Membangun Mimpi Lewat Rp 1000/hari

Sabtu, 06 Desember 20140 komentar



 
Terbentuknya Komitmen …

Ide ini lahir dari sebuah ketidaksengajaan, saat seorang ibu muda mendapati suaminya sedang menyusun konsep pemberdayaan ekonomi masyarakat di kalangan Nadhiyyin, Kec.Cilongok, Kab.Banyumas, Prop.Jawa Tengah. Kalimat "menabung 1000/hari" sebagai gagasan awal dalam konsep tersebut menjadi inspirasi bagi ibu muda satu ini, yang kebetulan baru saja di daulat menjadi ketua Dasawisma Sledri, sebuah turunan struktur kemasyarakatan satu tingkat dibawah RT (rukun Tetangga) yang beranggotakan 17 ibu rumah tangga (seharusnya 10 orang kalau mengacu pada istilah dasa). 

Ide "menabung Rp 1000/hari" ini mulai di edukasikan dan di sosialisasikan pertama kali pada pertemuan rutin dasawisma pada minggu pertama Bulan Nopember 2014. "Mengurangi belanja harian 1000/hari" adalah kalimat yang didengungkan untuk membangunkan kesadaran pentingnya menabung. Sebagai pemantik kemauan segenap anggota, digambarkan "khayalan indah" tentang akumulasi yang akan terkumpul dalam sehari, sebulan dan bahkan setahun. Sehari akan terkumul Rp 17.000,oo, sebulan akan terkumpul Rp 510.000,oo dan setahun akan terkumpul Rp 6.120.000,oo.

Hmmm..akumulasi angka khayalan  ini cukup efektif memantik munculnya ragam gagasan para ibu-ibu tersebut untuk berimajinasi merancang pemanfaatan bila uang sudah benar-benar terkumpul. Beberapa gagasan yang mengemuka antara lain; untuk mengadakan kegiatan liburan tahunan dasawisma; untuk membantu anggota yang mungkin sangat membutuhkan pinjaman dan atau;  untuk kegiatan sosial sehingga meringankan beban anggota yang sedang ditimpa sebuah musibah. Bahkan, angka khayalan itu pun menginspirasi kembangan gagasan berbasis kebersamaan, yaitu menyelenggarakan "belanja bulanan bersama" yang mereka yakini akan menjadikan pengeluaran bulanan lebih efisien.
 
Mendapati semangat dan daya dukung kuat atas gagasan menabung harian ini, berbagai  gagasan rancang pemanfaatan ditampung dan menjadi referensi dalam memutuskan bentuk pemanfaatan bila program ini benar-benar jalan.  Dimotivasi oleh khayal indah itu, akhirnya tersepakatilah untuk menjalankan program ini. Fokus pertama mereka adalah membangun budaya menabung Rp 1.000/hari.  Bila kesadaran dan kedisiplinan sudah terbangun, maka mengembangkan ke hal-hal baik lainnya dikemudian hari akan menjadi lebih mudah. Dipenghujung pertemuan, tersepakatilah untuk memulai aksi kebersamaan ini pada tanggal 07 nop 2014, dengan catatan;

  1. penarikan uang dilakukan setiap hari di pagi hari. Sebagai awalan, Sang Ketua mengambil inisiatif menjadi orang pertama yang akan menarik tabungan setiap hari ke rumah-rumah seluruh anggota dasawisma. Untuk selanjutnya, akan di gilir sehingga setiap orang akan kebagian tugas untuk mengepul tabungan harian tersebut. Hal ini juga bagian dari strategi meningkatkan keakraban dan kerekatan sosial anggota masyarakat, khususnya di lingkungan dasawisma.
  2. Tidak boleh di rapel. Artinya, setiap orang hanya boleh menabung Rp 1000 setiap harinya dan tidak boleh lebih apalagi di rapel untuk beberapa hari atau sebulan sekalian. Mungkin aturan ini tampak aneh, sebab hal pertama yang sesungguhnya menjadi target adalah terbentuknya kesadaran menabung. Sementara itu, keterkumpulan uang hanyalah imbas dari akumulasi kesadaran. Jadi program menabung ini sesungguhnya  bukan tentang uang, tetapi tentang keterbangunan "budaya menabung" dalam keseharian warga masyarakat. Dengan demikian, bila warga secara sadar menyisihkan belanjanya Rp 1.000/hari, perulangan diyakini akan membentuk kebiasaan dan menjadi bagian dari budaya keseharian masyarakat.  
  3. Laporan bulanan. Dengan adanya tabungan harian ini, maka dipertemuan rutin bulanan Dasawisma Seledri akan ada tambahkan satu agenda, yaitu "laporan perkembangan tabungan". Penyelengaraan laporan rutin semacam ini tidak hanya dimaksudkan untuk transparansi pencatatan keuangan, tetapi juga ditargetkan sebagai ; (i) media edukasi dan motivasi segenap anggota dasawiswa tentang arti penting "menabung" yang lebih dari sekedar keterkumpulan uang dan; (ii) media penyerapan gagasan dan aspirasi untuk mendapati kembangan pemikiran anggota. Dari sesi ini, akan bisa di lihat perkembangan "pola fikir" anggota yang diharapkan akan berimplikasi pada perubahan pola  hidupnya kea rah yang lebih berkualitas. Artinya, "menabung Rp 1000/hari" sesungguhnya pemantik untuk membangun kesadaran tentang perlunya pengendalian konsumsi yang berujung pada terbentuknya kebijaksanaan dalam menggunakan pendapatan.


Aksi Menabung dimulai...
 
10 nopember 2014, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, aksi menabung kolektif ini pun di mulai. Jam 07.45 wib, Sang Ketua mulai menyambangi rumah warga anggota satu per satu untuk menarik tabungan Rp 1.000. Antusiasme anggota cukup menarik dan ternyata semua konsisten mewujudkan komitmennya untuk mengurangi uang belanja hariannya. Hal serupa juga mereka lakukan di setiap harinya. Dari  proses serupa yang berulang,  muncul gagasan untuk menempelkan kaleng di depan rumah setiap anggota, sehingga mempermudah dan mempersingkat waktu penarikan. Hal ini juga dimaksudkan untuk mengantisipasi situasi dimana tidak setiap saat anggota berada di rumah.   Semenjak hal ini diterapkan, waktu yang diperlukan untuk berkeliling ke segenap rumah warga anggota dasawisma menjadi hanya 15 menit-an setiap paginya.

Alhamdulillah, sore  ini "rapat bulanan dasawisma" untuk periode Desember akan digelar. Tentu, agenda pelaporan akumulasi tabungan akan di umumkan. dari catatan harian keuangan, terlihat kedisiplinan anggota untuk menabung mencapai angka 100 prosen.
"sebuah awalan yang berpengharapan", begitu kata sang ketua disela-sela kesibukannya merapikan uang hasil kumpulan tabungan anggota yang biasa ditempatkan dalam tas jinjing merah.


Meng-inpirasi dasawisma lainnya..
 
Langkah ini memang masih awalan dan dimulai hanya dari satu dasawisma beranggotakan 17 (tujuh belas) ibu-ibu warga RT 02/RW 03, Desa Pabuaran, Purwokerto Utara, Kab. Banyumas, Propinsi Jawa Tengah. Akan tetapi, aksi awal ini mulai menjadi pembicaraan warga sekitar, termasuk di pasar kecil Desa Pabuaran dimana segenap warga sering bertegur sapa saat berbelanja. Situasi  menjadi kian menarik ketika beberapa warga lainnya ingin melakukan hal serupa di dasa wisma nya masig-masing. Kenyataan ini melahikan keyakinan tambahan bahwa “budaya menabung” ini bisa lebih dimasyarakatkan secara meluas.  Saat ada salah satu warga dasa wisma lainnya meminta untuk me-reflikasi, sang ketua menyambut baik dan mempersilahkan. Akan tetapi, sang ketua hanya akan berkenan hadir memberikan testimoni (kesaksian) atas program ini bila benar-benar sudah teruji dimana kesadaran anggota benar-benar konsisten. Namun demikian, sang ketua tetap memotivasi salah satu warga tersebut untuk segera mencoba melaksanakan program tersebut.


Andai  Menjadi Tradisi Warga se-Kabupaten Banyumas
Di lingkungan Kabupaten Banyumas Ide menabung  Rp 1000/hari ini sesungguhnya bukan hal baru. Beberapa waktu lalu, media massa lokal beberapa kali mengangkat dan menyuarakan hal serupa. Sayangnya, penulis belum mendapat informasi tentang lanjutan atau hasil dari gerakan itu. Namun demikian, ketika berfikir lebih visioner, bila budaya menabung Rp 1.000/hari  ini berhasil dibangun di seluruh Kab. Banyumas, bisa di bayangkan akan terakumulasi angka fantastic dan menjadi inspirasi sahih untuk mengembangkan ragam program pemberdayaan berbasis kemandirian kolektif dari masyarakat Banyumas. 

Bayangkan saja, bila 1 juta warga melaksanakannya secara konsisten, maka dipastikan setiap hari akan terkumpul Rp 1 Miliar dan menjadi Rp 365 Miliar dalam setahun.  Kalau dua tahun atau tiga tahun atau bahkan lima tahun, berapa angka yang akan terkumpul?. Pasti fantastic. Andai hal ini bisa mewujud, maka bukan tidak mungkin memberdayakan segala potensi ekonomi masyarakat, seperti mendukung pengembangan industri kerajinan, hasil bumi, industri kreatif. Bahkan,   membangun supermarket atau mall sebagai ruang pajang ragam out put dari industri  yang dikembangkan masyarakat menjadi sangat mungkin. Hebatnya lagi, semua itu dimiliki seluruh masyarakat Banyumas dari kolektivitas yang terbangun diantara masyarakat itu sendiri.  

Andai hal ini bisa benar-benar di mobilisasi, gerakan ekonomi apa yang tidak mungkin dilakukan berbasis kolektivitas. Berapa pengangguran akan memperoleh pekerjaan secara otomatis, berapa fasilitas-fasilitas umum terbangun yang kepemilikannya juga oleh seluruh masyarakat seperti rumah sakit, sekolah, sarana ibadah dan bahkan bukan tidak mungkin menyentuh sarana rekreasi.

Rp 1.000 rupiah memang tidak seberapa dan bahkan mungkin sering terabaikan, tetapi ketika hal itu di mobilisasi menjadi gerakan kolektif masyarakat maka akan menjadi satu karya maha dahsyat yang memberdayakan masyarakat itu sendiri.

Ini tak sulit sesungguhnya, sebab hanya men-syaratkan kemauan dan konsistensi serta ketauladanan dari setiap orang. Disamping itu, kemauan anggota masyarakat membangun masyakat sebelahnya akan mempercepat terbentuknya kedahsyatan kebersamaan. Makin banyak masyarakat yang melakukannya semakin besar peluang  memperluas kemanfaatannya.

Apa yang dilakukan dan telah dibuktikan Dasawisma Seledri, Desa Pabuaran, Kec. Purwokerto Utara, Kab.Banyumas, Propinsi  Jawa Tengah memang baru sebuah awalan, tetapi capaian kesadaran 100% di bulan pertama memberi pesan kuat bahwa sesungguhnya masyarakat bisa diajak untuk membangun kebersamaan berlabel produktif. Tak perlu biaya besar, cukup hanya dengan menyambangi masyarakat dan memotivasi kesadarannya, maka akumulasi kemauan berkontribusi menjadikan pintu terbuka lebar untuk melakukan hal-hal luar biasa.

Salam Apresiasi tinggi terhadap Dasawisma Seledri yang sudah menginspirasi dan memberi contoh nyata tentang sebuah pemberdayaan, semoga hal ini menyemangati dasawisma lainnya untuk berbuat serupa. Juga diharapkan akan menjadi penyemangat saat hal serupa di mulai pada Bulan Januari 2015 nanti di kalangan Nadhiyyin, Se-Kecamatan Cilongok, Kab.Banyumas. (silahkan baca juga : http://www.arsadcorner.com/2014/09/ketika-nu-nahdatul-ulama-cilongok.html)

Tulisan ini juga diharapkan akan menjadi pemantik efektif  bagi para pembaca untuk menginisiasi hal serupa atau bentuk lainnya dimana masyarakat diajak bersama-sama membangun kemandiriannya melalui kolektivitas atau kebersamaan.  Pada satu titik tertentu, ketika ragam komunitas yang sudah terbangun di kolaborasi dalam hubungan yang saling memperkuat, maka saat itu lompatan harapan akan terjadi dan peluang terbangunnya masyarakat yang luar biasa akan mewujud. Amin.  

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved