9 (Sembilan) Bulan Ibu-Ibu Itu Tidak Pernah Bolong

Jumat, 07 Agustus 20150 komentar



9  (Sembilan) Bulan Ibu-Ibu Itu Tidak Pernah Bolong

 
Sepenggal Perjalanan....
Sekitar 9 (sembilan) bulan lalu, penulis mengangkat tentang awalan sebuah karya kolektif sederhana dari sekolompok ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam organisasi  dasa wisma sledri, Desa Pabuaran, Kec.Purwokerto Utara, Kab.Banyumas, Prop.Jawa Tengah.

Lewat tajuk "mengurangi belanja 1000/hari", ibu2 ini menyelenggarakan tabungan harian.   Sebagaimana ide baru, awalnya gagasan ini ditolak sebagian dari anggota dasawisma yang berjumlah 17 (tujuh belas)  ibu rumah tangga ini. Namun setelah dijelaskan bahwa ini bukan tentang uang
tetapi mengajak “belajar bersama” untuk “mengendalikan  ingin” dan menghindarkan diri terjebak menjadi “pribadi yang konsumtif”, akhirnya semua bersepakat untuk men-coba program ini. Sebagai awalan, sang ketua dasawisma meng-ikhlaskan diri untuk keliling mengutip tabungan setiap hari  dari satu rumah ke rumah berikutnya. Hasilnya cukup menggembirakan, semua anggota memiliki tingkat ketaatan 100% dimana tidak satupun dari mereka yang absen menabung Rp 1.000/hari. Bulan kedua, pola pengutipan tabungan dirubah melalui rapat bulanan dasawisma. Mereka bersepakat untuk
mengutip tabungan secara bergantian setiap harinya. Awalnya ada keraguan tentang konsistensi dan disiplin. Namun demikian, fikiran itu coba dibuang jauh-jauh dan sekaligus membangun optimistik dan kepercayaan penuh kepada semua anggota. Setiap hari “selembar control tabungan yang dibawahnya terpampang total nilai tabungan bulan sebelumnya” terus berpindah dari satu rumah ke rumah berikutnya. Hasilnya  cukup ternyata mencengangkan. Disatu sisi pola penarikan tabungan bergantian berjalan tertib dan hasil penarikan tabungan sama seperti bulan sebelumnya, yaitu 100%.  Demikian terus aktivitas menabung itu berlanjut dan suatu ketika tepatnya di bulan  ke-4 (empat), sang ketua mencoba mengukur keterbentukan sikap dan mental segenap anggotanya lewt satu pertanyaan “apakah program menabung Rp 1.000/hari ini dilanjutkan atau tidak”. Serentak 16 (enam belas) anggota yang hadir menyuarakan “lanjutkan...!!!”.


Pada akhirnya, menabung semacam ini sudah mencapai titik habit (kebiasaan). Tiap pagi saat hendak belanja harian ke pasar, ibu-ibu itu sudah terbiasa mengurangi Rp 1.000 dan memasukkannya ke dalam wadah mangkok yang tertempel di depan rumah masing-masing. Artinya, setiap pagi para ibu ini selalu diingatkan oleh kesadarannya sendiri untuk tidak terjebak dalam pola hidup konsumtif yang merupakan semangat awal yang ditanamkan kala program ini bermula.

Hari kemarin, tepatnya 8 Sgustus  2015, mereka mengundang penulis untuk me-refresh dan memotivasi semangat dari program  ini. Dalam forum itu tersampaikan keinginan  mereka meningkatkan pola pengelolaan keuangan dasawisma menjadi lebih baik, sebab dilingkaran dasawisma ini sebelumnya juga sudah ada program lainnya sehingga memerlukan er-integrasian ke dalam satu sistem manajemen sederhana dan mudah dimengerti oleh segenap warganya. Dalam kesempatan itu, penulis menyampaikan apresiasi atas capaian yang sudah ditorehkan. Disamping itu, penulis juga mencoba menyampaikan tentang gagasan “pemanfaatan bijak” dari tabungan ini. Penulis menekankan bahwa menekankan bahwa budaya menabung  semacam ini pasti sulit untuk dilakukan dab bahkan sering harus dipaksakan pada awalnya. Penulis juga menekankan kembali bahwa sesungguhnya gerakan ini bukan tentang uang, tetapi lebih merupakan upaya dalam membangun karakter positif dalam konsumsi yang berujung dengan imbas luas seperti  kedisiplinan, kemampuan menahan ingin, kemampuan merencanakan hidup lebih baik, kerukunan dan lain sebagainya.  Oleh karena itu, kalau kemudian ada perencanaan pemanfaatan tabungan ini hendaklah memperhatikan niat awalnya. Kalaupun kemudian akumulasi tabungan dimanfaatkan untuk memberi pinjaman kepada sesama anggota dasawisma, maka harus diingat agar jangan sampai pinjaman yang diberikan justru menjadikan hidup anggota lebih susah atau merusak nilai-nilai kebijaksanaan yang sudah terbangun dari proses menabung semacam ini. Oleh karena itu, penulis mengusulkan agar pinjaman yang diberikan lebih untuk persoalan-persoalan emergency dan juga mendorong anggota lebih produktif. Hal ini untuk menghindari terjadinya pinjaman yang peruntukannya bersifat konsumtif. Pemberian pinjaman juga bukan dimaksudkan untuk meraih margin keuntungan dari jasa pinjaman, tetapi lebih didasarkan atas semangat tolong menolong satu sama lain. Dengan demikian, persoalan emergency dapat teratasi dan kegiatan-kegiatan produktif anggota dapat didorong untuk lebih berkembang melalui pinjaman yang diberikan.


Apresiasi Tinggi Atas Konsistensi
9 (sembilan) bulan program menabung Rp 1.000/hari ini secara kontinue berhasl dijalankan oleh 17 (tujuh belas) orang ibu-ibu yang terhimpun dalam Dasawisma  Sledri ini. Selama itu pula ibu-ibu tersebut tidak pernah bolong dalam menabung Rp 1.000 setiap harinya. Ada informasi menarik di rapat bulanan sebelumnya dimana ibu-ibu tersebut merencanakan untuk meningkatkan tabungan harian menjadi Rp 2.000/hari terhitung mulai November 2015 nanti. Gagasan peningkatan angka ini  menggambarkan tingkat kesadaran anggota terhadap makna dan dampak positif program ini terhadap hidup mereka dalam arti luas.

Dikesempatan itu, penulis juga sempat melihat secarik kertas laporan bulanan yang menunjukkan angka  Rp 4.607.000,oo (empat juta enam ratus tujuh ribu rupiah). Mungkin jumlah ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan tabungan pribadi-pribadi mereka dan bahkan bila dibandingkan dengan tabungan para pembaca blog ini. Namun, semangat kolektif yang terbangun dan nilai-nilai yang terbangun bersamaa dengan proses yang terus mereka jalankan sesungguhnya letak kedahsyatan program ini. Kerukunan yang menguat dan kerekatan sosial  semacam ini menjadi  modal sosial yang baik dan bisa dikembangkan ke arah yang lebi besar. 


Intrepretasi dan Imajinasi Penulis
Tulisan tentang Wisma Sledri Ini merupakan yang ketiga kalinya dalam blog ini. Penulis memang sangat concern mengikuti perjalanan program ini dan menjadikan semacam penelitian kecil-kecilan. Sampai detik ini, setikdanya beberapa kesimpulan sementara bisa didapat, antara lain :

  1. Fakta kecil ini setidaknya menyumbang jawaban atas banyak hipotesa yang mengatakan bahwa di kekinian zaman masyarakat  cenderung egois, asik dengan dirinya sendiri dan susah diajak membangun sebuah kebersamaan.
  2. Fakta kecil ini terbukti berdampak pada peningkatan kerekatan sosial dan rasa pesaudaraan antara satu dengan lainnya. Kalau kemudian ini menjadi semangat satu daerah untuk melakukannya, maka masyarakat tidak akan mudah lagi dipecah belah oleh isu-isu menyesatkan. Bahkan mungkin dalam skala nasional bisa menekan gerakan-gerakan separatis yang menyulut dis-integritas sebagai sebuah bangsa.
  3. Kemauan memulai dari kecil sesungguhnya awalan untuk bisa mengagendakan hal-hal besar lainnya. Bisa dibayangkan kalau apa yang dilakukan wisma sledri   menginspirasi lainnya untuk melakukan hal serupa, maka ketika suatu waktu di konsolidasikan akan terkumpul angka dahsyat yang bisa dimanfaatkan menyelesaikan persoalan-persoalan yang meresahkan masyarakat seperti terjebak pada rentenir, terlilit hutang dan persoalan ekonomi lainnya. Bisa dibayangkan, bila menabung Rp 1.000/ hari ini dilakukan satu juta orang, maka dipastikan dalam setahun terkumpul Rp 365 Milyar, sebuah angka yang bisa dimanfaatkan untuk membangun karya-karya kolektif yang tidak saja membuat hidup masyarakat lebih efisien tetapi juga bisa dimanfaatkan dalam hal memaksimalkan potensi sebuah daerah dan mendatangkan multi effect termasuk menurunnya angka pengangguran. Apalagi katanya Indonesia masih butuh pertumbuhan angka wirausahawan baru sebesar 0,9%, maka hal ini pun akan menjadi sangat berpeluang. 


Singkat kata, fakta ini menggiring untuk berkesimpulan bahwa jalan membangun kemandirian kolektif masyarakat  sesungguhnya terbuka lebar sepanjang ada kemauan bersama dan segera memulainya dalam bentuk tindakan nyata. Tidak perlu apriori atau ber-apologi karena itu hanya menjauhkan untuk memulai sesuatu yang baik.

Akhirnya, semoga tulisan ini memantik kesadaran tentang dahsyatnya sebuah kebersamaan dan sekaligus terbangun keyakinan kuat bahwa setiap orang sangat mungkin untuk melakukannya.  Disamping itu, penulis berharap tulisan sederhana ini bisa  mengoreksi atau setidaknya menurunkan kadar ke-goisan dan merasa hebat sendiri  sebab pada akhirnya tidak satupun manusia di dunia ini bisa mengantar dirinya sendiri ke kuburan. Artinya, tidak satupun manusia di dunia ini yang tidak memerlukan orang lain dalam hidupnya. Seorang pedagang hebat pun memerlukan konsumen untuk membeli apa yang dia tawarkan. Seorang pembalap hebat pun membutuhkan pertololngan orang lain bila mengalami kecelakaan.   

Atas karya bernada serupa yang mungkin sudah terbangun sejak lama oleh pembaca, penulis berpesan untuk segera menularkan semangat kebersamaan kepada lainnya agar kian banyak karya-karya berbasis kemandirian kolektif yang lahir dan mensejahterakan dalam arti luas. Realitas kehidupan  memerlukan lebih banyak orang yang mau mengembangkan inisiatif dan kepedulian sebab faktanya tidak semua hidup dalam keberuntungan seperti dirasakan oleh pembaca saat ini. Kalau kemudan beruntung adalah membahagiakan, bukankah sebuah kemuliaan untuk menularkan semangat dan juga ilmu agar mereka juga beruntung hidupnya?.

Sukses Selalu Untu Kita Semua dan semoga Tuhan senantiasa membimbing dan menyayangi kita semua. Amin. 
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved