OLEH-OLEH HARI KE-2 “WORKSHOP PENGUATAN UMKM DALAM MENGHADAPI MEA”

Kamis, 27 Agustus 20150 komentar



OLEH-OLEH HARI KE-2
“WORKSHOP PENGUATAN UMKM DALAM MENGHADAPI MEA”

Pembicara I : Kementrian Perdagangan (cq. Bapak Sumber Sinabutar)



Mereka yang sudah memasuki perdagangan internasional cenderung lebih siap menghadapi MEA, sedangkan yang belum siap biasanya adalah pelaku usaha yang masih berorientasi pada pasar lokal atau nasonal. Dengan Free Trade (perdagangan bebas) maka tarif-tarif ditiadakan kecuali pada komoditas yang sangat sensitif. Sebagai contoh duren montong bisa masuk dari thailand tanpa harus dikenakan tarif. Hal ini tentu akan menjadi persoalan serius bagi duren Medan karena harus bersaing secara terbuka.

Tantangan bagi pelaku UMKM adalah bagaimana melahirkan sebuah produk berdaya saing, harga terjangkau, design kemasan bagus, isi berkualitas, menjamin keselamatan konsumen (ter-sertifikasi) dan trend di pasar. Jika hal ini tidak bisa dihadirkan dalam produk, maka potensi menjadi pemain penting di era ASEAN akan menipis. Kecerdasan merumuskan segmented juga menjadi salah satu kunci sukses. Oleh karena itu, membangun relevansi kuat antara segmen pasar yang ditargetkan dengan produk yang mau ditawarkan. Disamping itu, persoalan-persoalan akses teknologi, modal, informasi dan  SDM yang masih melekat pada mayoritas pelaku UMKM juga perlu diatasi sedemikian rupa.

Sementara itu, Pem.Pusat dan daerah juga harus berbenah seperti sosialisasi massif tentang MEA, pembenahan birokrasi  dan penyediaan sarana transportasi yang murah dan lain sebagainya.

Dengan terbentuknya pasar tunggal di ASEAN yang penduduknya berjumlah 600 juta, maka ASEAN diharapkan akan lebih memiliki bargainning position di WTO (Word Trade Organization).  

Nara sumber 2 : BI Perwakilan Purwokerto (cq. Pak Fadli)
Perbankan dalam mekanisme perdagangan Internasional. Menjadi tuan dirumah sendiri merupakan tantangan bagi pelaku UMKM mengingat bahwa pasar indonesia adalah pasar terbesar di lingkungan ASEAN. Berdasarkan teropong BI, ada beberapa realitas:
1.       Kontribusi UMKM (2012)
  • UMKM Indonesia mendominasi jumlah unit usaha (99.99%); penyerapan tenaga kerja 97%; sumbangan PDB sebesar 57,9% dan; ekspor non migas 14%.
  • UMKM Indonesia mayoritas berada pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan (49%) dan sektor perdagangan (29,56%)
  • PDB UMKM didominasi oleh sektor perdagangan 27%,; sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan 23% dan industri pengolahan 18%
  • sumbangan UMKM kepada sektor masih relatif rendah (14%).  
2.      berdasarkan penelitian permasalahan utama yang dihadapi UMKM adalah permodalan. Namun dalam realitas lapangan, sebenarnya faktor mentalitas adalah hal utama.  
3.      Fakta data kab. Banyumas menunjukkan bahwa NPL UMKM di perbangkan meningkat.

Pengusaha pengimpor juga sesungguhnya berkontribusi besar sehingga produk-produk luar membanjir di Indonesia. Namun, disisi lain produk-produk Indonesia tidak tersedia atau belum memenuhi standar sehingga kurang marketable atau kurang disukai masyarakat.  

Nara sumber 3 : Praktisi Eksportir Banyumas (cq. Ibu Tuti
Memiliki mitra petani gula sejumlah 3.500 orang yang tersebar di Kab.Banyumas dan Kab. Purbalingga. Focusnya adalah memproduksi dan menjual gula semut organik. Perjuangan panjang telah membawanya pada kesuksesan luar biasa, khususnya dalam ekspor. Ada beberapa masukan yang berisi harapan :
1.       sehubungan dengan industri pertanian memiliki karakter khusus, beliau berharap ada “kebijakan khusus perbankan” dalam hal kredit.
2.      Birokrasi peizinan yang cepat dan birokrasi yang berpihak pada percepatan pertumbuhan dan perkembangan.

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved