SEKEJAP MENILIK BISNIS ECERAN

Sabtu, 06 Oktober 20120 komentar


Disampaikan pada acara FGD dalam rangka penelitian nasional dengan topik “ Model Pemberdayaan Warung Pengecer dan Toko Tradisional dalam Menghadai Persaingan dengan Mini Market Modern di Kab.Banyums”, dilaksanakan oleh Jurusan Akuntansi, Fak.Ekonomi, UNSOED Purwokerto, 09 Oktober 2012

A. Permulaan


Dari sisi rantai distribusi, bisnis eceran (baca: retail) adalah salah satu tingkatan distribusi yang biasanya berhubungan langsung dengan end user (konsumen). Seiring dengan perjalanan waktu dan derasnya arus modernisasi yang lekat  dengan teknologi, persaingan di tingkat ritail kian tak terbendung. Bagi pelaku binis di jalur ini yang memiliki modal kuat dan jaringan luas, biasanya menjalankan bisnis ini sudah dalam kemasan modern, mulai dari penamaan, performance dan juga pola pelayanan. Kondisi berseberangan kita dapatkan pada pelaku yang memiliki modal pas-pasan, dimana tak tertemukan sentuhan modernisasi dan cenderung apa adanya.  Persaingan sengit dibidang ini pun tak terhindarkan dan korban pun berjatuhan sebagai konsekuensi dari persaingan terbuka.  Masih adakah peluang pedagang eceran kecil  untuk berkiprah????


B. Keberpihakan Regulasi Sebagai Sebuah Kajian



Dalam kontek pembangunan ekonomi berbasis pemberdayaan, peran rakyat menjadi satu bagian yang diharapkan terlihat secara nyata. Atas dasar itu, diperlukan ketersediaan regulasi yang mendorong dan memberi kesempatan seluas-luasnya  bagi rakyat untuk mengambil peran. Keadilan dalam pemberian kesempatan juga bukan berarti harus sama, tetapi juga harus memperhatikan adanya perbedaan tingkat kemampuan di kalangan masyarakat.  Oleh karena itu, proteksi (baca: perlindungan) perlu di ciptakan sehingga pelaku ekonomi kecil mempunyai percaya diri untuk tetap menjalankan bisnisnya.  Jika tidak, pelaku ekonomi hanya akan  tersentralisasi pada kelompok minoritas yang memiliki modal besar dan sumber daya unggul, sementara itu pelaku ekonomi tradisional akan bangkrut atau menjadi karyawan si empunya modal.


C.  Ketika Warung  Pengecer dan  Toko Tradisional Berdarah-darah
Kemajuan zaman adalah realitas yang tidak terelakkan seiring dengan dinamika manusia dalam  berfikir dan menghasilkan ragam karya. Hal ini pun tak luput meramba dunia bisnis, khususnya di sektor perdagangan retail. Berkembangnya retail modern yang menggunakan sistem waralaba, disatu sisi memudahkan para pemilik modal menekuni bisnis ini, namun disisi lain menimbulkan persoalan baru, yaitu ketersisihan para warung pengecer dan tokoh tradisional karena kalah bersaing dari segala aspek.  Manajemen modern, performance yang tertata apik, daya dukung jaringan suply yang luas, pelayanan yang memegang teguh prinsip kepuasan konsumen (customer satisfied), pola pemasara yang terpola secara apik,  melengkapi ragam keunggulan swalayan-swalayan modern yang berdiri megah itu. Akibatnya, pelaku warung eceran dan toko tradisional yang tidak mampu bersaing  akan mati secara perlahan. 




D.  Waralaba Sesungguhnya Bukanlah Tanpa Cela  
Salah satu pelaku bisnis retail yang memilih head to head  (bersaing berhadap-hadapan) dengan toko tradisional adalah toko modern waralaba. Bahkan, akhir-akhir ini mulai tumbuh di pelosok-pelosok desa. Sebagai sebuah catatan, salah satu ciri waralaba adalah memiliki kesamaan modus operasi. Disatu sisi, hal ini sebagai strategi mereka membentuk “brand image”, namun demikian sesungguhnya hal ini bisa menciptakan blunder mengingat masing-masing daerah memiliki karakter masyarakat yang berbeda-beda.

Bicara tentang karakter masyarakat (baca: konsumen), sebenarnya pelaku bisnis lokal lebih faham dan mengenal secara dalam, sehingga lebih berpeluang memiliki keunggulan dalam merumuskan cara menyentuh dan melayani konsumen. Ironisnya, kebanyakan warung pengecer  dan toko tradisional dikelola oleh sumber daya manusia  yang  kurang mahir dalam urusan manajemen, sehingga kelemahan yang ada pada sistem toko modern waralaba tak dipandang  sebagai faktor keunggulan dalam memenangkan persaingan. Disamping itu, toko waralaba juga biasanya menggunakan sistem pengadaan terpusat sehingga  varian (jenis) barang-barang yang dijual mayoritas barang pabrikasi (produksi pabrik) walau beberapa item juga menjual barang-barang non pabrikasi, seperti telor  dan  lain sebagainya. Oleh karena itu, sebenarnya masih ada celah yang bisa dimainkan oleh toko tradisional  seperti lebih memfokuskan untuk menjual barang-barang yang tidak menjadi konsentrasi toko modern. 


E.  Membangun Perbedaan Sebagai Sumber Pertahanan
Berbeda” adalah salah satu taktik  menurunkan tensi persaingan. Berbeda juga sebagai bagian dari cara  membentuk harapan-harapan baru. Hal ini memang memerlukan sedikit kretivitas dan keberania.n, tetapi membiarkan diri berperang di lautan berdarah-darah juga bukan pilihan menarik sebab itu hanya memperkecil peluang untuk bertahan.

Sebagai stimulan, berikut ini dijabarkan 3 (tiga) pengalaman empiris (kisah nyata)  dari beberapa toko di lingkungan Kab. Banyumas:
  1. Mengubah konsentrasi persediaan barang dagangan. Sebuah toko tradisional mengalami penurunan omzet sejak kehadiran sebuah toko modern waralaba disekitarnya. Dia pelajari dengan seksama untuk mendapatkan apa keunggulan dan kelemahan. Setelah melakukan pemetaan, dia kemudian merubah strategi dalam hal persediaan barang dagangan. Di satu sisi dia merubah besaran margin (baca: keuntungan) dari setiap item barang-barang pabrikasi, di sisi lain dia menjual apa yang tidak dijual oleh toko modern waralaba itu. Bahkan, secara radikal persediaan barang dagangan pabrikasi berfungsi hanya menjadi pelengkap saja (bukan sebagai sumber utama keuntungan yang diharapkan). Dengan strategi ini, dia sukses mempertahankan diri dan bahkan semakin berkembang.
  2. Berbelanja Sekaligus Menabung. Seorang pedagang toko tradisional berumur  sekitar 50 tahunan membuat satu terobosan dengan memberikan cash back (pengembalian uang) kepada konsumennya saat lebaran. Setiap kali konsumen (penduduk yang berdomisili tetap di desanya)  selesai membayar transaksinya, dia menegaskan bahwa konsumen itu telah menabungkan sejumlah Rp X  dari total nilai belanjanya. Apa yang terjadi kemudian???. Cerita ini menyebar dari mulut ke mulut dan pada akhirnya  masyarakat di sana berduyun-duyun berbelanja di toko itu. Apalagi ketika lebaran kemarin toko itu membayarkan tabungan setiap konsumen loyalnya, aksi ini mengundang simpati dan membuat pelanggan semakin yakin dan mencintai toko tersebut. Sebuah aksi unik yang terbukti ampuh.
  3. Menjual harga pokok. Ketika seorang pedagang toko tradisional mendengar informasi bahwa 2 (dua) bulan lagi toko modern waralaba akan beroperasi di desanya, pedagang toko tradisional itu memutar otaknya untuk mencari terobosan demi bertahan hidup. Terfikir olehnya menerapkan menjual dengan harga pokok dan menyerahkan kepada konsumen mau kasih keuntungan berapa untuknya. Awalnya, masyarakat sekitar merasa aneh dan menjadi pembicaraan disetiap sudut desa. Seiring berjalannya waktu, akhirnya para konsumen menjadi terbiasa dan bahkan merasa nyaman berbelanja di toko itu. Uniknya, pelanggannya semakin ramai dan tidak terpengaruh dengan beroperasinya toko modern waralaba itu. Strategi ini telah membentuk konsumen loyal secara alamiah. Sebuah tindakan yang layak dihadiahi kata “brilian”.

3 (tiga) contoh “aksi unik” pada cerita diatas menggambarkan kecerdasan dalam mensikapi keadaan. Mereka tidak tergoda untuk merubah toko mereka seperti toko modern waralaba itu, tetapi mereka memilih membentuk perbedaan sehingga terhindar dari persaingan berdarah-darah dan sulit di kendalikan.

F.  Penghujung
Situasi dan kondisi telah menggiring untuk mengatakan bahwa menjalankan usaha adalah tentang kreativitas dan strategi cerdas mensikapi setiap keadaan. Ketangguhan mental dan keterjagaan semangat menjadi kunci untuk bisa bertahan dan berkembang. “Regulasi yang berpihak” adalah sesuatu yang sangat indah bila benar-benar ada, tetapi menggantungkan diri terhadap proteksi (perlindungan) terkadang membuat pedagang justru menjadi manja dan terjebak pada kebiasaan buruk sebentuk “mengeluh”.....KAH????
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved