MENG-INSPEKSI KEPATUTAN BALI MENGGELAR IMF-WBG ANNUAL MEETING 2018

Sabtu, 14 Juli 20180 komentar


Sebentuk Pengantar
Memasuki hari terakhir (baca: hari kedua),seluruh peserta Diseminasi melakukan kunjungan
langsung titik-titik tempat pegelaran IMF-WBG annual meeting 2018. Kunjungan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi menyeluruh kepada para “regional opinion maker” tentang venue yang akan digunakan untuk menggelar rangkaian agenda annual meeting 2018, mulai dari convention hall,tempat pegelaran gala dinner sampai dengan obyek-obyek wisata di lingkungan Bali.  


Kunjungan pun dimulai pasca sarapan pagi berselera di restorasi hotel Anvaya dengan menggunakan 3 (tiga) Bus Pariwisata “Mai Bus is My Bus” berukuran ¾. Perjalanan ini terasa lebih ber-aura dengan kehadiran foreder polisi yang bertindak sebagai pengawal, pemandu jalan dan pemecah kemacetan jalan tentunya. Tidak sampai disitu saja, setiap bus dilengkapi dengan seorang pemandu wisata, sehingga peserta benar-benar merasa nyaman mentahapi satu obyek ke obyek berikutnya.   


Bapak I Gde sebagai salah satu pemandu di bus  yang disupiri oleh Bapak kadek Karyase menjalankan tugasnya penuh dedikasi. Beliau memulai kepiawaiannya dalam memandu perjalanan dengan menjelaskan obyek-obyek yang akan dikunjungi. Beliau memprolog tentang Bali yang terdiri dari 8 kabupaten dan 1 kota madya. Nama seorang artis, Happy Salma pun sempet mengemuka karena menikah dengan salah satu anak raja di Bali.   

Bandara I Gusti Ngurah Rai adalah obyek pertama yang dijelaskan oleh I Gde.  Ini Bandara Internasional kebanggaan Bali yang selesai dibangun tahun 2013 yang menggunakan kombinasi aristektur  Bali dan modern”. Bandara ini akan menjadi pintu kedatangan tamu-tamu istimewa dari 189 negara yang akan hadir di IMF-WBG annual meeting 2018. Tak jauh dari bandara, kami melalui jalan tol yang juga dibangun 2013. Terlihat sedikit kemacetan disisi sisi seberang jalan yang kami lalui di karenakan sedang ada pembangunan underpass yang ditargetkan selesai pada agustus 2018 saat pegelaran AM IMF-WBG


Menyambangi GWK (Garuda Wisnu Kencana)
Kawasan Garuda wisnu kencana (GWK) berposisi di selatan Kota Bali. Obyek wisata ini awalnya hanyalah kawasan tanah tandus, tidak bernilai ekonomis dan hanya dimanfaatkan rakyat untuk tambang kapur. Namun, pembuatan patung GWK di kawasan ini sukses merubah persepsi dan apresiasi atas kawasan ini. Saat ini, GWK menjadi salah satu obyek wisata pavorite di Bali dengan luasan 60 Ha dengan ribuan guide dan 2000 diantaranya berasal dari Riau, Pekan Baru.

Penamaan GWK ini memilik makna : Garuda  itu berasal dari nama burung;  Wisnu dari nama Dewa pemelihara dan penjaga kedamaian dan; Kencono  yang merupakan lambang kemegahan. Pembangunan kawasan ini awalnya tidak luput dari pro-kontra. Sebagian LSM menyebut project ini destroying hill atau penghancuran bukit, namun para penggagas menyebutnya  sebagai program “Land art”.

Tahun 1990 adalah awal pembangunan patung GWK dan sempet tertunda karena persoalan keterbatasan dana. Bahkan, karena tak kunjung selesai, wisatawan domestik yang melakukan kunjungan ke area ini berkali-kali kemudian sempat membuat plesetan GWK dengan “Galian Watu Kapur”. Namun, diperjalanan berikutnya, PT Alam sutra Tbk kemudian mengambil posisi terdepat untuk melanjutkan realisasi mimpi besar ini. Hasilnya pun fantastic, saat ini pembangunan patung GWK ini sudah  mencapai 89% dan dipastikan selesai pada saat pegelaran IMF-WBG nanti digelar.  

Tinggi patung GWK awalnya di gagas 145 meter, tetapi pasca berdiskusi panjang  dengan para seniman Bali, tingginya menjadi 121 dengan Lebar 64  meter. Faktor kekuatan dan safety sangat menjadi perhatian dalam proses pembangunannya. Ini adalah maha karya seni yang monumental dari Sang Maestro Nyoman Muarta.   

Pembangunan Festival park  akan menambah lengkapnya kawasan ini.  Saat ini Festival Park sudah terbangun 95%. Suasana artistik penuh cahaya dipastikan akan hadir kala para mentri keuangan dan gubernur bank sentral  menggelar gala dinner disini.  Dalam konsep perencanaannya, hotel dan villa juga akan dibangun sehingga GWK menjadi destinasi wisata yang complete. Kalau saat ini GWK baru menjadi obyek Half day tour ( 6 sampai 8 jam),maka ke depannya ditargetkan menjadi full day tour dengan target pengunjung 10 ribu orang per hari.  Kami sangat optimis dengan angka itu karena segala sesuatunya sudah tersedia disini.  Apalagi, disetiap jamnya sejak jam 10.00 sampai 18.00 akan selalu ada pertunjukan budaya. Juga akan ada mini sinema yang akan memutar film tentang kisah bagaimana Dewa Eisnu sampai memilih burung Garuda sebagai tunggangannya. Untuk kenyamanan wisatawan, kami juga melengkapi parkiran seluas  3 ha dan 4 ha, Bahkan  kami juga akan membuat jalur khusus menuju GWK sebagai cara menghindari kemacetan panjang saat menuju kawan ini.  ”, ungkap Bapak Wayan Sugiantara, salah satu persnil manajemen GWK dalam presentasinya.  

Secara prinsip, manajemen GWK sangat siap dan begitu bahagia menjadi salah satu venue dari rangkaian agenda IMF-WGB annual meeting. “saya membayangkan posting-an para mentri keuangan dan gubernur bank sentral dari 189 negara di berbagai medsos dipastikan akan menjadi moment promosi strategis mengingat beliau-beliau adalah tokoh dengan follower ratusan ribu orang. Ini momentum GWK terkabarkan pada dunia”, ungkap Bapak Wayan di closing statemennya.


Meng-Inspeksi Kesiapan Hotel Nusa Dua 
Hotel Nusa Dua adalah tempat pegelaran IMF-WBG annual meeting 2018 di Oktober nanti. Dsini peserta Diseminasi menilik Convention Centre Hall dan beberapa room yang akan menggelar 2000 rapat lainnya, seperti rapat billateral atau regional.  Dari apa yang disajikan oleh manajemen Hotel Nusa Dua, sepertinya mereka sudah sangat berpengalaman menggelar event level international. APEC dan pemilihan Miss World  adalah 2 (dua) event akbar dari sederatan lainnya yang pernah tergelar sukses di sini.   


Di Hotel Nusa Dua ini, seluruh peserta diseminasi juga bertemu dan berdiskusi dengan salah satu  Deputi BI, Bapak Waluyo. Beliau menyampaikan“BI mengundang regional opinion maker di seluruh Indonesia dimaksudkan untuk menjadi agen yang mengkomunuikasikan AM ini ke segenap lapisan masyarakat”. Beliau juga menceritakan sat bertemu dengan gubernur bank central hongkong yang juga pernah menggelar agenda serupa. Berdasarkan testimoni gubernur bank central hongkong , mereka mendapat manfaat luas baik jangka pendek maupun juga jangka panjang dari pegelaran IMF-WBG Annual meeting.  Atas hal itu, Indonesia pun memiliki semangat serupa untuk mendapat benefit yang luar biasa dari pegelaran event akbar ini. “Menggelar expo untuk kepentingan pertumbuhan perdagangan dan investasi menjadi salah satu yang akan dilakukan Indonesia”, pungkas beliau

Selanjutnya peserta diseminasi yang beragama islam mengikuti jumatan di hotel yang sama. Sesudahnya, seluruh peserta Diseminasi makan diang ditempat serupa.   


Berkunjung Ke Obyek Wisata Huluwatu
Huluwatu adalah obyek wisata yang dikunjungi berikutnya oleh seluruh peserta diseminasi. Huluwatu merupakan daerah suci di Bali sehingga setiap orang yangakan  masuk kawasan wisata ini akan diberi selendang.Bahkan, bagi yang bercelana pendek juga disiapkan sarung.
Di obyek ini, tersaji laut dengan view yag begitu indah, Juga ada pura tempat ibadah pemeluk agama Hindu. Lucunya, disini juga ada monyet yang  memeiliki karakter sedikit nakal, monyet ini suka mengambil topi dan kacamata para wisatawan. Bila sang wisatawan ingin barang miliknya dikembalikan monyet, maka sang wisatawan harus memberi
makan sebagai imbalan.ternyata monyet disini memiliki naluri entretpreneur yang tinggi.Sayangnya sang monyet tidak termasuk dalam hitungan angka statistik jumlah entrepreneur.   

Penyajian “tari kecak” melengkapi kegembiraan sambil menikmati sunset. Tari kacak ini begitu unik dan di tonton ribuan orang sehingga terpaksa banyak yang duduk dilantai. Tari ini menjadi idola para tourist yang  berkunjung. 



Ke Pusat Kuliner dan Oleh-Oleh Bali "KRISNA"
Dilokasi ini, tersaji kuliner dan juga oleh-oleh khas Bali. Kawasan ini mencoba memberikan gambaran tentang bali dalam format kuliner dan oleh-oleh yang menjadi ciri khas Bali melalui ragam menu makanan dan juga aksesoris Bali, mulai gantungan kunci, patug miniatur, bahan baju , kaos bertuliskan bali, jepit rambut, pulpen dan lain sebagainya.

Di lokasi ini, satu jam seluruh peserta Diseminasi menghabisakan uangnya untuk membeli oleh-oleh dan sebagian lagi memilih menikmati makanan khas bali di puar kulinernya. 




Malam di Jimbaran Sebagai Agenda Pemanungka
Setelah seharian mengnunjungi titik-titik yang menjadi rangkaian pegelaran IMF-WBG 2018 di Oktober nanti, tibalah di agenda penghujung, yatu mengunjungi Pantai Jimbaran. Angin malam dan pukulan ombak pantai menemani agenda makan malam yang tergelar dipinggir pantai ini. Segenap peserta diseminasi juga disuguhkan tarian khas bali sebagai menu pembuka.  Ini menjadi agenda terakhir sebelum seluruh peserta diseminasi kembali ke hotel Anvaya untuk, istrahat dan kemudia kembali ke kotanya masing-masing pada esok harinya.


Penghujung 
Overall, pegelaran agenda diseminasi ini sangat keren dan mendatangkan pengalaman yang penuh kesan. Kekayaan bali dengan segela obyek wisata nya dan keramahan bali dengan masyarakatnya yang "sadar wisata" menjadi alasan yang lebih dari layak untuk ditetapkan sebagai venue pegelaran event internasional selevel IMF-World Bank Group. 

Sebagai catatan akhir dari tulisan ini, Bali dengan segala kehebatan yang melekat pada wilayahnya  menjadi bukti betapa luas, hebat dan fantastic nya ciptaan Tuhan. Atas semua kehebatan dan potensi yang menempel pada pulau dewata ini,  Sejuta alasan untuk menandaskan Bali untuk menjadi tuan rumah. Indonesia layak bangga dan masyarakat Bali sangat layak bersyukur. Tuhan begitu baik untuk Bali...

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved