KETIKA “GERAKAN MENABUNG Rp 1000/HARI” ME-WISATA-KAN SEGENAP PENGHUNINYA KE BANDUNG (BAGIAN 02 Selesai)

Senin, 10 Oktober 20160 komentar

B. APRESIASI, INTREPRETASI & IMAJINASI
Fakta langgenggnya gerakan para ibu-ibu ini tidak saja mendatangkan kekaguman, apresiasi, tetapi juga meng-inspirasi pemaknaan dan bahkan imajinasi futuristic pada skala yang lebih luas. 


Diawal perintisannya, gerakan ibu-ibu ini pernah di publish lewat blog www.arsadcorner.com. Saat itu,  muncul ragam apresiasi dan dukungan dari berbagai pihak dan sebagaian ikut mendo’akan gerakan ini sukses sebab bisa
dijadikan sebagai satu laboratorium mini  yang meng-inspirasi energi duplikasi kebaikan pada kelompok-kelompok masyarakat lainnya. Kemudian, apresiasi muncul dari seorang guru PAUD dari Kabupaten Purbalingga yang ingin menjadikan gerakan menabung sebagai inspirasi dan bahan tulisannya untuk salah satu lomba menulis Tingkat Jawa Tengah. Alhamdulillah, Ibu guru hebat yang satu ini berhasil meraih juara harapan 1 (satu).

Seorang mahasiswa Fak ISIPOL Unsoed pun mengolah rekam jejak gerakan ini menjadi bahan skripsi untuk memenuhi syarat kelulusannya di tingkat Sarjana S1. Tidak berhenti sampai disitu, konsep gerakan menabung ini pun diuji coba kan oleh salah satu sekolah SD swasta terkenal di kota Mendoan ini yang dikemas dalam taglinemenabung untuk qurban”.  Salah satu ranting dari organisasi agama terbesar di negeri ini juga ikut  merintis gerakan serupa di wilayah Kecamatan Cilongok, Kab. Banyumas (saat ini masih berlangsung). Banyak lagi respon  positif bernada mendukung atas gerakan menabung ini. Tidak dipungkiri,  pada awalnya ada yang meragukan  konsistensi semangat  dalam gerakan ini. Apapun model reaksi dan respon tetap ditanggapi dan dilihat dari sisi positifinya.

  Dimana ada kemauan disitu ada jalan”, demikian satu pepatah bijak yang sering diperdengarkan sejak duduk di bangu sekolah dasar. Mungkin, apa yang dicapai oleh Dasawisma mewakili bagaimana konsistensi berkemauan akan membawa pada satu titik menggembirakan. 

Dasawisma Sledri memang hanya berpenghuni 18 (delapan) orang para ibu, namun apa yang mereka torehkan layak menjadi sebuah potret miniatur tentang karakter sosial masyarakat dalam skala mikro yang masih bisa diajak menjaga nilai-nilai kebersamaan dan kegotongroyongan. Fakta empiris skala mikro ini menjadi   penegas bahwa menangkal efek negatif modernisasi dan arus globalisasi melalui penjagaan nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat Indonesia masih sangat terbuka lebar sepanjang memang ada kemauan dan kesadaran untuk menjaganya. Jika tidak, maka pembiaran menjadi tiket kehilangan jati diri sebuah bangsa. Dengan kata lain, belum ada kata terlambat untuk menjaganya dengan sepenuh energi.

Sledri memang hanya tentang interaksi 18 (delapan belas) orang para ibu, tetapi konsistensi mereka untuk tetap berada di lingkar dasawisma berikut komitmen menjalankan perannya masing-masing, telah berpesan bahwa sesungguhnya pemberdayaan masyarakat adalah sesuatu yang sangat mungkin untuk diagendakan dan diperjuangkan, sepanjang ada kemauan

Gerakan menabung” yang dilakukan dasawisma sledri sesungguhnya bukalah hal baru, sebab di kelompok masyarakat lainnya pun sudah banyak yang menyelenggarakan tabungan kolektif.  Hanya saja, gerakan-gerakan semacam ini kurang ter-dokumentasi dan atau  terpublikasi dengan baik sehingga  efek edukasi dan motivasinya bagi masyarakat kurang maksimal.

Oleh karena itu, pemberitaan capaian Dasawisma Sledri ini hanya semacam pemantik  semakin tumbuhkembangnya gerakan-gerakan serupa yang sudah ada terlebih dahulu dan sekaligus mendorong kelompok-kelompok masyarakat lainnya melakukan hal serupa. Pada saat aksi menabung ini menjadi satu isu yang terus disuarakan siapapun dan atau dikedepankan banyak orang, maka akan terbentuk gerakan pemberdayaan masyarakat yang luas, mulai dari satu RT, satu RW, Satu Desa, Satu Kecamatan, Satu Kabupataen dan seterusnya dimana satu sama lain terkoneksi dan ter-integrasi. Sebab. 

Mobilisasi Gerakan Menabung Rp 1000/hari yang dilakukan Dasa wisma Sledri sesungguhnya langkah awal dari skenario besar membangun kemandirian kolektif masyarakat.  Oleh karena itu, fakta capaian Dasawima Sledri  ini bisa meng-inspirasi dan melahirkan energi bagi lainnya untuk me-replikasi sehingga gerakan-gerakan pemberdayaan masyarakat akan terus tumbuh dan meluas. 

Ter-imajinasi andai saja gerakan menabung Rp 1000/hari ter-aplikasikan  di kalangan 1 (satu)  juta penduduk setiap kabupaten di seluruh wilayah Indonesia, maka konsistensi menabung akan berimbas terkumpulnya angka sejumlah Rp 365 Milyar dalam satu tahun. Dengan angka itu, banyak agenda bernuansa keberdayaan masyarakat bisa dilakukan dan banyak keresahan-keresahan yang sedang membelit kesehearian masyarakat akan ter-solusikan dengan cerdas.

Angka Rp 365 M/tahun itu sangat memungkinkan untuk melepaskan anggota masyarakat dari jeratan rentenir yang selalu meresahkan karena menghisap dengan kejamnya; sangat mungkin  membangun supermarket milik rakyat yang menyediakan space cukup  bagi produk-produk hasil produksi dan olahan rakyat; sangat cukup melakukan optimalisasi potensi wilayah  bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat; sangat mungkin meng-create usaha-usaha produktif yang menyerap tenaga kerja yang pasti menekan angka pengangguran; sangat mungkin mendirikan tempat-tempat ibadah yang layak; sangat mungkin mengentaskan kemiskinanan secara bertahap dan berkesinambungan; sangat mungkin melanjutkan mimpi bocah yang terhenti karena himpitan ekonomi; sangat cukup sebagai modal awal mengembalikan petani pemilik lahan memperoleh hasil layak dari apa yang dia kerjakan; menjadi sangat mungkin merintis ruang tepat bagi anak-anak muda berbakat dan ; masih banyak mimpi yang bisa diraih dari terbangunnya kesadaran masyarakat untuk ber-kolektif dalam mewujudkan kesejahteraan dalam arti luas.

Pada akhirnya, gerakan menabung bukan-lah tentang seberapa banyak uang yang terkumpul, tetapi tentang keterbangunan kesadaran dan kecerdasan menyelesaikan persoalan-persoalan hidup yang sangat meresahkan sampai hari ini.  

Pertanyaan menariknya adalah....adakah kemauan untuk ikut atau terlibat secara aktif  dalam meng-campaign gerakan ini di lingkungan masing-masing?....

Andai saja mewujud gerakan kolektif semacam ini disemua sudut wilayah, maka tidak perlu ada keresahan lagi tentang masa depan ekonomi bangsa.....

Mungkin khayal ini terlalu jauh, tetapi fikiran dan mimpi besar-lah yang menjadi muasal kelahiran karya kecil bernama gerakan menabung Rp 1000,oo/hari ini”

  
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved