SEHARUSNYA AKU BISA...

Kamis, 05 April 20120 komentar


Tuhan...di kepenatan dunia yang telah membawaku pada kesesakan bathin, di kepadatan ruang fikir yang sering hampir meluluhlantahkan semangat hidupku, tanpa sengaja kudapatkan sebuah keadaan yang membuatku  gemetar dan tak terkendali. Aku seolah menemukan tetes air di gurun tandus, seperti akumulasi rindu yang membatu dan kemudian runtuh oleh tetesan air berulang dan begitu menyejukkan.

Aku sadar itu bukan kamu, tetapi aku seperti mendapati kamu. Seketika aku menjadi  kehilangan akal sehat. Air mataku tak tertahan dan terus mengalir tanpa bisa kuhentikan. Serasa kamu sedang ada dihadapanku. Semua gerak-gerik itu seolah kamu. Aku kehilangan akal sehat dan terus menangis....


Aku kehilangan kemampuan menahan diri dan kemudian mengambil HP  tuk menyapamu. Dengan harap cemas ku tunggu reaksi  atas salamku, walau di sedikit sisa kesadaranku berharap kamu sudah terlelap sehingga perasaan kacau malam ini tak menemukan sandarannya. Ternyata kamu menyambut baik dan aku begitu bahagia dan kemudian kehilangan kesadaran. Aku tak mampu menyembunyikan keadaanku yang sedang bercucur air mata. Sesaat sempat terbangun kesadaran dan kemudian ku sampaikan maaf telah mengganggu malam mu. Namun sekejap kemudian aku kembali meneruskan kalimat-kalimat penegas keadaanku yang seperti orang sakau dan kehilangan kesadaran. 

Ku dapati jawabmu bernada tak lepas. Ku tahu itu caramu mengendalikan keadaanku dan tetap pada komitmenmu.  Namun, itu tak membangkitkan egoku untuk memilih bergaya bahasa yang sama. Aku semakin menjadi dan jemariku terus menari dan mengungkapkan kejujuran rasa yang sedang membuncah dalam hatiku. Kubangunkan kesadaran dengan mengucapkan terima kasih dan salam penutup. Tetapi jawabmu bernada canda membuatku semakin bersemangat untuk terus membiarkan jemariku mengetik di keypad HP.

Kamu  sepertinya mencoba mengontrol diri dan  keadaan serta menjawab salam penutupku dengan kalimat penutup juga. Ku ucapkan gud nite...cu...have a nice dream...sebagai kalimat penutup dan juga sebagai cara membangun kesadaran dan kekebalan diri. Kubiarkan airmata mengalir sampai menemukan titik lelahnya. Ku bangun kebijakan berfikir dan berempati atas upaya kerasmu dalam membenamkanku dari hati dan ingatanmu. Aku pun tak ingin mendapatimu lagi dalam air mata untuk sebuah tanya yang belum  pernah menemukan jawabnya. 

Aku harus mencintaimu dengan cara menghormati ketetapanmu. Aku tak boleh egois dan memuaskan rasaku tanpa berfikir rasamu. Aku tak boleh berbahagia diatas deritamu. Aku harus bisa membangun ikhlas atas pilihanmu. Malam ini,  aku hanya seperti menemukan mesin penjawab rindu yang telah begitu lama ku pendam sendiri dan tak bertuan. Seharusnya aku tetap bisa mengontrol diri dan menyadari bahwa apa yang sedang kusaksikan bukanlah benar-benar kamu. Aku tak boleh membiarkan diri larut dalam situasi ini dan kemudian melibatkanmu. Aku harus menyelesaikan gejolak rasa ini dengan caraku sendiri. Aku tak boleh memanjakan rasa lagi padamu seperti sedia dulu kala, walau sikap dan pilihanmu tak pernah bisa merubah apalagi membunuh rasa dan cinta ini. Aku telah memilih cara sendiri menjaga dan memelihara cinta ini dan mencoba keras untuk membangun ikhlas atas sikap dan tak kepedulianmu atas akibat dari keputusan itu.  Bahkan, ketidakpedulianmu tak merubah apapun tentangmu dihatiku terdalam....

Air mata ini karena telah menemukan titik lelahnya. Ku gapai tempat tidurku walau mata ini jauh dari ngantuk. Ku rangkai kebijakan berfikir dan  kendali diri. Ku cukupkan malam dengan mengirimkan pesan terakhir padamu..” Aku mohon maaf...seharusnya aku bisa mengendalikan diri...anggap saja aku  tlah melakukan kebodohan malam ini. lupakan saja....Makasih”...kemudian kubiarkan air mataku mengalir lagi....sampai aku terlupa dalam terlelap...

maafkan aku Tuhan...seharusnya aku bisa menguasai keadaan dan mengendalikan diri, karena aku takut menodai caraku sendiri menghargai semua ini.
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved