IDEALISME DI LINGKAR DUNIA MALAM

Senin, 18 Juli 20160 komentar

IDEALISME DI LINGKAR DUNIA MALAM  


Tulisan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari tulisan yang berjudul "complicated journey" di blog ini yang berisi deretan kisah unik dari sebuah perjalanan. Khusus tulisan ini, menceritakan tentang penerbangan pulang dari kota Lampung menuju Jakarta, sebuah enerbangan yang hanya 26 menit namun mendapati satu testimoni luar biasa dan begitu inspiratif  dari seorang wanita muda yang begitu smart.

Walau tercatat sebagai penumpang terakhir yang check-in,  namun ketergopoh-gopohanku tertolong penundaan penerbangan sekitar 15 menit karena keterlambatan pesawat. Saat seluruh penumpang dipersilahkan memasuki pesawat, aku pun buru- aku mencuri start antrian lebih dulu agar lebih dulu mendapati pesawat dengan harapan bisa langsung tidur karena lelah yang amat sangat.

Saat mencapai pesawat kursi masih pada kosong. Aku agak sedikit kecewa karena tennyata duduk ditengah diantara 4D dan 4F tepatnya. Tentu hal ini tak nyaman untuk istrahat. Tak lama berselang, seorang ibu berpakaian jilbab seumuranku meminta izin untuk masuk‎ ke posisi 4F saat aku sudah duduk di 4E . Aku pun berinisiatif keluar ke sisi gang dan kemudian kembali ke posisi semula saat beliau sudah duduk mapan. “Kemana bu?”, tanyaku ringan.  "Ke jakarta", jawab beliau dengan dingin dan kemudian mem-fokuskan pandangannya ke sisi luar jendela peswat. Melihat auranya, sepertinya fikiran ibu ini sedang ruwet. Atau mungkin wajahku yang kuyuh nan lesu mendatangkan ketakutan tersendiri buatnya. Ah, aku sok tahu dan baper...bathinku sambil tersenyum sendiri sambil mengikatkan sabuk pengaman.

Beberapa menit kemudian, seorang wanita muda berpenampilan modern datang dan langsung mengambil poissi duduk di sebelah kiriku yang kosong. Aku tersenyum lagi dalam bathin ketika mendapati diriku berada diantara 2 (dua) wanita yang berbeda mazhab, satu berjilbab dan satu lagi berpakaian sedikit seksi. Sementara itu, kalau dari sisi perawakan, mereka juga pastinya terlahir di zaman berbeda sekitar 10 sampai 15 tahunan.  

Ada yang berbeda pasca wanita muda ini duduk disebelahku. Aroma parfumnya cukup harum. Untung saja jenisnya soft sehingga menambah kenyamanan penerbangan, khususnya aku yang kebetulan duduk disebelahnya. Namun, rasa lelah membuatku tak begitu menggubris kedatangannya dan memilih memandang kedepan sambil berupaya memejamkan mata. Baru saja duduk semenit, wanita ini langsung mengambil HP nya dari dalam tas dan langsung ber-selfie ria. Beberapa saat kemudian, dia menggulung rambutnya yang sebahu ke belakang sampai-sampai sikunya menyentuh pundakku.  Kemudian dia berpose sambil merekam yang disertai dengan suara manja dan sedikit serak. Saat merekam, dia  menceritakan kalau sedang dipesawat menuju Jakarta dan kemudian berpamitan dengan temen-temennya. Beberapa saat kemudian, rekaman itu pun langsung dia kirim ke WAG. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah gadis satu ini. “dasar anak muda zaman sekarang”, fikirku.      

Saat aku sedang mengetik di keyboard HP mengabarkan pada keluarga sudah di pesawat dan siap-siap terbang, tiba-tiba wanita ini bersuara “Mau kemana Pak?”, tanyanya begitu ramah disertai dengan senyuman ke arahku. Agak sedikit kaget saja, sebab tak kusangka wanita anggun nan cantik ini ternyata begitu supel. “mau ke Purwokerto, Banyumas”, jawabku sambil memandangnya beberapa saat. “Mbak mau ke Jakarta juga?”, balasku dengan tanya. “Iya Pak”, jawabnya. Sejak saat itu, pembicaraan pun mengalir dan kami saling tanya seputar hal-hal ringan di sepanjang penerbangan. Sepertinya bau parfum yang menyebar dari wanita ini telah menghilangkan kantukku. Seingatku, aku tak terhipnotis oleh kecantikan dan kemolekannya. Ha..ha...(semoga pembaca meyakini statemenku ini).

Awalnya aku berfikir kalau wanita ini adalah seorang karyawan/ti di sebuah perusahaan kecantikan. Namun, berdasarkan pengakuannya, dia masih tercatat sebagai mahasiswi fakultas ekonomi jurusan manajemen di salah satu universitas swasta terkenal di Kota Lampung. Awalnya aku agak ragu dengan penjelasannya, sebab dia agak kerepotan menjawab saat ku tanyakan mata kuliah akuntansi sampai semester berapa. Sepertinya dia membaca kekurangpercayaanku dan kemudian menjelaskan kalau seharusnya saat ini dia sudah semester 6 (enam) tetapi sempet ambil cuti setahun karena fokus bekerja.

Pembincangan ringan kami pun akhirnya beralih ke seputar pekerjaan. Saat dia tanyakan aku kerja di bidang apa, aku menjawab “tidak jelas”. Kok bisa ndak jelas Pak?, sahutnya dibarengi senyuman lagi. “Sebab kejelasan itu terletak pada ketidakjelasan itu sendiri”, jawabku memantik nalarnya. Dia pun tersenyum sambil mengatakan,”bapak bisa saja”. “Kamu sendiri kerja di bidang apa?”, tanyaku. “Aku menekuni pekerjaan sebagai SPG (Sales Promotion Girl) dan ikut salah satu agency besar di kota lampung”  jawabnya lugas. Disatu sisi penjelasan ini menjawab kepenasaranku caranya berpenampilan dan disisi lain mengingatkanu banyak cerita tentang profesi satu ini karena kebetulan aku punya teman seorang pengusaha dibidang agency yang mengelola SPG-SPG  . Dia pun menjelaskan kalau ke Jakarta pun  dalam rangka menjalankan tugas dari agency tersebut. Akupun kemudian menyampaikan sedikit pendapatku bahwa profesi yang dia pilih adalah sebuah keberanian luar biasa. Hal ini kusampaikan karena sepengetahuanku profesi ini tak mudah dan begitu banyak tantangan dan godaanyanya, khususnya bagi wanita muda seperti dia. Dia pun meng-iyakan pendapatku dan kemudian berkisah banyak hal seputar lika liku di wilayah profesi ini. Dia tak jarang harus bergaul dengan kehidupan malam karena tuntutan kerja. Cara berpakaiannya juga harus menyesuaikan permintaan  klien karena berkaitan dengan pencitraan dan tujuan promosi sebuah produk.

Ada hal menarik yang dia tandaskan dimana kedasaran membangun filter alias batasan sangat diperlukan dalam menjalankan profesi satu ini. Dia menjelaskan kalau tidak sedikit temen-temennya larut dan lalai serta berlebihan sehingga terjebak pada hiruk pikuk dunia malam dan nikmatnya dunia hiburan. Kamu sendiri gimana?, pancingku. Alhamdulillah Pak...sampai detik ini aku masih bisa menjaga diri dan sebatas menjalankan profesi saja. Tak jarang begitu banyak godaan dan tawaran yang datang, namun aku membentenginya dengan kesadaran. Aku selalu mengingat wajah dan pesan ibuku agar selalu  menjaga diri. Aku selalu membangun kesadaran kalau aku adalah tulang punggung keluarga. Sebagai anak pertama, aku tak mau mengecewakan orang tua dan juga adik-adikku. Aku sering mendapat tawaran menggiurkan, namun aku meyakini rezeki tidak harus bersumber dari hal-hal yang kurang baik. Seketika wanita yang kemudian kuketahui berusia 24 (dua puluh empat tahun) tahun ini tampak serius. “Kamu hebat sebab hal itu pasti tak mudah. Kamu wanita yang jarang sebab masih bisa menjaga idealisme dan kesucian diri di ruang abu-abu semacam itu”, respon ku untuk mengapresiasi dan sekaligus menguatkannya pada pilihan hebat yang sudah dia lakukan selama ini. Aku juga tak ingin menjadi SPG selamanya. Aku ingin suatu waktu akan bisa bekerja di kantoran dan menjadi bagian penting dari manajemen dalam mengendalikan sebuah perusahaan. Untuk itu, aku mencoba menjalani profesi ini sebaik mungkin dan membuat prestasi yang membuka mata klien bahwa aku tidak hanya bermodalkan paras dan body, tetapi juga memiliki  otak cemerlang yang bisa membantu perusahaan mengatur strategi”. Sambil bertepuk tangan pelan, kemudian aku berkata, “Wawwww.. itu keren...keren banget. Kamu harus menjaga idealisme semacam itu. Kalau kamu konsisten, saya berkeyakinan akan bertemu jalan dan berhasil di posisi yang kamu impikan”. Aku  memotivasi wanita muda ini yang kemudian kuketahui memiliki nama panggilan Tika. Terbersit dibenakku kalau wanita ini konsisten dengan idealismenya, dia akan menjadi wanita hebat, inspiratif dan akan mencetak capaian-capaian mencengangkan. Aku meyakini wanita ini pasti menjalani hari-hari atau malam-malam yang tidak mudah. Namun, tekad yang begitu kuat dan kesadarannya selalu menjaga harkat martabat kewanitaan dan keluarganya, akan membuatnya tidak akan pernah kehabisan energi untuk sebentuk mimpi besarnya tentang sebuah hidup.  

Ting tong....awak pesawat mengabarkan agar semua penumpang bersiap-siap karena sebentar lagi pendaratan. Kami pun bersiap-siap mengencangkan ikat pinggang untuk menghindari resiko bila terjadi sesuatu dengan pesawat ini, terutama saat pendaratan. Saat pesawat sudah menapak landasan, Tika pun mengeluarkan HP dan menyalakannya. Dia dapati pesen singkat kalau sudah ditunggu oleh tim penjemputan. Sesudah turun dari pesawat dan bersama-sama melewati lorong menuju pusat bandara, kami pun berpisah karena arah tujuan yang berbeda. Tak lupa aku menyampaikan semoga sukses dan demikian juga Tika mendoakan kesuksesan dan kebahagiaan keluargaku.

Berharap suatu waktu mendapati Tika dengan kesuksesan dan mimpi besarnya. Tika masih muda dan begitu smart. Dia memiliki modal semangat dan kemauan yang cukup untuk meraih sebuah mimpi.


Sebuah penerbangan yang inspiratif......penerbangan 26 menit Lampung-Jakarta yang menghadiahkan makna luar biasa.      
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved