KETIKA HAMIL TAK MENGHALANGI BU AZMA MENYUARAKAN UNTUK “ME-MANUSIAKAN HUBUNGAN”

Jumat, 07 September 20180 komentar


KETIKA HAMIL TAK MENGHALANGI BU AZMA 
MENYUARAKAN UNTUK “ME-MANUSIAKAN HUBUNGAN”

Ada yang menarik dari perhelatan workshop jilid 02 yang digelar oleh Komunitas Guru Belajar Purwokerto yang terhelat pada 02 September 2018 lalu, dimana salah satu nara sumbernya adalah Ibu Azma yang tengah hamil, seorang guru bagi puluhan murid berkebutuhan khusus. Kali ini, Azma mengangkat thema “me-manusiakan hubungan”, sebuah pemilihan thema unik yang mengundang kepenasaran. Sekilas, thema ini tampaknya semacam gugatan atas berlangsungnya dehumanisasi dalam proses belajar mengajar sehingga merusak kemerdekaan belajar yang dirasakan peserta didik. Namun, tak bijak berkesimpulan hanya berlandaskan judul, walau bisa saja praduga tak salah sepenuhnya.   

Nur Azis Asma, demikian nama lengkap yang kesehariannya menjalani profesi sebagai guru di SMP Permata Hati Purwokerto, dalam presesentasi penuh penjiwaan  menandaskan perlunya membangun pola pengajaran yang sehat sehingga murid merasa merdeka dalam proses belajar mengajar. Sebab, dengan “merasa merdeka” lah  peluang menemukan dan meng-optimalkan bakat-bakat hebat yang dititipkanTuhan pada peserta didik menjadi terbuka. Sebuah harapan yang mulia dan berpihak pada satu penilaian dimana setiap manusia terlahir unik berikut talenta yang mengikutinya.    

Di tengah presentasi keren Ibu Azma, Bung Daru, Sang Komandan Komunitas Guru Belajar Purwokerto, tiba-tiba mengambilkan kursi dan menempatkan di tengah. Hal ini tampaknya sebagai respon melihat  beberapa kali Ibu Azma terkesan menahan sakit karena gerakan sang jabang bayi  dalam kandungan yang sepertinya juga ingin ikut presentasi bersama ibunya. Kehadiran kursi ini pun memberi opsi tambahan selain berdiri  bagi Ibu Azma agar tetap merasa nyaman menyampaikan materi presentasinya.

Dalam lanjutan presentasinya tentang memanusiakan hubungan, Bu Azma menyampaikan beberapa type guru dalam memerankan profesi mulia-nya. Setidaknya ada 5 (lima) yang te-record redaksi, yaitu; (i) guru sebagai penghukum; (ii) guru sebagai pembuat rasa bersalah di diri peserta didik; (iii) guru sebagai pembuat ketergantungan yang menegasikan kemandirian dan percaya diri peserta didik; (iv) guru sebagai pemantau dan; (v) guru sebagai seorang manager. 3 (tiga) peran pertama sangat tidak direkomendasikan, karena jauh dari semangat “merdeka dalam belajar”. 3 (tiga) type pertama ditandaskan akan membuat peserta didik tidak menemukan efektivitas pengajaran dan bahkan membahayakan bagi masa depan mereka. Penandasan ini menjadi semacam pesan kuat agar segera dilakukan koreksi apabila hal ini masih sering berlangsung di beberapa sekolah dan tempat pendidikan.

Hari ini memang berbeda dengan zaman dahulu dimana guru diposisikan sebagai figur yang sangat diseganin, ditakutin dan juga di hormatin. Kekinian zaman yang secara jahat mengikis nilai-nilai kearifan telah memaksa para guru untuk memiliki kesabaran yang lebih dan kebijaksanaan yang lebih luas. Artinya, setiap guru harus melakukan pengayaan metode dan pensikapan smart atas dinamika budaya peserta didik yang terus bergerak  dan dipengaruhi perkembangan lingkungan.

Ini memang pasti sangat tidak mudah dan menguras energi, namun kemuliaan profesi dan moralitas juang  guru mengharuskan untuk bisa melakukannya. Pada titik efektivitas cara inilah tertemukan berlangsungnya aksi “memanusiakan manusia” dalam proses pemelajaran dimana guru dan peserta didik ber-interaksi dalam pola yang edukatif,motivasional, inpsirastif dan meng-energi.

Sebagai catatan penghujung, semangat yang ditunjukkan oleh Ibu Azma yang tengah hamil dan sering merasa sakit saat presentasi, layak menjadi simbol ketauladanan inspiratif yang menandaskan untuk tidak pernah menyerah  dalam mengajarkan kebaikan-kebaikan, apapun keadaannya.   

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved