MBAH BECAK 70 TAHUN-AN YANG MENG-INSPIRASI

Kamis, 29 Juni 20170 komentar

MBAH BECAK 70 TAHUN-AN YANG MENG-INSPIRASI


Mbah Becak.. sebut saja nama lelaki itu demikian, sebab penulispun lupa menanyakan nama aslinya. Beliau sudah tua, mungkin sekitar 70-an tahun, umur yang tidak muda dan juga sudah kurang pantas menjalankan profesi  tukang becak sepeda. Namun, beliau baru saja memberi pelajaran luar biasa dan inspiratif.

Pagi itu, penulis baru saja akan berangkat ke kantor dan sedang ikat sepatu. Istri yang duduk disebelah dan akan melepasku ke kantor, tiba2 saja mengangkat tangannya melambai ke arah lelaki tua yang sedang mengayuh sepeda becaknya. Mendapati lambaian tangan, Mbah Besak pun berhenti dan langsung mendekat ke posisi kami.


Kehadirannnya pun kami sambut dengan senyum sekalian mengulurkan tangan sambil mengucapkan “sugeng riyadi lan nyuwun pangapunten nggih”. Beliaupun memberikan respon serupa mengingat ini masih dalam suasana idul fitri. “Monggo Pak”, ucapku mempersilahkan masuk. Namun, dia memilih untuk  duduk dilantai persis disebelahku yang sedang melanjutkan mengikat tali sepatu. Moment itu pun kuabadikan dan sekaligus mendukung tulisan inspirasi ini.  

“Lebarannya dah bubar apa pak?”, tanyaku. Sebenarnya saya mau mulai narik besak lagi senin besok, tetapi karena hari ini jum’at saya memilih berangkat sambil nanti jumatan di mesjid Nurul Ulum (sebuah mesjid dilingkungan Kampus Unsoed). Disana saya akan manfaatkan salam2an dengan para jam’ah sekalian mohon maaf lahir bathin”, jawab beliau. Luar biasa mbah bacak ini, fikirku. Bapak sudah sarapan?, tanyaku. “lagi mulai nyawal. mas”, jawabnya. Rupanya mbah ini mulai melaksanakan puasa sunnah di bulan syawal yang faedahnya diibaratkan setara dengan puasa setahun ketika juga melaksanakan puasa ramadhan secara penuh.

Aku sungguh takjub dengan mbah becak ini. Beliau punya cara fikir dan tindakan-tindakan diluar kebiasaan kebanyakan tukang becak yang aku kenal. Mengayuh becak tak menjadi alasannya untuk takut berpuasa. Mungkin, beliau berfikir puasa sebagai sumber energi untuk lebih bertenaga dalam mengayuh becak dan sekaligus sebagai cara memperbanyak penumpangnya. Ini sangat keren dan juga membuatku sedikit malu karena belum mulai puasa syawal sebagaimana mbah becak itu melakukannya.

Tidak lama kemudian, beliau berpamitan melanjutkan perjalanannya mencari penumpang. Sambil meraih tas dan siap-siap ke kantor, aku sempatkan menyampaikan kekagumanku terhadap istriku yang lebih mengenalnya mbak becak ini. Istriku pun menyampaikan bahwa mbah ini memang luar biasa. Berkali-kali istriku mendapatinya sedang membaca Alqur’an saat penumpang sedang kosong. Bahkan, setiap kali Mbah ini mendapat nasi bungkus dari seseorang yang selalu memberinya hampir setiap hari, di hari-hari tertentu (biasanya senin dan kamis), nasi bungkus yang diterima nya diberikan kepada tukang becak lainnya. Ke Mesjid merupakan hal rutin dilakukannya ketika masuk waktu sholat. Mendengar hal itu, aku pun semakin mengagumi bapak tua ini.

Beliau sudah tua, tetapi sikap dan kebiasaan hidupnya nya sungguh meng-inspirasi dan layak ditauladani. Senyum ikhlas, ramah, penampilan bersih, sergep bekerja, rajin ibadah, meng-indikasikan bahwa beliau adalah pribadi yang soleh dan luar biasa. Dipenghujung terbersit tanya, walau aku sudah sering berpapasan dan juga ikut melambaikan tangan dengan mbah becak satu ini, tetapi mengapa baru hari ini  mendapat cerita hebat ini?.
 
Dalam diam sambil memacu kendaraan menuju kantor, akupun mencoba merenung untuk mencari hikmah. Menuliskannya di Blog ini dan kemudian men-share nya pun kulakukan sebagai langkah pertama wujud syukur atas pelajaran hebat yang disajikan Tuhan di jumat pagi penuh berkah ini.


Semoga pembaca pun terinspirasi ketika berkesempatan membaca tulisan sederhana ini. Amin Ya Robbal ‘Alamin. 
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved