MIMPI SEORANG IBU

Jumat, 10 November 20170 komentar

Tentang Mimpi Seorang Ibu Memiliki Anak Sarjana

Hari ini seorang ibu hadir untuk mengatakan pada dunia bahwa dia belum menyerah tentang mimpi besarnya. Dia tidak mau anak kedua-nya  mengalami hal serupa dengan putera pertamanya. Saat itu, anak sulungnya terpaksa mengubur mimpinya  bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, walau  namanya tercantum di daftar pengumuman kelulusan UMPTN. Sebagai seorang ibu, dia ingin tetap melihat anaknya yang kedua bisa menuntaskan menjadi seorang sarjana. Untuk mimpi itu, apapun rela dia lakukan.    


Melihat dari kampus dan jurusan puterinya kuliah, acungan jempol layak disematkan kepada keluarga ini. Bagaimana tidak, anak sulungnya dulu diterima UMPTN walau terpaksa tidak dimasukin karena keadaan ekonomi tidak memungkinkan, anak bungsunya pun saat ini tercatat duduk di kelas 3 di sebuah SMP pavorite di Kabupaten Banyumas. Artinya, ketiga anaknya memang dikaruniai Tuhan  kecerdasan diatas rata-rata. Saat ditanya tentang IP (Indeks Prestasi) puterinya, beliau mengatakan sekitar 3,26. Capaian ini tergolong keren apalagi untuk jurusan exact yang dikenal sebagai jurusan berkategori level atas di ajang UMPTN.    

Saya  nekad walau harus hutang kesana kemari.  Satu tahun terakhir, saya sudah menawarkan rumah  agar bisa mendukung sekolah puteri saya, tetapi tak kunjung laku. Mungkin karena posisinya di dalam sehingga tidak ada area untuk parkir mobil. Terkadang anak saya hanya minum air putih diperantauan karena saya belum bisa mengirim uang”, demikian ibu tersebut meng-kisahkan tentang perjuangan hebatnya demi seorang anak yang dia cintai.

Ibu ini sudah hutang ke bos tenpat dia kerja sebagai penjaga kantin di salah satu kampus terkenal di kota Purwokerto.  Ibu ini juga sudah meminjam uang kepada beberapa teman yang bersimpati atas semangatnya dalam menyekolahkan anak. Dia juga bergandeng tangan dengan anak pertamanya yang saat  ini bekerja disalah satu stasiun kereta sebagai tukang langsir. Suaminya sudah tua namun masih bekerja sebagai supir bis.  Penghasilannya hanya cukup buat makan dan sisanya mencicil pinjaman bank yang terpaksa dilakukan demi  membayar SPP pada semester lalu yang besarnya lebih kurang Rp 2.000.000 per semester.   

Namun, kali ini semuanya seperti sedang buntu. Anak pertamanya pun tidak  mungkin hutang lagi karena hampir semua gajinya sudah dipotong mencicil pinjaman yang juga untuk mendukung kuliah adiknya. Sementara itu, saat ini puterinya harus membayar uang kos, biaya hidup diperantauan dan juga keperluan kuliah. Anaknya pun terpaksa sudah pinjam uang ke beberapa teman kos untuk sekedar menyambung hidup diperantauan.

Pagi ini, sang ibu nekat mengetuk pintu rumah tetangganya. Lagi-lagi dia lakukan demi mimpi  mendapati anaknya berhasil menuntaskan kuliahnya menjadi seorang sarjana. Perjalanan memang masih panjang, sebab puterinya baru di semester 3 (tiga). Namun, keyakinan bahwa Tuhan akan menolongnya begitu kuat. Setelah menceritakan singkat tentang perjuangannya dalam mendukung pendidikan anaknya, dengan penuh harap beliau pun nekat menyampaikan niatnya untuk meminjam uang Rp 1.000.000,00. Kepda tuan rumah.

Apakah ibu sedang ditagih teman yang sudah minjemin uang?”, tanya sang tuan rumah. “Tidak Pak, mereka bilang bayarnya kalau rumah saya sudah laku. Satu juta yang saya mohonkan ke bapak semuanya untuk menutupi kebutuhan anak saya kuliah ”, jawab sang ibu dengan mata berkaca-kaca. Mendapati ketulusan dan kesungguhan ibu ini dalam mengkisahkan perjuangannya, Sang tuan rumah pun tergerak hatinya untuk berbuat sesuatu.

“Puteri Ibu punya rekening bank?”, tanya sang tuan rumah, sesaat setelah mengambil token internet banking dari tas nya. “Ada Pak”, sambil membuka HP nya dan kemudian menunjukan  dengan tangan bergetar. Sang tuan rumah pun kemudian membuka HP nya dan langsyng men-transfer Rp 1 juta ke rekening puterinya. Mengetahui hal ini si ibu pun mengucapkan alhamdulillah disertai derai air mata sambil berucap “terima kasih pak atas pinjamannya dan insha Allah saya akan berusaha untuk segera mengembalikannya”.

Sang tuan rumah pun langsung bilang,” Ibu...ibu tidak perlu mengembalikannya karena satu juta itu bukan pinjaman. Kebetulan temen saya ada yang titip sedekah yang peruntukannya membiayai sekolah anak-anak yang orang tuanya kurang mampu. Jadi, saya pun hanya menyalurkan saja. Saya hanya berpesan agar ibu lebih rajin beribadah dan kalau berkenan mendo’akan orang yang sudah membantu puteri ibu hari ini”  Mendengar hal ini, si ibu pun kaget bukan main, air matanya pun semakin deras dan mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada tuan rumah yang sudah menjadi jalan/perantara  menyelesaikan persoalan rumit yang menguras fikiran dan membuatnya susah tidur beberapa hari terakhir ini .

Sang Tuan rumah pun menyempatkan bertelepon beberapa menit dengan puteri ibu tersebut untuk mengabarkan kalau uang sejumlah Rp 1 juta sudah  ditransfer ke rekeningnya dan sekaligus  berpesan agar semakin giat belajar dan  semakin rajin ber-ibadah agar apa yang dicita-citakan berhasil.  Tak lama berselang, Ibu tersebut pun berpamitan karena juga harus berangkat kerja sebagai penjaga kantin.   

Sesaat sesudah melepas si ibu,   istri tuan rumah, yang sejak awal mendampingi suaminya menemui ibu ini, ikut berdoa semoga ke depan selalu ada jalan untuk memuluskan mimpi besar ibu tersebut. Diskusi ringanpun berlanjut sambil sarapan pagi.  Sepasang suami istri itu pun saling mengingatkan dan meyakini bahwa selalu ada jalan atas niat baik yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, entah dari sisi manapun jalan rejeki itu datangnya. Diujung perbincangan di meja makan itu, sepasang suami istri inipun menjadikan ibu ini sebagai referensi tentang semangat hidup dan sekaligus ingin melihat keajaiban-keajaiban berikutnya yang akan menyertai perjuangan ibu hebat ini dalam men-sekolah kan puterinya. 


Purwokerto, 08 Nop 2017.

Pagi Yang Inspiratif...


sumber gambar : hasil google searching
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved