Aktif Belajar di Oemah Sinau Tapi Berhenti di Sekolah Formal

Jumat, 28 September 20180 komentar


Aktif Belajar di Oemah Sinau Tapi Berhenti di Sekolah Formal


Kupacu kendaraan roda 2 (dua) yang kupinjem dari rekan kerja agar cepat mencapai “Oemah Sinau”.  Aku tak ingin proses pemelajaran sudah berakhir saat sampai di lokasi. Akhirnya aku sampai juga 10 menit sebelum kelas bubar, tepatnya jam 16.50 Wib.  

Sebenarnya, ini bukan kunjungan pertama kami bagiku ke Oemah Sinau, namun ini memang kunjungan perdana untuk sector 5 (lima). Sebelumnya, aku pernah menyambangi sektor 1, 2 dan 3. Hanya saja, Ada ketertarikan tersendiri merespon undangan Bung Slamet siang tadi untuk hadir di sektor 5 (lima). Ini merupakan sektor termuda sesudah perintisan 4 (empat) sektor sebelumnya menuai sukses dimana animo dan daya dukung masyarakat cukup tinggi. Terbukti 200-an orang siswa menjadi penghuni tetap di sekolah sore nan keren rintisan Bung Slamet ini. Kepenasaranku mulai muncul atas sektor 5 (lima) ini saat Bung Slamet mengkisahkan  bagaimana sektor 5 (lima) ini bermula pada saat silaturrahmi ke gubuk ku minggu lalu.


Beberapa orang siswa SD menggiring ketua RW-nya untuk bertemu dan meyakinkan Bung Slamet bahwa penyelenggaraan aktivitas pembelajaran Oemah Sinau memang sangat diperlukan di wilayah RT 03/04, Desa Limpakuwus. “Ungkapan jujur nan polos anak-anak itu meluluhlantahkan ketidaksiapan Oemah Sinau karena terbatasnya jumlah relawan. Saya tak bisa mengecewakan keinginan tulus mereka yang tampak begitu kuat, apalagi diperkuat dengan keseriusan Pak Ketua RW yang siap mendukung dan mengkomunikasikan kepada  warga, Akhirnya, saya sanggupi dimana Oemah Sinau segera memulai pembelajaran di sini. Perkanan Pak Darsam untuk memanfaatkan rumahnya sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar pun melipatgandakan semangat saya untuk segera memulainya, walau sebenarnya tenaga pengajar (baca: relawan) sudah terlalu sibuk meng-cover 4 (empat) titik yang sudah lebih dulu berjalan secara rutin”, ungkap Bung Slamet dalam testimoninya tentang muasal keterbangunan sektor 5 (lima) ini.

Setelah memparkir sepeda motor dan melepas jaket, akupun langsung bergegas masuk ke rumah dimana para siswa/i sedang mengikuti proses pemelajaran yang di pimpin oleh Bung Slamet.  Kudapati sekitar 30-an siswa/i duduk di lantai semen dan masing-masing kedua tangannya bertumpu pada meja belajar pendek yang berjejer rapi. Seingatku, Bung Slamet pernah menceritakan bahwa meja-meja belajar  itu adalah sumbangan dari salah satu pengusaha di purwokerto yang sangat apresiaste terhadap ketulusan dan konsistensi aktivitas oemah sinau. “Dilanjut saja Om Slamet, Jangan sampai kehadiran saya membuat proses belajar terganggu”, ungkapku saat Bung Slamet menyambut salamku.

Sambil berdiri, kuamati khidmat nya proses belajar-mengajar. Semua peserta didik demikian serius mengikuti pembelajaran di sore itu. Tak bisa ku pungkiri kalau aku bergetar atas apa yang kusaksikan. Aku membayangkan betapa repotnya keseharian Bung Slamet dan 2 (dua) relawan dalam melayani 5 (lima) titik penyelenggaraan aktivitas serupa. Apalagi, apa yang mereka lakukan betul-betul panggilan jiwa dan wujud kepedulian nyata tentang pendidikan dan kualitas generasi, khususnya di lingkungan Desa Limpakuwus. Mereka melakukannya dengan sepenuh hati, walau semua peserta didik tidak ditarikin biaya sepeserpun. Aku yakin, Bung Slamet dan kedua relawan yang membantunya sering harus tombok untuk menutup operasional Oemah Sinau. Apalagi, Bung Slamet sebagai pemrakarsa tidak pernah meng-hiba-hiba bantuan pada siapapun walau beliau tidak menolak bila ada yang bersimpati sepanjang didasarkan pada kepedulian yang jujur terhadap pendidikan, keikhlasan dan tidak ada embel-embel apapun. Hal ini merupakan cara tegas Bung Slamet menjaga kemurnian niat dan sekaligus menjamin keberlanjutan proses pembelajaran Oemah Sinau dalam koridor “peningkatan kualitas generasi”.

Tak lama berselang, aku dipersilahkan maju ke depan dan berdiri sejajar dengan Bung Slamet. Aku pun memperkenalkan diri kepada seluruh siswa/i. Untuk menyemangati suasana, aku pekikkah kata “semangat” yang diikuti peserta disik dengan “siap semangat”. Suara lantang mereka pun menyemarakkan suasana dan membakar semangatku. Dikesempatan kilat itu, akupun coba menyampaikan 3 (tiga) pesan kepada seluruh siswa/i, yaitu: (i) selalu rajin belajar; (ii)  rajin membantu orang tua dan; (ii) rajin ber-ibadah agar senantiasa disayang Tuhan. Tak lupa kuselipkan juga memohon perkenan mereka untuk mendo’akanku di setiap ibadah mereka (seketika aku menjadi oppoutunist ketika mendapati wajah-wajah lugu ini) . Akhirnya, aktivitas Oemah Sinau sore ini ditutup do’a bersama dan langsung di pimpin oleh Bung Slamet. Sesudahnya, satu persatu siswa/i maju ke depan bersalaman sekaligus berpamitan sambil mengucapkan salam.

Semenit sesudah siswa terakhir berpamitan, aku pun bergegas izin pamit kepada Bung Slamaet sebag masih harus menjalankan agenda lainnya. Saat menuju parkiran dan memakai kembali jaketku, Bung Slamet menyampaikan bahwa tantangan di sektor 5 (lima) ini lebih berat ketimbang 4 (empat) sektor lainnya. “kondisi lingkungan disini kurang mendukung bagi perkembangan pendidikan anak. Tidak sedikit yang putus sekolah dan juga beberapa memilih untuk tak melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi yang dilatarbelakangi banyak faktor. Oleh karena itu, tak heran pengaruh buruk lingkungan ini pun mempengaruhi tingkat disiplin dan sikap-sikap keseharian peserta didik di sektor 5 (lima) ini. Namun demikian, saya tak patah semangat dan tetep akan berusaha maksimal agar anak-anak ini tumbuh menjadi insan-insan yang ber-budi pekerti baik dan rajin menuntut ilmu”, ungkap Bung Slamet.

Ada satu cerita lucu di sektor 5 (lima) ini, dimana seorang siswa/i memilih berhenti dari sekolah formalnya dan kemudian aktiv mengikuti proses pembelajaran di Oemah Sinau yang notabene hanyalah sekolah informal dan bersifat tambahan. Sampai saat ini, Bung Slamet terus melakukan pendekatan dan sekaligus mengujikan beberapa pendekatan agar anak ini kembali aktif di sekolah formalnya. Fakta ini memang  tergolong aneh. Kalau disimpulkan anak ini malas sekolah, nyatanya beliau tak pernah absen diproses pembelajaran yang dilaksanakan oleh Oemah Sinau. Men-simpulkan ada pendekatan yang salah di sekolah formalnya juga kurang bijak bagi Bung Slamet. Akankah anak ini kembali ke sekolah formalnya dalam waktu dekat ini?, Menarik untuk mengetahui akhir dari upaya Bung Slamet atas anak unik ini.    
   


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved