PENERBANGAN PERDANA YANG RUMIT

Selasa, 16 Januari 20180 komentar

PENERBANGAN PERDANA YANG RUMIT

Ini perjalanan yang rumit. Bagaimana tidak?. Cerita ini berawal dari habisnya tiket kereta  menuju Ibu Kota, Jakarta. Alasan logisnya mungkin karena week end. Alasan lainnya adalah perencanaan yang kurang antisipatif. Putar otak, Opsi yang memungkinkan untuk mencapai tempat meeting adalah bawa kendaraan, naik travel atau naik pesawat melalui bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta. Setelah men-sikronkan waktu dan mepertimbangkan segala sesuatunya, tersepakati untuk naik pesawat. Order tiket pun dilakukan via on line dan diperoleh tiket 14 Januari 2018 jam 23.00 Wib.

Minggu sore tapatnya Jam 16.00 Wib Om Budi dan Om Angjar sudah kumpul di pole  salah satu bis patas andalan rute Purwokerto-Yogya. Sementara sampai pul 15.38 Wib, aku masih di parkiran salah satu mall di kota Mendoan dan baru saja selesai nemenin anak-anak nonton film horor. Ku injak pedal gas kenceng sebab takut terlambat sampai di pole. Alhamdulillah, keberangkatan bis agak terlambat sehingga aku tak ketinggalan. Sampai ambar ketawang,  kami turun dan melanjutkan perjalanan dengan mobil shuttle menuju  bandara. 

Perbincangan ringan dengan 2 (dua) penumpang lainnya di dalam shuttle bus berbuah keresahan, khususnya bagi Om Budi. Berawal dari kekaguman mereka karena kami bisa mendapat tiket terbang jam 23.00 wib padahal baru pesan kemarin malam. Sambil melayani obrolan ringan, diam-diam om Budi ngecek emailnya berisi pemberitahuan pemberangkatan. Session deg-deg an pun bermula sebab terpampang jadual penerbangan untuk tanggal 14 Februai 2018. Artinya, Om Budi salah bulan dalam pemesan tiket. Namun, Om Budi memilih diam dan menyimpan sendiri keresahan itu sampai-sampai saya dan om angjar tidak mengerti situasi yang tengah dialami Om Budi.

Jam 22.00 Shuttle Bus sampai dibandara. Artinya, masih ada waktu 1 (satu) jam-an dan cukup untuk memesan makan malam untuk mendamaikan perut yang sudah keroncongan. Ternyata yang pesan hanya saya, sementara Om Budi dan Om Angjar masih belom lapar. Tiba-tiba, dengan wajah memelas dan Om Budi menyambangiku dan menyampaikan permohonan maaf karena telah salah memilih “bulan” saat memesan tiket kemarin malam. Sejenak aku terdiam dan kemudian bertanya apa ada ide men-solusikan persoalan ini?.  ‘Saya akan coba pesan langsung di ticketting bandara dan dan juga ciba menghubungi temen saya siapa tahu bisa membantu”, ucap Om Budi. Akhirnya mereka berdua menuju bandara yang berjarak 200 meter dari bakul sate dimana saya memesan satu porsi.

Sambil dag dig dug, aku mencoba memerangi rasa laperku. Baru setengah kulahap, tiba-tiba Om Budi mengabarkan dapat tiket untuk penerbangan garuda yang kebetulan terlambat setengah jam. Akupun langsung berlari menuju bandara dan langsung check-in. Dengan wajah riang gembira Om budi memberikan tiketnya padaku. “Tuhan masih sayang sama kita”, ujarku sambil menerima tiketnya. 

Tadinya sempet terfikir untuk ikut penerbangan paling pagi walau harus nginep di Yogya dan hal itu berakibat pesenan hotel di Jakarta menjadi mubah. Dengan semangat 45, kami bertiga pun menaiki pesawat setelah melalui proses standar body checking yang tak mungkin terlewatkan walau panggilan terakhir untuk penumpang pesawat garuda berkumandang. Hmmm..."akhirnya kita terbang juga” sehingga dipastikan tidak terlambat sampai di tempat rapat besok pagi. 

Ini menjadi penerbangan penuh hikmah bagi kami bertiga dan pastti sangat berkesan bagi om angjar khususnya dimana beliau harus mengalami penerbangan perdana yang rumit. Drama perjalanan belom berakhir, pertolongan berikutnya muncul saat taksi on-line berkenan menjemput kami di parkiran bandara Soetta. Hal itu tidak seperti biasanya karena larangan zonasi. Kami pun baru tahu hal ini sesudah menaiki mobil yang membawa menuju hotel. 

"Perjalanan rumit ini adalah bukti adanya pertolongan Tuhan", ungkapku saat kami akan memasuki kamar masing-masing pasca check-in.  


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved