APA HEBATNYA SICH BERBUAT BAIK?

Rabu, 15 Oktober 20140 komentar

A. PROLOG
Tulisan ini merupakan bagian dari ikut menyemangati "gairah berbagi" yang sudah terbangun dan menjadi "roh" perjuangan komunitas yang bernama "Zona Bombong". Dalam 2 (dua) tahun terakhir ini, mereka terus menebarkan virus semangat berbagi dalam berbagi bentuk seperti membagi-bagi nasi bungkus gratis setiap pagi yang di beri tajuk program "pagi yang dahsyat", membagi-bagikan Alqur'an gratis dan banyak program lain yang kesemuanya dalam alur semangat yang sama, yaitu "berbagi". 

Secara obyektif, penulis menilai kelompok ini sangat inspiratif, apalagi digawangi anak-anak muda yang kebanyakan berprofesi sebagai pengusaha. Mereka sedang getol mencari nalar dan belajar meng-imani bahwa "budaya berbagi" memiliki relevansi kuat dengan pertumbuhan usaha. Pertumbuhan yang dimaksud bukan hanya memperkaya diri si pengusaha, tetapi juga bermakna sebgai perluasan kebermaknaan diri bagi banyak orang melalui jalannya perusahaan. Minimal, kian berkembang perusahaan kian banyak pula orang yang berkesempatan hidup di dalamnya.


Oleh karena itu, sebagaimana tulisan terdahulu disampaikan di zona bombong lihat : http://www.arsadcorner.com/2014/10/belajar-bersama-mendalami-kesalehan.html), atas keinginan memperluas hikmah dan makna,  tulisan sederhana ini juga di upload dalam blog ini. Sebagai catatan penting, tulisan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu saya mohon maaf bila terdapat kekeliruan. Juga, mohon berkenan untuk menanyakan kepada yang lebih ahli seperti guru agama atau kyai, bila ada keraguan di dalamnya.

B. TULISAN MATERI VERSI MS-WORD



APA HEBATNYA BERBUAT BAIK?


Suatu ketika, seorang karyawan cleaning service berpenghasilan tetap bertanya, “Kalau Allah SWT menjanjikan lipat ganda atas rezeki yang dibagi, bagaimana mungkin saya dapat pelipatgandaan karena jelas-jelas gaji saya setiap bulan adalah sama sebagaimana ditetapkan oleh perusahaan tempat saya bekerja?”.

Sang pencerah (SP) senyum sejenak sambil memandangi si penanya. Beberapa menit kemudian SP berkata;” Saudaraku, sebiji zarroh kebaikan pasti berbalas kebaikan dari Allah SWT”. Berbagi adalah bagian dari amal baik yang didalamnya banyak makna. Mungkin saja kita berbagi hanya Rp 5.000,oo, tapi bisa jadi bagi si penerima hal itu bermakna lanjutan kehidupan sebab saat itu dia sedang berperang dengan rasa lapar. Mungkin kita hanya berbagi darah dengan ikut donor darah, tetapi bagi orang yang sedang sakit dan membutuhkan, hal itu bermakna nyawa kehidupan. Oleh karena itu, berbagilah apapun yang bisa engkau bagi untuk kemuliaan dipandangan Allah SWT dan biarlah rupa balasan yang engkau dapatkan sepenuhnya menjadi urusan Allah SWT. Satu hal lagi yang menjadi catatan bahwa pelipatan ni’mat oleh Allah itu bisa datang dari sudut, waktu dan bentuk yang tidak diduga-duga sama sekali. Tidak melulu akan berbuah uang saat kita berbagi uang, tetapi bisa juga berupa terhindarnya dari sakit atau kecelakaan, dikaruniai anak2 yang cerdas, dipermudahnya segala urusan, dijauhkannya dari segala kesulitan yang biasanya membuat hidup begitu berat dan lain sebagainya. Artinya, berbagi adalah bagian dari cara kita agar  disayang dan di perhatikan Allah. Bila kita peduli, maka Allah lebih peduli lagi. Bila kita suka mengatasi kesulitan orang lain, maka Allah akan mempemudah urusan kita. Bila kita seneng membantu orang lain, maka Allah akan senantiasa membantu kita. Oleh karena itu, jika engkau ingin di perhatikan atau senantiasa dijaga Allah, maka berbuat baiklah dengan apa yang engkau bisa disetiap kesempatan. Kalau engkau punya harta, berbagilah dengan hartamu. Kalau engkau punya tenaga, berbagilah dengan tenagamu. Kalau engkau punya ilmu, berbagilah dengan ilmu. Kalau engkau hanya punya senyum, berbagilah dengan senyum. Kalau engkau hanya punya waktu, maka berbagilah dengan waktu. Intinya, lakukanlah segala kebaikan karena keinginan untuk mulia dimata Allah dan bukan dikarenakan ingin hebat atau mulia dimata manusia”.

Dikesempatan lain, SP mengatakan:  bahwa sesungguhnya manusia lah yang butuh untuk berbuat baik kepada manusia lainnya. Oleh karena itu, seharusnya yang memberi itu berterima kasih pada yang menerima”. Kenapa demikian?.

Rasakanlah betapa damainya hati ketika bisa berbagi. Rasakanlah betapa indahnya berkesempatan membantu dan membuat orang lain senyum dalam bentuk  apapun . Itu sebuah kesempatan dan kepercayaan yang diberikan oleh Allah.  Oleh karena itu, latihkanlah sensitivitas atas apa yang dilihat dan didengar, sebab selalu  ada hikmah yang terkandung didalamnya. Mungkin, banyak orang berfikir kalau memberi sedekah pada pengemis di lampu merah adalah tidak mendidik dan bahkan  melanggengkan kemiskinan itu sendiri. Tetapi, terfikirkan kah kalau satu dari mereka memang sedang dalam kesulitan luar biasa untuk sekedar hidup?.

Sebuah kisah nyata di  perjalanan seorang murid saat mengantarkan gurunya pulang ke rumah. Saat itu, sang murid memilih abai dan tidak merespon seorang pengemis yang mendekati kendarannya saat berhenti dilampu merah. Saat lampu hijau dan kemudian kendaraan bergerak maju, sang Guru bertanya alasan apa yang membuat sang murid abai dengan si pengemis. Dengan tegas sang murid mengatakan bahwa memberi uang kepada pengemis itu tidak mendidik. Sang Guru diam sejenak dan kemudian meminta sang murid untuk memutar balik arah kendaraan dan meminta   berhenti dilampu merah yang sama. Saat pengemis yang sama datang kembali, sang guru memberi 2 (dua) pilihan kepada muridnya yaitu; (i) memberi  uang seikhlasnya pada si pengemis itu atau; (ii)  bawa pengemis itu pulang ke rumahmu, penuhi semua kebutuhannya dan didik sampai dia malu untuk mengemis lagi di jalanan. Terhenyak sang murid mendengar 2 (dua) pilihan yang diberikan sang guru. Akhirnya, dia  memilih memberikan uang kepada pengemis dan kemudian menjalankan kendaraannya saat lampu hijau menyala. Sang guru hanya tersenyum melihat tindakan muridnya.

Ada kalimat yang sangat menginspirasi dari Sang Guru. “Kalau memang engkau pengen mendidiknya, maka bawalah dia ke rumahmu, penuhi segala kebutuhannya dan kemudian didiklah  sampai dia melihat bahwa ada banyak hal yang lebih baik untuk dilakukan ketimbang menjadi pengemis” .

Mungkin layak untuk direnungkan, sebenarnya saat berbagi saat bersamaan kita mendidik diri sendiri, yaitu; (i) mendidik kita untuk lebih bersyukur sebab tidak harus mengemis seperti dia; (ii) mendidik kita untuk lebih peduli karena diluar sana ternyata masih banyak yang hidupnya belum beruntung; (iii) mendidik kita untuk terus mengembangkan kapasitas diri  agar kemudian tidak menjadi beban bagi orang lain; (iv) dan lain sebagainya. Oleh karena itu, jangan sampai tergoda untuk menghardik pengemis, sebab tanpa disadari bisa jadi sikap, mental dan tindakan kita juga tidak beda layaknya seorang pengemis dalam menjalankan profesi kita sehari-hari. M

Sementara itu, mengingat adanya ganjaran dari Allah SWT atas setiap perbuatan baik, maka sesungguhnya berbagi adalah jembatan untuk bertemu ganjaran. Atas dasar itu, bukankah seharusnya yang berbagi berterima kasih kepada yang mau menerima?. Sebab atas keikhlasan mereka menerima, jembatan untuk bertemu ganjaran Allah yang lebih besar menjadi terbentuk. Kalau begitu adanya, sangat tidak layak berfikir bahwa berbuat baik itu hebat, kalau hakekat berbuat baik adalah bagian dari cara manusia mendapatkan kebaikan yang lebih banyak dari Sang Khalik. Tidak tepat pula untuk memandang rendah si penerima karena keadaannya yang sedang lemah. Hal ini perlu ditandaskan agar terhidar dari perasaan riya saat melakukan kebaikan. Hal ini juga sekaligus pengingat bahwa berbuat baik hendaklah dimaksudkan hanya untuk kemuliaan dimata Allah SWT, sebab mulia di mata Allah adalah media mendekatkan pada ragam rahmat, taufik dan hidayah dari Allah SWT.   

Sebagai pengingat bagi kita semua, sebagaimana Dalam Q.S. Al Baqarah :261 dijelaskan bahwa : Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah  adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Kalau demikian adanya, bukankah sebuah kerugian kalau dalam bersedekan manusia masih berhitung-hitung berapa yang harus dibagi?. Mungkin peduli dan membiasakan berbagi memerlukan latihan dan memulainya dari kecil dan meningkat secara bertahap. Semoga ayat tersebut berfungsi sebagai percepatan dalam jumlah berbagi. Amin Ya Robbal ‘Alamin.....

Semoga tulisan sederhana ini bisa menginspirasi energi untuk menumbuhkembangkan kepedulian dan kebiasaan berbagi dalam bentuk apapun untuk meningkatkan kemuliaan di pandangan Allah SWT . Mohon maaf bila terdapat kekeliruan dalam pemaknaan yang semata-mata dikarenakan keterbatasan pengetahuan penulis.



Terinspirasi dari diskusi dengan sahabat
disepanjang perjalanan pulang
dari Jakarta menuju Purwokerto

 C. TULISAN MATERI VERSI JPEG








Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved