Ketika Luni Cs Menampilkan Hospitality Nan Keren

Selasa, 17 Juli 20180 komentar


Ketika Luni Cs Menampilkan Hospitality Nan Keren
Oleh-oleh dari pegelaran Galaksi (Gelar Aksi Pemuda Koperasi) di Unisla Lamongan Jawa Timur



Lamongan, 17/072018. Luni, demikian panggilan akrab dari nama seorang mahasiswi Tuban bernama lengkap Luni Nanda Rachmawati ini. Luni adalah refresentasi panitia Galaksi (Gelar Aksi Pemuda Koperasi) yang merupakan bagian dari rangkaian perhelatan perayaan HUT Koperasi 71 di Propinsi Jawa Timur. Luni juga adalah salah satu pengurus FKKMI (Forum Komunikasi Koperasi  Mahasiswa Indonesia) untuk wilayah Jawa Timur.


Tulisan tentang luni bukanlah persoalan penulis yang kebetulan lelaki dan luni yang berkelamin perempuan, tetapi sebentuk apresiasi atas metode hospitality yang disajikannya mulai dari pertama kali menyampaikan undangan sampai dengan kepulangan penulis dari perhelatan seminar Galaksi yang mengambil tempat di kampus Universitas Islam Lamongan. Ini juga bukan tentang fasilitas yang panitia sediakan, tetapi mutlak tentang  kekaguman terhadap sikap dan penjiwaan dalam menjalankan sebuah hospitality.

Sekilas ini memang tampak hal biasa dan hospitality selalu hadir dalam urusan menyambut dan memperlakukan tamu dan atau setiap customer. Namun yang menarik adalah ketika hospitality ini dilakukan mahasiswa/i yang berasal dari  generasi milenial. Penulis merasa sedang menjadi tamu istimewa dalam sebuah perhelatan yang digelar oleh “bukan mahasiswa”. Dengan kata lain, cara luni meng-hospitality  sungguh sangat berbeda significant dengan orang se-usia dia pada umumnya, khususnya di kalangan koperasi mahasiswa/i.

Walau luni belum pernah bertemu denganku secara fisikly dan hanya dapat referensi dan nomor kontakku via teman sejawatnya di salah satu kopma Yogyakarta, Luni selalu mengingatkan tentang tanggal pelaksanaan untuk memastikan bahwa tidak ada perubahan komitmen kehadiranku selaku narasumber di agenda yang mereka selenggarakan. Luni juga memastikan bahwa tidak ada dokumen yang tertinggal untuk kepentingan administrasi kepanitiaan,s eperti surat tugas, copy ktp, materi dan lain sebagainya.  Bahkan, Luni juga mencoba mengingatkan setengah jam sebelum jam pemberangkatan  kereta menuju tempat pegelaran agenda. 

Tak lupa Luni pun menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa menjemput
langsung  sebab juga harus fokus pada pengawalan rangkaian agenda, namun Luni memberikan kontak driver yang  akan standby di stasiun Gubeng Surabaya untuk menjemput dan  kemudian membawaku ke Universitas Islam Lamongan. Sekitar 10 menit sebelum jam ketibaanku di stasiun Gubeng, Luni pun meng-informasikan kalau sang driver sudah standby. Begitu memastikanku sudah bersama driver dan memulai perjalanan menunju lamongan, luni kemudian meng-informasikan akan menyambut kehadiran kami di kampus dan merencanakan sarapan di soto lamongan dan kemudian akan mengantarkanku ke hotel untuk transit dan istrahat sejenak. 

Saat memasuki warung soto khas lamongan, tak lupa Luni mengajak sang sopir untuk ikut serta sarapan. Namun, karena sang sopir sudah sarapan, akhirnya hanya aku dan Luni yang melahap soto khas lamongan ini. Hal pertama yang Luni lakukan adalah memastikan aku dapat tempat duduk dan kemudian membawakan daftar menu untuk ku pilih. Sesudahnya, sambil menunggu pesanan datang, kamipun mulai memanfaatkan waktu untuk berdiskusi. Waw, Luni pun langsung berinisiatif memnafaatkan waktu untuk menyampakian beberapa pertanyaan kritis berbau analitis yang sedang meresahkannya, antara lain; Mengapa kopma kurang menarik bagi mahasiswa ?; mengapa alumnus kopma tidak melanjutkan perjuangannya di koperasi pasca kelulusannya?; mengapa angggota berpersepsi bahwa berkoperasi identik dengan jaga toko? Dan; mengapa mahasiswa belum meyakini bahwa kopma adalah wadah strategis mengembangkan kewirausahaan?.

Satu persatu coba ku jelaskan dengan sangat hati-hati agar pemahaman Luni komprehensif atas semua hal yang ditanyakan. Beberapa kali luni “memohonkan maaf dengan sangat begitu sopan” ketika dia harus merespon beberapa telepon dan WA yang masuk ke HP nya. Tentu etika yang dijunjung tinggi olehnya disepanjang komunikasi menjadi satu catatan penting, sebab hal ini hampir mulai hilang disebagian besar generasi sepelatarannya.

Sesampai di Hotel dan memastikan di reseptionis kamar tersedia untukku, luni pun mempersilahkanku istrahat dan kemudian bermohon izin pamit untuk melanjutkan koordinasi kepanitaan. Tak lupa luni mengucapkan, “selamat istrahat bapak...” sebelum meninggalkanku bersama sang supir.

Beberapa jam kemudian, Luni menyapaku dan menyampaikan bahwa session I bersama para Pengurus FKKMI (Forum Komunkasi Koperasi Mahasiswa Indonesia) Jawa Timur. Atas hal itu, luni menginformasikan akan menjemputku ke hotel. Padahal, luni sebenarnya bisa saja memerintahkan sopir kepanitiaan menjemputku, namun luni memilih untuk ikut serta dan membawaku ke kampus Unisla dimana diskusi akan di gelar. Usai jeda diskusi session I, aku pun kembali ke hotel. Ditahap ini, akupun mencatat nilai plus terhadap panitia. Karena disaat yang sama luni harus me-ngecek kesiapan menggelar session berikutnya, seketika luni pun meminta 2 (dua) pengurus FKKMI untuk mendampingiku ke hotel dan sekaligus memanfaatkan waktu di jalan untuk berdiskusi alias bertukar fikir.  
  
Aura hospitality semacam ini ternyata tidak hanya kudapatkan dari seorang Luni, tetapi juga dari panitia lainnya. Mereka begitu hangat dan terlihat berupaya keras agar aku merasa nyaman. “Ini sangat keren untuk ukuran para mahasiswa”, ungkapku dalam hati. Pertanyaan berbau analisa pun muncul kemudian di benakku, apakah ini hasil dari proses pendidikan di kopma?; ataukah ini merefresentasikan kebiasaan di rumah dalam memperlakukan setiap tamu yang datang?. Aku berharap pertanyaan pertamaku yang menjadi jawab. Artinya, pada kopma sudah terbangun kesadaran tentang pentingnya sebuah hospitality

Aku pun berharap ini me-refresentasikan kopma-kopma di Jawa timur yang katanya saat ini sedang berada dalam semangat berapi-api menumbuhkembangkan kopma di kampus nya masing-masing.

Hospitality memang hanyalah rutinitas, tetapi ketika  tersaji dalam penjiwaan dan ketulusan yang begitu nyata, hal ini pun menggiring siapa saja untuk berkesimpulan bahwa hospitality  yang baik adalah cerminan budaya kesehariaan dari sebuah organisasi.


disepanjang perjalanan Kereta Bima
Jurusan Surabaya-Purwokerto

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved