AKHIRNYA PENERBANGAN SURABAYA-SEMARANG ITU GRATIS

Jumat, 14 Juli 20170 komentar

AKHIRNYA PENERBANGAN SURABAYA-SEMARANG ITU GRATIS

Ini hari penerbangan yang rumit..” sempat tergoda berfikir demikian kala kendala penerbangan bermula. Namun pada akhirnya, membangun pemaknaan bijak lebih ku pilih ketimbang memelihara gundah yang kuyakini hanya membuat syaitan bahagia. 

Bermodalkan daftar tiket berisi code booking dari Panitia Kongres Koperasi ke-03, dinamika unik perjalanan ini pun bermula saat chek-in. Kekagetan  bermula saat petugas check-in penerbangan Lion Air mengatakan bahwa berdasarkan booking code penerbangan saya dan salah satu anggota delegasi Prop Jawa Tengah hanya meng-cover penerbangan Makassar -Surabaya. Mendengar hal itu, saya mencoba menjelaskan bahwa Bandara Surabaya hanyalah transit menuju final destination Bandara Ahmad Yani Semarang.  Sang petugas pun mencoba menge-check validitas datanya di sistem komputer. Namun, hasil pengecekan berkata sama...sampai bandara Surabaya.

Sepertinya beliau menyadari aura kekecewaan hadir di wajahku. Beliau pun menyarankan untuk ke counter Lion untuk nge-print berkas pesanan tiket. Ironisnya, petugas di counter pun mengalami kesulitan menemukan untuk memberikan sebuah jawaban sesuai inginku di komputernya. Hampir 30 menitan upaya keras itu berlangsung sampai kemudian beliau  menyarankan untuk menyelesaikan proses chek-in perjalanan Makasar-Surabaya yang sempat terhenti prosesnya.  Saat aku mengikuti saraannya, disaat serupa beliau melanjutkan pencarian data di sistem untuk memastikan bahwa jalur penerbanganku adalah  Makasar-Surabaya-Semarang.

Usai check-inperjalanan Makasar-Surabaya, aku kembali ke counter yang hanya berjarak beberapa meter. Kulhat sang petugas masih asik bergulat dengan aksi pencarian data bermodalkan KTP dan listing booking code yang kuberikan. Akhirya, kami bersepakat menghentikannya karena khawatir ketinggalan penerbangan Makasar-Surabaya.  

Sambil menunggu penerbangan usai menyempatkan diri menunaikan sholat subuh, aku berupaya mencari nomor kontak panitia untuk mengurai persoalan ini secara jernih dan menemukan solusi terbaik.  Alhamdulillah, berkat bantuan Bung Romi yang juga Sekjen Kopindo (Koperasi Pemuda Indonesia), akhirnya ku peroleh nomor Handphone Mas Iyan, salah seorang panitia yang bertugas ngurusin tiket kedatangan dan kepulangan seluruh peserta Kongres. Karena waktu sudah terlalu mepet dan harus masuk ke dalam pesawat, beliau sepakat akan mengirimkan file pemesanan tiket via WA aja.

Kerumitan baru muncul kemudian saat memasuki pesawat dimana tempat duduk bernomor 5D sudah terisi oleh seorang laki-laki yang umurnya jauh diatasku. Ku coba mengkonfirmasi nomor seat beliau dan akhirnya kudapati jawaban kami memiliki nomor seat  serupa. Beliau menawarkan kursi itu untukku, namun ku tolak dengan senyuman berbalut ucapan terima kasih  dan kemudian menyambangi pramugari pesawat meng-kisahkan persoalan ini.

Beliau menawarkan solusi sementara dengan mempersilahkanku duduk di kursi yang kebetulan masih kosong. Tak lama berselang, Bapak Arifin yang sejak awal bersamaku ternyata mengalami hal serupa, “double seat”. Atas hal ini, Pak Arifin pun akhirnya duduk di sebelahku yang kebetulan juga kosong.

Sunggguh Ini sebentuk keunikan yang jarang terjadi diimana ada 2 (dua) penumpang memiliki nomor yang sama dengan penumpang lainnya. Untungnya, ada kursi yang kosong sehingga tindakan re-placement pun memastikan aku sampai di Bandara Surabaya.  

Setelah turun dari pesawat, berbekal file berisi pesanan tiket dari Mas Iyan, Counter LION pun menjadi tujuan pertama guna memastikan ketersediaan tiket penerbangan selanjutnya ke bandara A. Yani, semarang. Quick Respon sang petugas yang kemudian belakangan ku ketahui bernama Septiani O.K dan Mas Agus.  Dalam hitungan menit, hasil searching mereka di komputer pun menunjukkan kesimpulan bahwa kami telah menempuh route yang keliru. Seharusnya, kami menempuh perjalanan Makassar-Jakarta- Semarang.

Hmmm.. kepusingan pun muncul sebab urusannya tampak menjdi begitu ribet. Apalagi terbangun kesan awal petugas LION Bandara Surabaya hanya mengambil positioning sebagai penjembatan antara saya dan petugas di Bandara Hasanuddin, Makassar.  Ironisnya, petugas di Makassar seperti sedikit shock ketika di konfirmasi oleh petugas Surabaya. Petugas Makassar pun mencoba menghubungi saya langsung dengan kalimat sangat hati-hati. Saya tidak melihat mereka sedang menghindar dari tanggungjawab, saya hanya mendapati sepertinya mereka tidak siap dalam resiko atas situasi tak terduga ini.

Saya apreciate dan terkesan atas cara dan langkah berikutnya yang diambil oleh Agus dan Septi. Mereka mencoba tidak ikut panik dan kemudian fokus mencari solusi terbijak atas situasi tidak nyaman ini. Kami  pun dipersilahkan jalan-jalan keluar ruangan agar tidak terjebak pada kejenuhan saat menunggu mereka mencari solusi. Tidak sampai disitu saja, Agus pun  membekali kami selembar printout  boarding pass agar tidak kesulitan saat keluar masuk bandara.

Kesempatan ini pun kami manfaatkan untuk mencari sarapan penawar keroncong perut. Sayangnya, terlalu sulit mendapaii nasi rames seperti di kampung, semuanya makanan serba modern. Mengecek nafas pun akhirnya kupilih dan kemudian sejenak bersahabat dengan sebatang rokok.

Sedang asik menikmati sebatang rokok, tiba-tiba saja telepon genggamku berdering dan kudapati nomor yang belum te-record di phonebook ku., “siapa tahu penting”, fikirku dan kemudian mengangkatnya.. Ternyata betul, telepon itu dari petugas Bandara Makassar. Beliau memberi kabar gembira bahwa tiket penerbagan ke Semarang sudah tersedia untuk kami. Namun persoalannya adalah, ketika sang petugas yang bernama  Dindi itu mencoba mengajakku rembukan berbagi beban atas biaya kedua tiket pesawat itu yang menyentuh total angka Rp 2 juta-an. Hmmm..pantes aja dia tempak begitu berat menyampaikannya. Namun disis lain, saya memahami bahwa Dindi sedang bingung kalau menanggung sendirian beban sebesar itu.

Aku berusaha menenangkannya dan merasionalkan tawarannya agar terbangun keputusan bijak dalam persoalan ini. Aku bahkan menyarankan Dindi berfikir ulang untuk mengukur apakah langkah berbagai beban itu bijak untuk dipilih?. “Renungkan lagi ya dan musyawarahkan pada atasan anda”, pintaku sambil menutup telepon. Aku mencoba menelepon kembali mas iyan dan menceritakan situasi ini. Beliau kaget dan menyarankan secara tegas untuk tidak meng-iyakan tawaran berbagi beban itu. 

Usai merampungkan hisapan rokok terakhir, aku dan pak arifin pun bergegas masuk ke Bandara. Setelah melalui body checking, kami langsung menuju ruang customer service penerbangan LION. Terlihat ruangan kosong, namun tak lama kemudian Septi muncul meminta kupon bagasiku. Sayangnya, aku kelupaan menaruhnya dimana. Namun Septi tak kalah akal dan kemudian memotret dengan camera HP nya tanda bagasi yang menempel di tas koperku dan kemudian kembali meninggalkan kami.

Tak lama berselang, Septi muncul dengan 2 (dua) tiket dan hebatnya lagi dia tidak membicarakan sama sekali tentang pembiayaan apapun. Septi kemudian  mengarahkan kami untuk segera ke ruang tunggu pesawat. Herannya lagi, beliau berinisiatif mendampingi sampai kami benar-benar siap terbang. “Ini pelayanan yang keren dan luar biasa”, spontan aku memujinya dan diperkuat dengan nada serupa oleh Pak Arifin. Sebagai bentuk apresiasi dan kekagumanku caranya melayani, aku membocorkan rencanku  membuat satu tulisan atas hal ini di website ku. Dia tersenyum dan mengatakan terimakasih. Sebelum dia beranjak pergi, aku sempatkan meminta kesediaannya untuk we-fie dengan camera HP ku yang kebetulan sedang menempel pada tongsis. Dia pun tidak keberatan dan menanyakan nama website ku  sebelum berpamitan dan menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamana yang telah berlangsung.

Saat semua penumpang diminta masuk ke pesawat, teleponku berdering lagi. Ternyata dari Agus, staff LION satunya. Dia ingin memastikan bahwa aku tidak terlambat masuk ke dalam pesawat. Akupun tak lupa meng-apresiasinya lewat SMS berisikan “terima kasih pak atas pelayanannya..Alhamdululillah   kami sudah di shuttle bus menuju pesawat...maturnuwun”.

“Penanganan complain yang luar biasa”, bathinku sambil menaiki tangga pesawat dengan penerbangan IW 1835. Thanks LION..kalian telah memberiku begitu banyak pelajaran khususnya tentang ketulusan dalam mempersembahkan sebuah pelayanan.



Semarang, 15 Juli 2017

Warung Tegal di depan Bandara Ahad Yani
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved