MERANGKAI “JAWAB BIJAK” UNTUK TANYA “LIBURAN KEMANA?”

Senin, 12 Desember 20160 komentar

Tulisan ini merupakan Edisi II
Belajar Besama “Menjadi Orang Tua Yang Keren”...
merupakan bagian dari program kerja Komite SMP AL Irsyad Al Islamiyah Purwokerto. Tulisan ini di share lewat WAG (Whats App Group) masing-masing kelas. Penyajian dalam blog ini dimaksudkan lebih menyebarluaskan pemikiran-pemikiran sederhana yang diharapkan meng-inspirasi kebaikan-kebaikan baru


MERANGKAI “JAWAB BIJAK” UNTUK TANYA “LIBURAN KEMANA?”

Ketika Tanya Tak Bertemu Jawab
Alhamdulillah..ujian sudah usai dan sebentar lagi memasuki masa liburan anak sekolah. Mungkin...sukacita dan riang gembira tentu membenak disetiap siswa/i. Bahkan mungkin ragam imajinasi tentang keindahan liburan sudah terdefenisi ke dalam secarik kertas.  Adakah perasaan serupa juga dialami orang tua/wali murid?. Jawabnya bisa iya dan juga bisa tidak. Bagi orang tua yang sudah merencanakan jauh sebelumnya, pasti menyambut momen liburan ini dengan suka cita. Bisa jadi, bagi orang tua yang berprofesi kantoran, pengacuan cuti pun sudah dipersiapkan sejak sebulan yang lalu. Demikian juga orang tua yang berprofesi non-kantoran (baca: wirausaha atau pengusaha) juga sudah menyediakan waktu khusus untuk menemani putera/i nya liburan. Hal berbeda mungkin akan didapat pada orang tua yang kebetulan belum siap secara budgetting. Seribu kunci jawaban cerdas nan-bijak mungkin juga sudah dirancang kala putera/i nya bertanya akan liburan kemana.

Penulis tidak menemukan sumber atau data yang shahih sejak kapan liburan sekolah itu identik dengan berpergian. Tetapi, entah kenapa pembacaanliburan = bepergian” itu begitu kuat dan seolah menjadi semacam kewajiban yang tidak bisa  ditundakan. Adakah ini imbas kesuksesan mobilisasi dogma “ber-wisata  adalah sebuah kebutuhan?”. Ataukah ini telah menjadi gaya hidup di negara-negara berkembang termasuk Indonesia?.   Ataukah men-statuskan diri menjadi “wisatawan” dimasa liburan menjadi sebentuk identitas yang sangat membahagiakan dan membanggakan?. Atau bepergian erat kaitannya dengan eksistensi diri dan atau status sosial?. Entahlah.....lagi-lagi penulis tidak memiliki referensi cukup untuk berkesimpulan. Namun setidaknya, beberapa tanya itu layak menjadi bahan perenungan (kotemplasi) yang baik dan berujung dengan kebijaksanaan dalam memaknai dan mensikapi . 


Sebentuk Masa Lalu Yang Penuh Pesan
Mungkin sebagian dari orang tua/wali murid yang masa kecilnya di desa,  liburan hampir identik dengan membantu orang tua,  membantu  di sawah atau di ladang bagi yang orang tuanya berprofesi sebagai petani,  membantu berdagang bagi orang tuanya yang berprofesi sebagai pedagang; dan lain sebagainya. Ada hikmah positif dari pola pemanfaatan liburan semacam ini. Setidaknya anak menjadi lebih mengerti bagaimana perjuangan orang tua dalam menghidupi keluarga. Mungkin, pelibatan anak di proses semacam inilah yang membuat anak menjadi lebih mengerti keadaan ekonomi keluarga sehingga selalu hati-hati bila menyampaikan satu permintaan. Hebatnya lagi, pelibatan anak dalam perjuangan kehidupan ekonomi keluarga tidak kemudian membuat anak merendahkan orang tuanya, tetapi justru menjadi lebih hormat karena menyaksikan langsung bagaimana orang tua berjuang tanpa mengenal kata lelah atau menyerah. Bahkan, hebatnya lagi, anak menjadi lebih dewasa dan bijaksana dalam bersikap dikesehariannya baik di rumah, di sekolah maupun ditengah-tengah masyarakat.   Kalau kemudian anak zaman sekarang tanpa tedeng aling-aling bila menginginkan sesuatu, adakah hal ini dikarenakan anak jarang sekali dan mungkin bahkan tidak pernah dilibatkan dalam proses perjuangan orang tua  memenuhi kebutuhan keluarga?. Tanya ini mungkin menarik  dijadikan bahan perenungan.

Mungkin itu hanya kebiasaan dulu dan perubahan zaman serta berbagai faktor lainnya membuat hal dulu tidak mungkin bisa diulang di zaman sekarang ini. Namun demikian, satu hal yang mungkin layak tetap ada, yaitu spirit edukatif dari kebiasaan dulu walau wujudnya pasti sudah berbeda atau tidak sama.


Merancang Liburan Yang Edukatif
Hidup adalah perjalanan yang dinamikanya terus berlangsung, terkadang membahagiakan dan terkadang mengundang kesabaran dan kebijaksanaan. Mungkin hari ini berlebih, tetapi bisa jadi besok dalam kepusingan yang luar biasa. Artinya, kebijaksanaan diperlukan setiap berkeputusan termasuk dalam urusan liburan. Apapaun pemaknaan terhadap liburan dan apapun pensikapan yang mengikutinya adalah hak pribadi setiap orang. Disamping itu, setiap orang tua pasti akan memberikan yang terbaik terhadap anaknya. Setiap orang tua pasti ingin menjadi insan yang paing heroic di hidup anaknya.

Namun demikian, anak tetaplah anak. Mereka ditempa dari apa-apa yang diajarkan, apa-apa yang diperlihatkan dan apa-apa yang berlangsung dalam hidupnya. Artinya, sisi edukatif  perlu ada atas setiap perlakuan yang diberikan kepada anak. Dalam bahasa yang lebih sederhana, anak perlu disertai penjelasan edukatif atas setiap kemudahan atau kebahagiaan yang disajikan dalam hidupnya. Dengan demikian, anak akan memaknai segala sesuatu yang dia alami dan nikmati dari sisi bijak yang akan mempengaruhi perkembangannya secara sikap, mental dan kejiwaan. Anak perlu diberi penjelasan bahwa berlibur ke sebuah tempat adalah berkat kemurahan Allah sehingga anak tidak terjebak pada rasa ria, sombong, konsumtif dan atau hedonisme (keduniaan) . Anak perlu disampaikan bahwa berlibur ke tempat-tempat wisata pavourite adalah sebuah kebahagiaan, tetapi membantu orang tua mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah adalah sebuah kemuliaan. Anak juga mungkin perlu disampaikan bahwa berdiam (live in) satu hari bersama anak yatim piatu dan kaum dhuafa di panti-panti asuhan adalah sangat baik untuk belajar empati, kepedulian dan  juga rasa syukur. Anak juga mungkin perlu diajak berkunjung ke mesjid-mesjid yang syarat sejarah perjuangan Islam agar anak lebih memahami bahwa Islam itu begitu mulia. Disisi lain, Anak pun perlu diberikan penjelasan bijak kala keadaan belum memungkinkan untuk membawanya pada tempat-tempat yang dia inginkan. Anak pun perlu dibentengi untuk tidak merasa rendah diri saat mendengar teman-temannya bercerita tentang liburannya yang heboh dan penuh gengsi. Anak pun perlu dibangunkan filter kuat berbasis ke-Islaman sehingga tidak goyah kala temen-temen sebayanya membangun eksistensi diri diatas materialitas. Kata hebat perlu di-reposisi dari simbol-soimbol keduniawian yang hedonis ke dalam bentuk-bentuk capaian prestasi, kemuliaan akhlak, kepedulian dan empati yang terus tumbuh dalam pribadi dan keseharian hidup.

Demikian tulisan sederhana ini disajikan sebagai bentuk saling menyemangati dan saling mengingatkan. Hal ini juga sebagai bagian dari upaya menjadi orang tua yang hebat dimata anak-anak kita dan juga dihadapan Allah SWT. Satu hal lagi, hal inipun sebagai bagian dari upaya untuk membentuk putera/i kita tercinta menjadi anak soleh/solehah yang senantiasa men-doakan kita, menentramkan jiwa kita, mneyejukkan pandangan kita dan membahagiakan hidup kita. Selamat menikmati liburan sekolah dan mari terus belajar bersama membangun kebijaksanaan dalam menyajikan yang terbaik untuk anak-anak kita tercinta. Salam Ukhuwah Islamiyah.


Keterangan : 
Gambar yang ditampilkan dalam tulisan ini diambil dari hasil Searching di Google


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved