MEN-SABOTASE PERAN INEM

Minggu, 10 Juli 20160 komentar

KETIKA SANG ART MENIKMATI LIBURAN LEBARANNYA

A.  Ketika Sang ART Libur
Tulisan ini terinspirasi saat penulis berinisiatif pada satu pekerjaan yang sudah lama tak dilakukan, “menyetrika”. Sebenarnya, ini  bukan pekerjaan asing bagi penulis. Apalagi, dulu saat masih SLTA dan Kuliah penulis pernah jadi anak kost dimana segala sesuatunya harus dikerjakan sendiri, mulai mencuci pakaian, mencuci piring dan juga menyetrika. Mungkin agak sedikit berbeda dengan anak kos kebanyakan di zaman sekarang ini dimana laundry bejibun dan tinggal anter, bayar dan kemudian tampil keren kembali. Sepertinya “rasa malas” berikut “ketersediaan uang cukup” mendorong cara fikir mengapa harus repot cuci sendiri.   Bahkan saat anak muda saat ini diceritain tentang keprihatinan-keprihatinan saat jadi anak kost, sebagian mereka langusng menyambar” itu kan dulu ma/pa...sekarang zaman dah beda..teknologi sudah canggih”. Moga aja tak ada yang berani nyeletuk “salahnya bapak/ibu lahirnya dulu”. Namun, tak jarang sebagian mereka beralasan dengan laundry bisa memanfaatkan waktu yang tadinya untuk mencusi pakaian kemudian dialihkan untuk kegiatan lainnya yang lebih produktif.

Kembali ke tema awal tentang menyetrika. Saat mengambil satu per satu dari tumpukan pakaian yang sudah kering, penulis tersenyum dan sesaat merasa dipaksa keadaan untuk men-sabotase pekerjaan yang biasa dilakukan oleh Sang Asisten Ruma Tangga (ART). Penulis sengaja dan secara sadar  tak menggunakan istilah “pembokat atau pembantu”, sebab penggunaan istilah itu mendatangkan perasaan tak nyaman dan terkesan merendahkan profesi hebat yang satu ini. Bagaimana tidak hebat, fakta menunjukkan liburnya sang ART telah mengubah iklim keseharian rumah. Kalau biasanya bisa menikmati serangkaian menu channel TV, namun saat Sang ART libur seperti masa lebaran seperti ini sebentar-sebentar harus ke pojok tempat cuci piring, sebab penundaan bermakna penumpukan. Disamping itu, keadaan juga mendorong untuk lebih bersahabat dengan sapu dan pakaian-pakaian kotor serta mesin cuci.   

Liburnya Sang ART memang begitu merepotkan seisi rumah. Tapi menarik menjadikannya sebagai bahan kontemplasi yang semoga berujung bijak bagi penulis dan juga pembaca setia www.arsadcorner.com. Liburnya ART menjadi pengingat betapa hebat sesungguhnya peran mereka dalam keseharian sebuah keluarga. Mereka memainkan peran penting yang kadang baru disadari saat mereka tidak ada atau sedang pulang kampung. Mereka tidak saja telah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga di lingkar dapur,sumur, lantai dan halaman rumah, tetapi juga telah menjadi bagian dari proses pertumbuhan anak-anak. Hal ini lebih nyata pada suami istri yang dua-duanya bekerja, hampir bisa dipastikan anak-anak tumbuh dalam asuhan ART. Bahkan bukan hal mengherankan banyak anak-anak lebih dekat dan mungkin lebih nurut pada ART ketimbang orang tuanya sendiri. Hal ini dikarenakan “perhatian tulus” dan “kesabaran yang seolah tak berhujung”yang diberikan sang ART di keseharian mulai sang anak bangun tidur sampai tidur kembali. Dalam situasi semacam ini,  tidak berlebihan berkesimpulan bahwa ART memiliki pengaruh signifikan dalam keterbentukan kualitas sebuah generasi.  

Liburnya Sang ART mungkin mendatangkan lelah tersendiri bagi orang tua, baik mereka yang punya anak kecil maupun mereka yang kebetulan punya anak-anak yang usianya sedang beranjak remaja. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau banyak orang tua menjadi sedikit pemarah karena disibukkan pekerjaan-pekerjaan rumah yang ditinggalkan sementara oleh Sang ART.  Dalam situasi semacam ini, pilihan terbijak adalah menikmati dan akan jauh lebih baik mencari hikmahnya.   

Sambil terus menyelesaikan setrikaan yang tingggal setengah, penulis mencoba membnagun senyum dan sekaligus mencari hikmah sehingga terbangun pembacaan yang lebij dan menyemangati. Dari pemikiran sambilan yang dilakukan pagi menjelang siang itu, tertemukan beberapa hikmah yang bersifat general, antara lain :
1.      Repot yang dirasakan karena liburnya Sang ART layak menjadi inspirasi dalam menakar ulang kelayakan apresiasi dan juga reward yang diberikan kepada mereka. Artinya, munculnya kesadaran beratapa besar dan signifikan-nya peran mereka menjadi pemantik efektif munculnya kebijaksanaan berbagi lebih secara materi dan atau berbagi perhatian dan peningkatan apresiasi.
2.      Inspirasi untuk memposisikan mereka ke level persaudaraan ketimbang  selalu menempatkan mereka di golongan bawah yang terpinggirkan dalam semua suasana. Pendekatan ini sepertinya lebih menjanjikan lompatan keikhlasan dan ketulusan serta kinerja Sang ART.
3.      Ketiadakhadiran sementara  Sang ART merupakan momen uji soliditas sebuah keluarga. Bagi keluarga yang terbiasa berbagi peran, mungkin kondisi ini tidak terlalu mengkhawatirkan. Namun, bagi anggota keluarga yang biasanya “tau beres”, kesempatan ini menjadi baik untuk menumbuhkembangkan semangat gotong royong dimana didalamnya terjadi distribusi peran dalam mengerjakan seluruh pekerjaan rumah.
4.      Momentum Transfer nilai-nilai kebijaksanaan kepada anak yang berimbas  Liburnya Sang ART juga merupakan momentum untuk men-transfer nilai-nilai kebijakan kepada anak-anak, seperti bagaimana susahnya menyapu, membersihkan rumah, mencuci piring, mencuci pakaian dan atau menyetrika. Memahamkan hal-hal semacam ini diharapkan bisa melahirkan empati yang berpengaruh positif pada pertumbuhan karakter anak. Lewat transfer nilai-nilai kebijaksanaan semacam ini, dalam diri mereka akan terbangun pembacaan dan apresiasi yang berbeda kepada Sang ART di berikutnya. Mereka akan lebih bijak dalam meminta tolong kala butuh sesuatu kepada Sang ART. 
5.      dan lain sebagainya


B.  Kerisauan Ketika Tak Balik Lagi
Lebaran sudah usai walau Bulan Syawal itu berumur 29 hari. Mungkin sebagian saat ini sudah balik dari dari kampung masing-masing dan kembali pada aktivitas normal sebagaimana sebelumnya. Semoga semua berkumpul kembali dengan selamat dan riang gembira, termasuk Sang ART. Namun demikian, kemarin beberapa temen mulai gelisah sebab sebagian dari ART mereka memilih tidak kembali lagi dengan berbagai alasan, mulai dari mau istrahat, lebih lama di kampung, mau nikah, mau pindah profesi dan lain sebagainya. Atas keluhan-keluhan bernada serupa itu, penulis memberi reaksi bernada canda walau berbau kontemplasi dimana “seringnya gonta ganti ART merupakan salah satu indikator karakter dan buruknya kualitas komunikasi segenap penghuni keluarga”. Sebagian dari mereka hanya tersenyum walau beberapa orang yang memiliki kebesaran jiwa meng-amini kalimat itu.

Yang jelas, tidak kembalinya Sang ART pasti sangat memusingkan apalagi mencari pengganti bukanlah urusan sederhana.  Kalaupun berhasil menemukan pengganti, tentu masih diliputi tanya besar apakah akan cocok atau tidak dengan situasi keseharian dan karakter segenap penghuni  di rumah. Kekhawatiran semacam ini merupakan bentuk kejujuran bahwa berurusan dengan Sang ART bukanlah perkara mudah dan bahkan jauh lebih sulit dibanding saat berurusan dengan staff atau rekan kerja di kantor. Apalagi, rata-rata insan yang memilih profesi ART berpendidikan rendah sehingga memerlukan pendekatan yang unik dan kesabaran tersendiri agar menemukan titik matching nya. 

C.  Penghujung 
Tulisan ini hanyalah sebentuk kontemplasi pribadi penulis dengan harapan bisa menginspirasi diri sendiri dan juga para pembaca setiar www.arsadcorner.com . Masing-masing  orang tentu memiliki sudut pandang sendiri tentang ART, namun penulis mengajak untuk sama-sama belajar dalam memandang profesi mulia bertajuk “ART” kedalam penilaian yang lebih bijak. Mereka juga ingin dihormati sebagaimana insan lainnya tidak ingin direndahkan.

Semoga 1 (satu) Bulan Puasa Ramadan dan Semangat Idul Fitri membimbing kita kedalam tindakan-tindakan yang tidak saja menjadikan lebih mulia dipandangan Sang Pencipta, tetapi juga bisa meng-insprasi insan-insan lainnya untuk berlaku sama dan menempatkan Sang ART menjadi bagian dari satu keluarga sehingga serasa tak berjarak dan sangat mendamaikan.

Purwokerto, Juli 2016 

Tumpukan Setrikaan Yang Meng-Inspirasi............
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved