SENTUHAN KEMANUSIAAN NAN INSPIRATIF SANG PERAWAT PASIEN GANGGUAN JIWA (tulisan bagian 02)

Senin, 18 November 20190 komentar

SENTUHAN KEMANUSIAAN NAN INSPIRATIF
SANG PERAWAT PASIEN GANGGUAN JIWA 

lanjutan dari tulisan sebelumnya.....klik disini


Tersimpulkan dipertemuan kedua

Seminggu sesudahnya, kami kembali menyambangi Kota Magelang untuk menjenguk Mbakyu. Kali ini kami mendapati kondisi Mbakyu sudah lebih segar dibanding minggu sebelumnya walau masih memakai bantuan pernafasan. Mbkayu pun sudah bisa merespon walau dengan satu kata atau sekedar anggukan kepala. Sesekali Mbakyu berupaya bangun seolah ingin mengajak kami bercengkrama  seperti kala masih sehat. Saat kami datang, Mbakyu ditemenin oleh seorang wanita muda yang kemudian kami tahu ternyata istri Mas Ipung.

Mendapati satu kasur yang nganggur, aku pun meminta izin petugas yang menjaga mbakyu untuk memanfaatkannya istrahat. Aku harus saving energy agar fit saat nyetir diperjalanan pulang nanti. Mungkin hampir setengah jam aku terlelap di kasur pasien yang nganggur itu karena lelah yang amat sangat. Saat terbangun, aku ke bagian latar ruang perawatan dan bergabung dengan saudara-saudara lainnya yang tengah menikmati suasana sore di lingkungan RSJ yang bersihnya memang luar biasa. Tak lama berselang Mas Ipung pun datang dan seperti biasa menyalami kami satu persatu dengan keramahannya yang khas. Sesudah berbincang khusus dengan Kangmas tentang kondisi terkini dari Mbakyu, Mas Ipung pun ikut bergabung dan duduk di kursi persis sebelahku. Disinilah akhirnya kudapati jawaban atas begitu banyak tanya dikepalaku tentang seorang Mas Ipung.

Awalnya beliau menanyakan seputar aktivitasku dikeseharian. Ku katakan  padanya bahwa aku lebih cocok disebut anak jalanan yang penuh ketidakjelasan. Beliau tersenyum dan kemudian penasaran dengan jawabanky yang rada aneh itu. Pada akhirnya beliau memahami dan sepakat dengan caraku mendefenisikan dan mempersepsikan hal-hal yang kukerjakan setiap harinya. Sesudahnya, giliran aku balik bertanya, Kesempatan inipun kumaksimalkan ke-kepo-an ku tentang segala hal yang dikerjakan dan dilakukan oleh lelaki asli Kota Demak itu dikesehariannya.

Sebelumnya, aku memulainya dengan menyampaikan kesalutan dan kekagumanku dengan cara nya menangani pasien dan juga caranya bersikap kepada keluarga pasien. Kutandaskan bahwa semua yang beliau lakukan melebihi dari defenisiku tentang sebuah pelayanan. Aku pun menyampaikan apresiasi kehebatannya membangun suasana kekeluargaan dengan keluarga pasien. Selanjutnya, aku pun bertanya hal apa yang mendasarinya melakukan hal luar  biasa itu.

ini tentang me-manusiakan manusia dan bermanfaat bagi sesame (migunani tumraping liyan)””, demikian kalimat pertama yang kuperoleh dari insan berbudi pekerti luar biasa ini. “pada alam pun kita diperintahkan Tuhan bijak apalagi kepada manusia, walau sedang mengalami gangguan jiwa sekalipun. Tidak satupun mau mengalami penyakit lupa dan bahkan gangguan jiwa. Setiap manusia pasti ingin hidup normal dan bahagia dunia dan akhirat. Namun sebagian orang mengalami cobaan atau hantaman hidup sehingga depresi dan atau lebih dari itu. Meng-asingkan mereka dari peradaban normal justru semakin membuat perasaan mereka semakin luka dan terpinggirkan. Namun, membiarkan ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat tanpa pengobatan lanjutan dan pengetahuan yang cukup tentang perawatan lanjutan ODGJ dirumah oleh keluarga dan masyarakat juga berpotensi mendatangkan resiko sebab sebagian dari ODGJ sering kali tidak terkendali dan kemudian melakukan hal-hal yang membahayakan orang-orang di sekitarnya. Hal inilah yang kemudian menginspirasi saya untuk mengambil posisi “bersahabat” dengan setiap pasien yang datang ke RSJ ini. Dinamikanya memang cukup rumit, namun saya fahami sebagai tantangan dan juga peluang ibadah. Berprofesi sebagai perawat jiwa di RSJ ini saya  fahami sebagai bagian dari kepercayaan Tuhan kepada saya untuk menjadi bagian dari kehidupan para pasien itu ”. Lanjut beliau dipenjelasan berikutnya.


Saya pun terus mendalami dan kian hari semangat itupun semakin menguat. Rasanya selalu ber-energi untuk melakukan hal terbaik bagi pasien yang tengah mengalami gangguan jiwa. Entah kenapa, keluarga pasien, yang menilai anggota keluarga mereka (baca: sang pasien) masih perlu penanganan lanjutan sesudah selesai berproses di RSJ, banyak yang meminta tolong padanya secara pribadi. Jadi beberapa dari pasien  itu tidak langsung dibawa pulang ke rumahnya usai menjalani perawatan di RSJ, tetapi keluarganya menitipkan ke saya untuk pemulihan lebih lanjut. Rata-rata mereka ingin memastikan bahwa pasien tersebut benar-benar sembuh total dan tidak ada potensi kambuh lagi. Ternyata tidak hanya satu atau dua keluarga pasien yang menitipkan padanya. Hal inilah yang kemudian menjadi inspirasi Mas Ipung untuk mendirikan panti penampungan pasien gangguan jiwa pada tahun 2009 yang dalam perjalanan berikutnya dilembagakan ke dalam satu yayasan bernama “ Yayasan Panti Rehabilitasi Nyaman Jiwo Magelang”.

Satu hal yang layak menjadi catatan adalah siapapun yang datang menitipkan pasien beliau terima dengan tangan terbuka. Beliau tidak pernah membedakan apakah pasien berasal dari golongan kaya atau miskin. Oleh karena itu, tidak heran kalau beliau seringkali harus merogoh kocek sendiri untuk sekedar memenuhi operasional panti kala strategi “subsidi silang pembiayaan” tak mampu memenuhi keperluan yang ada. Alasannya sangat logis karena pasien tidak sepenuhnya berasal dari keluarga mampu sehingga tidak memungkinkan dikenakan biaya walau hanya sekedar untuk makan tiga kali sehari. Beliau juga tidak membedakan apakah sang pasien apakah islam atau non-muslim. Bahkan tidak jarang beliau menerima pasien dimana panti lain menolaknya karena alasan tertentu.

semua tindakan heroik itu  dilandasi oleh “semangat kepedulian dan kemanusiaan”. Hal inipun terkonfirmasi dari semua hal yang telah dilakukan oleh Mas Ipung dan juga dirasakan oleh penulis sendiri secara langsung. Jadi, tidak heran kalau kemudian hari-hari beliau selalu disibukkan dengan urusan pasien yang mayoritas tengah mengalami ngangguan jiwa, baik yang masih gejala maupun yang sudah akud. Walau jam kerja sebagai PNS di RSJ hanya 7 sampai 8 jam kerja, namun sesudahnya bukannya beliau manfaatkan untuk istrahat layaknya kebanyakan orang.  Beliau pun langsung melanjutkan aktivitasnya mengurus para pasien di pantinya. Tak jarang beliau baru bisa istrahat menjelang subuh dan kemudian kembali beraktivits di RSJ jam 07.00 pagi. Beliau tidak pernah mengeluh kecuali dengan Tuhan. Sepertinya spirit memanusiakan manusia itu sudah menubuh dalam dirinya. Beliau melakukannya dengan semangat beribadah lewat ilmu yang dimilikinya. Kombinasi antara pendekatan medis dan spritualitas ketuhanan menjadi metode yang di pilih dalam menangani dan merawat setiap penghuni panti.

Tentu bisa dibayangkan betapa rumitnya keseharian Mas Ipung, apalagi yang ditangani adalah orang yang sedang mengalami gangguan jiwa (ODGJ) sehingga memerlukan kesabaran  luar biasa. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan merawat manusia dalam kondisi sehat yang bisa diajak komunikasi 2 (dua) arah.  Jadi, jangan dibayangkan kalau keseharian Panti Nyaman Jiwo  itu selalu tenang layaknya sebuah penginapan atau hotel berbintang. Selalu saja ada yang bertindak aneh dan memerlukan kebijaksanaan dalam penanganannya. Jadi bukan sesuatu yang mengherankan bila mendapati seorang pasien tengah duduk diam dengan tatapan kosong di sudut ruang atau mendapati pasien yang ketawa sendiri tanpa sebab yang jelas di sudut ruang lainnya. Juga tidak perlu panik kalau tiba-tiba mendengar pasien berteriak kencang dan membuat gaduh suasana atau bahkan memekakkan telinga. Bahkan tidak jarang ada pasien yang mengamuk dan kemudian melakukan hal-hal yang un-control. Semua kondisi itu sudah  tidak asing  bagi Mas Ipung beserta 5 (lima) orang staff nya. Semua itu merupakan  menu harian yang sudah menjadi bagian yang meng-akrabi hidup mereka. Bahkan saat ngobrol santai di sore kemarin, Mas Ipung sempat menunjukkan bekas luka dibawah matanya bekas amukan salah satu pasien di panti beberapa hari sebelumnya. “saya sudah mengubur emosi dan berusaha membangun  kesabaran setiap kali berhadapan dengan pasien berikut  macam tingkah lakunya yang sering tidka terduga sama sekali”, ungkap beliau dengan nada rendah.

Namun demikian, semangat Mas Ipungtidak pernah padam dan komitmen menjadi bagian dari pasien gangguan jiwa tidak pernah pudar walau  resiko tak terduga seringkali datang dan bahkan men-cederai fisiknya. Beliau meyakini sepenuhnya bahwa Tuhan Maha penolong dan tidak pernah melewatkan apapun yang diperbuat oleh hamba-Nya. Beliau juga meyakini bahwa segala hal yang dilakukannya atas niat baik akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan diri dan keluarganya, baik di dunia maupun di akhirat. Sepertinya, spiritualitas dan nilai-nilai ketuhanan yang demikian kuat pada diri Mas Ipung ini memang sudah mulai tumbuh dan kembang sejak Mas Ipung mengenyam pendidikan di MI (Madrasah Ibtidaiyah) dan juga MTs (Madrasah Tsanawiyah).  

Melihat seru dan rumitnya dinamika keseharian hidup dan perjuangan Mas Ipung dalam menghadapi pasien gangguan jiwa, tidak berlebihan berkesimpulan bahwa pekerjaan unik itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang istimewa. Tidak cukup sebatas ilmu pengetahuan, tetapi juga memerlukan penjiwaan, kesabaran dan kebijaksanaan diatas rata-rata manusia pada umumnya. Sepertinya Mas Ipung layak dikategorikan sebagai “bukan manusia biasa” yang kebetulan dibekali Tuhan dengan bakat istimewa yang tidak dititipkan pada sembarang orang.

15 (lima) belas tahun Mas Ipung  telah melakukan “pekerjaan aneh” ini dengan penuh kesabaran dan ketekunan walau jauh dari pujian, baik dalam kapasitasnya sebagai PNS maupun sebagai pengasuh Panti Nyaman Jiwo. Beliau telah memilih jalan sunyi yang sepi dari riuh tepuk tangan atau semacam apresiasi duniawi yang justru berpotensi merusak ketulusan niat itu sendiri. Tampaknya beliau menyadari bahwa apa yang dilakukannya tidak menarik bagi sebagian orang, namun keyakinan tentang nilai-nilai ibadah luas yang terkandung di sepanjang prosesnya selalu menjadi sumber tenaga untuk terus melangkah.

Tentu banyak hal keren lainnya yang dilakukan oleh Mas Ipung yang belum tersaji dalam tulisan ini. Namun, pengungkapan sebagian fakta hasil perbincangan ringan dengan beliau di sore itu bisa memberi gambaran tentang profesi unik dan komitmen kemanusiaan yang dijalankannya secara konsisten.   

Semoga penyajian tulisan ini meng-inspirasi energy pembaca untuk lebih bergairah memproduksi kebaikan-kebaikan yang inspiratif walau memulainya dari hal-hal sederhana. Diluar sana pasti masih begitu banyak hal-hal inspiratif nan keren yang belum tertuliskan, semoga tulisan sederhana ini akan menginspirasi gairah pada insan yang berbakat menulis untuk mendokumentasikannya kedalam tulisan inspiratif.      


Magelang, 19 November 2019

sebelum dipublish, tulisan ini terlebih dahulu melalui koreksi langsung dari Mas Ipung dibeberapa bagian. Saat sudah dipublish, penulispun mengabarkan kepada beliau. Subhanallah, respon beliau pun sangat inspiratif sebagaimana disajikan dibawah ini : 

Bismillahirrahmanirrahiim...
Smga informasi yg disarikan oleh om arsyad mjd syiar kebaikan...berguna bg sesama..terutama yg membutuhkan bantuan dlm pengobatan dan perawatan ODGJ dll..

Jauh dr lubuk hati yg paling dlm, selama 15 tahun berkecimpung dlm perawatan ODGJ dan 10 tahun panti berdiri sy menghindari publikasi krn scra pribadi tdk ingin dikenal dan terkenal...bagi sy " Diam dan sunyi dlm pemberitaan adalah utk menjaga marwah Ikhlas dan tulus dlm pelayanan...

Sy menghindari pd pemberitaan diri sy scra pribadi, krn umur manusia terbatas dan kelak ketika sy sudah menua dan tak mungkin lagi berbuat banyak hal,yg  berkembang dan trus bermanfaat adalah yayasan panti rehabilitasi nyaman jiwonya..
Ada penerus2 sy yg tetap peduli dan concern dlm melayani ODGJ

Jazakumullah khairon katsiro






Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved