KETIKA BUNG WAHAB PENSIUN

Kamis, 11 Oktober 20180 komentar


Ketika  Bung Wahab Pensiun

persaudaraan itu hanya dipisahkan oleh kematian”, demikianlah inti dari pesanku kepada salah satu rekan kerja yang memiliki loyalitas tanpa batas dan akan memasuki masa pensiun. Abdul Wahab, begitu nama lengkap-nya. Mungkin semua orang akan bersepakat berkesimpulan bahwa 1000-an orang karyawan/ti di lingkungan kerja-nya dipastikan mengenal pribadi satu ini. Sikap supel, ramah dan bergaul pada semua lapisan telah membuatnya di kenal begitu luas. Dikesehariannya, Beliau juga tidak pernah berhitungan atau milih-milih pekerjaan. Beliau siap ditugaskan di divisi manapun, entah itu Cleaning Service atau tukang Parkir sekalipun. Beliau menjalani  setiap penugasan dengan sepenuh hati, jiwa dan raga. 

Begitu banyak kesan dan pelajaran yang kudapat dari beliau dan tidak mungkin ku tuliskan satu persatu. “Menyapa dengan bahasa arab” selalu dilakukannya setiap kali bertemu atau berpapasan denganku. Pribadi satu ini memang dikenal suka menyelipkan dakwah di setiap pembicaraannya, tak peduli itu dengan pengunjung, konsumen,pejabat, teman sejawat dan lain sebagainya. Juga tidak mengenal tempat, entah itu di parkiran, saat rapat atau di ruang kantor. Tak jarang teman sejawatnya yang jauh lebih muda men-candainya, namun “marah” adalah kata yang jarang didapat dari kebiasaannya. Paling-paling beliau hanya tersenyum tiap kali hal itu berlangsung dan atau berulang.

Dari dirinya, aku menjadi lebih faham makna Demo-Crazy. Sekitar dua belas tahun lalu aku memberikan kebebasan kepada  90-an karyawan Cleaning Service untuk memilih koordinator di mereka. Kukatakan pada semuanya bebas  memilih secara demokratis koordinator yang mereka inginkan. “Bung Wahab” pun terpilih dengan suara mayoritas. Namun demikian, 2 (dua) minggu kemudian beliau di opname karena kelelahan. Setelah mencoba melakukan penelusuran musababnya, ku peroleh infomasi valid kalau Bung Wahab selalu  mengepel, membuang sampah atau mengerjakan taman bila petugas di area tersebut tidak hadir alias absen. Setelah melakukan penelusuran lebih lanjut, tersimpulkan bahwa ternyata mereka memilih Bung Wahab sebagai koordinator karena mudah memberi izin absen dan tidak pernah marah.  Aku pun tersenyum dipenghujung kesimpulan dan kemudian tersadarkan bahwa kualitas ber-demokrasi sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kapasitas orang-orang di dalamnya. Hal ini pun memberiku pelajaran bahwa demokrasi akan berubah menjadi demo-crazy (demo kegila-an) ketika persayaratan demokrasi tidak terpenuhi.   

Pelajaran selanjutnya yang sangat membekas diingatanku adalah kala Bung Wahab harus dioperasi dimana batok kepalanya harus di buka. Kebetulan saat itu aku menunggu diluar ruang operasi. Aku menyaksikan sendiri bagaimana para dokter, anastesi dan segenap yang terlibat begitu antusias untuk mendukung keberhasilan operasi besar itu. Aku melihat semua bergerak atas nurani  dan keikhlasan sebagaimana keseharian Bung Wahab yang  berinteraksi dengan tulus pada semua orang.  Ini menandaskan satu pelajaran bahwa sebuah ketulusan akan berbuah ketulusan pula. Hal ini pun menjadi satu pelajaran yang luar biasa bagi diriku, khususnya tentang keikhlasan dan ketulusan serta keadilan Tuhan.

Tidak berhenti sampai di situ, saat Bung Wahab berangkat haji dan juga umroh, aku mendapati bagaimana begitu banyak orang yang bersimpati terhadapnya. Berposisi sebagai karyawan parkir di lingkungan kerja namun berkesemaptan  berangkat haji merupakan sebuah pelajaran bagi siapapun, termasuk diriku.  Mengetahui hal ini, orang-orang di sekitar lingkungan kerjanya pun menunjukkan apresiasi tinggi dan bahkan sebagian berinisiatif untuk membantu persiapan beliau.  Ada yang mengantarkan untuk periksa kesehatan, ada yang memberikan sedekah sekedar  sangu berangkat ke tanah suci dan lain sebagainya. Kesemuanya merupakan buah ketulusan beliau dalam berinteraksi. lagi-lagi, hal ini pun menandaskan kembali tentang sebuah ketulusan dan keadilan Tuhan.  

16 (enam belas) tahun Bung Wahab sudah mengabdi dilingkungan kerja yang sama denganku dan terhitung mulai 01 Oktober 2018, beliau mulai memasuki  babak baru karena secara resmi pensiun dari tempat kerjaannya.  Tugas-tugas kemasyarakatan sebagai qayyim dan juga pendakwah sudah menanti. Keluasan ilmu agamanya menjadi  modal yang lebih dari cukup untuk melakukan aksi syiar.  Semangatnya yang tidak pernah padam akan memastikan pribadi satu ini tidak pernah berhenti membangun kebaikan-kebaikan baru.

Terima kasih Bung Wahab yang sudah menjadi rekan kerjaku dalam waktu yang cukup lama. Terima kasih untuk pelajaran hidup yang luar biasa sepanjang bersama dalam naungan satu perusahaan. Semoga dirimu senantiasa sehat dan terus bersemangat menebarkan kebaikan-kebaikan dalam usiamu yang sudah tidak muda lagi. Seperti kukatakan pada saat hari terakhirmu ke ruang kerjaku, “perpisahan hanya oleh kematian”. Jadi,  kita memang terdefenisi bukan sebagai rekan kerja lagi secara administatif, tetapi kita tetap bersaudara sampai Sang Khalik mencukupkan masa edar di muka bumi ini. Terima kasih Bung Wahab...

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved