TEROBOSAN BRILIAN MELALUI PROGRAM "BUSINESS DAY"

Minggu, 20 Januari 20190 komentar


TEROBOSAN BRILIAN MELALUI PROGRAM "BUSINESS DAY"  


Serunya Proses Produksi
ma..besok adek ada acara business day di sekolah”, ungkap si bontot saat tengah dalam perjalanan pulang menjemput kakak (sebutan untuk anak kami yang nomor 2) dari SMP Al Irsyad. “Trus adek mau jualan apa?”, respon ibunya. “ udahlah jual “x” (menyebut nama satu produk) aja. “Kalau gitu kurang kreatif dek”, kata sang kakak nimpali jawaban adiknya.  trus jual apa  dong?”, tanya si bontot. “kreatif” sepertinya menjadi   “kata kunci” yang memantik pencarian ide disepanjang pulang sampai rumah. 

Membuat "Puding silky karakter”, akhirnya menjadi kesepakatan diantara si bontot dan kakaknya. Sepertinya ide ini diinspirasi hasil diskusi dan konsultasi  via WA dengan sepupu mereka yang tinggal di Jakarta, yaitu Mbak Leni. Sepupu satu ini memang sangat jago dalam urusan produksi anek puding. 

Berburu bahan baku pun dilakukan usai menunaikan sholat maghrib. “Video call” dengan Mbak pun dilangsungan untuk memperoleh panduan teknis dan sekaligus memastikan proses pembuatan sesuai seharusnya. “konsultasi jarak jauh” ini berlangsung seru sebab berlangsung online mulai dari satu campuran ke campuran lainnya. Menyaksikan 2 (dua) adiknya tengah asyik di dapur, si barep pun terlibat dalam proses produksi.  Namun, karena guru private si bontot datang, proses produksi pun diambil alih kedua saudaranya hingga tuntas.

Papah dan mamanya hanya bisa tersenyum menyaksikan kehebohan proses produksi yang tengah berlangsung. Ketiga anaknya dibiarkan mengacak-acak dapur sebagai bagian dari belajar mandiri. Tak lama berselang, puding yang sudah jadi  di masukkan ke dalam wadah mangkuk kecil yang terbuat dari plastik. Beberapa biji puding itu pun disajikan pada mamanya dan tidak ketinggalan guru private yang tengah mengajari si bontot les. Mereka meminta sang ustadzah dan mamanya sebagai tester dan meminta penilaian atas hasil kerja hebat mereka sejak usai maghrib tadi. “mantap dan keren”, menjadi kalimat yang membuat ketiga wajah lelaki itu menjadi  ceria dan tambah percaya diri yang menandaskan kerja keras  mereka tidak sia-sia.   
   
Pagi hari usai sholat subuh, giliran mamanya yang sibuk mencari sendok plastik. Sementara di bontot sibuk memasukkan puding ke wadah dibantu sang kakak . Sesudah semua persiapan kelar, mereka pun berangkat ke sekolah. “Ups..ada yang lupa?..nanti di jualnya harga berapa per bijinya?”, tiba-tiba si bontot nyeletuk saat kendaraan baru saja meninggalkan rumah. Setelah melakukan musyawarah dengan kakaknya, akhirnya tersepakati Rp 1.500/biji. Kedua orang tua mereka hanya tersenyum menyaksikan  bagaimana per-diskusian seru menentukan harga jual. Kedua orangtuanya pun membiarkan kala biaya quota  dan total biaya produkasi tidak masuk dalam penentuan harga jual.

Tiba-tiba, tersadar ada hal yang terlupakan, yaitu  uang recehan untuk kembalian. Untungnya, ada recehan di dashboard mobil sehingga sibontot pun langsung menyambar dan memasukkan semuanya ke dalam tas  . Saat kendaraan sampai di sekolah, si bontot pun turun dan melangkah dengan optimis lengkap dengan bekal fooding di dalam tasnya. “selamat berjuang dan semoga fooding-nya laku keras ya dek”, kata mamahnya menyemangati sambil mencium kening si bontot.


Bukan Sekedar Belajar Berjualan
Sekilas program Business Day tampak hanya tentang berjualan yang dilakukan siswa/i di sekolah. Aksi serupa juga tentu didapat pada keseharian hidup seperti dipasar, di lingkungan rumah dan bahkan di mal. Namun demikian, agenda “business day” yang digelar sekolah ini sesungguhnya telah berhasil memantik ragam makna. Menentukan “produk” yang akan dijual merupakan perjuangan pertama setiap siswa. Pilihan produk yang diambil mencerminkan kreativitas dan insiatif yang dalam prosesnya terkandung makna dan hikmah bagi setiap siswa. Demikian halnya saat setiap siswa menawarkan produk yang dibawanya kepada temen-temen sekelas atau adik kelas, juga mengandung pelajaran yang demikian banyak, seperti bagaimana belajar bersosialisasi, belajar meyakinkan orang lain atas produk yang dijualnya, bagaimana merayu konsumen untuk mau membeli produknya dan lain sebagainya. Tentu tidak semua yang ditawarin langsung membeli sehingga disana ada proses gagal dan berhasil. Bisa dibayangkan saat gagal pasti ada kekecewaan dan bukan tidak mungkin sedikit rasa malu. Namun demikian, sang siswa tersebut tetep harus menyemangati diri sendiri agar produknya ada yang membeli. Sebaliknya, saat ada yang membeli produknya tentu akan mendatangkan perasaan bahagia.

Pengalaman-pengalaman semacam ini lah yang sesungguhnya akan menjadi pelajaran luar biasa bagi siswa. Proses berhasil dan gagal yang silih berganti akan memberi pengalaman dan pemahaman tentang perlunya berjuang dalam hidup. Tidak saja sampai disitu, setidaknya hal inipun membentuk alam bawah sadar tentang kehebatan orang tuanya yang sudah berhasil membesarkan dan membiayai hidupnya sampai saat ini. Dengan demikian, diharapkan akan mendatangkan peningkatan rasa hormat dan sayang pada kedua orang tua serta lebih bersyukur kepada Allah SWT.lebih jauh dari itu, para siswa juga akan lebih bisa meresapi bagaimana perjuangan Rasulullah SAW yang juga dikisahkan sebagai seorang pedagang.    


Tentang Hasil
Tentang hasil akhir menjadi sisi lain dari perjuangan di bontot di sabtu pagi. Dari 15 (lima belas ) buah yang dibawa, si bontot berhasil menjual 7 (tujuh) dan sisanya di makan gratis bersama teman-temannya. “itu keren dek, laku hampir 50 %”, ungkap papah menyemangati tanpa menyanyakan uang hasil penjualannya dimana. Hal senada juga disampaikan oleh Mas, kakaknya dan tidak ketinggalan mamanya.  Dalam pandangan papahnya, sukses menjual 7 (tujuh) biji tentu diiringi sederet kisah yang mengandung 2 (dua) hal, behagia dan tabah. Bahagia saat ada pembeli dan tabah saat terjadi penolakan halus dari calon pembeli.

Terlalu dini untuk berkesimpulan bahwa si bontot tidak berbakat dalam urusan berdagang, sebab apa yang berlangsung hari ini lebih pada sebuah proses pembelajaran dan sekaligus penghayatan bagaimana sebuah“perniagaan” berlangsung. Ini bukan tentang perbandingan antara total biaya produksi dan hasil penjualan, tetapi lebih pada multiplier effect dari sebuah program sekolah.      

Andai saja program semacam ini terus dilaksanakan secara periodik, maka semangat berwirausaha akan terbentuk sejak dini pada para peserta didik. Setiap prosesnya tentu akan mendatangkan pengalaman baru yang mempertebal mental sebagai seorang wirausahawan. Dalam dimensi lebih luas, apa yang dilakukan segenap siswa/i level Vi SD Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto di Sabtu kemarin, merupakan wujud nyata dalam mentauladani Rasulullah SAW yang dikenal luas sebagai saudaragar handal.   

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved