Menelusur Terkikisnya Penghormatan Anak Kepada Orang Tua

Jumat, 23 November 20120 komentar



Zaman terus akan berubah. Dinamikanya pun perlahan ikut merubah kebiasaan manusianya. Kita lihat bagaimana dulu kalimat orang tua seperti fatwa bagi seorang anak. Kalau orang tua sedang marah pada salah seorang anaknya, maka anak yang lain ikut diam dan mencekam. Didalam diamnya, kemudian para anak melakukan auto koreksi berjama’ah dan berujung saling menasehati, sebab ketika orang tua marah maka  agenda yang sudah di rancang anak lainnya bisa menjadi bubar. Akhirnya, semua anak memilih diam di rumah walau sudah janjian dengan kawan lainnya sebab tidak mungkin berani berpamitan pada ayah dan ibu yang sedang dalam situasi marah, walau hanya marah kepada salah satu dari mereka. Anak-anak dulu pun sangat takut kalau berita kenakalannya di luar sampai ke telinga ayah atau ibunya.  

Zaman tidak hanya merubah pola interaksi dan komunikasi antar orang tua dan anak, tetapi juga  merambah pada hubungan antar anak. Salah satu contoh nyata adalah sikap seorang adik ke kakaknya. Saat ini,   Sang kakak hampir tidak memiliki aura seperti pengganti di saat orang tua pergi sementara atau selamanya. Anak yang lebih tua pun sudah tidak lagi di agungkan oleh sang adik seperti dulu. Mungkin ini pula muasal hilangnya penghormatan pada yang orang lebih tua ketika sang anak ada di luar rumah dan berinteraksi dengan orang lain.

Waktu dan zaman telah berhasil merubah segala sesuatunya. Hubungan orang tua dan anak tidak lagi layaknya raja dan rakyatnya. Sekarang ini, sulit mendapati seorang  anak  merunduk  ketika lewat di depan orang tua, sulit juga mendapatkan anak yang rikuh melewati ruang depan saat orang tuanya asik berbincang dengan tamu. Dalam hal bersalaman pun demikian, anak tidak lagi menempelkan jidatnya di tangan orang tua layaknya memberi rasa hormat tulus dan mendalam, tetapi sering menempelkan pipinya dengan dalih ekspreasi rasa sayang. Anak sekarang pun sudah lebih berani mengemukakan pendapat dan bahkan berseberangan secara nyata dengan fikiran orang tua.

Adakah ini  Keberhasilan kampanye kata “demokrasi”  sehingga  pembacaan menjadi terbalik dimana anak adalah raja yang harus dilayani permintaannya oleh orang tua. Adakah garis tengah yang di defenisikan “kebijakan” adalah ketika anak dan orang tua terkondisi seperti berteman atau bersahabat ??. Adakah zaman ini telah meyakini “komunikasi setara” sebagai cara melahirkan anak brilian???. Masih tanya besar di benakku. Tetapi terfikir untuk mengurai dari mana muasalnya perubahan ini??.

Tertarik menelusur tahapan proses perubahan melalui perkembangan gaya komunikasi dan interaksi antar suami istri. Sebab, jangan-jangan ini “muasal” perubahan di kalangan anak-anak. Sebab banyak teori yang menyebutkan bahwa anak itu meniru dari kebiasaan orang tuanya.

Mencoba mencari testimoni dari  seorang nenek tua jompo beusia 82 tahun seputar hal ini. Beliau mengatakan, “ hubungan suami dan istri saat ini juga sudah mengalami perubahan yang radikal. Dulu suami bagaikan raja dan istri melayani suami atas nama pengabdian dan ibadah. Istri menempatkan suami sebagai pemimpin dan keputusannya adalah hal  sakral yang harus di patuhi nya berikut juga anak-anaknya. Dulu, menjelang jam-jam pulang suami, istri  sudah menyiapkan dan manata makan di meja. Istri menyambut kedatangan suami dengan mencium tangannya penuh rasa hormat. Anak-anak di kondisikan dalam keadaan tersenyum dengan maksud agar lelah sang ayah terobati. Istri kemudian mempersilahkan dan menunggu suami makan dengan khawatir kalau ada hal-hal yang diperlukan saat suami makan. Bahkan ada yang radikal dimana anak-anak dan istri belum berani makan kalau sang ayah belum selesai makan, kecuali sang suami berpesan khusus sedang ada agenda ke luar kota atau agenda khusus lainnya di luar rumah. Istri pun sangat tidak berani menatap sang suami bila sedang marah. Bahkan seperti haram hukumnya ketika suami menyentuh pekerjaan-pekerjaan rumah, seperti menyapu, mencuci piring atau pakaian dan lain sebagainya. Istri pun tidak berani pergi tanpa izin suami”

Setelah menghela nafas sesaat, sang nenek bijak itu melanjutkan, “berbeda dengan sekarang ini, para istri tampak menjadi setara dengan suami. Bahkan tak jarang istri berani mempersalahkan suami dengan lantang dan tatapan tajam. Nilai-nilai penghargaan istri telah meluntur. Dulu istri hanya berani mem-bathin ketika ada hal yang kurang sesuai dengan inginnya. Istri juga sangat hati-hati menyampaikan sesuatu kepada suami. Situasi semacam ini pula yang kemudian mendatangkan rasa tanggungjawab besar pada laki-laki, baik sebagai seorang suami maupun sebagai seorang ayah bagi anak-anaknya. Pada zaman dulu kebanyakan istri di rumah dan jarang sekali bekerja seperti kita dapati saat ini.  Kalau pun bekerja, biasanya hanya untuk membantu suami seperti ke sawah dan ladang. Artinya, sangat jarang para istri berada di luar rumah tanpa di dampingi suaminya. Inilah yang kemudian membuat anak begitu dekat dengan ibunya. Kedekatan itu pula yang kemudian membuat nilia-nilai ajaran orang tua kepada anak begitu magis. Faktor  yang bisa meluluhlantahkan penghormatan itu hanya bila orang tua tidak menunjukkan ketauladanan dan berseberangan dengan apa yang telah diajarkan kepada para anaknya. Hal itupun terbahasakan dalam bahasa sikap yang santun ”, pungkasnya.

Sekejap terhenyak menghayati kalimat yang keluar dari nenek tua ini. Sederhana dan penuh makna, itulah kesan yang didapat. Tergiring ber-hipotesis bahwa pergeseran  pola komunikasi dan interaksi antar suami dan istri sebagai muasal dari bergesernya nilai-nilai apresiasi dan penghormatan anak terhadap orang tuanya. 

Adalah dinamika zaman tak mungkin dibendung, tetapi “perubahan” yang di terima tanpa filter berpotensi membawa pada keterpurukan Ini perlu digali lebih dalam dan dicarikan solusi bijak.  Itu pun kalau memang realitas saat ini dipandang sebagai sebuah masalah dan relevan untuk di khawatirkan. Kesadaran akan pentingnya menjaga nilai-nilai sakral ini tidak hanya untuk meningkatkan pamor orang tua terhadap anak, tetapi juga menyangkut persoalan masa depan bangsa, sebab pada waktunya anak-anak tersebut yang akan mengambil tanggungjawab atas estafet kepemimpinan di negara tercinta ini. 

Adakah getolnya pelaksanaan ESQ adalah sebuah bentuk pengakuan bahwa sesungguhnya hal tersebut adalah bagian dari yang perlu di selesaikan??. Adakah terkedepankan nya isu “pendidikan karakter” juga di inspirasi oleh kesadaran serupa??. Semoga tanya ini menginspirasi hal baik bagi segenap pembaca dan juga bagi penulis yang sedang belajar menterjemahkan sisa kesempatan hidup yang di berikan Tuhan. Amin.

Selamat Berakhir Pekan...sebuah moment stratetgis me-refresh paradigma dan penguatan nilai-nilai keluarga.  
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved