BERHENTI MENGIKUTI “SINETRON KARUNIA”

Selasa, 10 April 20122komentar


Ekspresi Sesaat Atas Ragam Intrik Kotor Yang Dipertontonkan

10% Kebahagian dan 90% Amarah
Aku mungkin orang bodoh dalam urusan sinetron. Aku mungkin terlalu perasa dan mudah larut dalam suasana hingga terlupa kalau itu hanyalah skenario sutradara dan produser. Tetapi mereka memang hebat, bisa membuat seisi rumah menangis dan juga jengkel.

Sebagai pemain utama wanita, Karunia digambarkan sebagai orang yang taat, penyabar, rendah hati dan berpandangan luas. Disisi lain, hadir tokoh utama pria “Arya” yang diperankan sebagai “lelaki ganteng, kaya dan berprofesi sebagai selebritis”  dan pastinya diperebutkan banyak wanita.

Persaingan para wanita dalam memperebutkan Arya pun menyajikan  banyak intrik busuk dan saling menyakiti satu sama lain. Ironisnya, Arya tak memilih satu pun dari sekian wanita cantik yg mengidolakan cintanya itu, malahan Arya cinta mati dan bersusah payah untuk mendapatkan cinta Karunia.


Kebijaksanaan seorang Karunia ditunjukkan lagi saat dia memilih  menunda pertunangannya dengan Arya karena pertunangan itu ternyata menyakiti perasaan adik tirinya yang juga cinta mati pada Arya.  Namun, sedikit kebahagiaan walau tak sempurna didapatkan Arya setelah mengetahui  bahwa perasaan karunia terhadapnya sama kuatnya  dengan yang dirasakannya terhadap karunia, sehingga penundaan itu bisa diterima Arya walau sulit di awalnya. 

Walau terjadi penundaan pertunangan, di jeda kesabaran dan keyakinan Karunia akan akhir sebuah penantian yang indah, dimanfaatkan para pesaingnya untuk memainkan lagi ragam intrik dan saling menyakiti. Satu persatu runtuh oleh intrik dari peran antagonis yang dijalankan Clara, hingga akhirnya hanya menyisakan persaingan Clara dan Karunia.

Pertunangan Arya dan Karunia ahirnya terwujud juga, situasi ini benar-benar menyulut amarah Clara. Praktek-praktek kebusukan Clara kembali berlangsung demi ambisinya mendapatkan cinta Arya. Lagi-lagi Karunia tersakiti walau setiap intrik jahat Clara juga memperkuat  figur karunia sebagai seorang yang penyabar, ikhlas, lugu dan senantiasa berpegang teguh pada positif thinking dan ketakwaan pada Tuhan.

Sementara itu, profesi Arya dan Clara kebetulan sama dan keduanya sedang terlibat dalam project pembuatan film yang mana dalam film itu mereka berperan sebagai sepasang kekasih. Untuk kepentingan kesuksesan film itu, dibuatlah skenario seolah-olah mereka juga adalah pasangan cinta selebritis didunia nyata. Situasi ini dimanfaatkan Clara untuk menggencarkan lagi intrik-intrik mendapatkan cinta Arya dalam arti sesungguhnya. Dalam situasi ini lagi-lagi Karunia tersakiti dan lagi-lagi karunia menunjukkan keluguan dan positif thinking nya demi mendukung karir  tunangannya “Arya”. Trik kotor Clara semakin menjadi-jadi....

Kurang dari satu bulan pernikahannya dengan Karunia, Arya mengalami shock setelah mendengar penjelasan dokter tentang kondisi penyakit jantungnya yang sudah kronis dan harus dioperasi dengan tingkat probabilitas keberhasilan di bawah 50%. Tak ada harapan hidup lagi...itulah kesimpulan Arya terhadap penyakit yang di deritanya.

Arya tidak tega melihat karunia ikut bersedih dan menderita atas penyakitnya, apalagi pernikahan mereka sudah kurang dari satu bulan. Dia memilih berdiam diri dan bungkam tentang penyakit yang di deritanya dan bahkan sebagai bentuk cintanya kepada Karunia, dia memilih untuk membatalkan pernikahannya dengan Karunia. Lagi-lagi Karunia tersakiti...lagi-lagi Karunia dipertontokan sebagai orang yang sabar..lagi-lagi air mata Karunia mengalir....dan diatas semua itu, Karunia tetap dalam tanda tanya besar "ada apa sebenarnya yang terjadi dengan Arya" sehingga membatalkan pernikahan itu.

Mengetahui Arya telah membatalkan pernikahannya dengan Karunia, membuat Clara tersulut lagi semangatnya. Intrik kotor Clara semakin menjadi-jadi...lagi-lagi Karunia tersakiti...lagi-lagi Clara menyakiti. Ini benar-benar menyulut emosi  pemirsa, apa lagi  yang mengidolakan peran yang dimainkan oleh Karunia. Ironisnya, tiap kali intrik kotor yang menyulut emosi penonton, tiap kali pula dimanfaatkan stasiun televisi untuk menyelingi dengan iklan komersial....ini benar-benar membuat lelah bathin.

Opini Pribadi
Disatu sisi, saya berfikir produser dan sutradara berhasil meramu  sinteron “karunia” dengan sangat ciamik. Namun demikian, banyaknya “intrik kotor” yang mengakibatkan “ luka hati dan  bersimbah airmata”  membuat suka dan benci bercampur aduk menjadi satu”. Ironisnya,  kesan  akhir dari pertunjukan satu episode” sering menyisakan amarah pemirsa karena  peran antagonis  Clara yang benar-benar menusuk perasaan permirsa.    

Saya salut dan kagum atas karya sinetron, tetapi  saya memilih untuk berhenti dan untuk tidak mengikuti lagi lanjutan “Sinetron Karunia. Sejujurnya saya mendapat pencerahan dan hiburan 10%, tetapi saat yang sama saya pun  selalu mendapat 90% amarah  hampir disetiap akhir episode.  

Semoga ragam kekejaman yang dimainkan oleh pemeran antagonis tak menginspirasi perulangan di kehidupan nyata para pemirsa, khususnya pencinta setia sinetron “karunia”. Bagaimanapun juga terkadang tontonan menjadi tuntunan bagi sebagian pemirsa yang kadang  lalai mem-filter sesuatu dan langsung menduplikasi apa yang baru saja dia saksikan dilayar televisi.  Bagaimanapun juga, sebuah sinetron tentu memiliki pesan khusus dan hal itu pasti baik.  Namun demikian, eksploitasi kekejaman-kekejaman yang terus berulang  sering menyakitkan perasaan pemirsa yang mendalam.

Diatas semua itu...saya tetap salut dan kagum. Sinetron "KARUNIA" adalah sebuah racikan  brilian dimana para artis berkelas juga ikut bermain dalam mega sinetron ini.
Share this article :

+ komentar + 2 komentar

Anonim
17 April 2012 20.00

melihat isi postingannya... kayane.. bukane berhenti tetapi terus mengikuti deh...hehehe

17 April 2012 21.07

he222....begitu ya??...semoga bener..ha222....thanks atas apresiasinya.

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved