SEKILAS JEJAK SPIRITUAL SEORANG GADIS BERNAMA JU...

Kamis, 12 Januari 20170 komentar

SEKILAS JEJAK SPIRITUAL SEORANG GADIS BERNAMA JU...


Sekilas Juang Ju
Ju..begitu nama panggilan wanita lajang yang terlahir sekitar 23 tahun lalu di Tasikmalaya, Jawa Barat. Semasa kuliah, Ju tergolong  mahasiswi cerdas  Menjadi aktivis kampus semasa kuliah dan lulus dengan IPK di atas tiga dengan masa kuliah dibawah 5 (lima) tahun, merupakan 2 (dua) fakta layak untuk berkesimpulan tentang Ju. Dalam kaca mata normal, dengan kapasitas yang demikian, anak ini akan mudah melenggang ke dunia kerja. Ironisnya, kenyataannya tidak demikian dan keadaan seperti tidak berpihak pada Ju. Entah sudah berapa lamaran yang dia layangkan pada instansi dan institusi, tetapi tak kunjung dengan akhir menggembirakan. Frustrasi pun mulai menghampiri dan kegalauan akud pun kemudian menimpa hari-hari Ju. Apalagi, kala temen-temen kuliah dan seperjuangannya di kampus sudah pada bekerja di institusi dan instansi idola mereka masing-masing. Tak pelak lagi, situasi ini membuat Ju semakin tertekan dan menjadikannya minder. Akhirnya,  Ju memilih  banyak diam dan mengurangi intensitas komunikasi dengan teman-teman dan bahkat sahabatnya, termasuk perbincangan dunia maya dan di ragam media sosial.

Setelah 6 (enam) bulan terhitung sejak kelulusannya Bulan Maret 2016) berjuang untuk sebuah pekerjaan, pada Bulan Oktober 2016  Ju mendapat kesempatan kerja di Hannien Tour, sebuah tour yang memiliki produk umroh dan haji di kota kelahirannya, Tasik mayala. Awalnya, hati Ju selalu berontak dalam menjalani peran sebagai tenaga pemasaran  yang memaksanya harus berkeliling dan mencari para jamaa’h. “Ini bukan pekerjaan yang kuinginkan. Ini bukan pekerjaan yang ku impikan. Ini bukan disiplin ilmu yang kutekuni selama di kampus. Ini tak pantas dilakukan seorang aktivis yang lulus dengan IP diatas 3 (tiga), umpatan-umpatan semacam itu selalu hadir dibenaknya sambil menjalani pekerjaan dengan penuh keterpaksaan. Kian hari kegalauan kian menjadi, apalagi tidak satupun jamaah berhasil Ju dapatkan.  Dalam kegalauan yang amat sangat, tiba-tiba teride menyapa seseorang yang pernah beberapa kali menjadi tentornya di sebuah diklat yang di gelar organisasi mahasiswa dimana dia sebagai kader di dalamnya . Dia buka facebook dan mencoba mencari sang tentor. Awanya ada keraguan yang amat sangat apakah nginbox atau tidak. Akhirnya kenekatan pun muncul..

Asalamu'alaikum.. bapak maaf tiba tiba saya datang dan mungkin menganggu barangkali bapa belum kenal saya Ju temannya X (sebuah nama yang kebetulan Ju kenal sebagi murid sang tentor) . saya cukup mengenal bapa karena berkali kali di trainer oleh bapa. sejujurnya saat ini saya bekerja di bagian marketing di salah satu perusahaan biro travel haji dan umroh, baru bergabung sekitar satu minggu. saya mengalami kesulitan dalam hal memasarkn produk perusahaan.. ntah apa yang salah.. tapi sejauh ini saya masih blm bisa mengajak jamaah untuk bergabung. apabila berkenan .. ingin sekali saya bisa konsultasi dan mendengar serta memperoleh ilmu dari bapa terkait bagaimana cara agar dapat meyakinkan dan dengan mudah dan menjalin hubungan emosional dengan orang lain. jika bapa ada waktu dan berkenan sekiranya akan saya hubungi bapa via telepon.. terimakasih banyak sebelumnya, maaf jika sudah merepotkan dan menggangu aktifitas bapa..salam

Mendapati inbox semacam ini, Sang Tentor pun berfikir bahwa Ju bener-bender sedang mengalami stress luar biasa. Walau sang tentor tidak mengingat sama sekali siapa Ju, namun sang tentor mencoba berinisiatif meneleponnya. Dalam telepon itu, sang tentor mencoba memasang telinga lebar-lebar  dan membiarkan Ju bercerita sampai semua apa yang menjadi uneg-unegnya tercurahkan. Saat nada suara Ju terdengar sudah begitu lelah berkeluh kesah, barulah Sang Tentor mulai memberi respon. Menyuntikkan semangat semangat, motivasi dan sesekali memasukkan perspektif spiritualitas vertikal, adalah metode yang digunakan sang tentor untuk membangun kembali percaya diri dan semangat nya.  Di penghujung pembicaraan, sang tentor menyarankan agar Ju mengirimkan Curiculum Vitae (CV) via email, siapa tahu ada peluang untuk memasukkannya ke kolega sang tenor.

Lama tak bersapa pasca perbincangan itu, tiba-tba ada WA masuk ke Hp Sang Tentor tepat pukul 18.32 Wib” Assalamu ‘Alaikum,,bapa sehat Kah?. Saya  ingin telepon, kapan nih bapak ada waktu luangnya..Ju..”. Sang Tentor pun  mencoba mengingat nama itu, tetapi belum juga berhasil. Sang tentor Kemudian mencoba mengidentifikasi pengirim dengan meng-klik bagian atas, ternyata cukup membantu memori sang tentor. Ju..seorang sarjana hukum yang beberapa waktu lalu sempet mengalami “loose hope” akibat belum memperoleh pekerjaan yang dia idam-idamkan. Sang tentor pun langsung berinisiatif untuk menelepon dengan penuh penasaran.
  

Ketika Hikmah Tertemukan 
Ternyata..Kali ini Ju tidak sedang membawa berita kesedihan. Kali ini, Ju ingin men-share  sebuah cerita kebahagiaan. Dalam pembicaraan via telepon itu, Ju mulai meng-kisahkan perjalanannnya pasca diskusi beberapa waktu. Dalam testiimoninya, hal pertama yang dia lakukan adalah membangun ikhlas atas apapun yang dihadirkan Tuhan di hidupnya sebagaimana disarankan oleh sang tentor. Beliau pun menjalani peran sebagai agen pemasaraan sebuah travel umroh dengan hati dan kepasrahan pada Sang Khalik. Beliau berjuang untuk tidak minder lagi dan mulai menapaki juang hidup dengan memulainya dengan positif thingking dan optimistic walau apa yang dia kerjakan tidaklah apa yang dia idam-idamkan sejak kecil. Ju coba temuin dengan sepenuh hati satu per satu orang potensial. Ju menyuarakan ajakan menunaikan haji kecil yang lebih dikenal dengan istilah umroh. Tidak semua yang dia datangi berkenan untuk ditemuin sebagaimana tidak semua yang dia temuin merespon sesuai harapannya. Namun satu hal yang selalu dia lakukan pasca menyuarakan ajakan umroh, yaitu mendoakan semua orang yang ditemuinya di panjangkan umurnya, di limpahi rezeki, di lembutkan hatinya dan diberi kesempatan oleh Tuhan untuk ber-umroh.

Perjlanan demi perjalanan mendorongnya untuk lebih mengedepankan niat silaturrahmi ketimbang berfikir berapa prosen yang benar-benar akan jadi jama’ah dari orang-orang yang ditemuinya.  Alhamdulillah, ketekunan, kesabaran dan keikhlasannya mulai membuahkan hasil. satu per satu jama’ah pun mendaftar lewat Ju. Setiap satu keberhasilan dijadikannya  spirit baginya untuk membentuk keerhasilan berikutnya. Ketekunannya pun ditingkatkannya sejalan dengan kesabaran dan keikhlasannya yang  kian menebal. Sampai si satu titik, ada seorang peserta yang sudah listing di pemberangkatan maret 2017 membatalkan  karena alasan kesehatan yang tidak memungkinkannya melanjutkan kepesertaan.

Hikmah itu pun bermula dari sini dimana Ju diminta berkenan menggantikannya untuk berangkat. Entah apa yang tiba-tiba menghinggapinya, Ju langsung meng-iyakan permohonan jamaah tersebut. Dalam keyakinan Ju, berangkat ke tanah suci adalah tentang keterpilihan dan ridho Tuhan. Hal ini pun  menambah keyakinan Ju bahwa menjalani profesi dengan hati dan dilandasi niat silaturrahmi ternyata jauh lebih penting dari pada perolehan reservasi (baca: perolehan jama’ah). Ju sampaikan hal ini pada orang tuanya, daya dukung dan restupun diperolehnya. Setelah melalui serangkaian proses administrasi, jadilah Ju sebagai salah satu peserta umroh yang akan berangkat ke tanah suci di Bulan Maret nanti. Satu hal yang menjadi catatan, Ju memenuhi uang pengganti itu dari hasil keringatnya sendiri selama menjalankan profesi sebagai tenaga pemasaran umroh di biro umroh.


Pemaknaan Yang Visioner dari seorang Ju..
Bagi seorang Ju yang terhitung masih anak kemarin sore dalam urusan berjuang hidup pasca menyelesaikan studinya, berangkat ke tanah suci adalah sesuatu yang belum pernah terbenak sebelumnya di hati maupun dalam konsep rancang targetan hidup yang ingin dia capai. Dia mengambil buku mimpinya dan membaca kembali daftar rencana yang pernah dia tuliskan. Dalam buku itu, yang Ju dapati adalah goretan tentang melanjutkan S2 ke luar negeri, pekerjaan yang dia idam-idamkan, posisi yang membuatnya tampak hebat & penuh kewibawaan, pernikahan dan hal-hal lainnya berbau duniawi. Dia terdiam dan terbersit menelusur jawab atas sebentuk tanya besar yang muncul di benaknya,apa maksud Tuhan memberiku kesempatan umroh di usia 23 dan saat aku belum menikah?.

Mungkin ini adalah cara Tuhan memberi kesempatan terbaik untuk bersujud dan menengadahkan tangan menguntai do’a-do’a di tempat-tempat suci yang katanya ma’bul untuk bermohon pada Sang Khalik. Mungkin inilah kesempatan terbaik mengatakan pada Tuhan sederet mimpi yang pernah dia tuliskan dalam buku mimpinya.  Mungkin inilah pintu terbaik memasuki gerbang cita-cita sesungguhnya sebagaimana tertera rapi dalam list mimpi itu. “Tuhan begitu sayang padaku”, ujarnya dalam hati sambil berucap Alhamdulillah. Tak lupa dia istighfar atas kegalauan akud yang pernah menggelayut di hari-harinya akibat salah dalam memaknai kenyataan hidup yang pahit. Ju pun mengumandangkan permohonan ampun berkali-kali di sajadah persujudannya atas segala gundah kulana yang menandaskan ketidak ikhlasannya atas skenario Tuhan di hidupnya di beberapa waktu lalu. Terbangun kesadarannya betapa manusia hanya bisa berencana atau berupaya, sementara hasil akhir adalah persoalan ridho Tuhan.


Hari ini, Ju pun kian mantap menyuarakan kepada siapapun untuk ber-umroh. Hari ini, Ju pun dengan penuh semangat menyambangi siapapun dengan niat silaturrahmi. Ju tidak peduli lagi apakah pada akhirnya yang ditemui berujung dengan setuju, yang penting adalah menyuarakan kebaikan dari umroh. Tentang berapa prosen yang akan terketuk hatinya untuk terpanggil, sepenuhnya Ju serahkan pada ketetapan Tuhan. Sebagaimana keyakinannya, berangkat ke Tanah suci bukan hanya tentang kemampuan financial, tetapi juga tentang hidayah dan ridho Allah SWT.    
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved