KETIKA KAUM BUDHIST INGIN BERKOPERASI

Senin, 12 Januari 20150 komentar



KETIKA KAUM BUDHIST INGIN BERKOPERASI
 
Tiba-tiba HP berbunyi menandakan ada SMS masuk saat sedang di tempat reparasi BB yang terpaksa parkir karena njebur  ke mesin cuci karena kelupaan di beberapa hari lalu. Spontan tak buka dan kemudian  membacanya. Seorang sahabat yang sudah seperti saudara , sebut saja Pak Deddy menawarkan untuk meng-copy kan back up BB yang sedang error ke BB sementara yang  memang terarsip di labtop nya. Sesudah memastikan kalau BB yang sedang direparasi belum selesai, maka tawaran menarik itu segera tak iya kan. Apalagi, tawaran itu datang saat dibutuhkan sebab malam harinya saya harus berangkat ke Jakarta untuk keperluan meeting sebuah organisasi kepemudaan nasional.



Tak lama setelah saya tiba di rumah, beliau datang. Tidak seperti biasanya, kali ini beliau datang dengan seorang teman yang kemudian aku tahu seorang budhis (penganut agama budha). Orangnya masih muda, energik dan berpembawaan tenang. Setelah berbincang dalam beberapa menit, saya mengetahui namanya lauren dan merupakan seorang aktivis Budha. Kedatangannya sore ini berbarengan dengan Pak Deddy ternyata tidak hanya menemanin saja, tetapi ingin berdiskusi seputar koperasi.



Ketika sang sahabat sedang mengerjakan copy back up data ke BB sementara, saya pun mulai diskusi dengan Lauren. Inspirasi awalnya adalah keinginan Bung Laurent melahirkan aktivitas produktif yang bisa mem-back up perjalanan ibadah yang dilakukan segenap aktivis Budha di seluruh tanah air. Atas dasar itu, pertanyaan awal beliau adalah tentang usaha produktif apa yang layak untuk dikelola untuk tujuan itu.



Diskusi pun kian asik, ketika nalar diskusi dibuka dengan satu pernyataan bahwa koperasi itu kumpulan orang.  Luas ruang juang koperasi itu tidak hanya persoalan ekonomi saja, tetapi juga menyangkut persoalan-persoalan  sosial dan budaya. Modal terbesar koperasi itu terletak pada keterpeliharaan dan keterbangunan komitmen dan kebersamaan serta menempatkan “perusahaan” hanya sebagai media atau sarana mencapai tujuan. Hal ini sepertinya di luar persepsi awal Bung Laurent, dimana yang beliau fikir bahwa perbedaan koperasi itu hanya pada aspek kepemilikan dan tidak ada perbedaan lain pada konteks pengelolaannya.  Belum terfikir sebelumnya dibenak beliau bahwa kebersamaan di koperasi itu meliputi 3 (tiga) hal; (i) kebersamaan dalam proses perumusan mimpi; (ii) kebersamaan dalam mewujudkan mimpi melalui distribusi peran diantara segenap unsur organisasi (pengurus, pengawas dan anggota) dan; (iii) kebersamaan dalam menilik pencapaian. Kebersamaan koperasi ditekankan selalu hadir di keseluruhan proses koperasi itu sendiri.



Penjelasan ini kian membuat Bung Laurent tambah semangat saat beliau bersepakat ketika koperasi itu merupakan located market (pasar terlokalisir) yang keterbentukannya bersamaan dengan kelahiran koperasi itu sendiri. Apalagi, koperasi menganut sistem keanggotaan sukarela terbuka yang memungkinkan perusahaan koperasi beroperasional lebih efisien mengingat total biaya akan ditanggung semakin banyak orang. Artinya, usaha koperasi akan beroperasi lebih efisein karena ditanggung lebih banyak anggota sehingga peluang menambah kebermanfaatan koperasi terhadap anggota semakin meluas.



Untuk memperkuat pemahaman, koperasi juga didefenisikan sebagai organisasi yang mengusung nilai-nilai ke universalan, kesamaan yang tidak membedakan latar belakang stratat sosial, ekonomi, agama dan juga gender. Sifat ke universalan semacam ini lah yang kemudian mempekuat nalar memungkinkannya koperasi menjalankan prinsip keanggotaan sukarela terbuka.



Namun demikian, fakta lapangan menunjukkan bahwa koperasi-koperasi maju biasanya bila diawali oleh common bond (kesamaan ciri pada sebuah komunitas atau kelompok) seperti basis agama, basis kesamaan profesi seperti para guru dan para karyawan dan lain sebagainya. Common bond semacam ini memermudah menemukan satu garis kesamaan kepentingan dan mempermudah membangun kerekatan sosial diantara individu-individu yang ada didalamnya, termasuk di kalangan Budhis.  Penjelasan ini menambah semangat Bung Laurent mengingat beliau berada di lingkungan budhis yang merupakan common bond yang bisa dimobilisasi menjadi koperasi dan tersebar di seluruh Indonesia.



Dalam wajah berbinar dan semangat untuk segera meng-aplikasikan terpancar dari senyum beliau saat diskusi berakhir dan kemudian berpamitan. Beliau bertekad untuk membangun koperasi yang massif, khususnya di kalangan Budhis seluruh Indonesia. Gairah itu begitu nyata terlihat dan tak sabar untuk mendengar kbar lanjutan gerakan yang akan dilakukan anak muda yang aktif memberikan pencerahan di kalangan budhis seluruh Indonesia. Ntah kenapa, saya begitu meyakini bahwa anak muda ini akan berhasil membentuk koperasi yang dicita-citakannya. Optimisme nya yang terkesan begitu kuat telah mengundang kepenasaran akan seperti apa karya yang akan lahir beberapa bulan dan atau tahun ke depan. Saya mengerti kalau membangun karya bukanlah sesuatu yang mudah tetapi saya berkeyakinan kuat kalau sahabat muda satu ini memiliki semangat juang tinggi.

Semoga sukses untuk bung laurent berikut komunitas budhisnya. Semoga nilai-nilai kebijaksanaan yang ada dalam roh koperasi memiliki kesamaan cita-cita dari spirit kebijaksanaan yang dikembangkan di lingkungan mereka.




Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved