AKANKAH SEORANG LUNI MENJADI SUKSESOR EKA di FKKMI?

Jumat, 01 Februari 20190 komentar


AKANKAH SEORANG LUNI MENJADI SUKSESOR EKA di FKKMI?

Keterlambatan kereta hampir 1 (satu) jam telah melewatkan satu kesempatan untuk bisa hadir di agenda sakral Pembukaan Munas FKKMI (Musyawarah Nasional Forum Komunikasi Koperasi Mahasiswa Indonesia) dimana kebetulan aku menjadi salah satu pembinanya. Hadir di acara ini memang tidak wajib, namun ada perasaan galau tidak menjadi salah satu saksi mata atas di tabuhnya gong pertanda pegelaran Munas  dimulai. 

Tiba di lokasi pegelaran, acara pembukaan baru saja selesai. Namun, aku masih sempet bercengkrama dengan beberapa senior yang juga turut hadir di acara pembukaan ini. 


Tidak bijak untuk marah dengan PT KAI, karena keterlambatan disebabkan persoalan teknis yang tidak mungkin tertolak. Tidak mungkin juga membangun jengkel pada Om Pendi dan Om Azer yang sudah berinisiatif menjemput aku dan om firdaus ke stasiun Condong dan kemudian membawa ke tempat acara munas digelar. Bahkan, mereka pun terpaksa menunggu lama di stasiun akibat keterlambatan kereta ini. Sebenarnya, Om Azer yang merupakan sekjen FKKMI sekitar 20 (dua) puluh tahun lalu pun mengalami perasaan serupa, yaitu  kecewa karena tidak bisa hadir di acara pembukaan. Sesudah bercengkrama dengan para senior dan om eka (sang Sekjen FKKMI yang akan segara purna), kami pun akhirnya menghibur diri dengan merebahkan badan sambil menikmati kopi di salah satu kedai tak jauh dari kampus Ikopin Jatinangor, Sumedang. Nazar, salah satu pengurus FKKMI ditugaskan Mas Eka untuk ikut serta.

Assalamu alaikum abang...abang di jatinangor ya,  abang  jangan  berat ke kubu sebelah ya”, demikian WA yang masuk dari mantan ketua salah satu kopma saat aku baru saja menyelesaikan sholat maghrib di kamar hotel. “Demi Allah abang ndak faham sama sekali, karena abang selalu netral kalau dalam situasi ini. Abang itu sadar posisi dimana banyak adek-adek aktivis kopma tanah air yang sudah menempatkan abang seperti orang tua atau kakak sendiri, jadi tidak bijak berpihak dalam urusan suksesi kepemimpinan FKKMI”. Demikian responku yang sempet membuatnya ragu pada awalnya. Namun, setelah kuberikan penjelasan yang lebih detail, akhirnya kader koperasi militan satu ini pun mempercayai sepenuhnya. Bercanda pun menjadi materi WA berikutnya hingga terpaksa disudahkan karena aku harus mengisi satu kelas pelatihan tentang “menajemen koperasi” yang diselenggarakan oleh Kementrian Koperasi & UKM RI.  

Awalnya,  ada rencana ke Gerkopin menyambangi arena pegelaran Munas usai mengisi kelas. Namun, rencana ini terpaksa batal karena usai mengajae, aku tergiring berdiskusi panjang dengan Bung Arif, Ketua Lapenkopnas Dekopin. Disamping itu, Mas Eka juga mengabarkan kalau Agenda Munas juga sedang tune in membahas Tata Tertib sidang yang biasanya seru layaknya sidang MPR. Atas hal itu, kami pun bersepakat untuk tidak ke arena Munas. Hal ini juga bagian dari memberi kesempatan kawan-kawan aktivis kopma untuk berproses alamiah dalam satu pesta demokrasi tingkat nasional bertajuk Munas.   Menjelang jam 24.00 Wib, aku pun men-sudahi diskusi dengan Bung Arif dan masuk ke kamar untuk Istrahat.  Aku tidak ikut rombongan para senior memncari makan di luar karena diterpa lapar dan juga dingin.


Pagi harinya, pertemuan tertunda dengan Mas Eka pun akhirnya bisa dilangsungkan. Dalam pertemuan 30 menitan ini, Mas Eka menyampaikan dinamika munas FKKMI yang tadi malam berlangsung sampai larut. Selanjutnya kami beridskusi ringan seputar gerakan koperasi mahasiswa di tanah air. “meninggalkan bukan berarti menanggalkan”, pesanku pada Mas Eka yang akan segera purna pasca munas usai. Pesan ini sebagai penegas pada beliau bahwa berakhirnya masa kepengurusan bukan berarti tugas Mas Eka selesai. “Saya sangat meng-apresiasi capaian kinerja kepengurusan FKKMI dibawah pimpinan Mas Eka, namun tugas pemimpin itu sesungguhhnya ada 2 (dua), yaitu : (i) membangun torehan keren di masa kepemimpinanannya dan; (ii) memiliki generasi penerus (baca: kader) yang bisa mempertahankan dan atau bahkan bisa lebih baik’, lanjutku berpesan pada Mas Eka. Dipenghujung, beliau pun berkomitmen untuk terus mengawal kepengurusan FKKMI periode berikutnya walau beliau mengambil sikap menyerahkan “generasi penerusnya” pada dinamika demokrasi yang berlangsung di Munas nanti.

Tak lama berselang, Teh Iis dan Bung Hendra pun bergabung dalam perbincangan ringanku dengan Mas Eka. Kedua senior ini juga merupakan anggota Dewan Pembina FKKMI di periodesasi kepengurusan Mas Eka. Sehubungan dengan agenda munas pagi ini akan segera dimulai, Mas Eka pun izin pamit untuk bergabung ke ruang sidang Munas FKKMI. Sepeninggal Mas Eka, para pembina FKKMI inipun melangsungkan obrolan ringan dan sesekali mengenang ragam memori  saat masih aktif menjadi aktivis kopma. Sekitar 20 (dua puluh)  menit kemudian, Teh Heira pun menyusul hadir dan perbincangan antar senior pun semakin ramai. Disamping seagai Dosen Ikopin Jatinangor, Teh Heira merupakan salah satu srikandi pejuang muda koperasi di negeri ini.  Perbincangan pun semakin gayeng diantara para senior yang usianya tidak terlalu jauh beda.  Namun, sekitar sejam kemudian, Bung Hendra dan Teh Iis  terpaksa pamit karena ada yang harus mereka kerjakan. Ternyata, Om Firdaus sudah bangun dari mimpinya dan kemudian bergabung dengan kami. 

Tengah asik diskusi dengan Tante Heira dan Om Firdaus, tiba-tiba luni menyapa via WA dan menanyakan keberadaanku. Luni meminta waktu untuk bertukar fikir dan berkenan hadir ke posisiku. Current loc pun ku share untuk memastikan bahwa salah satu kader handal FKKMI  Jawa Timur ini tidak kesasar.........................................
selanjutnya... (klik disini)  

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved