KESEDIHAN SANG GADIS YANG MENGINGATKANKU PADA SANG AYAH....

Senin, 24 Juli 20170 komentar

Tulisan ini ditulis dan dikirim oleh seorang sahabat  


Seketika teringat ayah yang selalu mengajari kebaikan Allahu yarham..
walau beliau keras dan disiplin, sejak kecil beliau selalu mengajariku untuk selalu menyayangi siapapun. Ayahku garang namun hatinya mudah tersentuh.Jika ada yang datang kerumahku, Insha Allah  selalu pulang dengan senyuman. Aku sering nggak habis fikir kenapa ayahku begitu mudah memberi pada siapapun. 

Ada satu hal yang begitu nancap di memoryku, saat seseorang yang tidak dikenal oleh ayahku silaturrahmi ke rumah. Menurut pengakuannya, beliau akan mendirikan ponsok pesantren. Tanpa basa-basi, ayahku langsung percaya begitu saja dan kemudian menyerahkan uang sejumlah Rp 500.000(saat itu harga emas Rp 18.000/gram) yang kalau di rupiahkan saat ini senilai Rp 14 juta.  Bahkanm ayah menjanjikan minggu depan akan
memberinya  lagi yg lebih banyak. Belum genap seminggu orang tersebut sudah datang lagi. Aku complain pada ayah karena kunilai terlau tergesa-gesa menurutku. Namun, ayahku tidak mendengar complainku dan bahwan memberi orang itu lebih besar dari jumlah kemarin. Ayahku bilang, "aku senang dan bahagia dengan  orang-orang yg serius berjuang seperti itu..harus kita dukung"

Tidak berhenti sampai diditu, aku mendapati orang yang sama datang untuk ketiga kalinya, lagi-lagi dengan judul yang sama, "membangun pesantren". Seperti sebelumnya, ayahku pun memberinya lagi tanpa perhitungan atau kecurigaan sedikitpun.  Ayahku pun sempat mengekspresikan kekagumannya pada saudaraku yang kebetulan dihari yang sama datang  dari daerah Kawunganten datang. Bakan, beliau menggelar orang tersebut sebagai "pejuang". 

Suatu waktu, ayahku ingin silaturrahmi sambil menilik pondok pesantren yang dibangun sang pejuang. Alamat sang pejuang itu pun diberikan ke saudaraku untuk menyusun ancer2 sehingga lebih mudah dan  cepat sampai ke lokasi. Ke-esokan harinya didapat informasi valid dari saudaraku tersebut bahwa alamat tersebut tidak ada, termasuk pesantrean yang dijanjikan oleh Sang Pejuang. "aku sempat melihat raut sedih di mata ayahku" mendengar berita itu. Namun, hebatanya lagu, tidak satu kalimatpun keluar dari ayahku untuk menjelekkan Sang "Pejuang" nya. Ayahku hanya hanya berpesan kepada semua karyawan di toko, "jika pejuang  ini datang, tolong sampaikan bapak tidak mau ketemu lagi". 

Itulah sekelumit tentang ayahku yang unik. Setiap kali merindukannya, semangatku bangkit untuk mencontoh kebaikannya. Namun, belajar dari hal kurang meng-enakkan yang dialami ayahku, ku mencoba mendatangi dan melihat langsung obyek yang akan ditolong.  

Hari ini, fikiranku terfokus pada kesedihan yang tengah dialami seorang anak perempuan kelas VI yang bertempat tinggal di kedung randu. Aku mendapati nasi putih tak berlauk, pakaian tak berlemari, dipan yang tidak dilengkapi kasur. Bapaknya yang mencari nafkah sedang terbaring lemah di dipan. Sementara itu, Ibunya sedang menunggu kakaknya yang menderita sakit dengan HB hanya 3 (tiga). Tentu, anak perempuan ini  berada disituasi yang sangat menyedihkan. Dia terpaksa mengalami pahitnya hidup di usia yang masih tergolong belia karena keadaan sulit yang membelit. Akupun  tak dapat menahan diri, kemudian terpaku lemas dan kemudan menangis. 

Rindu pada ayahku pun memuncak seketika. Andai saja beliau masih hidup, aku pasti langsung  memintanya membangunkan tempat tinggal yang layak bagi keluarga ini. Aku ingin anak ini mengalami masa remaja yang bahagia sebagaimana aku pernah mengenyam saat seusianya. Aku tak ingin anak ini mengalami sedih berkepanjangan.Aku ingin dia segera bahagia dan keluar dari kesulitan hidup yang mengelilinginya. 



Ayah.....kini aku sadari engkaulah yang betul-betul pejuang.....


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved