MENAKAR KETERBANGUNAN PERUSAHAAN DARI SEBUAH MANDIRIAN KOLEKTIF

Jumat, 04 September 20150 komentar



MENAKAR KETERBANGUNAN PERUSAHAAN

DARI SEBUAH MANDIRIAN KOLEKTIF
disampaikan pada agenda Pendidikan Anggota KPRI NEU BANYUMAS, di Gedung KN (Kulakan Neu), 30 Agustus 2015



A.  Awalan


Kebersamaan memerlukan rasa percaya satu sama lain sehingga menuntun setiap orang didalamnya senantiasa menjaga keutuhannya. Untuk itu, setiap orang harus saling menjaga sikap positif, memelihara tindakan berdasarkan nilai-nilai yang diyakini bersama dan selalu merasa perlu untuk saling menghargai dan menauladani satu sama lain. Dengan demikian, rasa kebersamaan yang terbangun dan terpelihara akan meng-energi bagi proses perwujudan tujuan dimana didalamnya terdapat kepentingan bersama.




Kebersamaan dalam koperasi sesungguhnya tidaklah selesai sampai pada ketercatatan secara administratif, tetapi harus ditindaklanjuti dengan mengambil inisiatif sadar ikut membangun, mempertahankan dan mengembangkan nilai-nilai kebaikan dan kebermaknaan dari kebersamaan tersebut. Ketika sikap demikian ada pada setiap orang dalam koperasi, maka akan terhimpun akumulasi komitmen dan juga akumulasi energi yang memungkinkan koperasi menggelar agenda-agenda besar yang berujung pada perluasaan kebermanfaatan bagi seluruh anggota.



Dahsyatnya kebersamaan hanya lahir dari akumulasi kesadaran yang terus tumbuh dan terjaga. Untuk itu,  semua orang harus saling menjaga, saling meng-edukasi dan saling me-motivasi. Semua harus berkomitmen untuk tidak saling menyakiti dan setiap orang harus merasa menjadi bagian dari lainnya. Aemua orang harus merasa penting tetapi tidak boleh ada yang merasa lebih penting dibanding lainnya. Disinilah kebersamaan dalam koperasi  berkontribusi pada keterbentukan kebijaksanaan sikap dan tindakan yang selanjtnya berpengaruh pada kehidupan pribadi anggotanya.





B.  Ujian berulang di kebersamaan

Koperasi adalah simbol akumulasi komitmen orang-orang didalamnya yang terus teruji oleh dinamika dan perjalanan waktu. Ragam karakter tidak jarang menimbulkan perbedaan persepsi dan ekspektasi. Pada titik inilah segenap unsur koperasi terus melakukan komunikasi profuktif sehingga tertemukan titik kesamaan dan keyakinan dalam melangkah. Keterujian yang terus menerus semacam ini merupakan bagian dari proses keterbentukan pertahanan organisasi yang selajutnya menjadi bekal  dalam membentuk “kemandirian kolektif”. Untuk mendukung hal itu, ragam agenda yang dijalankan koperasi idealnya me-refresentasikan kebutuhan mayoritas anggotanya.  Sehingga setiap anggota bisa mendefenisikan kepentingannya dalam setiap aktivitas yang dijalankan koperasi. Hal ini pula yang menjadi dasar  untuk mengembangkan partisipasinya secara optimal. 



Dalam tinjauan praktek keseharian, dalam rangka membentuk dan mengembangkan aktivitasnya, kebersamaan dalam koperasi teruji secara berulang dalam tiga tahap sebagaimana dijelaskan berikut ini:

1.       Bersama dalam merumuskan aktivitas. Disinilah letak awal mula aktivitas koperasi didefenisikan secara bersama-sama. Aktivitas yang terumuskan meliputi penguatan organisasi secara internal maupun eksternal dan  aktivitas perusahaan yang meliputi tentang jenis aktivitas dan roh pengelolaannya yang dalam perumusannya memperhatikan minimal 2 (dua) hal mendasar berikut ini: 

a.      Jenis aktivitas yang dipilih hendaklah merujuk pada azas subsidiary. Dalam azas subsidiary ditegaskan bahwa apa-apa yang bisa dikerjakan anggota sebaiknya tidak dikerjakan oleh koperasi dan apa-apa yang tidak bisa dikerjakan oleh anggota, itulah yang sebaiknya yang di kerjakan koperasi. Dengan demikian, aktivitas perusahaan koperasi akan berfungsi sebagai media pemenuhan ragam kebutuhan anggota yang tidak mungkin mereka lakukan sendiri-sendiri. Disamping itu, aktivitas perusahaan koperasi pun tidak akan menjadi pesaing bagi aktivitas usaha yang dijalankan oleh anggotanya. Hal ini merupakan pertegasan bahwa perusahaan koperasi menjunjung tinggi kebijaksanaan dalam pemilihan aktivitasnya.

b.     Roh pengelolaan. Pendefenisian Roh pengelolaan adalah hal penting tetapi masih sering terabaikan. Terabaikannya hal ini bermula dari persepsi keliru dalam memandang koperasi layaknya perusahaan non-koperasi. Bahkan tidak sedikit pembacaan yang mempersepsikan koperasi layaknya lembaga investasi yang selalu fokus pada tema untung dan rugi (baca: pertumbuhan modal). Khusus tentang Roh Pengelolaan ini akan dibahas secara singkat pada sub bahasan berikutnya.

2.      Bersama dalam mewujudkan. Koperasi merupakan kumpulan orang yang bersama-sama mewujudkan apa yang menjadi cita-cita bersama. Mereka menolong diri sendiri melalui pengembangan kerjasama berlandaskan saling percaya. Atas dasar itu pula, aktivitas perusahaan koperasi idealnya me-refresentasikan kebutuhan mayoritas dan menjadi alasan  mengapa semua unsur mau mengembangkan partisipasi. Kerjasama yang di usung dalam koperasi tidaklah bermakna bekerja bersama-sama alias geromobolan kesana kemari, tetapi didalamnya terdapat distribusi peran yang saling ter-integrasi diantara pengurus, pengawas dan anggota.  

3.     Bersama dalam meng-evaluasi. Evaluasi identik dengan menilik capaian dan menjadikannya bahan analisa untuk berkesimpulan tentang deviasi capaian dan rencana  yang disertai alasannya. Evaluasi ini  melibatkan unsur pengurus, pengawas dan juga anggota sebab ketiga unsur ini terlibat aktif  mulai dari perumusan tujuan dan juga proses pencapaiannya.  Segala capaian koperasi (positif atau negatif) harus dibaca sebagai hasil bersama sehingga  evaluasi  identik dengan auto koreksi berjama’ah yang berujung dengan terbangunnya semangat baru melakukan hal-hal yang lebih baik diberikutnya.  Atas hal ini pula koperasi tidak mengenal kata “aku, kamu,dia dan mereka”, tetapi hanya mengenal kata “kita”.      



Ketiga tahapan ini terus berulang dalam kehidupan koperasi. Kualitas ketiga tahapan ini akan sangat menentukan sejauh mana koperasi itu mampu membentuk capaian-capaian dan juga seberapa luas manfaat yang bisa dirasakan oleh anggotanya.   





C.  Ketika “Alasan Keberadaan” sebagai “Roh” Pengelolaan Perusahaan

Sebagian masyarakat masih memandang koperasi sebagai perusahaan layaknya CV,PT,UD dan bentuk perusahaan lainnya bernafas non-koperasi. Persepsi ini pula yang kemudian menjadikan istilah “SHU” hanya menjadi pembeda dan kehilangan substansinya. Cara baca semacam ini pula yang kemudian menggiring pemahaman bahwa menjadi anggota koperasi seperti layaknya ber-investasi yang fokus pada pertumbuhan modal. 



Adalah benar koperasi sebuah perusahaan, tetapi didalamnya nafas operasionalnya terdapat keunikan dimana Anggota berposisi ganda yaitu pemilik sekaligus pelanggan. Kondisi semacam ini tidak ditemui pada jenis perusahaan lainnya. Oleh karena itu, posisi aktivitas perusahaan koperasi itu sesungguhnya adalah media pemenuhan kebutuhan mayoritas anggota walau perusahaan koperasi tidak diharamkan melayani non-anggota  (kecuali unit simpan pinjam yang hanya boleh melayani anggota). Dalam kapasitas pemilik, anggota dilibatkan dalam perumusan kebijakan-kebijakan umum organisasi dan perusahaan termasuk didalamnya tentang tingkat margin keuntungan. Namun disisi lain, anggota juga adalah pelanggan yang menjadi obyek dari kebijakan itu sendiri.  Logika inilah yang kemudian menuntut adanya “alasan kelahiran” setiap aktivitas dalam perusahaan koperasi. “alasan kelahiran” ini selanjutnya akan menjadi roh dalam pengelolaannya.



Untuk mempermudah pemahaman atas hal tersebut, berikut dijelaskan beberapa contoh berikut ini :

1.       Pada Usaha Toko

  1. Andai saja sebuah toko koperasi didirikan atas dasar  keinginan  memperoleh harga murah, maka margin keuntungan akan ditetapkan kecil agar pendapatan riil anggota menjadi meningkat. Pendapatan riil yang dimaksud adalah anggota akan mendapat jumlah barang yang lebih banyak  dengan jumlah uang yang sama ketika dibelanjakan ke toko yang lain.  Inilah yang disebut dengan efisiensi kolektif, yaitu efisiensi yang disebabkan oleh akumulasi komitmen yang terbentuk dalam kebersamaan di koperasi.  
  2. ketika kelahiran toko adalah menjadi “media pajang” bagi produk-produk anggota, maka space outlet yang ada di toko akan ditempati oleh produk-produk anggota. Bahkan, bila terdapat barang yang sama dengan pemasok/suplier  non-anggota, koperasi harus mengutamakan produk anggota. Proteksi semacam ini sebagai bentuk implementasi dari “roh” atau “alasan kelahiran” toko tersebut.

2.      Unit simpan pinjam

a.      ketika unit simpan pinjam diselenggarakan atas dasar keinginan  mendorong tumbuhkembang usaha yang dijalankan anggota, maka tingkat jasa/margin pinjaman akan menjadi kecil. Kebijakan ini akan meningkatkan daya saing yang lebih dibanding pelaku usaha lain sejenis karena biaya modalnya lebih rendah.  

b.      Ketika simpan pinjam dijadikan media untuk mengembangkan semangat saling tolong menolong dalam urusan pendidikan dan emergency (misalnya; sakit, kecelakaan dan lain sebagainya), maka pinjaman-pinjaman yang berbau pendidikan seperti menyekolahkan anak atau untuk hal-hal yang tak terduga (baca: emergency) akan dikenakan jasa/margin pinjaman sangat kecil dan bahkan bukan tidak mungkin sampai 0 (nol) prosen. 

c.       Ketika simpan pinjam dijadikan media edukasi bagi segenap anggota sehingga terhindar dari sikap konsumtif, maka  tingkat jasa/margin simpan pinjam dibuat tinggi untuk semua pinjaman yang bersifat konsumtif seperti ganti HP ke versi terbaru, ganti mobil ke merk terbaru dan lain sebagainya yang berbau konsumsi.

3.      Unit produksi. Misalnya sebuah koperasi yang anggotanya para pemilik lahan dan sekaligus petani sawit mendirikan sebuah PKS (Pabrik Kelapa Sawit) yang pendiriannnya didasari atas keinginan menstabilkan harga beli sawit anggotanya,  maka pengelolaan PKS akan fokus menjaga stabilitas harga beli sawit petani, walau dalam operasionalnya manajemen harus bekerja keras menyusun formula untuk menjaga keseimbangan antara fluktuasi harga CPO (Crude Palm Oil)  dan biaya operasional pabrik.



Beberapa contoh diatas menunjukkan bagaimana keunikan dan kekhususan koperasi selalu berorientasi pada kesejahteraan anggota baik secara langsung maupun tidak langsung. Keunikan semacam inilah yang menjadikan anggota bisa menikmati kemanfaatan-kemanfaatan yang tidak mungkin diperoleh bila mereka sendirian.  Pola pengelolaan sebagaimana dijelaskan diatas akan membuat anggota merasa selalu diperhatikan oleh koperasi dan berimbas pada tumbuhnya loyalitas tanpa batas. Kemanfaatan-kemanfaatan yang bisa dirasakan secara langsung akan menginspirasi  tindakan pembelaan yang mewujud dalam partisipasi yang terus tumbuh, baik dalam bentuk transaksi maupun sumbangan gagasan dan pemikiran. 



Namun demikian, sepertinya kondisi berbeda akan diperoleh ketika “alasan keberadaan” atau “roh pengelolaan” setiap aktivitas perusahaan koperasi ini tidak terdefenisikan secara bersama-sama. In-konudsifitas iklim organisasi  juga akan terjadi bila “roh” pengelolaan ini tidak tersosialisasikan atau kurang ter-edukasikan dengan baik kepada seluruh anggota. Sebab, hal ini berpotensi melahirkan multy-intrepretasi yang sesungguhnya berawal dari ketidakfahaman. 





D.  Buah Kecerdasan Kolektif itu Bernama Kesejahteraan

Secara defenisi bebas,  koperasi adalah kumpulan orang untuk memenuhi aspirasi dan kebutuhan ekonomi, sosial dan budaya melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan kendalikan secara demokratis. Dalam tinjauan pencapaian, kesejahteraan (ekonomi, sosial dan budaya) merupakan buah dari aspirasi anggota yang cerdas.



Untuk itu, pertama kali koperasi harus membangun pemahaman anggotanya melalui pendidikan  sehingga terbangun keyakinan kuat terhadap arti, makna dan nilai guna kebersamaan dalam koperasi. Selanjutnya, pengetahuan tersebut  memantik inisiatif   melakukan hal terbaik untuk akselerasi pertumbuhan koperasi. Keterbangunnya kapasitas anggota  menjadi jaminan  aspirasi brilian yang tidak hanya berbentuk ide atau gagasan tetapi juga diikuti dengan kemauan berkontribusi maksimal demi terwujudnya gagasan dan terbangunnya kemanfaatan bagi semuanya. Nalar inilah yang kemudian mendorong koperasi sering diidentikkan “gerakan membangun orang” dan menempatkan  keterlahiran aktivitas-aktivitas perusahaan sebagai imbas.   Singkat kata, ragam dan luasnya aktivitas perusahaan koperasi   sangat tergantung seberapa jauh kualitas kebersamaan  mampu menjadi inspirasi  energi kolektif untuk melahirkan aktivitas-aktivitas produktif bagi segenap anggotanya.





E. Penghujung

Kebersamaan adalah modal terpenting dari sebuah koperasi. Untuk itu, koperasi harus mendidik anggotanya sehingga terbentuk persepsi yang sama dan ekspektasi yang rasional serta kesadaran untuk mengembangkan inisiatif berupa partisipasi aktif. Pertumbuhan kesadaran anggota akan makna kebersamaan akan menuntun koperasi pada perluasan aktivitas yang bermakna pertumbuhan kemanfaatan. Ragam potensi yang melekat pada anggota harus terinventarisir dengan baik sehingga menjadi referensi obyektif dalam penyusunan langkah pengelolaan organisasi dan perusahaan koperasi.



Demikian tulisan sederhana ini disampaikan, semoga menginspirasi lompatan kecintaan terhadap kebersamaan, menghadirkan gairah untuk mengintrepretasikan status keanggotaan ke dalam tindakan-tindakan yang meng-akselerasi tumbuhkembangnya aktivitas dan manfaat koperasi, khususnya bagi anggota. Amin..




 



Lampiran



SEBENTUK KONTEMPLASI

 “TENTANG KITA”



Tanpa disadari, kita sering jadi obyek dari sebuah karya. Hebatnya lagi, kita merasa bangga bisa membelanjakan uang di toko mentereng yang ter-packaging sedemikian rupa dengan pernik yang serba wah. Kita telah membayar “mahal” untuk itu dan ironisnya “faktor gengsi” pun menjadi suplemen pelengkap yang membuat kita kian larut. Bahkan, kenyamanan di toko itu pun telah membenamkan kesadaran bahwa kita punya kemampuan membuat sendiri toko semacam itu. Bahkan kita pasti mendapatkan nilai lebih dengan jumlah uang yang sama. Namun, berkesimpulan “terlalu khayal untuk bisa” telah menjadi muasal di ketidakbisaan selamanya.



Terinspirasi dari sebatang lidi yang tidak mungkin bisa membersihkan sebidang halaman rumah, namun menjadi sangat mungkin ketika ratusan batang lidi digabungkan dalam satu ikatan kuat. Juga terinspirasi dari sebuah truk mogok yang tidak mungkin bisa didorong oleh satu atau dua orang saja, tetapi menjadi mungkin kala 20 orang bergabung untuk mendorong bersama-sama. Masih hangat diingatan kita tentang kisah pilu Pak Nasrun dan anaknya Rudi yang 5 (lima) tahun tidur diatas kandang ayam.  Akhirnya, derita panjang berbalik kala beberapa orang berkepedulian untuk menolongnya. Seketika Pak Nasrun dan Rudi memiliki rumah sederhana lengkap dengan dapur dan kasur yang membuat tidurnya nyenyak dan tidak perlu lagi bertarung dengan dinginnya angin malam.



Setiap dari kita menginginkan kesejahteraan tetapi tak jarang langkah  tidak relevan dengan keterbentukan kesejahteraan itu sendiri. Harapan itu pun kian menjauh kala mindset kita terbiarkan untuk tidak menyemangati seperti kita tidak mampu, itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang hebat yang memiliki modal yang banyak, adanya begini ya sudah, tidak perlu repot-repot yang penting begini aja di syukuri dan lain sebaganinya.



Kalau memang Rp 100.000 pasti tidak cukup membangun sebuah supermarket, mungkin akan berbeda kalau ada 1.000 orang menabungkan uangnya Rp 100.000 setiap bulan selama 100 bulan. Kalau kemudian itu terlalu lama bisa mengajak 1000 orang lagi untuk bergabung sehingga dalam 50 bulan sudah terhimpun Rp 10 Milyar. Artinya dalam 4 tahun 2 bulan  kita sudah memiliki sebuah supermarket. Andai dari Rp 1.000.000,oo belanjaan bulanan kita  telah menyumbang 10% laba kepada pemiliknya, berarti kita telah berbagi penghasilan sebesar Rp 100.000. Ternyata, ketidakmauan kita menahan menabung 100.000 per bulan telah menyebabkan kita harus memberi 100.000 pada pemilik toko itu setiap bulannya. Betapa mahalnya arti sebuah kesabaran, betapa hebatnya nilai ketidakmauan ber-kita. Kita telah menghilangkan kesempatan memiliki toko sendiri akibat ketidakmauan kita sendiri dan juga terus terjebak untuk terus memberi Rp 100.000 setiap bulannya kepada toko milik orang lain. 



Semua kemungkinan menjadi terbuka ketika kita bersama. Kita tidak perlu takut lagi terkecoh dengan harga onderdil kendaraan bila kemudian kita memiliki toko onderdil dan kita tidak perlu lagi terjebak pada harga baju yang mahal kalau kita memiliki toko pakaian.

Sepertinya kita akan terus terjebak sepanjang kita tak mau memahami dan menggali arti dan makna  sebuah“ke-kita-an”..... 



Semoga menginspirasi kesadaran untuk Ber-Kita..


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved