KETIKA 2 (DUA) PELUANG KEBAIKAN ITU DIHADIRKAN....

Jumat, 22 April 20162komentar



KETIKA 2 (DUA) PELUANG KEBAIKAN ITU DIHADIRKAN....



PENGANTAR

Di Hari Jum'at penuh barokah, Redaksi Blog arsadcorner sangat berbahagia mendapat kesempatan menyajikan satu tulisan berisi kisah nyata inspiratif. Mohon maaf, nama dan tempat kejadian tidak didetailkan atas permintaan yang bersangkutan. Semoga penyajian kisah ini mendatangkan kebaikan, khususnya di Jum’at yang sering digaungkan penuh barokah.





2 (DUA) PELUANG YANG TERSAJIKAN

Setelah beberapa menit berhenti di lampu merah, ku tekan pedal gas untuk melanjutkan perjalanan. Baru melaju sekitar 200 meter-an, ada 2 (dua) orang melambaikan tangan seolah seperti mau ikut menumpang. Ku coba lihat spion, tak kudapati ada angkutan kota di belakang kendaraanku. “Berarti kedua orang itu memang berharap aku memberi tumpangan”, fikirku. Aku pun menginjak pedal rem dan perlahan meminggir dan kemudian berhenti walau sudah melewati posisi kedua orang itu saat melambaikan tangannya hampir 25 (dua puluh lima) meter-an. Ku toleh kebelakang dan kulihat kedua orang itu bergegas menuju posisiku berhenti. Setelah kutanya, ternyata tujuan mereka searah dengan tujuanku. Kedua insan berlain jenis kelamin itu pun naik dan duduk di Jok Belakang dan kemudian kupacu lagi kendaraanku pada kecepatan standar. Sambil nyetir, ku coba menyapa mereka sambil mencari jawab atas kepenasaranku yang menduga kedua orang ini adalah karyawan/ti karena memakai seragam hitam putih.  Ternyata benar,  mereka sedang training dan baru memasuki minggu ke-4 (empat) di sebuah perusahaan yang bergerak dibidang pemasaran alat kesehatan. “Belum gajian dong?”, celotehku meledek sambil tetap fokus dengan setiran. “Iya Pak dan memang kami tidak digaji selama masa training” , jawab salah satu dari mereka dengan polos. Ku tanya lagi, “apa eslama masa training kalian tidak boleh naik kendaraan umum?”. Boleh saja sih pak, tapi biar ngirit biasanya kami cari tumpangan gratis pak. Apalagi kami dari kampung ke sini tidak bawa bekal yang banyak sehingga harus bisa survive sampai tiba waktunya memiliki penghasilan. Jawab nya penuh semangat gempita. Sepertinya trainer perusahaan tempat mereka bekerja cukup cerdas memasukkan doktrin atau semacam bius motivasi hingga kedua anak ini tampak begitu bersemangat menjalankan tugas dan tanggungjawabnya. Terlepas benar atau salah pola industrialis antara perusahaan dan mereka selaku karyawan/ti, semangat juang kedua anak yang baru lulus SLTA ini layak diapresiasi. Kalimat-kalimatnya selalu bernada optimis dan semangat juang yang menyala. Sepertinya gambaran cerah masa depan ada diimajinasi kedua anak ini. Kuledekin lagi mereka saat hampir sampai di tujuan, “trus nanti kalian pulangnya gimana ke base camp/kantor kalau ndak pegang uang?”. Pertanyaan tu langsung saja disambar dengan jawaban dengan rnada begitu tenang, “ liat nanti pak, kalau ndak bisa ikut temen, cari tumpangan gratis lagi”.  Sedikit kagum dengan jawaban itu. Aku pun berinisiatif merogoh kantong dan kudapati selembar biru dan langsung aja ku berikan kepada 2 (dua) anak ini. Awalnya mereka menolak, namun ku tandaskan pada mereka bahwa walau belum berhasil dan sukses, aku pun pernah seperti mereka. Aku semangati mereka dan mengatakan bahwa keyakinanku begitu besar kalau mereka berdua akan mendulang kesuksesan. Kedua anak ini pun menerima selembar biru sambik berbinar-binar. Sesaat kemudian mereka berpamitan sambil bersalaman. Sesudah mereka berlalu, aku pun melanjutkan perjalanan ke tujuan awalku.



Kudapati parkiran penuh. Alhamdulillah setelah mengitari area berhasil menemukan satu space kosong yang cukup untuk ukuran kendaraanku. Setelah memarkirkan kendaraan dengan rapih, seseorang yang cukup ku kenal nyamperin dan berkisah tentang kepusingannya karena anaknya belum bayar SPP  sudah 5 (lima) bulan. Padahal, ujian kenaikan kelas sudah dekat dan tak mungkin bisa ikut ujian bila belum melunasi SPP nya. Sebenarnya, biaya sekolah puteri kesayangannya itu ditanggung oleh seorang pengusaha yang juga ku kenal. Namun, karena Sang Pengusaha tidak pernah menanyakan, beliau rikuh/segan untuk menyampaikan tentang hal ini. Saya mencoba menghibur dan mengatakan mungkin Sang Pengusaha banyak fikiran dan kerjaan sehingga lupa. Namun, tak elok juga kalau kemudian aku mengingatkan Sang Pengusaha tersebut. Namun, mengingat waktu yang begitu sempit, keterpenuhan SPP ini tergolong Emergency. Apalagi, pihak sekolah sudah mengingatkan puterinya secara lisan. Tentu hal itu mengganggu psikologi puterinya dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah dan juga mempengaruhi  persiapannya menghadapi ujian itu.



Aku bisa membayangkan perasaannya sebagai seorang ayah. Aku juga bisa membayangkan apa yang dirasakan puterinya. Aku mengetahui banyak tentang prestasi puteri dari kawan satu ini. 3 (tiga) besar tidak pernah luput dari jejak capaiannya. Anak ini sungguh luar biasa dan ketabahannya atas ragam keterbatasan membuatnya tetap bersemangat untuk mengukit prestasi. Tapi “solusi harus ada”, kalimat itu kemudian membenakku begitu kuat. Sepertinya ini cara Tuhan memberi kesempatan untuk berbuat sesuatu. Alhamdulillah, atas izin Allah persoalan selesai dan solusi tertemukan. Aku melihat mata berkaca-kaca dari  seorang ayah yang sedang bahagia itu dengan jelas saat solusi tertemukan. Subhanallah...ada perasaan yang tak terceritakan. Aku terhenyak sesaat dan tak bisa berkata-kata. Aku merasakan getar bahagia itu saat bersalaman sebelum aku beranjak menuju ruang kerja.  



Terima kasih Tuhan telah diberi kesempatan membahagiakan sahabat satu ini. Semoga ini bentuk kepercayaan dari-Mu dan juga pertanda baik dikehidupanku. Kalimat bernada syukur dan do’a itu memungkas di benakku sebelum mulai berjibaku dengan segudang pekerjaan dan tugas.
 

MENG-HIKMAH

Kisah ini bukan tentang kebanggaan, tetapi tentang kebahagiaan atas kesempatan yang disajikan Tuhan untuk berbuat baik. Ini bukan tentang kesombongan atau riya, tetapi ajakan memaksimalkan peluang kebaikan kala dihadirkan atau disajikan Sang Penguasa. Tak semua diberi kesempatan untuk melakukannya. Begitu banyak mobil yang melintas dijalan itu, mengapa mobil beliau yang dipilih oleh 2 (dua) orang karyawan/ti itu. Begitu banyak orang disekitar yang bisa diajak curhat, mengapa pula beliau yang dipilihnya sebagai teman berbagi kesedihan. Tentu banyak hikmah dalam kisah ini yang bisa diambil.  



Satu hal yang perlu ditandaskan, tidak ada hebatnya berbuat baik, sebab berbuat baik itu adalah kebutuhan. Sebab, berbuat baik itu adalah media untuk lebih diperhatikan dan disayang Tuhan.



Semoga penulisan kisah ini berujung dengan ragam hikmah sebagaimana niat awal penulisannya d Blog ini. Semoga penulis dan juga pembaca dipernahkan Tuhan dengan ragam kesempatan untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang mempertegas kebermaknaan diri. Amin Ya Robbal 'Alamin




Alhamdulillah....

Jum’at Penuh Barokah
Share this article :

+ komentar + 2 komentar

22 April 2016 17.25

Terkadang kita D beri kesempatan oleh Allah Tuk Raih pahala..
Tp Kita anggp beban
Sehingga amal baik tak teraih,
"Tulisan ini kembali mengingtkn bahwa kesempatn dr Allah jangn disia-siakn"thanks My big brother...

22 April 2016 17.25

Terkadang kita D beri kesempatan oleh Allah Tuk Raih pahala..
Tp Kita anggp beban
Sehingga amal baik tak teraih,
"Tulisan ini kembali mengingtkn bahwa kesempatn dr Allah jangn disia-siakn"thanks My big brother...

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved