhan akan menghadirkan keikhlasan dalam memulai sesuatu yang baru. Berpangku pada ridho Tuhan akan menjadi lipatan ampunan hingga minus menyentuh titik nol dan kemudian berlanjut memasuki fase kepositifan hidup yang akan berbuah kedamaian,  kententraman dan kelanggengan secara bertahap dan berkelanjutan. Menarik untuk membincang sekilas tentang roda ekonomi yang pasti berpengaruh sebagai akibat keputusan ini. Secara matematika hampir dipastikan keluar bekerja akan menyebabkan berkurangnya penghasilan dan berdampak luas pada stabilitas dapur dan bahkan gaya hidup. Namun demikian, ketika diyakini sepenuhnya bahwa Tuhan adalah sumber rejeki dengan sifat-Nya pengasih dan penyayang, maka tak perlu ada kekhawatiran tentang hal itu. Dalam konteks upaya, bekerja adalah bagian dari membangun nalar datangnya rezeki. Namun demikian, dalam konteks keyakinan, berbuat baik dan selalu mendekatkan diri pada Sang Pencipta juga adalah pemantik kehadiran rezeki juga. Atas hal itu, tekad untuk berbuat baik yang sudah beliau putuskan tidak pantas menundakannya hanya karena pertimbangan penghasilan. Insha Allah, kebulatan tekad dan konsistensi berada dikebaikan akan mendatangkan rejeki yang mungkin pada awalnya hilang karena keputusan ini. Demikian halnya dengan status sosial yang dikekinian zaman sering berpatok pada simbol-simbol keduniaan, tentu keputusan ini tampak mereduksi "sebuah kebehabatan". Namun, ketika fokus pada berjuang meninggi drajat dihadapan Tuhan, kemuliaan itu pun akan hadir seiring dengan semakin dalamnya berada  di lingkar ruang kebaikan itu sendiri.   

Ini merupakan kisah inspiratif walau menjalaninya seperti memanggul gunung dari satu titik ke titik berikutnya. Kebesaran jiwa akan menuntun senantiasa ber-energi dan ketekunan mentahapi setiap proses dan dinamikanya akan berujung pada hikmah dan melahirkan senyum sepasang suami istri yang dilandasi cinta karena Tuhan serta diselimuti saling percaya dan saling menjaga. Semoga ke-SAMARA-an sebuah keluarga akan mewujud dan kedua anak kalian tumbuh dalam genggaman perhatian, kasih sayang dan cinta yang sempurna. Aaamiin.   


NB : gambar dalam tulisan ini hanya illustrasi dan diperoleh dari hasil google searching

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved