Ketika Seorang Direksi dan Pedagang Mie Ayam Terhubung Tak Langsung Oleh Cita-Cita Besar Seorang Mahasiswi

Minggu, 30 November 20140 komentar


Insya Allah...peng-kisahan  ini bukan untuk  ri’a atau menyombongkan diri, tetapi mencoba mencari hikmah atas  satu situasi unik dan sangat menginspirasi di pagi ini.  



Kisah ini bermula dari kedatangan seorang sahabat yang berprofesi sebagai dosen di Universitas negeri terkenal di salah satu kota di negeri ini. Saat itu, beliau mengatakan ada “peluang kebaikan” dimana salah satu mahasiswi nya sedang kesulitan keuangan untuk menunjang kelanjutan kuliah S1-nya. Dosen ini tergolong sangat peduli terhadap mahasiswanya, sebab ini bukan pertama kali beliau membawa hal serupa. Atas hal itu, aku haya bilang akan mencoba berupaya membantu dan tidak berani menjanjikan solusi. Kemudian, keesokan harinya Sang Dosen mengirimkan email berisi profile mahasiswi tersebut.




Aku coba men-down load attachement dan mempelajari detail mahasiswi ini. Dari 2 (dua) lembar penuh, aku mendapati informasi tentang kedirian mahasiswi tersebut berikut cerita singkat tentang realitas kondisi ekonomi keluarganya. Sungguh menginspirasi....



Dalam tulisan itu, kudapati penjelasan betapa kedua orangtuanya yang tamat SD berprofesi sebagai penjual mie ayam kelilingan di Jakarta memiliki semangat tinggi agar bisa menyekolahkan anaknya sampai tingkat Sarjana. Tak terasa air mataku menetes saat mengerti bagaimana orang tuanya tak henti berjuang untuk bisa mewujudkan impian mereka. Semangat sama juga kudapati dari kuatnya tekad mahasiswi ini untuk bisa berkesempatan membahagiakan orang tua dan adik-adiknya kelak. Bismillah...ku niatin mencarikan solusi untuk mahasiswi ini, walau aku hanya mengenalnya lewat email dari Sang Dosen dan bahkan belum pernah bertemu muka sama sekali dengannya. 

Teringat seorang sahabat yang ku kenal sangat tawaddu’ dan selalu memaknai hidup adalah peluang untuk berbuat  kebaikan. Sebenarnya, sampai detik ini Sahabat satu ini juga masih membiayai 3 (tga) orang mahasiswi yang muasal sejarahnya hampir sama dengan kisah mahasiswi ini. Tetapi, aku fikir tidak ada salahnya mencoba siapa tahu mahasiwi ini mendapati nasib baiknya lewat sahabat yang satu ini.



Ku buka email dan kemudian bergegas menulis email kepada sahabat satu ini;    



Assalamu 'alaikum Pak Bos(Maaf tidak bisa menjelaskan namanya)...


Semoga Pak Bos  dan keluarga senantiasa dalam keadaan sehat wal’afiat, Amin Ya Robbal ‘Alamin


Lewat email ini, saya mau mengabarkan ke Pak Bos bahwa pagi ini, seorang Dosen berkirim email berisi profile seorang mahasiswi yang sedang memerlukan beasiswa, siapa tahu Pak Bos terinspirasi untuk memandang ini sebagai peluang kebaikan, berikut saya lampirkan profile mahasiswi ini.


Demikian disampaikan, semoga Jum'at ini menjadi berkah bagi kita semua, khususon mahasiswi yang satu ini. amin ya Robbal 'Alamin   
Wassalamu 'alaikum wr wb



Sesudah send (terkirim), aku menimpali dengan SMS yang mengabarkan kalau ada peluang kebaikan yang  ku kirim via email. Hari itu tepatnya 12 September 2014. tak lama kemudian beliau jawab SMS dengan singkat : “Iya..nanti saya baca”.  Mungkin beliau sedang meeting fikirku, sebab beliau adalah direksi perusahaan salah satu anak perusahaan terkenal di negeri ini, sehingga pasti agendanya bejibun setiap harinya. Saya mengenal beliau ini pribadi yang sangat sederhana dan  ta'at.

Hampir 2 (dua) bulan email itu terkirim, tetapi tak kudapati respon apapun dari beliau.  Aku tetap berusaha positif thinking dan terus berdo’a semoga mahasiswi yang satu ini tetap bisa mengatasi persoalan keuangan untuk mendukung kuliahnya sampai jawaban atas harap dan do’a nya tentang pertolongan tertemukan.  



Pagi ini, 01 Desember 2014, saat aku mengikat tali sepatu untuk bergegas ke kantor, tiba-tiba HP berdering, Ku dapati  nama sahabatku yang satu ini dilayar HP. Aku langsung angkat teleponnya dan tak terfikir sedikitpun kalau dia akan membahas “peluang kebaikan” yang pernah kukabarkan via email di September lalu.  Pertama kali,  beliau menyampaikan permohonan maaf  karena kelupaan membuka email yang pernah ku kirimkan. Beliau katakan tiba-tiba saja ingat email  tersebut dan kemudian membacanya dan kemudian menghubungiku. 

Diluar dugaan,  Beliau menyatakan kesanggupannya membiayai kuliah anak ini sampai selesai....subhanallah.. Mataku langsung berkaca-kaca saat mendengar kalimat itu. Aku bahkan terdiam sejenak seolah tak percaya karena sampai detik ini beliau masih membiayai 3 (tiga) mahasiswa yang pernah ku titipkan beberapa tahun lalu. Mungkin saking gembiranya dalam diam, aku sampai lupa menjawab saat beliau tanya “mulai kapan dan  lewat rekening mana bisa transfer ke mahasiswi tersebut?“Hallooo..hallo..halloo”, aku tersadarkan sapaan berulang dari seberang sana. Maaf Pak Bos, saking senengnya mendengar berita ini sampai saya lupa menjawab. Akhirnya, telepon disudahi dan aku berjanji akan segera mengabari lagi sesudah bertemu langsung dengan sang mahasiswi tersebut.



Untuk itu, aku langsung menelepon sahabatku yang berprofesi dosen  itu. Aku  meminta tolong agar mahasiswi tersebut silaturrahmi ke rumahku. Disamping ingin kenalan dan sekaligus memperkenalkannya dengan keluargaku, aku juga ingin mencari hikmah dari pertemuan nanti. Aku yakin masih banyak mahasiwi diluar sana sedang menghadapi hal serupa, tetapi menarik untuk mencari jawab mengapa mahasiswi satu ini yang dipilih oleh Tuhan sehingga kepusingannya tentang biaya kuliahnya tersudahkan.



Adakah hal ini karena sang mahasiwi ini begitu dekat dengan Tuhan dikeseharian hidupnya?. Ataukah karena do’a kedua orang tuanya yang berulang di kabulkan Tuhan?. Ragam tanya bernada serupa hadir dibenakku.



Entahlah...yang jelas aku pun ingin mendapat jawabnya untuk memperkaya khasanah berfikir. Sungguh tak banyak orang mendapat kesempatan semacam ini sebagaimana juga tak banyak orang hebat  yang memiliki kepedulian melakukan kebaikan semacam ini. Semoga semua kepenasaran dan tanya akan menemukan jawabnya saat bertemu dengan mahasiswi satu ini.



Satu hal yang sementara ini dapat  ku simpulkan,  tak satupun yang mengerti kapan dan dari sudut mana karunia itu datang kepada hamba-Nya.  Mungkin saja lantunan do’a serupa dan berulang untuk anaknya  sambil menjajakan mie ayamnya di kota metropolitan Jakarta di ijabah Tuhan.  Mungkin juga karena kesungguhan tekad Sang Mahasiswi dalam menggapai cita-citanya di tengah keterbatasan yang ada, sehingga Tuhan bermurah hati padanya. 



Sungguh tak sabar bisa bertemu dengan mahasiswi beruntung yang disayang Tuhan ini, untuk segera bertemu jawab atas kepenasaran dan puluhan tanya tentang “hamba Tuhan” yang dilimpahi kasih sayang luar biasa pada hari ini.



Aku yakin akan banyak pelajaran dan hikmah yang akan didapat dari setiap jawaban atas ragam tanya yang terancang untuk ku tanyakan nanti saat bertemu. Semoga aku dan juga pembaca akan mendapat hikmah dari sepenggal kisah anak manusia yang sedang berjuang menggapai mimpinya. Amin...



   


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved