Ketika Wanita Berhijab Itu Bersusah payah Menurunin Tangga

Rabu, 29 Agustus 20180 komentar


Ketika Wanita Berhijab Itu Bersusah payah Menurunin Tangga

Abang Mau Kemana?. Naik Kereta Bisnis Juga?. Pertanyaan itu datang dari seorang wanita berhijab lengkap dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya. 
“Saya mau ke Rantau Prapat, mau naik kereta Sribilah yang kebetulan sudah standby di  rel 3 (tiga), adek mau kemana?”, jawabku berujung tanya. “sama Bang, mau ke Rantau Prapat juga”, jawabnya.

Setelah bertanya pada petugas dan terpastikan untuk mencapai Kereta Sribilah harus melalui
terowongan bawah, kami dan penumpang lainpun melangkah menuruni anak tangga. Aku berjalan persis dibelakang wanita berhijab itu. Kudapati dia membawa tas rangsel  yang menempel dipunggungnya, di lengannya nyangking tas tangan dan kedua tangannya pun masih membawa sebuah kerdus ukuran Indomie. Kudapati dia seperti kesusahan menurunin anak tangga karena beban yang terlalu berat.  Boleh saya bantu Dek?”, tanyaku sambil mengulurkan tangan. “Terima kasih banget pak..terima kasih”, jawabnya dan langsung memindahkan kerdus itu ke kedua lenganku yang sudah siap menyambut.

Kami pun melanjutkan menurunin anak tangga beriringan hingga dasar lantai bawah. Setelah
melalui lantai datar sekitar 2 (dua) meter, barisan anak tangga sudah menanti untuk dinaikin. “berat juga ini kerdus”, demikian terbenak dihatiku sesaat. “Terima kasih Tuhan atas peluang kebaikan yang kau bukakan siang menjelang sore ini, semakin berat semakin banyak pahalanya”, demikian fikiranku berujar  sambil menyemangati diri untuk terus melangkah.  

Setelah saling melempar tanya dan jawab sambil melumpuhkan anak tangga satu  demi satu, akhirnya ku tahu kalau tujuan akhir kami tidak hanya di stasiun yang sama, tetapi juga desa yang  bersebelahan dengan tempat orang tuaku tinggal. Bahkan aku sempet bertanya apakah kenal dengan bibiku yang kebetulan juga tinggal di desanya, ternyata dia pun mengenalnya dengan baik dan bahkan bertetangga. “mau ditempatkan dibawah kursi atau di atas dek?”, tanyaku saat sampai di nomor kursinya. Akhirnya kuletakkan barangnya dibawah kursi sesuai dengan arahannya. “kalau begitu, saya tinggal dulu ya dek, soalnya gerbong kereta saya di bagian ujung depan”, ungkapku sambil berpamitan. “maaf..maaf pak, tak kira bapak satu gerbong dengan saya di kelas bisnis..aduuh jadi ngrepotin..terima kasih..terima kasih sekali bapak”, responnya sambil menundukkan badannya.  Aku pun berlalu darinya menuju gerbang sesuai kursi dudukku.  

Tidak terfikir menanyakan namanya. Aku pun tidak mengerti wajahnya seperti apa karena tertutup oleh masker berwarna merah sesuai hijabnya sehingga hanya kedua matanya yang terlihat. Namun, itu tidak menjadi soal karena fokusku sejak awal adalah belajar merespon “kesusahannya” dengan pertolongan kecil yang kuyakini sebuah kebaikan.

Adakah tulisan ini sebentuk ria?
Insha Allah, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk pamer kebaikan, sebab penulis meyakini wanita muda berhijab itu pun pasti sanggup membawa barangnya sampai ke gerbong walau tertatih-tatih, Bahkan, sebenarnya wanita berhijab itu tidak perlu berterimakasih, sebab penulislah yang sesungguhnya butuh senantiasa melatihkan diri lebih peka dan lebih bijak merespon  keadaan sekitar.
Hari ini mungkin kita berkesempatan melakukan kebaikan kecil, namun bukan tidak mungkin suatu waktu kebaikan kecil pun hadir tanpa diduga saat kita atau anggota keluarga kita sedang mengalami kesusahan dalam hal tertentu. Ini bukan transaksional atas sebuah kebaikan, tetapi  ini hanya tentang ajakan untuk belajar bersama melatuhkan diri untuk berkepedulian dari hal-hal kecil yang selalu ada dan hadir disekitar hidup kita. Terkadang, setetes darah mungkin hanya hal biasa bagi pendonor yang secara rutin mendorokan darahnya, tetapi bisa bermakna nyawa bagi si penerima yang sedang sekarat dan berjuang melawan maut. Mungkin, berbagi “baju second” adalah aksi mengosongkan lemari dan sekaligus membuka ruang bagi penempatan baju baru, namun berbeda makna bagi korban bencana alam yang berjuang melawan dingin karena rumahnya sudah lenyap oleh banjir bandang. Mungkin bagi anda uang Rp 5.000 tidak begitu berarti, tetapi begitu bermakna bagi orang yang lkapar karena tidak ada yang bisa dimakan.

Bukankah hal menarik saat kita melakukan hal biasa menurut pandangan kita, tetapi ternyata bermakna penyelamatan nyawa bagi orang lain?. Semoga tulisan ini mendatangkan hikmah bagi pembaca. Amiin Ya Robbal ‘Alamin


Belajar mencari hikmah di Perjalanan
Menuju Kampung Halaman  bersama Kereta Sribilah   


note : 
gambar dalam tulisan ini adalah hasil google searching



Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved