MENALAR “KOPERASI” SEBAGAI MEDIA STRATEGIS “PEMBERDAYAAN UMMAT”

Jumat, 24 Juni 20160 komentar

MENALAR “KOPERASI” SEBAGAI MEDIA STRATEGIS
“PEMBERDAYAAN UMMAT”

Disampaikan pada acara Majelis Taklim Studi Islam Intensif (SII) Mafaza, di Kompleks Mesjid Fatimatuzzahro, Purwokerto, Banyumas, 25 Juni 2016



Nilai-nilai universal koperasi membuatnya tidak berjarak dengan siapapun dan komunitas manapun. Nilai-nilai equality (kesetaraan) yang bermakna "duduk sama rendah dan berdiri Sama tinggi', membuat semua kalangan memungkinkan duduk bersama membicarakan dan meng-agendakan banyak hal bernafaskan kebersamaan. 

Semangat serupa yang ada pada Majelis Ta’lim Mafaza dan juga IIBF (Indonesia Islamic Business Forum) telah meng-inspirasi pegelaran diskusi perkoperasian pagi ini. Ada semangat kuat untuk memperluas makna keberjama'ahan tidak sebatas dalam sholat atau ibadah ritual saja, tetapi juga dalam urusan ekonomi, sosial dan budaya. Majelis kali ini di moderatori oleh Pak Khusein dengan menghadirkan 2 (dua) nara sumber, yaitu :  IIBF (Indonesia Islamic Business Forum) Purwokerto yang langsung di hadiri Presiden IIBF  dan praktisi koperasi yang kebetulan ketua Dekopinda Banyumas. 

Dalam prolognya, Presiden IIBF (Indonesia Islamic Business Forum) Purwokerto, Bapak Irwansyah, menyampaikan bahwa negara kita adalah negara agraris yang dikaruniai banyak potensi, namun sepertinya masih perlu upaya perbaikan konstruktif dalam pola pengelolaan dan peran aktif masyarakat diperlukan sehingga lebih memberi peluang kesejahteraan .  Atas hal itu, IIBF (Indonesia Islamic Business Forum) mencoba membangunkan kesadaran dan kepedulian masyarakat atas realitas ini melalui penguatan ikatan emosional dan persatuan serta kesatuan dalam  membangun ekonomi masyarakat. Sementara itu, dalam rangka memompa semangat kewirausahaan audience, beliau berbagi tips tentang 5 (lima) pilar bisnis, yaitu ; (i) harus mempunyai guru spiritual; (ii) harus punya guru Bisnis; (iii) Master mind (temen-temen sepemikiran) untuk berbagi ide/gagasan dan saling menyemangati; (iv) Team work dan; (v) family (keluarga).

Sementara itu, diskusi tentang perkoperasian dimulai dari menggugah spiritulitas audience, khususnya berkaitan dengan kepedulian dan kesetiakawanan. Naras sumber menawarkan pandangan yang agak sedikit berbeda dimana fakta kemiskinan dan kemelaratan lebih menarik dimaknai sebagai “peluang berbuat baik” ketimbang mencari siapa yang salah. Dengan demikian, akan meng-inspirasi energi untuk menumbuhkembangkan kepedulian.   Disisi lain, lemahnya peran strategis khususnya dalam bidang ekonomi sesungguhnya dikarenakan sebagian besar dari masyarakat memilih bergerak sendiri-sendiri sehingga belum terjadi penyatuan potensi sumber daya dan talenta. Kemudian ditandaskan bahwa “koperasi” adalah institusi yang secara sistem dan spirit memang mendorong penyatuan  potensi dan sumber daya.  Hanya saja, yang perlu dicatat, koperasi itu kumpulan orang dari berbagai latarbelakang sosial dan krakter yang berstatus berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Oleh karena itu, sebelum memasuki  agenda teknis pembangunan perusahaan koperasi, maka segenap orang-orang yang tergabung didalamnya harus di edukasi terlebih dahulu sehingga terbentuk penyamaan persepsi apa, mengapa dan bagaimana berkoperasi. Dengan demikian, semua  yang terhimpun di dalamnya akan memiliki persepsi sama dan semangat serupa untuk ikut menumbuhkembangkan koperasi yang dimiliki secara bersama-sama.


Respon peserta/audience  yang berjumlah seitar 200-an orang cukup tinggi. Terlihat wajah-wajah yang hadir tercerahkan dan seperti mendapatkan energi baru untuk menumbuhkembangkan kepedulian dan meningkatkan kesetiakawanan. Semoga majelis kali ini menjadi inspirasi awal bagi lahirnya energi baru dalam menumbuhkembangkan kepedulian yang terkonstrutifkan secara produktif melalui koperasi. Amin Ya Robbal ‘Alamin
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved