SISTEM KADERISASI KOPERASI MAHASISWA

Minggu, 08 Oktober 20170 komentar

SISTEM KADERISASI KOPERASI MAHASISWA

A.  Permulaan
Ditengah semangat Kemenkop & UKM RI mendorong laju perkembagan Koperasi di Indonesia, Kopma (Koperasi Mahassiwa) menjadi salah satu yang sedang mendapat perhatian. Ada beberapa alasan logis mengapa hal ini dilakukan, antara lain; (i) Kopma berada di lingkungan kampus yang didalamnya terdapat kumpulan kaum intelektual dan berpotensi besar melahirkan karya-karya inspiratif buah  pemikiran-pemikiran inovatif dan kreatif; (ii)  Kopma berisi generasi muda yang energic, powerfull dan merupakan generasi penentu warna perwajahan koperasi di mendatang. Lewat mereka, diharapkan akan lahir terobosan-terobosan brilian yang mendorong akselerasi tumbuhkembang koperasi di negeri tercinta ini.

Untuk imendukung hal tu, sistem kaderisasi menjadi sangat penting di miliki Kopma-kopma di seluruh Indonesia. Standarisasi perlu disusun sebagai panduan membentuk kompetensi segenap pejuangnya sehingga memiliki kecakapan yang cukup dalam menyuarakan kebaikan-kebaikan berkoperasi dan juga berkemampuan membangun contoh-contoh inspiratif yang meng-energi masyarakat luas untuk menumbuhkembangkan kehidupan koperasi. 


B.  Standarisasi tanpa mengekang potensi lokal
Menyusun stadarisasi kurikulum menjadi focus 2 (dua) hari pertemuan yang digelar oleh Kemenkop dan UKM RI di Hotel Pabu, Bandung. Bertindak sebagai nara sumber beberapa tokoh koperasi, mulai dari ilmuwan, praktisi koperasi, penggerak koperasi dan perwakilan user. Dari Ilmuwan antara lain ada; (i)  Saudara Arief, ketua Lapenkopnas (lembaga pendidikan koperasi nasional) Dekopin; (ii) Saudara Iwan; (iii) Iis Muhibah. Sementara itu dari praktisi manajemen koperasi antara lain dihadiri oleh Muhammad Arsad Dalimunte yang juga ketua Dekopinda Kab. Banyumas. Dari penggerak koperasi ada Saudara Mujayyin dan Hendra. Sementara itu dari User, ada kopma UIN Bandung, Kopma UPI Bandung, Kopma IAIN Bandung. Tak ketinggalan juga ada rombongan pengurus DPP FKKMI (Forum Koperasi Koperasi Mahasiswa Indoensia) antara lain, Eka, Nazar, Nabila, Saddam karim dan Kusmawan.  Semula, Saudara Firdaus Putra dari Kopkun Purwokerto juga berencana hadir dna bergabung, namun karena kesehatan yang kurang memungkinkan sehingga terpaksa membatalkan kehadirannya.

Dalam proses pembahasan, disepakati bahwa standarisasi kurikulum merupakan bentuk penyeragaman sehingga terbentuk kualifikasi terukur dari kader-kader koperasi mahasiswa se-Indonesia. Namun demikian, potensi lokal tetap diakomodir sehingga terjadi pengayaan materi \yang disesuaikan dengan kondisi lokalitasnya masing-masing. Dengan demikian, kurikulum yang dihasilkan tidak memasung kreativitas dan bahkan hal ini dipandang sebagai sumber pengayaan yang akan menambah kekayaan referensi pengembagan koperasi.


C.  Semangat Sistem kaderisasi Milenial
Kata “milenial” telah menjadi simbol kemoderenan sebuah generasi, khususnya mereka yang berusia 17 tahun sampai dengan 36 tahun . Me-referensi pada hal tersebut, maka dipastikan mahasiswa/i yang notabene adalah anggota Kopma  masuk dalam kategori generasi milenial.  Kem-milenial-an yang tengah ins di themakan banyak pihak ini  pun ikut mempengaruhi proses penyusunan system kaderisai selama dua hari itu. Kemilinialan dengan segala cirri yang melekat mengisnpirasi satu Tanya, “bagaimana caranya agar Koperasi tetap seksi dan menarik bagi generasi milenial?”.
Tanya ini sebagai symbol semangat segenap tim perumus untuk memastikan bahwa kurikulum yang dihasilkan mewakili karakter milenial tanpa perlu merubah substansi koperasi sebagai alat perjuangan ekonomi yang demokrasi dan berkeadilan.  Artinya,kurikulum ini diharapkan  efektif membangun kompetensi para kader sehingga berkemampuan membangun karya dan melakukan perubahan terhadap situasi yang terus tumbuhkembang. “Kader Kopma harus mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa merubah substansi nilai-nilai kejuangan koperasi”, demikian tegas Pak talkah selaku pejabat  Kemenkop di deputi SDM  dalam memberikan arahannya. 
 

D.  Penghujung
Secara keseluruhan materi kurikulum pada akhirnya tersusun dan saat ini sedang dirapikan oleh tim perumus agar menjadi satu kesatuan yang utuh dan mudah untuk dipelajari. Pasca finalisasi, sistem kaderisasi ini akan disosialisasikan secara massif kepada segenap Kopma di seluruh Indonesia. Tidak saja sebatas itu, juga akan dilakukan monitoring sehingga mendapat feed back dari kelompok user dan selanjutnya dijadikan bahan evaluasi dan juga penyempurnaan.

Semoga dengan tersusunnya sistem kaderisasi akan melahirkan kader-kader yang lebih berkompeten, baik dalam konteks pengelolaan koperasi secara mikro maupun kontes pemikiran koperasi secara macro. Dengan demikian, kader-kader berkompeten tersebut akan mendorong laju tumbuh kembang koperasi dan kehidupan berkoperasi di negeri tercinta ini.  Aaaminn.     

   
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved