PLOTOTAN SANG PEBISNIS DI LAMPU MERAH

Jumat, 18 Agustus 20170 komentar

PLOTOTAN SANG PEBISNIS DI LAMPU MERAH

Saat berjarak kurang lebih 100 meter, traffic Light  menunjukkan warna kuning. Dari kecepatanya, mobil sedan di depanku sepertinya mau ancang-ancang untuk jalan terus memanfaatkan beberapa detik tersisa. Sesaat kemudian aku pun berfikir mengikuti jejak kendaraan didepan, sebab prakiraanku trafic light akan merah tepat setelah aku melewati garis batas pemberhentian pertigaan karang bawang, Jalan HR Boenyamin.  


Sesaat kemudian, tiba-tiba aku terpaksa menginjak rem  karena ternyata mobil di depan merubah rencananya. Untung jarakku masih tergolong aman sehingga terhindar dari kecelakaan. Dalam debar jantung yang meningkat seketika, aku menyaksikan seorang lelaki berdiri di tengah zebra cross memplototi mobil didepanku sambil mengangkat telunjuknya ke arah traffic light yang saat itu sudah merah.

Awalnya aku berfikir dia bereaksi demikian karena merasa terganggu saat akan menyeberang jalan. Ternyata aku salah, yang dilakukannya adalah sebuah kemuliaan. Sesaat sesudah kendaraan di depanku berhenti, lelaki kekar itu pun mempersilahkan seorang guru dan beberapa siswa SD menyeberangi jalan. Sesudah memastikan semua sampai dipenghujung, lelaki itupun masuk ke toko hand phone yang berada di pojok perempatan itu.  Aku pun  berkesimpulan dengan penuh keyakinan  bahwa lelaki itu merupakan pemilik toko  tersebut sebab dia masuk dari pintu sebelah yang bukan pintu biasa pelanggan memasuki toko itu.

Kini aku bisa memahami mengapa lelaki itu memplototi kendaraan didepanku. Terbangun kekaguman terhadap lelaki yang berinisiatif menyeberangkan guru dan para muridnya di siang itu. Itu sebuah kemuliaan sederhana yang menyisakan pelajaran luar biasa. Kepedulian sederhana semacam itu tentu memberikan rasa nyaman bagi siswa/i yang pasti setiap harinya menyeberangi jalan itu setiap kali berangkat dan atau pulang sekolah.


Disisi lain, ini tentang kebijaksanaan dalam berkendaraan dan kemauan berbagi kesempatan dalam menggunakan jalan raya. “Ketergesa-gesaan bukan lah alasan untuk kemudian kehilangan kesabaran atau meningkatkan kecepatan saat melintasi traffic light”, setidaknya itulah pesan minimal dari aksi heroic sang pengusaha di sore itu. Teringat saat seorang sahabat menghentikan kendaraannya untuk memberi kesempatan tukang becak lebih dulu menyeberang di pertigaan. Saat saya tanya alasannya, beliau memberi   alasannya demikian bijaksana dan membuatku selalu ingat khususnyakala berkendara, untuk menyeberang tukang becak tua itu pasti mengeluarkan energi besar, sementara saya cukup menginjak pedal rem saat berhenti dan menekan pedal gas saat melanjutkan perjalanan, jadi apa salahnya saya biarkan beliau lebih dulu dan tidak perlu berhenti  sehingga energi yang dikeluarkannya lebih sedikit”. 

Hal senada juga pernah diperdengarkan seorang sahabat saat melakoni sebuah perjalanan ke luar kota. Saat itu, tiba-tiba sebuah mobil memaksakan diri menyalip dalam situasi yang kurang tepat. Akibatnya,  sahabat saya harus menginjak pedal rem untuk menghindari terjadinya tabrakan. Saya fikir beliau akan mengumpat pengendara di depannya, ternyata beliau hanya senyum dan mengatakan, mungkin mobil yang didepan sedang berburu waktu. Jangan-jangan ada keluarganya yang sedang sakit atau keperluan lain yang men-desak sehingga harus begitu nyetirnya, kita doakan saja semoga beliau selamat sampai tujuan”.    
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved