KEWIRAUSAHAAN : SEPUCUK SURAT UNTUK PARA SAHABAT DI STAIN PURWOKERTO

Selasa, 24 September 20130 komentar


SEPUCUK SURAT
UNTUK PARA SAHABAT ISTIMEWA DI STAIN PURWOKERTO

 Assalamu ‘Alaikum Wr Wb...

Sahabat Peserta Seminar Yang di Rahmati Allah..
Sepemahaman saya yang masih sedang belajar, apapun yang terjadi didunia ini adalah atas izin Allah. Hal ini menginspirasi tanya “hikmah apa” yang akan kita dapatkan ketika  dipertemukan dalam seminar kali ini. Saya berharap semoga mendatangkan kebaikan bagi kita semua dan juga menjadi momentum terbangunnya pembacaan “wirausaha adalah salah satu ladang ibadah yang menarik untuk ditekuni”.


Sahabat-sahabatku...
Manusia dikarunia Allah SWT akal, fikiran, energi dan waktu serta bentangan alam luas berikut isinya. Semua itu merupakan  modal penting bagi setiap orang dalam mengintrepretasikan “ibadah”, yang merupakan  tujuan keterciptaan manusia. Oleh karena itu, menjadi menarik mengajak  belajar bersama” untuk melakukan segala sesuatu  sebagai ibadah dan juga bagian dari cara untuk berkesempatan masuk ke dalam sorga di Yaumil Akhir nanti.  Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Sahabat-sahabatku....
Secara statistik, tak banyak yang berkesempatan mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi, sehingga keberadaan anda  merupakan sebuah capaian luar biasa yang wajib di syukuri. Rasa syukur yang dimaksud tidak hanya bentuk penghambaan  pada Sang Khalik, tetapi juga merupakan tiket  strategis  untuk melipatkgandakan  nikmat itu sendiri . Oleh karena itu, wujudkanlah rasa syukur  itu bukan hanya dalam konteks vertikal saja, tetapi juga  dalam konteks horizontal dalam dimensi kehidupan keseharian.

Sahabatku-sahabatku calon ilmuwan...
kampus adalah tempat berkumpulnya orang-orang cerdas dan juga gudang ilmu pengetahuan. Artinya, anda adalah sebagian dari sedikit orang yang terpilih untuk berada ditempat istimewa bernama kampus. Saya berharap kesempatan emas ini tidak hanya akan mencerdaskan diri anda sendiri, tetapi juga media pengumpulan bekal dalam memperluas kebermanfaatan diri bagi lingkungan.  

Sahabat-sahabatku....

Didunia ini manusia tergolong 2 (dua), yaitu manusia yang bisa diajak berfikir dan manusia yang harus difikirkan. Keberadaanmu di lingkungan kampus mengindikasikan bahwa dirimu adalah kelompok yang bisa diajak berfikir dan memikirkan orang lain.  Semoga, apa-apa yang engkau dapatkan selama di kampus, menginspirasi  untuk tidak menjadi makhluk egois, tetapi mendorongmu menjadi insan yang memiliki kesalehan sosial lewat ketauladanan tindakan dan ragam kepedulian yang nyata. Inilah salah satu bentuk syukur   atas kesempatan emas menjadi barisan sebuah kampus. Oleh karena itu, kecerdasan dan  ilmu pengetahuan  yang akan anda dapatkan di kampus sepatutnya  dimaknai sebagai titipan Tuhan yang juga bermakna “pesan”, yaitu menyebarluaskannya dalam bentuk lisan maupun ketauladanan tindakan.



Sahabat-sahabatku...

Para alim ulama sering menyampaikan bahwa Islam adalah rahmatallil ‘alamin yang bermakna bahwa islam membawa kebaikan bagi seluruh isi alam. Adalah sebuah tantangan bagi kita semua membentuk fakta-fakta nyata bahwa islam benar-benar sebagai rahmat bagi setiap orang di dunia ini dan bahkan tidak terbatas hanya pada orang islam saja. Sebagai insan muslim/muslimah, selayaknya mengambil tanggungjawab moral untuk membenarkan kalimat tersebut ke dalam ragam tindakan yang mempertegas  kebenaran ajaran Islam yang mendamaikan dan  mensejahterakan. Oleh karena itu, adalah sesuatu yang sangat menarik menarik untuk bisa menemukan pemahaman yang tepat bagaimana keimanan memiliki relevansi kuat dengan keselamatan dan kesejahteraan. Ter-ide untuk memandang  dunia dan akhirat sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan, sehingga saat kita berbuat untuk dunia disaat yang sama kita sedang berbuat untuk akhirat. Mungkin hal ini hanya bisa diwujudkan ketika segala sesuatu yang kita lakukan semata-mata karena ibadah kepada Allah SWT.  Ketika hal ini mewujud, maka “ketenangan bathin” akan membawa kita di “konsentrasi penuh” sehingga berkemampuan membentuk kreasi-kreasi yang tidak hanya bermakna bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang-orang sekitar.

Sahabat-sahabatku calon entrepreneur...
Ketika kita membicarakan wirausaha, sesungguhnya tak lepas dari persoalan keimanan. Setiap dari kita tidak pernah bisa melihat Allah, tetapi bisa meyakini dan merasakan hadir Nya di hidup kita. Kita selalu menunaikan sholat 5(lima) waktu, berpuasa, zakat, sodaqoh dan bahkan bangun tengah malam saat sebagian orang masih terlelap hanya untuk mendirikan sholat tahajjud. Semua itu karena kita meng-Imani bahwa Allah adalah tempat kita bersandar
dalam menjalani hidup di dunia ini.  Itulah gambaran betapa Iman telah mempengaruhi seluruh hidup seseorang. Demikian halnya ketika anda berwirausaha, memerlukan keyakinan yang kuat sebab anda sesungguhnya mempercayai yang belum anda lihat. Tahukah anda akan mendapat untung atau bahkan merugi esok hari saat meng-investasikan tabungan anda hari ini ke dalam sebuah bisnis sebesar Rp 5 juta?.

Itulah sebabnya berwirausaha atau berniaga memerlukan keyakinan yang cukup. Anda harus membangun fikiran positif bahwa segala sesuatu yang dilandasi niat baik akan menemukan jalannya walau tak jarang harus berliku. Keyakinan dan niat tersebut harus anda jadikan bekal untuk membentuk semangat yang tidak pernah padam. Oleh karena itu, mungkin tidak berlebihan ketika sebagian entrepreneur (pengusaha) mendefenisikan; “ wirausaha itu 99% adalah persoalan keyakinan, niat dan semangat dan 1% adalah persoalan  teknis”. Defenisi ini berpandangan bahwa “keyakinan, niat dan semangat”adalah yang membuat seseorang terus melangkah dan tak pernah berhenti. “keyakinan, niat dan semangat” pula yang
membuat orang tidak mengenal lelah di medan juang untuk mengejar mimpinya. Dengan kata lain, “keyakinan, niat dan semangat” menjadi faktor penting lahirnya ragam karya di dunia ini.  Oleh karena itu, ketika anda mau memasuki dunia kewirausahaan, teruslah mengembangkan “keyakinan, niat dan semangat “secara terus menerus. Bangunlah pakem-pakem penyemangat yang membuat  senantiasa berenergi dalam mewujudkan apa-apa  yang di impikan.



Sahabat-sahabatku.....
Ketika anda bertekad untuk menekuni wirausaha, mulailah dengan kata “siapa”. Hal ini sebagai penegasan siapa yang menjadi target akan anda untuk layani. Ingat, berwirausaha adalah melayani dan membuat bahagia orang lain melalui apa-apa yang di sajikan/ditawarkan. Oleh karena itu, penentuan “siapa” merupakan awal segala sesuatunya dalam anda bergelut dengan kewirausahaan. Selanjutnya, anda merumuskan “apa”, dalam arti apa yang akan anda tawarkan. Ada satu pesan bijak;”jual lah apa
yang dibutuhkan, bukan menjual apa yang anda punyai”. Pesan ini bermakna bahwa menjual apa yang dibutuhkan lebih berpeluang di respon positif  oleh calon konsumen anda. Sebagai contoh sedikit radikal; mungkinkah calon konsumen yang kebetulan mahasiswa STAIN akan merespon penwaran ragam bando dan jepit rambut?”

Sebagai catatan, dalam proses menentukan “apa” memerlukan “instuisi yang tajam” sehingga apa yang anda tawarkan betul-betul  skala prioritas dari kebutuhan calon konsumen. Bicarainstuisi tajam”, setiap orang  berpeluang memilikinya,  ketika melatihnya secara terus menerus. Untuk mendukung pendapat tersebut, berikut ini  dijabarkan kebiasaan-kebiasaan yang mungkin bisa menginspirasi:
a.       pisau tumpul kalau di asah akan tajam, tetapi pisau tajam akan tumpul bila tidak pernah di asah.
b.       Setiap anda berhadapan dengan HP jenis baru, pasti anda memerlukan sedikit waktu untuk bisa mengoperasikan keypad nya. Pada saat jemari anda sudah canggih, anda pun bisa mengetik dengan lancar dan  bahkan ada yang bisa mengetik tanpa perlu mengetiknya. Lebih gila lagi, ada yang bisa membalas SMS sambil mengendarai sepeda motor atau mobil.
c.       Ketika anda belajar bahasa inggris atau bahasa arab, pasti awalnya kosa kata anda sangat terbatas. Tetapi ketika anda selalu menghafalkan vocabulary dari setiap apa yang anda lihat, dengar dan rasakan maka pada kurun waktu tertentu anda akan lancar berbahasa arab dan bahasa inggris.
d.       dan lain sebagainya.
Beberapa contoh diatas menunjukkan bahwa semua berawal dari tidak bisa dan tidak biasa, tetapi setelah belajar secara terus menerus dan membiasakan diri, pada akhirnya akan menjadi lihai. Demikian pula ketika anda mengasah instuisi wirausaha anda secara terus menerus, maka waktu akan membentuk ketajaman instuisi tersebut. 

Sahabat-sahabatku.......
Setelah anda sudah menjawab “siapa” dan menemukan “apa”, saatnya berfikir bagaimana, kapan dan dimana. Saatnya anda segera memulainya segera, sebab berangan-angan saja tak pernah mewujudkan karya. Mulailah dari hal kecil, sebab segala sesuatu memerlukan tahapan yang akan membentuk akar-akar yang kuat. Pernahkan anda dapati tanaman berbuah dalam satu hari?. Semua memerlukan proses, kesabaran dan ketekunan. Oleh karena itu, seorang wirausahawan harus bisa menikmati setiap dinamika diketerpelihaan semangat untuk terus melangkah. Saat merugi menghinggapi, pandanglah bahwa mungkin esok akan untung. Pada saat hari ini untung besar, ingatlah bahwa esok hari kemungkinan akan rugi. Dengan demikian, seorang wirausahawan selalu dalam keadaan waspada.




Sahabat-sahabatku calon entrepreneur brilian....
Seorang entrepreneur harus punya mimpi setinggi langit, tetapi melangkah harus tetap mem-bumi. Langkah-langkah kecil dan konsisten akan membentuk lingkar usaha yang kian membesar. Oleh karena itu, Bila anda ingin menjadi seorang entrepreneur, jangan pernah mengedepankan apa yang tidak anda punyai atau tidak bisa anda lakukan. Mulailah dari yang anda bisa dan optimalkan segala sesuatu yang anda punyai. Jangan pernah berfikir bahwa anda tidak punya “modal”, sebab akal, fikiran, waktu, tenaga dan bentangan bumi adalah serangkaian modal penting yang bisa dimobilisasi menjadi satu aktivitas produktif.  Untuk itu, berkontemplasi-lah di bentangan sajadah untuk menemukan ide dan mintakan ridho Tuhan atas apa yang anda rencanakan dan akan lakukan. Jangan lupa, niatkanlah semuanya sebagai sebuah ibadah yang akan mempertinggi nilai diri dipandangan Sang Pencipta. 

Sahabat-sahabatku calon entrepreneur sukses.....
Berwirausaha memerlukan mental yang cukup. Seorang wirausahawan harus berani memulai dengan segala resiko yang mungkin mengikutinya, seorang wirausahawan harus siap mental berproses serumit apapun itu dan bahkan seorang wirausahawan juga harus siap sukses. Fakta lapangan menunjukan banyak wirausahawan memiliki mental yang bagus dalam memulai dan berproses, tetapi tidak memiliki “mental berhasil”. Akibatnya, keberhasilan justru merusak hidupnya dan tak jarang membawanya kembali ke titik nol dan bahkan minus. Oleh karena itu, kesiapan mental  menjadi hal mutlak dipelukan sebagai pendamping keyakinan, niat, semangat dan langkah dalam berwirausaha .    

Sahabat-sahabatku...
Allah SWT seperti prasangka hamba-Nya. Fakta menunjukkan bahwa seringkali kita berprasangka “akan berhasil dan sukses” dan kemudian belum terbukti. Apakah kemudian anda berkesimpulan bahwa Allah SWT telah berdusta pada diri anda?. Ataukah engkau melakukan “auto koreksi dan berfikir bahwa ada hal yang kurang tepat dalam caramu berupaya” sehingga prasangkamu tidak diikuti oleh Allah SWT?. Kalimat ini sesungguhnya mengingatkan diri kita semua bahwa ada relevansi yang kuat antara keberhasilan dan kedekatan dengan Allah SWT. Artinya, ketika engkau berjalan di lingkar kalam Allah SWT, maka akan memudahkanmu  dalam menjalankan perniagaan. Nalarnya sangat sederhana; ketika kita dekat dengan Allah SWT, maka kita akan merasa lebih tenang, lebih konsentrasi dan lebih berenergi sehingga peluang  berhasil menjadi lebih terbuka. Sementara itu, saat kita ber-jarak dengan Sang Pencipta, perasaan-perasaan bersalah atau berdosa menggerus konsentrasi dan membuyarkan energi dalam setiap langkah.  

Sebagai penyemangat tambahan, Allah SWT mengatakan bahwa; “takkan berubah nasib sebuah kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya”. Artinya, Allah SWT mempersilahkan kita melakukan perubahan dalam hidup. Dalam konteks usaha manusia, Allah SWT berposisi me-ridhoi atau tidak dan melipatgandakan hasil atau tidak. Untuk itu, tidak ada alasan bagi siapapun memilih diam dan tak bergerak, sebab hal itu sama saja berdoa tetapi tak berusaha.  Optimis-lah dalam melangkah karena setiap kelahiran didunia ini pasti membawa rezeki, kecuali anda tak melakukan apa-apa untuk datangnya rezeki itu di hidup anda.   

Sahabat-sahabatku yang di cintai Allah SWT...
sebagai penghujung bernuansa bahan perenungan, sempatkanlah sejenak melihat keluar pagar  dan meresapi apa-apa  yang engkau saksikan.  Anda melihat betapa hidup begitu beragam. Sebagian ada yang hidup dalam kemakmuran dan mungkin bahkan berlebih, namun tidak sedikit pula yang masih bergelut dengan kemiskinan. Dengarkan pula  apa yang dikeluhkan mereka  yang mendefenisikan diri “kurang beruntung” didalam hidupnya, semua perkataannya mewakili perasaan frustrasi dan kebuntuan jalan dalam meraih apa yang mereka defenisikan sebagai “cita-cita” dan “kebahagiaan”. Disisi lain, sebagian kecil dari yang kebetulan kaya raya menunjukkan kedigdayaannya. Mereka telah menempatkan “kekayaan” untuk senantiasa merasa lebih hebat dari orang lain dan  juga menjadikan “kekayaan” itu sebagai sumber  mempertinggi status sosialnya. Sikap-sikap semacam itu semakin mempertegas rasa rendah diri dan tekanan psichologi yang dialami si miskin. Itu kenyataan hidup yang hampir kita dapati  dikeseharian. Tertarikkah anda memandang ini sebagai bentuk pesan Tuhan?. Tergodakah engkau melihat semua itu  sebagai peluang ibadah yang luas bagimu?. Untuk itu, wujudkan syukurmu dalam bentuk meningkatkan kapasitas diri melalui pengayaan ilmu pengetahuan dan pengalaman, sehingga engkau bisa mengurai realitas itu dan melakukan pelurusan-pelurusan atas apa-apa yang dinilai sebagai  pembelokan. Teringat satu kalimat bahwa “kefakiran sangat dengan kekafiran”, semoga jiwa kewirausahaan yang terbangun pada setiap diri kita akan membawa pada kemandirian ekonomi dan sekaligus kesalehan sosial yang mensejahterakan lingkungan sekitar.

Adalah betul kewirausahaan adalah aktivitas bernuansa produktivitas dari ragam kreativitas, namun demikian kewirausahaan bukanlah semata-mata persoalan keterkumpulan uang dan keuntungan, melainkan juga menyangkut tentang  bagaimana menterjemahkan karunia akal, fikiran, energi , waktu & kesempatan hidup ke dalam ragam tindakan yang memperluas kebermaknaan diri bagi lingkungan. Bahkan lebih mulia dari itu, kewirausahaan berbasis keimanan dan ke islaman merupakan media syiar strategi tentang kebenaran Islam yang  mensejahterakan dan rahmatan lil “alamin.

Pada akhirnya , marilah kita berfikir bersama mencari jawab atas satu tanya, “adakah relevansi kemiskinan dengan lemahnya pengetahuan dan rendahnya iman?”. Semoga tanya ini  membawa kita lebih ber-energi dan menjadi pribadi yang lebih bijak dalam menjalankan fungsi ke-khalifaan di dunia. Amin Ya Robbal ‘Alamin.



Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved