DI SETIAP KEKECEWAAN SELALU ADA CINTA

Senin, 08 Agustus 20160 komentar


A.  Bersedih lagi..
Persibas “bersedih lagi”. Para supporter yang sangat haus kemenangan kecewa lagi mendapati tim kesayangannya di habisi PSGC dengan skor telak 3-0. Tiga Gol tanpa balas di kandang sendiri  dan hal ini melengkapi hasil buruk Persibas di sepanjang turnamen ISC.

Kekecewaan pun seperti mencapai puncaknya, sehingga tidak sedikit yang meng-ekpresikan kekecewaannya lewat nyanyian, status FB, Twitter dan media sosial lainnya pasca Persibas ditekuk PSGC Ciamis di GSP (GOR Satria Purwokerto).  Apapun ekspresi kekecewaan itu, sepanjang tidak anarkis, merupakan bukti cinta dan bentuk keinginan kuat melihat Persibas bisa berprestasi. Mereka ingin mendapati Persibas bisa menyarangkan bola ke gawang lawan, mereka juga ingin bersorak gembira merayakan kemenangan, mereka ingin punya alasan rasional untuk terus mencintai dan membanggakan persibas. Adakah cinta masih terjaga di kekecewaan yang mendalam?.

Semua sedang di uji, mulai supporter, manajemen, pengurus, pelatih dan juga pemain. Semua sudah memainkan peran oprimal walau hasil belum menggembirakan.  Supporter sudah konsisten dengan motto “rika ora tau dewekan” dan kesetiaannya tidak perlu ditanyakan lagi. Manajemen dan Pengurus juga sudah mencurahkan segala kemampuan ditengah keterbatasan untuk membuat tim Persibas bisa melakoni pertandingan demi pertandingan. Demikian juga Tim Pelatih sudah melakukan serangkaian program dan meracik strategi.  Para pemain pun sudah berjuang habis-habisan di lapangan. Kalau demikian adanya, mengapa hasil kurang menggembirakan ini berlangsung begitu lama?

Persibas belum menemukan efektivitas dan sinergitas produktif-nya. Mungkin satu kalimat itu mewakili jawaban menyeluruh.


B.  Beda Level Beda Suasana
Persibas tercatat sebagai tim yang baru saja promosi ke kasta Divisi Utama. Bahkan, Persibas belum sempat mencicipi kerasnya persaingan Divisi Utama dikarenakan penundaan pegelaran kompetisi resmi PSSI. Keikutsertaan pada kompetisi ISC menjadi ajang penjajagan yang baik mengingat peserta ISC level B  juga merupakan klub sepak bola yang memang sudah bertengger di kasta Divisi Utama.

Sebagai pendatang baru, tidak bisa dipungkiri bahwa kurangnya pengalaman telah berperan membentuk hasil yang buruk. Disisi lain, masih terbatasnya pendanaan membuat Persibas Banyumas tidak mungkin mendatangkan pemain-pemain berkelas dan berpengalaman. Akibatnya, sering kali mendapati kegamangan di lapangan yang mencerminkan bahwa para pemain Persibas Banyumas masih jauh dari siap untuk bermain di level Divisi Utama. Secara sikap dan mental, sebagian besar pemain masih jauh dari profesional dan masih memerlukan jam terbang untuk bisa matang. Gaya bermain di saat Persibas masih bertengger di level linus (liga nusantara) harus segera di ubah dan profesionalisme harus segera terbangun. Persoalan besarnya adalah “pasti” memerlukan waktu. Sementara itu, pegelaran kompetisi resmi sudah didepan mata. So...akan kah memaksimalkan pemain yang ada saat ini dan berharap tuah dari polesan sang Coach Gatot?. Sebagian orang berpendapat hal itu tak mungkin dilakukan. Lemahnya penyelesaian akhir, rapuhnya pertahanan dan kurang maksimalnya lapangan tengah, membuktikan bahwa Persibas harus mendatangkan pemain-pemain berpengalaman pada posisi-posisi kunci. Dengan demikian, akan terjadi tambal sulam dan sekaligus percepatan transfer pengalaman dan juga pengetahuan  kepada pemain Persibas saat ini. Ini langkah ideal walau pasti memerlukan dana yang tidak sedikit.  Namun, keikutsertaan dan hasil buruk sepanjang turnamen ISC-B menandaskan bahwa perombakan tim dan susunan pemain  adalah sebuah keharusan.


C. Ekspektasi Yang Ter-edukasi
Suksesnya Persibas Banyumas promosi ke level Divisi Utama telah mendatangkan simpati dan ompatan daya dukung luar biasa dari supporter dan juga masyarakat Banyumas pecinta sepak bola. Hal ini terlihat dari kehadiran penonton saat Persibas menggelar beberapa kali pertandingan persahabatan yang puncaknya saat Persibas bermain dengan PSIS Semarang. Namun, jumlah penonton mulai menurun secara berangsur sejak capaian kurang menggembirakan Persibas dikeikutsertaannya di  ajang Bupati Purbalingga Cup dan ajang Bupati Banyumas Cup. Penurunan terus terjadi ketika sederetan hasil buruk dicatatkan Persibas disepanjang turnamen ISC. Bahkan, pada satu pertandingan lalu salah satu kelompok supporter sengaja tidak masuk stadion sebagai bentuk protes atas buruknya prestasi Persibas Banyumas. Tulisan-tulisan  bernada “haus kemenangan” di pagar stadion dan ragam kritik diberbagai media sosial, akhirnya membuat Coach Putut memilih mengundurkan diri dengan alasan tidak bisa mengangkat prestasi tim. Manajemen dan pengurus Persibas pun berupaya mendatangkan Coach Gatot yang dikenal sebagai pelatih berpengalaman.

Dipertandingan perdana saat melawat ke kandang Persip Pekalongan, Persibas bermain trengginas walau kurang beruntung di hasil akhir. Perubahan gaya bermain mendatangkan apresiasi dari supporter setia walau menurut Coach Gatot para pemain baru bisa menjalankan instruksi pelatih sekitar 50%. Sepertinya, perubahan gaya bermain dan transfer mindset pemain Persibas dari pelatih lama ke pelatih baru belum massif 100%. Ironisnya, saat polesan belum menemukan kesempurnaannya, Persibas Banyumas harus berhadapan dengan tim mapan dan berpengalaman sekelas PSGC Ciamis. Asa supporter yang mulai terbangun saat menyaksikan Persibas melawan Persip Pekalongan, kembali terkubur  oleh fakta dimana Persibas ditekuk PSGC dengan skor telak 3-0. Akibatnya, kekecewaan supporter pun memuncak.

Adakah kecintaan terhadap Persibas telah mendorong harapan melebihi kadar kemampuan Persibas dalam memainkan si kulit bundar?. Mungkin inilah yang sebenarnya terjadi.  


D. Berbenah  Tidak Boleh Berhenti
Melengkapi tim dengan pemain berpengalaman adalah salah satu cara untuk membangun Tim Persibas menjadi kuat. Tanpa mengecilkan arti para pemain Persibas Banyumas saat ini, suntikan pemain berpengalaman diharapkan akan mengangkat moral tim dan juga animo supporter. Itu pula yang menjadi bagian dari prioritas program Pengurus dan Manajemen Persibas saat ini. Disatu sisi Persibas Banyumas akan terus melakoni 3 (tiga) pertandingan sisa turnamen ISC dan disisi lain Pengurus dan Manajemen mulai concern menyusun kerangka tim yang akan diterjunkan pada kompetisi resmi Divisi Utama.


Persibas harus tampil dengan pemain yang lebih fresh dan memiliki grade skill dan pengalaman minimal selevel Divisi Utama. Jika tidak, Persibas akan menjadi lumbung gol bagi tim-tim lawan dan kemudian ter-degradasai kembali ke level liga nusantara (linus). Hal ini pasti tidak diinginkan siapapun. Untuk itu, Pengurus dan Manajemen harus berfikir keras menyusun skenario pendanaan. Hal ini mengingat sudah tidak dimungkinkannya pelibatan APBD dalam membiayai sebuah tim Divisi Utama.  Ini bukan pekerjaan ringan, namun harus dilakukan atas nama cinta dan demi kebanggaan Wong Banyumas.    
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved