“BERKEMAUAN” dan “SALING PERCAYA” SEBAGAI MODAL KOPERASI

Selasa, 19 Juli 20160 komentar

“BERKEMAUAN” dan “SALING PERCAYA”
SEBAGAI MODAL KOPERASI
BERPERAN STRATEGIS DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI
(dalam tinjauan mikro)

Disampaikan pada seminar “Aktualisasi Peran Strategis Koperasi Dalam Membangun Perekonomian Bangsa”, yang diselenggarakan oleh Koperasi Mahasiswa IAIN Raden Intan Lampung, tanggal 17 Juli 2016

A.  Pendahuluan
Dalam cita-cita besarnya, koperasi  ingin menjadi sokoguru dan memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi. Nalar konsepsi koperasi untuk memainkan peran strategis sesungguhnya sangat logis diharapkan. Kalau kemudian realitasnya masih jauh dari mimpi besarnya, kesalahan tidak terletak pada konsepsinya, tetapi belum tertemukannya cara efektif dalam men-drive konsespi ke dalam dataran realitas.

Dalam tinjauan spirit perjuangan koperasi yang menjunjung tinggi kemandirian kolektif, mempersalahkan atau meng-evaluasi efektivitas regulasi pun kurang bijak sebab keberdayaan koperasi sesungguhnya imbas dari kemampuan internalnya membangun kapasitas organisasi yang berimbas pada pertumbuhan perusahaan koperasi. Kalau kemudian perusahaan koperasi belum bisa bersanding atau bahkan bersaing dengan pelaku ekonomi lain, fakta semacam itu sebagai akibat logis dari kebelum-mampuan koperasi membangun manajemen profesional yang bisa menghadirkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau koperasi masih jauh tertinggal dengan pelaku ekonomi lain dan perannya dalam percaturan ekonomi masih belum signifikan.


B. Nilai Beda Sebagai Inspirasi
Secara makro, semangat untuk terus berharap koperasi mencapai titik idealnya harus tetap dipelihara dan ditumbuhkembangkan. Upaya-upaya konstruktif dan sistematis harus dilakukan sehingga koperasi merangkak secara bertahap mencapai titik mampunya. Pada masing-masing koperasi perlu ada semangat untuk saling menauladani sehingga secara bertahap dan berkesinambungan. Akumulasi pertumbuhan dan perkembangan masing-masing koperasi membentuk keberdayaan secara statistik makro ekonomi.  .      

Sementara itu, dalam tinjauan mikro, koperasi harus berbenah dan berjalan sebagaimana
koperasi seharusnya. Koperasi jangan sampai meninggalkan dan atau bahkan menanggalkan jati dirinya dan kemudian terjebak pada praktek keliru.  Jati Diri koperasi harus dijadikan pembeda dan sekaligus inspirasi dalam menemukan dan mengembangkan “kreativitas cara” guna mencapa efektivitas. Hal ini perlu ditandaskan mengingat operasionalisasi mayoritas organisasi dan perusahaan koperasi lemah secara filosopis. Mayoritas pelaku/praktisi koperasi masih terjebak pada pemaknaan koperasi semata-mata sebagai sebuah perusahaan yang fokus pada pertumbuhan modal dan laba (baca: SHU) sehingga seringkali bertindak sebagaimana perusahaan-perusahaan non-koperasi. Ironisnya, laju kreativitas koperasi masih tertinggal jauh sehingga menjadikan koperasi tidak menarik dijadikan sebagai tempat men-transaksikan kebutuhan masyarakat, khususnya para anggota yang notabene adalah pemilik koperasi itu sendiri.

Untuk itu, pemaknaan koperasi sebagai  kumpulan orang yang berposisi tidak saja sebagai pemilik tetapi juga sekaligus sebagai pengguna jasa, harus dijadikan dasar keberadaan setiap orang yang masuk dalam barisan koperasi. Dalam semangat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, orang-orang di koperasi  seharusnya menyelenggarakan agenda duduk bersama minimal untuk: (i) merumuskan “cita-cita bersama” dan kemudian; (ii) “berbagi peran efektif” dalam mencapainya. 2 (dua) tahap kebersamaan produktif inilah letak titik  krusial dan muasal eksis, tumbuh dan kembangnya sebuah koperasi. Koperasi harus didorong pada logika ke-kita-an yang melahirkan semangat penyatuan potensi dan sumberdaya sehingga terbentuk akumulasi yang menjadi modal penting dalam memproduksi makna dan manfaat dari berkoperasi. Sementara itu “trust” yang terbangun dan tumbuh dari interaksi yang tulus menjadi penjaga efektif kebersamaan dalam koperasi.


C. Koperasi Itu Tentang Ke-Kita-an 
Koperasi sesungguhnya aalah tentang ke-kita-an yang didorong pada ruang-ruang produktif yang mendatangkan kesejahteraan dalam arti luas. Sebagai kumpulan orang yang berasal dari berbagai latar belakang, status sosial dan keberagaman karakter, koperasi perlu membangun kesamaan persepsi, rasionalitas ekspektasi dan pengetahuan serupa bagaimana kesejahteraan itu dicapai. Koperasi harus ditandaskan sebagai organisasi pemberdayaan dimana dalam maksud melahirkan manfaat, semua unsur harus bergerak bersama secara proporsional. Peran satu dengan lainnya bersifat saling berhubungan erat dan mengarah pada satu tujuan yang didefenisikan bersama.

Untuk tujuan itu, koperasi harus mendidik anggotanya sehingga terbentuk kapasitas dan karakter yang akan berpengaruh pada kualitas aspirasi dan demokasi dalam koperasi. Koperasi harus mencerdaskan anggotanya sehingga terbentuk keyakinan kuat dan kesadaran penuh bahwa bersama-sama dan saling bahu membahu adalah cara untuk mendatangkan kehidupan yang lebih baik dan berpengharapan. Oleh karena itu, keterbangunan orang adalah kunci membangun sebuah koperasi. Ke-Kita-an yang terbangun dalam koperasi sesungguhnya adalah imbas dari efektivitas pendidikan yang diselenggarakan koperasi kepada segenap anggotanya. Ke-kita-an  tidak sebatas tergiring masuk ke dalam barisan koperasi, tetapi juga mendorong kesadaran untuk melakukan tindakan-tindakan produktif, baik dalam tujuan mendatangkan kemanfaatan bagi dirinya (baca: anggota) maupun dalam tujuan membesarkan perusahaan koperasi. 


D. Koperasi berawal Dari Kemauan
Concern koperasi membangun orang-orang didalamnya melalui pendidikan yang diaplikasikan lewat
ragam metode sesuai dengan karakter dan kebutuhan. Keterbangunan ragam unit layanan (baca: perusahaan) adalah imbas dari efektivitas pendidikan yang berbuah kesadaran. Kala pendidikan berhasil menyadarkan betapa penting menabung akan melahirkan akumulasi uang yang bisa di manfaatkan untuk membiayai jalannya organisasi dan perusahaan. Saat anggota menyadari bahwa perlu adanya pemberian pinjaman dengan tingkat jasa/margin rendah pasca keterkumpulan akumulasi simpanan anggota, maka hal ini akan mendorong lahirnya unit layanan simpan pinjam. Pada saat mayoritas asprasi anggota menginginkan bisa memperoleh barang kebutuhan sehari-hari dengan harga yang lebih efisien, maka hal itu menjadi inspirasi kelahiran unit layanan toko koperasi. Kala anggota melihat ada potensi lokal yang mungkin dikerjakan koperasi bersama anggotnya, maka hal ini bisa mendorong koperasi mem-produksi sesuatu. Demikian seterusnya sehingga perusahaan koperasi tumbuh seiring dengan aspirasi dan kebutuhan anggotanya dengan tetap berpegang teguh pada azas subsidiary. Azas subsisdiary yang dimaksud adalah “apa-apa yang bisa dikerjakan anggota sebaiknya tidak dikerjakan koperasi dan apa-apa yang tidak bisa dikerjakan anggota, itulah sebaiknya yang dikerjakan koperasi”.    

Kecerdasan aspirasi semacam itu adalah buah dari pendidikan. Atas dasar itu pula , bila koperasi ingin menjadi perusahaan besar dan berpengaruh pada percaturan ekonomi, maka koperasi harus terus menerus mencerdaskan anggotanya sehingga melahirkan “kemauan” untuk terus mengembangkan makna-makna kebersamaan. 


E. Pertumbuhan Anggota Sebagai Sumber Efisiensi Kolektif  
Salah satu prinsip koperasi adalah “keanggotaan sukarela dan terbuka”. Pada koperasi-koperasi yang concern aktivitas perusahaannya berbasis konsumsi, maka pertumbuhan jumlah anggota adalah sumber efisiensi sebab semakin besarnya angka pembagi  dari biaya operasional organisasi dan perusahaan. Inilah yang disebut dengan efisiensi kolektif, yaitu efisiensi yang disebabkan oleh semakin banyaknya orang yang menanggung pembiayaan. Demikian juga pada koperasi yang beranggotakan para pengrajin, melalui “join buying” bahan baku akan mendapatkan harga lebih murah sehingga usaha anggota semakin mampu bersaing dengan pelaku usaha sejenis. Pada pemenuhan
kebutuhan sehari-hari juga demikian, dimana semakin banyak kuantitas yang dibeli kepada suplier akan membuat semakin murah harganya. Inilah yang kemudian makna kebersamaan berlabel produktif dalam koperasi. Untuk itu, pertumbuhan anggota seharusnya dimaknai sebagai potensi perluasan kebermaknaan berkoperasi yang bisa dirasakan setiap orang dan disisi lain juga berpotensi membesarkan perusahaan koperasi.

Kesadaran akan hal ini pun perlu diedukasikan kepada segenap anggota. Dengan demikian, setiap anggota akan berpartisipasi aktif untuk menumbuhkan kuantitas keanggotaan koperasi. Semua akan saling menjaga agar setiap orang tetap dalam lingkar koperasi, sebab kehilangan satu orang anggota bermakna pelemahan kekuatan koperasi.  


F. Berjejaring Sebagai Strategi Perkuatan
Hakekat koperasi itu adalah kerjasama yang dilandasi saling percaya. Kerjasama yang dilakukan tidak sebatas pada anggotanya saja, tetapi koperasi bisa mengembangkan kerjasama dengan pihak-pihak lain sepanjang tidak mencederai otonominya. Artinya, kerjasama yang dikembangkan harus bersifat mutual/saling menguntungkan sehingga anggota mendapat manfaat nyata dari kerjasama yang dilakukan koperasi secara kelembagaan. Kerjasama ini bisa dengan koperasi lainnya dan bisa juga dengan pelaku usaha lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku dan norma kesusilaan. Untuk tujuan itu, mengingat kerjasama berawal “saling percaya”, maka koperasi harus terlebih dahulu mewujudkan dirinya sebagai koperasi yang layak dan potensial. Track record baik harus dijadikan modal awal untuk duduk bersama mendiskusikan aganeda-agenda yang potensi untuk dikerjasamakan. Jika sebuah koperasi tidak memiliki rekam jejak kebaikan, maka dipastikan sulit untuk mengajak pihak manapun untuk bekerjasama. Sebaliknya, kala koperasi bisa tumbuh dan berkembang maka semua pihak berharap berkesempatan bisa bekerjasama. Oleh karena itu, koperasi harus membangun sistem kerja yang memungkinkannya memiliki rekam jejak karya yang menggembirakan. Sistem kerja koperasi harus profesional dan melibatkan para profesional dibidangnya masing-masing.
   
G. Menakar Potensi Koperasi Berkembang dan Berpengaruh Signifikan
“Tumbuh dan berkembang” adalah hadiah dari kesabaran dan kecerdasan berproses. Koperasi tidak bisa dikembangkan secara instan, tetapi melalui tahapan-tahapan berkelanjutan. Oleh karena itu, kunci awalnya terletak pada kemauan. Kala kemauan ada untuk menumbuhkembangkan koperasi, maka peluang mendekati impian akan datang seiring dengan proses yang terus berjalan secara konsisten.

Bicara tentang “kemauan berkoperasi”, hal ini bisa lahir dari kesadaran dahsyatnya kebersamaan dan bisa juga karena adanya bukti nyata  atau contoh sukses  berkoperasi. Disinilah para pioner dan pejuang  perlu merumuskan strategi efektif sehingga koperasi terus tumbuh dan berkembang secara internal dan  berpengaruh pada kehidupan perekonomian. Lewat karya nyata yang terus tumbuh dan berkembang dan diikuti dengan fakta luasnya kemanfaatan berkoperasi yang bisa dirasakan anggota, apresiasi masyarakat akan lahir dan kemauan berkoperasi akan tumbuh.

Mereferensi ada alinea sebelumnya, tidak berlebihan untuk menyimpulkan bahwa potensi koperasi berkembang dan atau berpengaruh signifikan dalam kehidupan pereknomian sesunggunya terbuka besar dan sangat tergantung kemauan untuk memulai dan mentahapi proses secara bertahap dan berkesinambungan. Dengan demikian, kalau ada fakta koperasi masih belum berkembang, maka perlu melakukan kontemplasi mendalam guna menemukan persoalan yang menjadi faktor penghambat dan kemudian diikuti kemauan mentahapi setiap langkahnya dengan sabar dan sungguh-sungguh. 


H. Penghujung
Nalar konsepsi koperasi yang sangat rasional leading dalam percaturan ekonomi selayaknya menjadi inspirasi energi untuk memperjuangkannya. Disisi lain, pembangunan perusahaan koperasi yang selalu diawali dengan  pembangunan orang-orang didalamnya menegaskan koperasi lekat dengan media pencerdasan masyarakat membuatnya menjadi sejalan dengan cita-cita pembangunan nasional khususnya dalam pembangunan manusia Indonesia dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya.

Pertanyaan mendasarnya adalah adakah “kemauan” memulai dan berproses hingga koperasi terbukti sebagai sokoguru perekonomian?. Semoga pertanyaan ini menjadi semacam pemantik untuk memperjuangkannya.


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved