HIDUP NYATA dan PERTAUTAN MAYA ....

Senin, 19 Desember 20160 komentar

Tulisan ini merupakan Edisi IV
Belajar Besama “Menjadi Orang Tua Yang Keren”...
merupakan bagian dari program kerja Komite SMP AL Irsyad Al Islamiyah Purwokerto. Tulisan ini di share lewat WAG (Whats App Group) masing-masing kelas. Penyajian dalam blog ini dimaksudkan lebih menyebarluaskan pemikiran-pemikiran sederhana yang diharapkan meng-inspirasi kebaikan-kebaikan baru



HIDUP NYATA dan PERTAUTAN MAYA ....

A.  Sekilas Mendeteksi Kecanggihan Zaman
Zaman telah berubah dan perkembangan teknologi komunikasi kian hari kian menunjukkan kecanggihannya. Kemajuan di bidang teknologi komunikasi tidak saja menghilangkan jarak, mempersingkat waktu, meng-efisienkan tanpa mengurangi efektivitas, tetapi sudah menembus dan mempengaruhi ruang-ruang kehidupan. Lihatlah bagaimana media sosial terlah mempertemukan orang-orang yang sekian puluh tahun kehilangan kontak. Lihatlah, bagaimana kemudahan berkomunikasi telah membuat orang semakin mudah akrab bahkan tidak pernah ketemu sama sekali sebelumnya. Bayangkan betapa majunya zaman, ketika chatting di rasa kurang, bisa meningkatkannya ke fasilitas video call dimana masing-masing bisa melihat ekpresi lawan bicaranya Begitu banyak tawaran kemudahan yang membuat dunia seolah berada digenggaman. Pertanyaan menariknya adalah apakah semua itu mendatangkan kebaikan?.

Banyak orang yang merasa lahir di saman yang tepat dimana  teknologi telah memfasilitasi banyak keinginannya. Lihatlah bagaimana setiap orang memiliki kemerdekaan meng-update status di medsos, mulai sekedar mengekspresikan perasaan bahagianya sampai dengan menumpahkan kejengkelannya atas sesesuatu. Sampai-sampai UU (undang-undang) IT pun diberlakukan sebagai control agar setiap orang bijak dalam pemanfaatan teknologi komunikasi.

Sebenarnya tidak selamanya buruk ketika diikuti dengan filter dan kebijaksanaan  sehingga tak menyentuh ambang batas kepatutan atau kesopanan. Tidak  bisa dielakkan kemajuan teknologi komunikasi telah mendatangkan begitu banyak kebaikan dan kemudahan. Setiap orang bisa berkomunikasi kapanpun dia mau sepanjang lawan chattingnya merespon. Dengan demikian, tidak perlu menunggu besok atas kepenasaran hari ini, cukup menanyakan dan langsung mendapat jawaban. Terlepas kecepatan ini berpotensi menjadikan orang tidak penyabar, setidaknya potensi fitnah teranulir sejak dini karena segera terkonfirmasi. Namun demikian, perlu juga dicermati betapa banyaknya fitnah dan provokasi yang menyebar melaui broadcast akhir-akhir ini. Semua karena teknologi yang begitu mudah dijangkau. 



B. Menelisik Efek Zaman Pada Sekelumit Kehidupan
2 (dua) orang yang duduk bersebelahan di kereta dari Purwokerto menuju Surabaya tidak saling tegus sapa sekalipun sampai ditujuan. Keduanya sibuk dengan gadgetnya masing-masing.Sesekali masing-masing tersenyum dengan gadgetnya Tak ada gairah untuk sekedar berbasa basi walau hanya bertanya “mau turun di stasiun mana”. Hal serupa mungkin saja terjadi saat sebuah keluarga sedang bepergian menuju ke sebuah tempat dimana suasana hening tersaji mulai dari keberangkatan sampai tujuan sebab semuanya penghuni mobil asik dengan gadgetnya.

Sepertinya, gejala ini tidak saja menghinggapi generasi muda, tetapi sudah merebak akud ke semua generasi. Tampaknya bersapa atau bersenda gurau dengan sebelah sudah kehilangan daya tariknya. Sebagian merasa lebih asik bertegur sapa dengan seseorang yang nun jauh disana. Adakah otak kanan menjadi lebih termanjakan ketimbang komunikasi face to face dengan orang terdekat? . Ataukah hal ini hanya persoalan skala prioritas berdasarkan tingkat kepentingannya?. Ataukah “tingkat penting” telah terbimbing oleh suasana yang lebih mengasikkan di perbincangan group chatting?. Entahlah...yang jelas situasi semacam ini seperti sudah menggerogoti kehidupan masyarakat.

Mungkin kurang bijak kalau dikatakan orang-orang telah menjelma menjadi autis atau a-sosial, sebab faktanya yang mereka lakukan adalah komunikasi interaktif. Tetapi menjadi buruk kalau kemudian hal ini menjadi  semacam bentuk pelarian atas realitas hidup yang stagnan atau ekspresi kebosanan pada keadaan yang berulang di rumah. Sebab, bukan tidak mungkin kemudian menimbulkan persoalan-persoalan baru yang membuat hidup menjadi lebih rumit. Pada titik manapun dasar lakunya, filter kesadaran dan kebijaksanaan tetaplah diperlukan. Sebab tidak jarang, keasikan di chatting room membuat kehidupan menjadi jauh dari apa yang disebut berkualitas. Tak jarang anak merasa terabaikan karena sang ibu atau ayah terlalu asik dengan gadgetnya di rumah. Tidak jarang pula anak merasa terpinggirkan  karena orang tuanya tetap asik dengan gadgetnya saat makan, saat mendampingi anak belajar dan di ragam momen kebersamaan keluarga. Adakah teknologi telah merampas hak-hak anak?. Adakah teknologi juga telah melalaikan ayah dan ibu tentang istilah “quality time” dalam sebuah keluarga?. Adakah teknologi juga telah melalaikan seorang istri tentang tugas-tugas mulia terhadap suaminya?. Adakah teknologi telah membuat ayah alfa dalam memberikan perhatian dan kasih sayang pada istrinya?.

Beberapa pertanyaan dipenghujung paragraf diatas lebih bersifat kontemplatif guna membimbing semangat belajar bersama membangun kesadaran dan filter kebijaksanaan terhadap teknologi. Bagaimanapun juga, teknologi hanyalah sebentuk alat atau media yang seharusnya mempermudah dan meningkatkan kualitas hidup dan bukan justru membuat hidup semakin menjauhi hakekatnya. Kebutuhan berekspresi, diapresiasi dan mengapresiasi sebaiknya ditempatkan pada porsi yang lebih tepat. Media sosial bukanlah tempat yang cukup bijak untuk narsisme atau menebar kehebatan diri, walau itu adalah hak dan tak ada larangan melakukannya.  Mungkin tidak ada salahnya untuk merenungkan pesan apa sesungguhnya yang tertanam di memory seorang anak saat melihat ibu atau bapak nya sering berfoto narsis dan kemudian men-share ke media sosial.  Mungkin menjadi lebih bijak kalau semangat edukatif dan meng-inspirasi menjadi landasan dalam meng-up date status di media sosial. Dengan demikian orang yang membacanya menjadi lebih ber-energi dan lebih bersemangat dalam menjalani hidupnya. Disamping itu,  Chatting pun mungkin harus mengenal waktu sehingga tidak satupun seisi rumah merasa terabaikan atau bahkan tersisihkan. Jangan sampai terjadi dimana sepasang suami istri tidak bertegur sapa satu sama lain padahal duduk mereka bersebelahan di kasur serupa saat menjelang tidur sebab hal ini bisa menyebabkan “satu kasur beda mimpi”. Juga jadi teringat sebuah tulisan yang terpampang di sebuah pinggiran jalan di Jakarta, paling asik kalau liburan HP Papa dan Mama low bath”. Tulisan itu sepertinya mewakili perasaan kebanyakan anak yang tidak pernah terungkapkan. HP telah menjadi musuh besar mereka untuk bisa dekat dengan ayah dan ibunya. Juga jangan sampai terjadi dimana seorang suami menganggap HP sebagai penghalangnya untuk lebih dekat dengan istrinya, demikian juga sebaliknya. 

Ini hanyalah goresan sederhana dan lebih bersifat reflektif. Semoga tulisan sederhana ini efektif mendatangkan hal-hal positif yang membuat keluarga lebih hangat, lebih akrab dan lebih berbahagia.  Amin Ya Robbal ‘Alamin

sumber gambar :
dari hasil searching di google
 


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved