BERWIRAUSAHA dan KOPERASI

Kamis, 27 November 20140 komentar




BERWIRAUSAHA  dan  KOPERASI

 A.  Pendahuluan
Indonesia masih kekurangan jumlah wirausahawan/entrepreneur, sehingga perlu dilakukan gerakan-gerakan yang mendorong tumbuhnya wirausahawan-wirausahawan baru, khususnya generasi muda yang energik dan visioner. Dengan demikian diharapkan bisa meningkatkan geliat ekonomi yang akan berimplikasi pada terbentuknya kemandirian dan sekalgus terserapnya tenaga kerja yang dapat menekan angka pengangguran.

Untuk tujuan itu, perlu mengkampanyekan secara terus menerus tentang nilai-nilai kebaikan berwirausaha dengan menonjolkan sisi heroisme/kepahlawanan wirausaha dalam perspektif pembangunan nasional. Dengan demikian, akan lahir keberanian dan juga kebanggaan  untuk memilih profesi wirausaha. fakta  lapangan menunjukkan banyak wirausaha lahir karena kecelakaan dalam arti karena ketiadaan pilihan lain dan masih jarang  karena satu design yang disengaja untuk menjadikan wirausaha sebagai pilihan.  Disamping itu, langkah-langkah pengkampanyean diharapkan bisa meningkatkan  apresiasi dan daya dukung masyarakat atas setiap keinginan setiap orang untuk terjun menekuni wirausaha.  Sebab, tak jarang masyarakat dan bahkan keluarga berpandangan minir ketika  seseorang memilih untuk berwirsauaha.  Mereka lebih mendukung putera/i nya menjadi karyawan perusahaan swasta atau menjadi karyawan negara karena paradigma “bekerja “ masih diyakini lebih memiliki kepastian pendapatan dan kecerahan masa dean.  Mereka cenderung menghindari resiko ketidak pastian walau sesungguhnya ada ketidakpastian pada pilihan mereka yaitu “sampai kapan” perusahaan mampu membayar salary karyawannya.

Paradigma semacam ini tidak bisa dipersalahkan karena memang terbentuk secara alamiah. Beban hidup yang tinggi juga berkontribusi dalam mendorong masyarakat untuk berfikir instan walau harus mengorbankan  peluang besar” untuk mengoptimalkan talenta diri.  Namun demikian, paradigma ini perlu dikoreksi dengan bijak melalui pengkampanyean wirausaha dan juga membentuk opini masyarakat tentang kemuliaan dalam memilih “hidup mandiri”. Mungkin ada baiknya, langkah  ini juga diikuti dengan ragam ekspose yang berisi testimoni (kesaksian) dari para wirausahawan sukses sehingga secara bertahap opini dan ekspektasi masyarakat terhadap “wirausaha” mengalami peningkatan. Kalau hal demikian sudah berhasil dilakukan, maka  daya dukung bagi setiap keinginan untuk berwirausaha akan menemui jalannya.


B. Menatap Dunia Wirausaha
Seperti testimoni banyak wirausahawan sukses, wirausaha itu 90% (sembilan puluh prosen) adalah persoalan keyakinan, mentalitas dan semangat, sementara itu sisanya adalah persoalan teknis usaha seperti pengelolaan, produksi dan pemasaran . Proporsi ini tampak aneh, namun itulah penggambaran realitas sesungguhnya dari dunia wirausaha.

Seorang wirausahawan  harus selalu berfikir mengadakan yang belum ada, memikirkan yang orang lain belum memikirkannya dan bahkan melakukan apa yang tidak terfikir sama sekali dalam benak siapapun. Pada situasi ini, unsur kreativitas gagasan dan keberanian untuk segera mencobanya menjadi satu keharusan. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila pada diri wirausahawan melekat karakter unik dalam arti berbeda dari kebanyakan orang. Mereka anti berfikir linier dan cenderung terkesan bertindak aneh. Hal ini pula yang menjadi pembenar bahwa dunia wirausaha memerlukan mental atau keberanian bertindak diluar kebiasaan banyak orang.

Berbeda  itu memerlukan mental sebab tidak jarang mendatangkan cibiran dari banyak orang. Pujian hanya datang bila apa yang diimpikan menjadi kenyataan dan kemanfaatannya bisa dirasakan oleh banyak orang. Oleh karena itu, bila ingin menjadi seorang wirausahawan  mulailah melatih diri  untuk berfikir aneh atau berbeda dalam arti positif. Sebab, menyengajakan diri selalu berfikir aneh atau beda adalah muasal keterbangunan kreativitas. Satu hal lagi, persoalan ke-bisa-an sangat tergantung pada keterlatihan atau kebiasahaan saja. Persoalan “ketepatan” juga hanyalah persoalan kejelian dalam memilih berbagai alternatif gagasan. Tak perlu takut untuk memulai, sebab kalau membiarkan gagasan dalam fikiran saja saja tidak akan pernah menghasilkan apapun. Bermimpi tanpa aksi hanyalah ke sia-siaan saja. Mulailah dari kecil, sebab besar itu adalah hasil dari kesabaran dan ketekunan berproses. Jangan pernah mengeluhkan keterbatasan sebab tidak akan pernah merubah kenyataan. Optimalkanlah setiap celah peluang secara cerdas dan lakukanlah apa yang bisa dilakukan. Menangis atau bersedih bukanlah sesuatu yang diharamkan bagi wirausahawan apabila hal itu memang bisa  membangkitkan kembali atau melahirkan lompatan energi untuk kembali melangkah. Satu kegagalan bukanlah akhir dari kehidupan, tetapi belajar dari kegagalan dan menjadikannya inspirasi untuk bertindak lebih baik adalah tindakan yang berpeluang mendatangkan kesuksesan.  


C.     Niat Sebagai Muasal Keterlahiran
Semua berawal dari niat. Niat adalah hal yang sangat  mempengaruhi kejiwaan dan juga tindakan manusia. Niat yang baik akan membimbing pada fikiran dan langkah yang baik pula. Demikian juga dengan berwirausaha, niat berwirusaha akan mempegaruhi fikiran dan langkah dalam menjalankan usaha tersebut. Oleh karena itu, niat yang berbeda juga pasti akan menghasilkan tindakan yang berbeda pula. Sebagai contoh, berwirausaha berdasarkan niat ingin memperkaya diri sendiri akan berbeda dengan berwirausaha atas niat memperluas makna diri bagi sesama. Pada niat memperkaya diri, sang wirausahawan  cenderung mengoperasionalkan gagasan guna keterkumpulan laba optimal, kemampuan untuk memiliki atau bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Sementara itu, bewirausaha atas niat  memperluas makna diri akan mendorong gagasan dan langkah untuk mambangun nilai-nilai kebermanfaatan bagi dirinya dan juga orang lain. Dalam niat yang ke-dua ini, tanggungjawab sosial akan membawanya pada inisiatif memberdayakan untuk mendatangkan kebermanfaatan luas serta menghindarkan diri dari skap eksploitatif yang abai dengan persoalan-persoalan kemausiaan dan alam sekitarnya. Ini lah contoh bagaimana niat sangat mempengaruhi fikiran dan juga tindakan.

Niat berwirausaha biasanya sangat bergantung pada pandangan wirausahawan tersebut tentang “hidup”. Ketika hidup dimaknai sebagai kesempatan untuk menikmati semua hal yang diinginkan, maka berwirausaha akan dijadikan sarana untuk mewujudkan semua keinginan itu. Ketika hidup dimaknai sebagai kesempatan membangun kemandirian dan juga  memperluas makna diri bagi lainnya, maka wirausahawan itu pun akan menjadikan “usaha” sebagai sarana untuk mencapainya.

Oleh karena itu, mulailah berwirausaha dari “niat” yang terdefenisi sehingga tertemukan sumber energi untuk bergerak. 


D. Ketidakpastian dan resiko Dalam Berwirausaha
Tidak ada yang pasti dalam dunia ini kecuali kematian yang akan menjemput setiap yang bernyawa, itupun tidak ada yang tahu kapan datangnya. Lihatlah tragedi PHK diperusahaan swasta, pernahkah hal ini terbayang saat pertama kali orang tersebut menjadi karyawan di perusahaan itu?. Lihat  pula  di lingkungan PNS, tak jarang terjadi pemecatan ketika melakukan satu kesalahan fatal.  Petani pun tidak pernah bisa memastikan berapa panen yang akan dihasilkan dari aksi tanam yang dilakukan saat ini. Demikian pula dunia wirausaha, hari ini mungkin sukses, tetapi besok bisa jadi tidak segembira hari ini. Tidak ada satu pun dari para wirausahawan yang tahu pasti berapa yang akan didapat esok atau lusa dari investasi yang dilakukan hari ini. Semua memerlukan keyakinan dan optimisme bahwa kebahagiaan selalu berpeluang untuk digapai. Tentu saja hal itu memerlukan upaya keras dan cerdas, sebab kesuksesan sesungguhnya sebentuk hadiah bagi yang mau berproses untuk kesuksesan itu sendiri. 


Demikian pula dengan resiko, tidak ada yang tidak beresiko  di dunia ini. Orang berjalan atau berlari saja berpeluang untuk jatuh bila menginjak lobang, naik kendaraan pun bisa jatuh baik karena dirinya tidak hati-hati atau bahkan pengendara lain yang tidak hati-hati sehingga menabrak kendaraannya walau mungkin saat itu sedang dalam kecepatan rendah. Saat Tidur pun bisa jatuh dari kasur. Jadi, semuanya memiliki resiko. Oleh karena itu, yang bisa dilakukan manusia adalah memompa keyakinan dan semangatnya untuk terus bergerak dan memberdayakan akalnya  untuk terhindar dari resiko yang mungkin mewarnainya. 


E.  3 (Tiga) Mentalitas Dalam Berwirausaha
Ketidakpastian dalam usaha menjadikan “faktor mentalitas” menjadi sangat penting. Ditinjau dari tahapan sebuah bisnis, ada 3 (tiga) tahapan yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan, yaitu :
1.      Mentalitas Memulai. Berani memulai merupakan awal berjalannya sebuah usaha. Adanya keyakinan tinggi atas potensi yang sangat mungkin dimobilisasi menuntut keberanian untuk mengambil keputusan”memulai”. Keberanian memulai ini tentu harus diikuti kesiapan atas segala resiko yang mungkin muncul. Oleh karena itu, disarankan untuk memulai dari hal sederhana, sehingga keterbentukan mentalitas berlangsung secara bertahap dan berkesimabungan.      
2.      Mentalitas Berproses. Bisnis memerlukan proses dimana diperlukan kesabaran dan keuletan dalam menjalankan detail dari bisnis itu sendiri. Masing-masing jenis bisnis tentu melalui proses yang berbeda-beda sesuai karakter bisnis yang dijalankan. Hanya saja, pada jenis bisnis apapun tetap men-syaratkan kesabaran dalam menjalaninya. Oleh karena itu, tahapan-tahapan yang dilalui sebaiknya dimaknai juga sebagai tahapan pembentukan mental dalam berwirausaha.  
3.      Mentalitas Atas Hasil Akhir. Hasil akhir dari sebuah bisnis adalah surplus (untung) atau minus (rugi). Kalaupun ada istilah impas  tapi sangat jarang terjadi. Pada titik manapun hasil akhir dari sebuah usaha, semuanya membutuhkan  mental.  Saat merugi, seorang wirausahawan tidak boleh berputus asa dan bahkan harus membangun pemaknaan yang menyemangati untuk terus melangkah. Sementara saat untung, seorang wirausahawan harus tetap waspada sebab bisa saja hari esok tak segembira hari ini. Sebagai sebuah catatan, banyak orang yang memiliki mental kuat dalam berjuang tetapi tidak memiliki mental sukses. Artinya, kesuksesan membuatnya terjebak pada lupa diri dan kehilangan konsentrasi. 

Ketiga mental ini harus  melekat pada setiap wirausahawan agar berpeluang besar mencapai kesuksesan sebagaimana cita-cita awalnya.


F.  Tuhan Dalam Berwirausaha
memasukkan sub bahasan ini bukan karena kesempurnaan iman, tetapi sebagai pengingat bagi penulis dan juga segenap calon wirausaha sukses di seminar ini bahwa masih ada kekuatan diluar kehebatan manusia. Sebagimana dijelaskan di sub bahasan sebelumnya bahwa dunia wirausaha itu penuh ketidakpastian dan juga ditekankan bahwa kepastian itu terletak pada ketidakpastian itu sendiri. Hal ini menjelaskan bahwa ada faktor  lain yang mempengaruhi kesuksesan disamping mobilisasi keyakinan, semangat , mental dan optimalisasi gagasan dan akal manusia, yaitu keterlibatan dan keberpihakan Tuhan.  Peran Tuhan dalam mendukung setiap gagasan, melipatgandakan hasil, menghindarkan dari gangguan  dan bahkan meniadakan hasil yang sudah di capai, menjadikan semua yang dilakukan manusia hanyalah sebatas “usaha”. 

Oleh karena itu, bagi mereka yang meyakini Tuhan dalam hidupnya, seyogyanya dalam menjalankan usaha tidak pernah melepaskan diri dari nilai-nilai ketuhanan, mulai dari bergagasan, mengambil keputusan, menjalankannya dan juga pada sesi memaknai hasil akhirnya.  Namun, mungkin hal ini tidak berlaku bagi wirausahawan yang masih terlalu percaya diri dan berpandangan bahwa kesuksesan   semata-mata hasil kecerdasan akal dan upaya hebat manusia.  

Adalah setiap kelahiran membawa rezeki yang takarannya hanya Tuhan yang berketetapan , tetapi “niat dan usaha” manusia dalam meraihnya menjadi faktor penentu apakah rezeki itu bisa diraih atau tidak dan dalam jumlah yang kurang atau cukup dan atau bahkan lebih. Dengn kata lain, setiap manusia harus selalu berusaha mengoptimalkan segala potensi, bakat, waktu dan energi untuk ketercapaian cita-citanya. Sebab pada dasarnya, usaha manusia  adalah tiket untuk pantas melantunkan “do’a” dihadapan Tuhan. Usaha juga sebagai “pemantas” bagi setiap manusia untuk mendapati dan menikmati apa yang disebut “rezeki”.  


Yang menarik dari kedua pandangan itu adalah sebuah tanya tentang “”peluang” keterlibatan Tuhan di dalamnya dalam arti “daya dukung”.  Dalam hal ini, ketika di dalam usaha yang dijalankan ada niat memberdayakan atau membangun kemanfaatan banyak orang, sepertinya akan lebih berpeluang mendapatkan keberpihakan Tuhan  sebab didalamnya terdapat semangat  yang tidak hanya untuk membahagiakan diri sendiri tetapi juga melekat keinginan kuat untuk membahagiakan lainnya. Bahkan, persoalan-persoalan yang tengah membelit orang-orang yang ingin dibahagiakan menjadi sumber energi untuk mengembangkan gagasan yang lebih besar lagi. Apalagi, setiap lelah dipandang sang wirausahawan sebagai media untuk meningkatkan kemuliaan dimata Tuhan-nya, maka energi seolah tak pernah habis untuk berfikir maupun melangkah.

Untuk mendalami paragraf diatas, cobalah melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain dan kemudian deteksi perasaan anda saat melihat senyum bahagia orang yang anda tolong itu. Andai anda lakukan itu berulang-ulang maka anda akan berulang-ulang pula berada diperasaan yang luar biasa itu. Sebaliknya, ingatlah saat anda pernah melakukan kesalahan yang membuat anda selalu berada dalam perasaan berdosa,  tanpa disadari konsentrasi anda tersedot untuk perasaan bersalah itu dan akibatnya anda tidak optimal untuk memikirkan hal lainnya. Perasaan bersalah sesungguhnya lahir dari kesadaran horizontal (baca: sosial) dan juga kesadaran vertikal (baca: nilai-nilai ketuhanan). Oleh karena itu, ketika anda senantiasa berada pada kesadaran sosial yang tinggi dan dibarengi dengan kesadaran vertikal yang terjaga, maka konsentrasi anda akan selalu “full” dalam melakukan sesuatu, termasuk dalam menjalankan profesi “wirausaha”.  Kesadaran sosial dan vertikal tersebut selanjutnya membimbing anda untuk bergagasan atau mengembangkan ide dan juga menjalankan ragam langkah sebagai upaya untuk mewujudkannya.

Nalar pada paragfaf sebelumnya mengggambarkan secara jelas hubungan kuat antara  ber-Tuhan dan berwirausaha. Mempercayai niat baik akan selalu berujung baik akan terus terjaga walau serangkaian hambatan mewarnai perjalanan. Bahkan saat merugi pun tidak akan menyebabkan untuk berbalik arah, tetapi terdorong  melakukan auto koreksi untuk menemukan hal apa yang harus diperbaiki dilangkah berikutnya. Keyakinan  kuat akan keterwujudan mimpi lewat keberpihakan Tuhan, akan membuat sang wirausahawan selalu ber-energi dalam menata tahapan-tahapan proses menuju keberhasilan. Tak ada kata “putus asa” sebab hal itu bertentangan dengan kalam Tuhan. Apapun hasil akhir selalu dimaknai sebagai sesuatu yang terbaik baginya menurut Tuhan.  Disamping itu, Sang wirusahawan akan selalu mencari hikmah atas setiap dinamika perjalanan usaha yang sedang ditekuninya. 

 
G. Sejenak Menilik Konsepsi Koperasi.
Dari tinjauan Filosopi perjuangannya, koperasi merupakan kumpulan otonom dari orang-orang yang bergabung dengan sukarela. Bergabungnya mereka ke dalam koperasi minimal didasarkan pada 2 (dua) hal, yaitu : (i) kesadaran mereka bahwa tidak mungkin segala sesuatunya bisa dilakukan senndirian dan; (ii) keyakinan mereka bahwa bersatu dalam koperasi adalah salah satu jalan bagi akselerasi keterbangunan diri dan cita-cita mereka dalam arti luas. Untuk maksud itu, segenap unsur organisasi koperasi menyelengggarakan agenda penyatuan potensi sumber daya yang diikuti dengan perumusan aktivitas yang akan mendatangkan kemanfaatan bagi segenap anggotanya. Jadi,  apapun aktivitas yang dijalankan koperasi harus merujuk pada nilai-nilai kebermanfaatan bagi segenap anggotanya. Oleh karena itu, aspirasi mayoritas merupakan guidence terbaik dalam mengambil keputusan aktivitas. Hal ini untuk menjamin “rasa keterwakilan terhadap keputusan” dari setiap orang yang ada dalam koperasi.  Demikian seterusnya hingga  koperasi tersebut secara bertahap dan berkesinambungan membentuk kemanfaatan yang terus tumbuh dan berkembang serta membahagiakan anggota.

Pengelolaan kebersamaan menjadi kunci penting untuk tujuan tersebut. Adanya pemahaman bahwa koperasi adalah kumpulan orang yang memiliki latar belakang dan karakter berbeda-beda serta ragam pemikiran, akan menggiring pada kesadaran akan perlunya  aplikasi pola pengelolaan kebersamaan yang mengakomodir perbedaan-perbedaan tersebut. Peran edukasi/pendidikan pun menjadi sangat urgent dalam menyatukan persepsi dan merasionalkan ekspektasi (harapan). Disamping itu, edukasi juga merupakan alat efektif  bagi berjalannya fungsi pemberdayaan dalam koperasi dimana tujuan dicapai melalui “peran optimal  dari semua unsur yang ada sesuai tugas dan tanggungjawabnya masing. Jadi, hakekat pendidikan di koperasi adalah untuk membangun kualitas orang-orang yang ada di dalam koperasi itu sendiri. Sebagai sebuah catatan penting, hanya dari anggota terdidik akan lahir minimal hal-hal sebagai berikut; (i) terbentuknya aspirasi cerdas dari anggota; (ii)  lahir nya sikap-sikap  pembelaan terhadap koperasi dan; (iii) munculnya kesadaran setiap orang untuk mengembangkan kemanfaatan koperasi bagi dirinya dan juga bagi sesama anggota dalam koridor iklim demokrasi yang senantiasa terjaga . Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan merupakan muasal keterbangunan koperasi, baik secara kelembagaan maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Sebagai wujud dari keberhasilan pendidikan tersebut, maka keterwakilan kepentingan mayoritas anggota selalu melekat pada setiap aktivitas yang dijalankan perusahaan koperasi. Dengan demikian, setiap anggota bisa mendefenisikan kepentingannya dalam setiap aktivitas yang dijalankan koperasi.   Hal ini pula yang menjadi inspirasi bagi anggota untuk mau mengembangkan kesadaran untuk berpartisipasi dalam menjaga dan sekaligus membesarkan perusahaan.  


H. Relevansi Koperasi dan Wirausaha
Sebagaimana dijelaskan di sub bahasan sebelumnya, koperasi merupakan kumpulan orang untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi ekonomi, sosial dan budaya melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis. Merujuk pada hal tersebut, maka perusahaan koperasi memiliki keunikan dimana dinamika aspirasi anggota sangat menentukan jenis aktivitas yang dijalankan dan juga pola pengelolaannya.

Backgound dan motif  masing-masing anggota tentu akan mempengaruhi aspirasi yang berkembang. Sebagai contoh, ketika koperasi beranggotakan mayoritas petani, maka kemungkinan aspirasi yang berkembang mengarah pada aktivitas  perusahaan koperasi tidak jauh dari dunia pertanian seperti penyelenggaraan saprodi (sarana produksi) mulai dari benih, pupuk dan hasil panen. Demikian pula tatkala koperasi dihuni oleh para wirausahawan, maka aspirasi yang berkembang kemungkinan besar mengarah pada aktivitas perusahaan koperasi yang berhubungan erat dengan profesi mereka. Contohnya, bila anggota koperasi adalah para wirausahwan yang bergerak di bidang produksi kerajinan, maka aktivitas koperasi bisa berupa  kegiatan pemasaran  hasil-hasil kerajinan angotanya.  Disamping itu, koperasi juga bisa memerankan diri sebagai penjamin likuiditas bagi usaha-usaha anggota agar bisa memenuhi permintaan pasar. Support manajemen dan teknologi adalah hal lain yang juga mungkin bisa dikerjakan oleh koperasi, sehingga kualitas dan pengelolaan usaha anggota akan menjadi lebih baik.

Intinya, apapun yang akan dikerjakan oleh perusahaan koperasi harus me-refresentasikan kebutuhan dan aspirasi mayoritas anggotanya. Disamping itu, dalam merumuskan aktivitasnya, koperasi harus memperhatikan dan tunduk terhadap azas subsidiary. Artinya, apa-apa yang bisa dikerjakan anggota sebaiknya tidak dikerjakan koperasi dan sebaliknya, apa-apa yang tidak bisa dikerjakan oleh anggota secara pribadi maka hal itulah yang harus dikerjakan oleh koperasi. Azas subsidiary ini merupakan kode etik sehingga tidak akan terjadi persaingan antara perusahaan koperasi dengan anggotanya sendiri. Disamping itu,  hal ini juga menekankan peran perusahaan koperasi sebagai “mesin penjawab” atas hal-hal yang dibutuhkan oleh para anggotanya.

Nalar diatas menunjukkan bahwa koperasi sangat mungkin memainkan peran sebagai organisasi pencetak wirausahawan tangguh. Akumulasi penyatuan potensi sumber daya akan membuat koperasi memiliki kemampuan untuk mengayomi dan mendorong laju usaha-usaha yang dijalankan anggotanya.  Dalam logika yang demikian, maka koperasi akan mewujud sebagai lembaga pemberdayaan produktif dalam arti luas.    


I.  Penghujung
Berwirausaha adalah sebuah kemuliaan, sebab memilih menjadi wirausaha tidak hanya akan melahirkan kemandirian pelakunya saja tetapi juga berpeluang menciptakan  lapangan kerja dan implikasi positif lainnya. Sementara itu, koperasi adalah wadah yang sangat potensial bagi para wirausahawan untuk meng-akselerasi pertumbuhan usaha yang dijalankannya.  Melalui penyatuan ragam potensi dari segenap anggotanya, koperasi akan memiliki kemampuan mengatasi persoalan atau hambatan yang dialami oleh anggotanya dalam menjalankan usahanya, mulai dari permodalan, persoalan pengelolaan, pemasaran dan lain sebagainya.  

Demikian tulisan sederhana ini disampaikan, semoga mendatangkan lompatan semangat untuk menekuni wirausaha dan sekaligus peningkatan gairah untuk menumbuhkembangkan koperasi. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

  



Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved