Akhirnya Pak Narsun dan Rudi Tidak Tidur Di Atas Kandang Ayam Lagi

Kamis, 13 Agustus 20150 komentar



Akhirnya Pak Narsun dan Rudi

 Tidak Tidur Di Atas Kandang Ayam Lagi




Sebuah berkah bagi penulis bisa bertemu dengan Pak Narsun dan Pueteranya Rudi yang beberapa hari lalu sempat menjadi Headline harian lokal Satelit Purwokerto. Berkat seorang sahabat yang penulis kenal sangat peduli pada  persoalan-persoalan  kemanusiaan tiba-tiba mengundang untuk bergabung ke hotel Aston, Kota Mendoan, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah.  



Cerita ini sebenarnya bermula dari kemarin dimana Sang Pencari Tuhan ini (begitu penulis biasa  menyebut sahabat satu ini) memposting di Grup BBM para pengusaha muda Banyumas (HIPMI Banyumas). Dalam postingan tersebut terpampang gambar yang menjelaskan  tentang Pak Narsun dan anaknya bernama lengkap Rudhi Setiawan sudah 5 (lima) tahun hidup kebun dan tidur diatas kandang ayam. Sebuah kenyataan hidup mengenaskan, fikir penulis saat memandangi  foto itu. Penulis pun berkomentar "menarik untuk dicarikan solusi integratif" . Komentar-komentar  berikutnya pun muncul bernada simpati dan keterpanggilan jiwa untuk berbuat sesuatu. 



Pagi ini..sang Pencari Tuhan (PT) mengabarkan hal menggembirakan atau lebih tepat disebut menakjubkan ; "Semalem Setelah berjibaku dr jam 2 siang smp jam 7 malam u/ melobi hampir ke seluruh pemilik tanah d grumbul semingkir tak satupun yg saat itu merelakan 2 ubin tanahnya u kita beli spy pak narsun dan rudi bs tinggal lbh layak...Selesai jamaah Isya Kesabaran itu berbuah akhirnya kita dpertemukan dgn pemilik tanah d desa sebelah Pasir kidul. Dgn nilai yg sama 10 juta kita dpt Sepetak tanah ukuran 5 ubin yg tadinya klo d desa sebelumnya cm dpt 2 ubin."...saya terkagum-kagum dengan berita gembira ini...sy hanya bisa

bilang "subhanallah..Allahu akbar". Komunikasi via bbm itu pun terputus sampai disitu.



Sementara itu, tak lama berselang "kawan2 Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda) Banyumas pun tampak sudah menyiapkan bantuan berupa tas dan seperangkat alat tulis untuk keperluan sekolah rudi". Informasi ini diperoleh saat mendapati postingan terbaru di group BBM Hipmi Banyumas.



Jam 12-an, PT menelepon penulis, Beliau mengajak untuk ikut menemui Pak Narsun dan puteranya di Hotel Aston pada jam 14.00 wib. Awalnya penulis bertanya dalam hati mengapa menemuinya di hotel?. Ternyata, Berkat Danrem 071 Wijayakusuma Purwokerto yang memiliki hubungan baik dengan Hotel Aston Purwokerto, Pak Narsun dan puteranya diberikan untuk "tinggal sementara" di hotel itu sampai rumah Pak Narsun selesai dibangun oleh anggota Korem. Sebuah kepedulian luar biasa dari Kol.Inf. Edison, Sang Komandan Korem yang dikenal sangat akrab dengan urusan kemanusiaan dan dikenal luas sebagai pribadi yang religius.  Masyarakat sekitar calon rumah Pak Narsun juga berinisiatif ikut menyumbangkan tenaganya untuk mempercepat terbangunnya rumah sederhana itu . 



Saat akan menuju Hotel, penulis mengabarkan akan segera bergerak, tetapi PT bilang diundur ke jam 15,00 wib sebab beliau sedang belanja pakaian dan kelengkapan sholat untuk Pak Narsun dan puteranya. Rupanya PT mendapat tugas tambahan dari Sang Ketua Hipmi Banyumas untuk melengkapi paket bantuan sebelumnya. Jam 14.45 Wib, penulis pun bergerak menuju hotel. Ada perasaan penasaran dan ingin cepet sampai di tujuan agar segera bisa bertemu Pak Narsun dan puteranya. Penulis sangat ingin mendapat pelajaran dan hikmah atas pertemuan ini. Sesampai di lobby hotel, dengan penuh semangat penulis coba menghubungi PT, ternyata masih di jalan dan diminta untuk menunggu sebentar. Dalam rasa kepenasaran luar biasa tetapi masih harus menunggu, penulis mencoba mengisi waktu merangkai kalimat pembuka tulisan ini lewat HP.



Setelah 20 menit-an menunggu akhirnya PT muncul dengan dua tas kresek berisi hasil belanja  dan langsung meminta resepsionist hotel menyampaikan niatnya untuk bertemu dengan pak Narsun. Tak lama berselang, pak Narsun dan puteranya pun muncul di pintu lift yang terbuka. Subhanallah...ada perasaan bercampur aduk, khususnya saat melihat Rudi yang baru berumur 11 tahun dan masih berseragam sekolah. PT langsung berbicara serius dengan Pak Narsun.  Disaat yang sama penulis mencoba mengajak Rudi ngobrol santai dengan niat awal untuk menyemangati. Alhamdulillah, Rudi cukup komunikatif sehinggga enak diajak bicara. Penulis mencoba melempar satu dua pertanyaan dan sesekali menyelinginya dengan kalimat-kalimat yang sekiranya meningkatkan  spirit Rudi dan juga membuat suasana lebih cair.



Dari obrolan ringan dan santai itu diperoleh informasi kalau saat ini Rudi adalah siswakelas 5 SD 01 Pasir Kidul, Purwokerto.  Rudi becita-cita  menjadi seorang “pemain sepak bola profesional”. Mungkin Rudi tidak mengikuti perkembangan berita seputar perseteruan PSSI dengan Pemerintah. Rudi juga tidak tahu bagaimana nasib pemain bola negeri ini yang kocar kacir hidupnya akibat perseteruan yang belum usai hingga kini. Namun, penulis tidak ingn  mematahkan semangat Rudi dengan cita-cita hebatnya itu. Bahkan, untuk lebih menyemangati Rudi, penulis berjanji akan membawanya suatu waktu ke arena latihan sepak bola  dan mengenalkannya dengan para Pemain Persibas Banyumas, klub sepak bola kebanggaan warga Kabupaten Banyumas yang baru saja lolos ke Divisi Utama PSSI tahun ini.  Kebetulan penulis dan PT adalah bagian dari pengurus PT Persibas sehingga sangat memungkinkan mewujudkan mimpi Rudi untuk bisa bertemu dan bersapa langsung  dengan para pemain idolanya. Penulis juga sempat bertanya apakah Rudi rajin sholat dan mengaji.  Ternyata Rudi merupakan salah satu murid pengajian di musholla kampungnya dan saat ini sudah mencapai level Iqro' enam. Penulis terus menyemangati Rudi dan mengatakan kalau ingin sukses minimal harus melakukan 2 (dua) hal, yaitu selalu dekat dengan Tuhan dengan menjalankan perintahnya dan senantian rajin belajar.  



Dalam ngobrol santai itu, sebenarnya tidak terlihat wajah minder pada Rudi. Rudi bercerita dengan tiang tentang kecintaannya terhadap sepak bola. Dalam diri Rudi juga tak terlihat rasa takut atau kecewa terhadap kerasnya kehidupan. Hanya saja aura kasih sayang dan perhatian terlihat begitu kurang. Mungkin hal ini karena Rudi tumbuh dalam sentuhan dari seorang ayah sejak kepergian ibunya. Mata sayu dan Rudi pun langsung tertunduk saat Pak Narsun mengkisahkan tentang ibunya keada penulis. Mungkin Rudi sangat rindu dengan kasih sayang dan pelukan sang ibunya. Walau Ibunya meninggal saat Rudi masih di Bangku TK, namun tentu anak ini memiliki banyak memory saat bersama ibunya dan hal itu pasti selalu hadir di saat-saat Rudi sendiri atau saat-saat temen sebayanya sedang di jemput ibunya setiap kali pulang sekolah. Terbayang bagaimana anak sekecil itu selalu berjuang membunuh rasa sepinya tiap kali mau berangkat sekolah. Memori tentang ibunya pasti selalu mengedepan tiap kali pulang sekolah tetapi tidak ada yang menyambut kedatangannya karena sang ayah sedang bekerja. Rudi harus sabar menunggu ayahnya pulang sore hari untuk menceritakan apa-apa yang membenak dihatinya, menceritakan tentang temen-temennya yang lucu, kejadian-kejadian lucu di sekolah dan lain sebagainya.   Anak sekecil itu harus makan sendiri disiang hari dengan menu seadanya. Mendapati suasana semacam ini, penulis sedikit larut dalam dikeharuan dan mencoba mengusap kepala Rudi dengan maksud menyemangati.







Muasal Kandang Ayam dan Sekilas Keseharian Pak Narsun.

Sakit komplikasi telah merenggut Istrinya Pak Narsun. Berbagai upaya sudah dilakukan, mulai dari rumah sakit sampai pengobatan alternatif di berbagai kota, namun penyakit itu tak kunjung sembuh. Rumahpun tergadaikan demi kesembuhan, namun apa daya ketetapan Allah SWT mencukupkan masa hidup Sang istri di dunia. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, sang ibu sempat berpesan agar sekolah Rudi diupayakan sampai tinggi. Pesan ini dipegang teguh oleh Pak Narsun sampai detik ini. Saat berkisah tentang Sang Istri, Pak Narsun tampak tegar dan sudah ikhlas atas kepergian pendamping hidupnya itu. Dia juga merasa sudah memperlakukan istri dengan baik semasa hidupnya. Dia pun merasa sudah melakukan segala hal yang bisa dia upayakan sebagai seorang suami walau  pada akhirnya rumah Pak Narsun harus terjual demi melunasi semua pinjaman ke tetangga saat masa pengobatan Sang Istri. Saat itu, rumah terjual dengan harga Rp 27 (dua puluh tujuh  Juta) dan langsung habis untuk menutup semua hutang, Pasca rumah terjual, tidak ada lagi tempat tinggal Pak Narsun dan buah hatinya yang masih duduk di bangku sekolah TK. Akhirnya, Pak Narsun dan anaknya pun mulai tinggal di sebuah kebun milik orang yang kebetulan kurang diurus pemiliknya. Di kebun itu, mereka membuat gubuk kecil yang jauh dari layak huni.  



Pak Narsun sendiri dikesehariannya adalah seorang kuli serabutan sehingga tidak memiliki pendapatan pasti. Hasil kerjanya yang tiidak seberapa pun hanya cukup untuk makan dan sangat tidak memungkinkan untuk mengontrak apalagi membeli sebuah rumah idaman. Untung saja kebon ini tidak diurus oleh pemiliknya sehingga bisa dimanfaatkan oleh Pak Narsun dan puteranya. Di kebon itu, Pak Narsun juga memelihara ayam dan diatas kandang ayam itulah puteranya tidur setiap harinya. Tak ada kursi atau perabotan layaknya sebuah rumah. Peralatan dapur pun hanya ada kompor dan periuk. Kalau hujan turun dipastikan dua insan ini akan bertarung melawan dingin dan tak jarang harus berlindung dari derasnya hujan di Musholla. Dikarenakan tidak adanya sarana belajar yang mendukung, Rudi pun kerapkali memanfaatkan musholla untuk belajar atau mengerjakan PR sekolahnya. Hal ini harus dia lakukan karena tidak ada meja atau kursi yang bisa dimanfaatkan untuk menulis dan belajar layaknya anak-anak yang hidup di kenormalan kondisi ekonomi. 





Sholat Ashar Berjamaah  

Ditengah asik ngobrol santai di lobby hotel, sekitar jam 15.30-an, penulis mencoba mengajak untuk sholat Ashar berjama’ah. Ide itu disepakati PT dan juga Pak Narsun. Akhirnya, semua menuju kamar hotel di lantai 9 “tempat tinggal sementara” Pak Narsun dan puteranya .  Sesudah semua selesai berwudhu dan sajadah sudah digelar, sholat ashar berjama’ah pun dilaksanakan dan diakhiri dengan do’a berjama’ah.  Sesaat sesudah semua sajadah terlipat dengan rapi, PT menyampaikan bahwa  proses pembangunan calon rumah Pak Narsun sedang  berlangsung di bawah pengawasan langsung Sang Danrem, Bapak Edison. Tidak ketinggalan personil kodim 0701 turut serta dalam project kebaikan ini. Demikian juga halnya sebagian anggota masyarakat ikut terjun langsung membantu.  Bahkan, ditargetkan besok rumah sederhana tersebut sudah selesai   dan bisa mulai ditempati  oleh Pak Narsun beserta anaknya.  Mendengar hal itu, terlihat mata Pak Narsun berkaca-kaca. Sementara itu senyum simpul sumringah terlihat tegas di wajah Rudi yang mungkin sudah berkhayal jauh tentang rumah barunya nanti.  Momen khidmat inipun dimanfaatkan untuk memberi sedikit nasehat bahwa kemukjizatan  ini harus disyukuri sebab hal ini bukti nyata kasih sayang Allah SWT terhadap Pak Narsun dan anaknya. Oleh karena itu, disarankan untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta agar lebih banyak lagi limpahan rahmat dan ni’mat ke dalam hidup mereka di hari-hari selanjutnya. Disamping itu, juga diingatkan untuk tidak salah dalam memaknai segala bentuk perhatian dan pertolongan dari berbagai pihak yang berempati atas penderitaan mereka. Hal ini perlu disampaikan agar sikap dan mental Pak Narsun maupun Rudi tidak salah dan kemudian menganggap mudah segala urusan. Hal ini untuk menghindari keterulangan hal serupa beberapa waktu lalu dimana pasca bantuan mengalir begitu deras, justru kehidupan sang penerima bantuan menjadi kurang baik dan akhirnya mendatangkan kekecewaan dari berbagai pihak.



Untuk itu, disarankan kepada Pak Narsun agar lebih giat untuk bekerja demi kelanjutan hidup dan juga masa depan anaknya tercinta. Juga diingatkan bahwa bantuan dan kepedulian ini tidak selamanya ada. Pak Narsun juga diyakinkan  bahwa masa depan  sangat tergantung bagaimana mereka selalu berusaha secara maksimal dan juga senantiasa menjaga kedekatannya dengan Sang Pemberi hidup dan rezeki. Nasehat singkat ini diterima Pak narsun dengan menundukkan kepala sambil mengangguk pertanda meng-iyakan.


Ting tong..bel kamar berbunyi. Ternyata pelayan hotel mengantarkan makan untuk Pak Narsun dan puteranya. Terlihat sang pelayan hotel begitu tulus dan extra hati-hati dalam memperlakukan Pak Narsun dan puteranya. Sepertinya pimpinan Hotel Aston meng-instruksikan  ke segenap jajarannya untuk memperlakukan Pak Narsun dan puteranya sebagai tamu istimewa hotel tersebut.  



Rumah Itu pun Akhirnya Selesai



Kamis 13 Agustus 2015 sekitar jam 14.00-an, Pak Narsun di jemput dari Hotel Aston menuju lokasi rumah sederhana yang sudah hampir selesai.  Binar mata dan rasa syukur terpancar tegas di wajah Pak Narsun begitu melihat rumah itu sudah siap di huni. Begitu juga Rudi yang sudah tak sabar segera memasuki rumah barunya itu.  Pak Narsun sangat berterima kasih atas kebaikan dan kebijaksanaan Pak Kol.Inf. Edison beserta pasukannya, Dandim 0701 beserta anggota, PT dan temen-temennya di zona bombong dan serta semua pihak yang peduli atas nasib dan persoalan hidup yang sedang dihadapinya.  


Mulai tadi malam, Pak Narsun dan Rudi sudah mulai menempati rumah barunya.
Pak Narsun dan Rudi tentu sudah bisa tidur nyenyak dan tidak perlu lagi bertarung lagi dengan dinginnya angin malam atau hujan yang pasti membasahi sekujur tubuh.  Ini sungguh sebuah karomah  bagi hidup Pak Narsun dan Puteranya yang mereka sendiri pun pasti tidak pernah terfikir sebelumnya. Berkat kepedulian Sang Kolonel Edison dan berbagai pihak telah merubah nasib Pak Narsun dalam sekejap. Tidak semua orang bisa mengalami hal semacam ini. Mungkin tak berlebihan untuk mendefenisikan bahwa Pak Narsun dan anaknya terpilih oleh Tuhan. Diseberang sana mungkin masih ada dan bahkan banyak  yang mengalami nasib serupa atau bahkan lebih buruj, tetapi mengapa Pak Narsun yang dipertemukan dengan karomah itu?. 
Semoga keajaiban ini membuat dua insan Tuhan ini menjadi lebih yakin bahwa Tuhan maha pengasih dan penyayang. Disamping itu, semoga kejadian yang jarang ini  meningkatkan  syukurnya keduanya, khusnya ke dalam tindakan-tindakan keseharian seperti Pak Narsun akan bekerja lebih keras dan  atau Rudi akan lebih serius dalam belajar demi mengejar cita-cita besarnya. Dengan demikian, keberkahan hidup akan selalu hadir dalam hidup mereka. Amin.


Jum'at yang menginspirasi.....  
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved