Menjadikan Purwokerto Sebagai Kota Koperasi

Jumat, 20 April 20120 komentar


di edit oleh : Ariadji,S.Sos

Sejarah mencatat koperasi di negeri tercinta ini bermula di Kota Mendoan, Purwokerto, lebih dari seabad yang silam. Kala itu, gerakan koperasi yang digerakkan energi kolektivitas terbukti mampu menjawab kegetiran hidup masyarakat di tanah ini. Apakah kita akan membiarkan sejarah gemilang ini hanya menjadi kenangan saja?

Sejarah ini menunjukkan bahwa Purwokerto telah memiliki modal sosial itu sejak dulu. Sehingga kini, seharusnya Purwokerto mampu mencipta karya yang jauh lebih besar yang layak ditauladani di bidang koperasi. Karya yang tak hanya sekedar menjawab persoalan lokal melainkan mampu mewujud menjadi inspirasi bagi banyak wilayah sosial pada belahan bumi lainnya dan menjadi suara betapa koperasi adalah kendaraan masa depan yang aman bagi segenap insan sebagaimana dicita-citakan Bung Hatta.

Semangat besar inilah yang kemudian menyatu dalam diskusi pada 26 Februari 2012 bertepatan dengan kunjungan senior International Cooperative Alliance (ICA) ke Purwokerto, yaitu Bruce Thardorson dan Robby Tulus. Itulah hari ketika para aktivis koperasi Purwokerto mengepalkan tangan dan mendeklarasikan “Membangun Purwokerto Sebagai Kota Koperasi”.  Mulai hari itu pula tagline itu menjadi arah perjuangan koperasi di Banyumas tercinta ini.

Tetapi semangat juang menuju Kota Koperasi sesungguhnya bukan hanya persoalan sejarah semata. Tetapi karena keyakinan para pegiat koperasi di kota ini mengenai keluhuran nilai-nilai yang diperjuangkan koperasi yang termaktub dalam ‘jati diri koperasi’. Bedah filosofi para pegiat ini telah sampai pada keyakinan, gerakan koperasi senyatanya mampu melakukan banyak hal dan bukan hanya berkutat pada masalah ekonomi. Koperasi yang berbasis kolektivitas adalah instrumen yang sangat progresif membangun karakter budaya masyarakat menuju masyarakat mandiri dan produktif. Koperasi juga mengajarkan solidaritas sosial sebagai modal utama menghadapi tantangan jaman yang multi dimensi.

Di Purwokerto, gerakan koperasi juga telah mencapai titik yang tak bisa disebut titik biasa. Beragam karya telah lahir di segala penjuru kota ini. Seringnya kunjungan, studi banding dan penelitian mengenai koperasi yang datang ke kota ini dari berbagai belahan kota lain adalah fakta, di sini koperasi bukan hanya berdenyut tapi memiliki arus yang semakin menguat.  Kader-kader koperasi Purwokerto juga menorehkan prestasi dengan mendapatkan penghargaan nasional maupun internasional. Selain itu, para punggawa koperasi di kota ini juga aktif di kepengurusan beberapa organisasi koperasi nasional dan berkali-kali berbicara di forum-forum internasional.

Pada waktu yang sama, ragam manfaat juga telah dirasakan segenap lapisan masyarakat melalui berbagai program inovatif yang digelar koperasi-koperasi. Di Purwokerto, koperasi juga telah menjelma menjadi ikon baru, sebuah entitas yang tak lagi hanya dihuni kelompok masyarakat golongan tua melainkan riuh-rendah kreativitas anak muda yang mewarnai berbagai kegiatan koperasi. Di sini koperasi membangun gerakan peduli, menolong warga tak mampu, membangun budaya baca, gerakan peduli pendidikan, sekolah kewirausahaan bahkan membangun sekolah menulis.

Gerakan koperasi di Banyumas tak hanya bicara ekonomi tetapi sekaligus mengembalikan karakter budaya masyarakat yang penuh kegotong-royongan dan setia kawan. Ini adalah gerakan melawan gelombang konsumerisme dan  hedonisme yang merunyak kehidupan masyarakat saat ini. Ini tentang perjuangan komprehensif  multi dimensi dan sarat tantangan yang luar biasa.

Koreksi bijak”, itulah kalimat  yang tepat menggambarkan langkah awal “Membangun Purwokerto Menjadi Kota Koperasi”. Ini harus dilakukan, mengingat banyak koperasi yang terjebak disatu sisi saja yaitu perjuangan ekonomi. Akibatnya, koperasi terjebak pada wacana pertumbuhan modal dan kehilangan jati dirinya. Bahkan  interaksi antara anggota dan koperasinya telah terjebak pada pada hubungan transaksional semata. Transaksi subyektif yang seharusnya dilandasi rasa kepemilikan perlahan luntur bersamaan praktek koperasi yang kian dekat dengan praktek kapitalis.

Praktik koperasi kapitalistik adalah salahsatu yang membuat gerakan koperasi Purwokerto tidak hanya gerah tapi lantas bergerak. Koperasi harus menjadi lembaga yang mengakar dan mengedepankan kolektivitas (kebersamaan) sebagai cara untuk mencapai tujuan.

Untuk itu, koreksi bijak dipilih sebagai cara mengembalikan koperasi-koperasi ke konsepsinya yang sejati. Purwokerto sedang terus berupaya melakukan perubahan mindset berkoperasi.  Edukasi sosial adalah salah satu prioritasnya. Dilakukan dengan beragam pendekatan, demi mencapai koperasi sebagai gerakan yang mengakar dan besar. Pendidikan yang efektif diyakini akan meng-koreksi pemahaman yang kurang tepat tentang apa, mengapa dan bagaimana seharusnya berkoperasi. Selanjutnya, perubahan cara baca ini akan mempengaruhi langkah-langkah koperasi dalam menjalankan dan mengembangkan ragam aktivitasnya.  Akhirnya, secara bertahap dan berkesinambungan tapi pasti, koperasi akan kembali menjadi “kumpulan orang” dan bukan “kumpulan modal”.

Ketika koperasi sudah dipahami sebagai “kumpulan orang” yang berkomitmen untuk hidup bersama, pada titik inilah koperasi akan menjadi  gerakan sosial (social movement) yang mandiri dan koperasi akan menjadi pahlawan bagi anggota untuk mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Empowering (pemberdayaan) akan mengarah pada terbentuknya spirit dan kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi, sosial dan budaya. Pada situasi ini, dengan basis kegotongroyongan dan kesetiakawanan yang kuat maka segala potensi-potensi yang ada akan mudah untuk dikembangkan, baik perdagangan, jasa dan bahkan industri.

Ini memang tampak utopis, tetapi jika berbagai elemen mulai menyadari indahnya cita-cita ini, semuanya menjadi mungkin dan nyata. Tak ada kata ragu lagi. Pendekatan ketauladanan lewat karya nyata diyakini sebagai media kampanye paling mujarab dalam mensosialisasikan dan mengedukasikan nilai-nilai kebaikan dan kedahsyatan ber-koperasi.

Membangun Purwokerto Menjadi Kota Koperasi” adalah simbol semangat kuat  segenap aktivis lintas generasi yang ada di lingkungan Kabupaten Banyumas. Filosofi yang terkandung dalam konsepsi koperasi dan catatan sejarah gemilang adalah sumber inspirasi untuk mengembangkan energi dan ragam aksi. Membangun koperasi yang mengakar bukanlah sesuatu yang mustahil dan menjadikan koperasi sebagai alat untuk membangunan tatanan perekonomian berdimensi sosial yang berkeadilan bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Koperasi tidak hanya akan membuat hidup masyarakat lebih efisien dan produktif tapi juga menjadi sadar pentingnya kearifan lokal dengan ragam potensi yang ada di wilayahnya sendiri.

Pada akhirnya, “Membangun Purwokerto Sebagai Kota Koperasi” akan linier dengan hakekat tujuan pembangunan, yaitu men-sejahterakan dan mewujudkan masyarakat yang bermartabat  dalam arti sesungguhnya.  Dan meski sebagian telah tersaji, tapi sesungguhnya perjuangan baru dimulai.**

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved