Kopkun Institute Menggugat Pola Pendidikan Koperasi

Rabu, 07 Juni 20170 komentar

Kopkun Institute Menggugat Pola Pendidikan Koperasi


A.  Menilik Posisi Pendidikan

Malam ini, Rabu 09 Juni 2017, perdebatan sengit berlangsung di Kantor Pusat Kopkun yang beralamat dijalan HR Boenyamin, Purwokerto.  Tema yang diperdebatkan oleh insan-insan koperasi yang tergabung dalam Kopkun Institute adalah tentang “kurikulum pendidikan”. Materi kurikulum hasil penyusunan Balatkop Dinkop Prop Jawa Tengah dijadikan sebagai pemantik.

Alih-alih mau mewarnai detail silabus agar lebih variatif dan efektif, namun peserta rapat menilai harus lebih dahulu menilik kebijakan (policy) pemerintah (dalam hal ini dinkop). Dalam tinjaun ini, metode pendidikan atau kurikulum  dipandang sebagai “tool” dari skenario besar yang disusun. Artinya, relevansi renstra dengan realitas lapangan harus tegas sehingga mempermudah meng-efektifkan pendidikan sebagai alat efektif mendorong koperasi naik kelas dari pra koperasi-mikro-kecil-menengah-besar.


B.  Sekilas Menilik Efektivitas Pendidikan dan Pelatihan Yang Sudah Tergelar
Dari sisi keterselenggaraan, ragam pendidikan dan  pelatihan telah diberikan pemerintah kepada koperasi secara terus menerus dengan ragam materi sebagaimana tertera dalam silabus. Namun demikian, dari sisi efektivitas masih dalam tanda tanya besar ketika melihat realitas atau kondisi mayoritas koperasi hari ini.  Artinya, potret suram mayoritas koperasi  sampai hari ini meng-indikasikan lemahnya peran pendidikan dalam mendorong akselerasi pertumbuhan dan perkembangan koperasi.  Dalam situasi semacam ini, maka review terhadap penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan menjadi sebuah kebutuhan.


C.  Titik Lemah Pegelaran Pendidikan dan Pelatihan
Ada beberapa titik lemah dari beberapa pagelaran pendidikan dan pelatihan selama ini, antara lain :
  1. Sisi kepesertaan.  Ada beberapa persoalan dari sisi tidak men-syaratkan kapasitas tertentu, tetapi lebih pada pertimbangan jabatan dan atau ketersediaan waktu. Hal ini menjadi bagian dari sisi buruk dimana pegelaran pendidikan diinisiasi oleh negara dan bukan karena perasaan butuh dari peserta. Hal ini pun berpengaruh pada keseriusan peserta dalam mengikuti pendidikan dan pelatihan.   
  2. Sisi Materi. Sisi materi tidak berbasis kebutuhan lapangan, tetapi lebih pada paket pendidikan dan pelatihan yang sudah disiapkan oleh pemerintah. Akibatnya, tingkat efektivitasnya rendah dalam arti kurang memberikan pengruh signifikan terhadap tumbuhkembangnya koperasi
  3. Transfer of knowledge. Kebiasaan buruk dari insan koperasi yang mengikuti pendidikan dan pelatihan adalah tidak melakukan transfer of knowledge
  4. Tindak lanjut hasil pendidikan dan pelatihan. Tindaklanjut  pendidikan dan pelatihan sangat tergantung integritas dan semangat juang peserta tanpa diikuti penilaian dengan menggunakan alat ukur  yang tersistematis .
  5. Kontinuitas. Keberlanjutan keberadaan peserta diklat dalam sebuah koperasi. Kepengurusan dan kepengawasan koperasi lahir dari proses demokrasi di internal koperasi masing-masing dan ironisnya proses pemilihan sangat jarang mempertimbangkan kapasitas yang diukur secara serius.  Hal sedikit berbeda ketika peserta pendidikan dan pelatihan adalah karyawan/manajemen dimana keberadaan mereka lebih stabil di koperasi. Hanya saja, pengaruh kepengurusan dan kepengawasan yang berganti-ganti berpotensi memperlambat proses aplikasi imu pengetahuan dan kapasitas yang ada pada barisan karyawan dan manajemen.


D.  Penghujung

Apa yang tersaji dalam tulisan kali Ini adalah bagian dari gambaran processing dari proses diskusi. Tulisan ini sementara disudahkan saat diskusi sedang memasuki sesi krusial, yaitu men-sistematisir sistem pendidikan berbasis kebutuhan dengan output terjadinya pertumbuhan yang bertahap dan berkesinambungan. 

untuk itu, redaksi mohon maaf kalau pembaca tidak ikut serta dalam klimaks diskusi sengit nan produktif ini.  
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved