MEN-TAFSIR HEROISME SUPORTER SEPAK BOLA"

Minggu, 29 Juli 20180 komentar


Sisi Lain Pegelaran Derby Panginyongan di Liga 03 Group 3


Pada Hari Sabtu, 28 Juli 2018, tergelar pertandingan Liga 03 yang mempertemukan 2 (dua) musuh bebuyutan di area penginyongan, yaitu Persibas Banyumas vs PSCS Cilacap. Pertandingan ini di gelar di GSP (GOR Satria Purwokerto). 

Secara umum, pertandingan berjalan lancar sejak pluit awal sampai sang pengadil menyatakan pertandingan berakhir. Artinya, tidak ada kondisi yang membuat commisioner match harus meng-hentikan pertandingan. Angka kacamata  0-0 pun menjadi hasil akhir dari pertandingan ini.


Ada sisi lain yang menarik untuk menjadi perhatian atas pegelaran pertandingan ini, yaitu tentang “aksi keberpihakan Suporter” untuk masing-masing klubmya. Mereka selalu hadir dimanapun tim kesayangannya bermain, entah itu di kandang maupun tandang dan bahkan  tidak peduli panas, hujan, dekat dan atau jauh.

Tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan fans fanatik adalah pemain ke-12 bagi setiap tim. Mereka  selalu memberi dorongan moral saat para pahlawannya berjibaku dilapangan membela panji-panji kebanggaan. Para supporter ini biasanya tak henti-hentinya menyuarakan jargon-jargon magis dan menyanyikan lagu-lagu khas yang meng-energi bagi para pemain kebanggaan mereka. Itulah gambaran singkat bagaimana para pendukung menjalankan aksinya. Pertanyaannya adalah apakah dalam kenyataan lapangan se-ideal itu?

Pada prakteknya, sepak bola memang tidak sekedar urusan menang-kalah, tetapi sering dikaitkan dengan gengsi dan bahkan harga diri sebuah daerah. Hal inipun sering disuntikkan sehingga menjadi bagian dari kelompok supporter serupakan satu kebanggaan dan refresentasi sebuah patriotisme.  Pada titik inilah kecintaan terhadap klub menyatu dengan diri sang fans sehingga mewujud menjadi loylaitas tanpa batas dan bahkan tidak jarang mewujud pada pembelaan tanpa logika.

Sisi tribun penonton yang sempat beberapa kali memanas di sepanjang pertandingan Persibas Banyumas vs PSCS Cilacap adalah contoh nyata tentang sebuah keberpihakan dan loyalitas tanpa batas. Syukurnya, berkat kehebatan dan kesigapan pihak keamanan membuat “aksi berlebihan dan berpotensi huru hara” dari para supporter itu kembali menemukan titik bijak dan rasionalnya sehingga supporterpun kembali fokus menyemangati masing-masing tim nya.  

Kalau di dalam stadion sikap para supporter bisa dipersepsikan sebagai wujud dukungan terhadap tim kesayangannya masing-masing, namun menjadi terasa begitu aneh terhadap aksi mereka diluar stadion usai pertandingan. Kedua kubu terlihat bersitegang  walau terpisahkan oleh pagar betis dan barikade yang disiapkan oleh pihak keamanan. Yang satu seolah merasa hebat dan berani, sementara kubu yang satu merasa harga dirinya diinjak-injak. Pada saat itu, akal sehat pun hilang seketika dan bergeser ke “titik khilaf” yang mewujud pada aksi-aksi kurang terpuji yang merusak ketenangan dan mengundang kekhawatiran bagi banyak pihak, khusus nya para penonoton yang datang untuk menikmati suguhan permainan yang menarik dari 2 (dua) tim yang dikenal sebagai musuh bebuyutan sejak dulu.

Sisi uniknya, perseteruan itu hanya ter-identifikasi dengan simbol, yaitu simbol klub masing-masing. Artinya, sangat kecil kemungkinan mereka saling mengenal secara pribadi satu sama lain. Sejarah panjang dari dua kelompok suporter  tampaknya ikut  menyulut suasana kebathinan setiap orang yang hadir di stadion. Inikah yang disebut fanatisme? Atau lebih tepat di defenisikan sebagai vandalisme?. 

Apakah sebagain dari mereka yang suka menyulut emosi dan memelihara dendam meyakini bahwa “mati dalam membela tim-nya” sebagai wujud kepahlawanan?. Sayangnya, sampai hari ini tidak ada pemakaman yang dipintu gerbangnya tertulis “taman makam pahlawan sepak bola”. Artinya, bertindak arif mewujudkan dukungannya jauh lebih bijak dan mendapat simpati masyarakat.

Cinta itu suci yang mewujud dalam aksi-aksi mendamaikan dan menentramkan. Ke-butaan hanyalah ekspresi sesaat yang pasti ber-ujung dengan penyesalan berkepanjangan. Membiarkan diri terjebak pada provokasi hanya akan memancing emosi dan aksi kurang sportif.   
Terbayang betapa indahnya kala supporter tamu datang penuh senyuman dan disambut supporter tuan rumah dengan keramahan dan suka cita.Demikian juga saat pulang, dimana para supporter tuan rumah berbaris rapi sambil bersamalam melepas kembalinya supporter tim tamu. Kalau hal ini yang disuguhkan, maka indahnya cinta dan  bergairahnya sepak bola akan bisa dinikmati siapa saja tanpa rasa kekhawatiran sedikitpun. Pada kondisi yang demikian, menjadi bagian dari kelompok supporter adalah sarana memperluas perkawanan yang mungkin suatu waktu  menjadi penolong saat  sedang sangat membutuhkan.

Kita semua harus masih terus belajar untuk menjadi pecinta sepak bola yang keren dan meng-inspirasi.  Kita pasti bisa saat kemauan untuk itu selalu ada dan hadir.     

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved