NENEK BERUSIA 63 TAHUN ITU MEMILIH TAK BERHENTI

Kamis, 30 Agustus 20180 komentar

NENEK BERUSIA  63 TAHUN ITU MEMILIH TAK BERHENTI


Desa Sigambal. Sumatera utara, 30-08-2018.  Pagi ini mencoba memanfaatkan waktu menyambangi  satu karya sosial seorang  wanita pensiunan PNS di lingkungan Kementrian Agama. Usai menuntaskan tugas sebagai abdi negara (posisi terakhir sebagaikepala sekolah di Madrasah Ibtidaiyah), berdiam diri menikmati masa tua  bukan hal yang dipilih, tetapi justru berinisiasi membangun sebuah sekolah. 

2007 adalah awal kisah ini bermula. Beliau mulai merintis sekolah setingkat MTs (Masrasah Tsanawiyah (setara dengan
SLTP). Sambutan positif dari suami tercinta dan putera/i nya, keluarga besar dan berbagai pihak melipatgandakan tekad dan semangat beliau untuk memperjuangkannya. Bermodalkan pengalaman panjang di lingkungan pendidikan, koneksitas di lingkungan organisasi Alwasliyah, jejaring keluarga, teman, sahabat dan kerabat, berbagai potensi pun termobilisasi mendudukung gagasan ini sehingga mewujud  dan proses belajar mengajar pun di mulai.

Disamping menyisihkan sebagian uang pribadi, pembangunan sarana prasarana 
dan operasional sekolah tidak lepas dari partisipasi para sukarelawan yang respek dan sangat apresiate atas ide ini.  Satu persatu sarana terbangun berkat hadirnya insan-insan Tuhan yang melihat pembangunan sekolah ini sebagai  ladang kebaikan dan sekaligus tempat strategis mem-berkahkan hidup dan melipatgandakan rezeki melalui aksi sedekah, baik secara rutin maupun temporal. Ada yang bersedekah semen, ada yang nyumbang batu bata, pasir dan juga ada yang  memberikan uang cash langsung. Tidak sampai disitu saja, sebagian dari guru adalah insan-insan yang men-sedekahkan
waktunya untuk mengajar. “kami sangat berterima kasih diberi kesempatan menjadi bagian dari sekolah ini, terasa banyak hal baik, hikmah dan berkah datang ke hidup kami sesudah ikut mendukung proses belajar mengajar di sekolah ini”, ungkap salah satu guru yang ikhlas men-sedekahkan sebagian waktunya saat ber-testimoni.

Sebagai satu catatan, mayoritas muridnya berasal dari anak yatim, piatu dan keluarga yang kurang beruntung dalam hal perekonomian. Oleh karena itu, tak heran kalau kemudian tidak ada jaminan terlunasinya SPP oleh para peserta didik walau hanya Rp 10.000/bulan atau Rp 120.000/tahun. Namun, hal ini sudah disadari oleh sang pendiri (founding mother) sejak awal bendera perjuangan dikibarkan. Konsekuensinya, tentu menjadi kian tak mudah dalam hal operasional. Namun, keyakinan  bahwa Allah SWT akan memberi  jalan keluar atas setiap permasalahan yang muncul  kian menguat  seiring datangnya ragam pertolongan di saat kebuntuan jalan keluar sedang berlangsung.

Suatu ketika, beliau terhenyak saat mendengar testimoni beberapa alumnus nya yang dipecat dari tempat kerjaan karena tidak memiliki ijazah setingkat SLTA. Ternyata beberapa alumnus MTs terpaksa tidak melanjutkan pendidikan ke level SLTA karena persoalan keterbatasan dalam hal  biaya. Kesedihan mendalam atas testimoni mantan anak didiknya ini pun kemudian menjadi inspirasi awal menyelenggarakan Madrasah Aliyah (setara dengan SLTA).

Meng-optimalkan sarana dan pra-sarana yang ada di MTs, penyelanggaraan sekolah Aliyah pun dimulai. Tidak berbeda dengan MTs, peserta didik pada level ini pun mayoritas dari anak yatim, piatu dan kaum lemah secara ekonomi. Oleh karena itu, SPP Rp 70.000/ bulan pun tidak memiliki kepastian akan terlunasi. Apakah hal ini membuat beliau menyerah?. 

Ternyata tidak dan bahkan semakin mempertebal  keyakinan akan hadirnya pertolongan Tuhan di waktu yang tepat.  Keyakinan beliau semacam ini pula yang kemudian membawa Madrasah Aliyah ini berhasil meluluskan angkatan pertamanya sejumlah 37 (tiga puluh tujuh) siswa/i ditahun ajaran kemarin.

Ada satu kisah yang meruntuhkan kemampuan penulis untuk berdiri. Suatu waktu saat jam istrahat, beliau mendapati seorang siswa di pojokan memegang botol berisi air putih namun terlihat begitu lemas. Setelah disambangi, ternyata siswa ini belum sarapan karena tidak ada beras dirumahnya. Beliaupun mengambil selembar uang dan kemudian meminta tolong siswa itu membelikan roti dan kemudian memakan roti bersama-sama sambil bersenda gurau layaknya 2 (dua)  orang berteman akrab. 

Tidak sampai disitu saja perhatian beliau terhadap peserta didik. Beliau juga terus memotivasi siswa/i nya tidak boleh menyerah pada kenyataan hidup atau keterbatasan ekonomi keluarga. Beliau mendorong peserta didik untuk tetap percaya diri, Beliau juga menyarankan kepada siswa/i nya memanfaaatkan waktu sepulang sekolah untuk mengerjakan hal-hal produktif dan menghasilkan, baik untuk sekedar memperoleh jajan, melunasi SPP dan atau bahkan membantu keuangan keluarga. Atas saran ini, sebagian siswa/pun pun bekerja paruh waktu,   ada yang menjadi pencuci piring di rumah makan, bekerja di Bengkel, memetik sayur mayur, menjaga toko dan lain sebagainya. Hal keren terakhir yang berhasil dihimpun penulis adalah ketika beliau dan suaminya memodifikasi sepeda motor vespa menjadi becak untuk difungsikan sebagai kendaraan antar jemput siswa/i yang rumah nya jauh dan orang tuanya tidak memiliki kendaraan. 

Sekolah ini masih akan terus berproses dan tumbuhkembang. Namun,  mewujudnya sekolah ini sangat layak dijadikan sebagai simbol keyakinan kuat dan idealisme tentang kepedulian khususnya dalam hal kualitas generasi.  Tegasnya, Kecintaan terhadap dunia pendidikan dan kepedulian terhadap kualitas generasi telah menjadi inspirasi energi yang seolah tidak pernah habis untuk terus bergerak dan melakukan yang terbaik. 

Sekolah ini juga menjadi bukti nyata bahwa insan-insan yang memiliki frekeunsi yang sama  pada akhirnya akan dipertemukan oleh alam dan Tuhan, sehingga terbangun kolaborasi yang meng-akselerasi mewujudnya niat-niat baik itu. 

Di penghujung kunjungan, penulis mencoba mencari jawab atas kepenasarannya dan mencoba mengorek alasan sesungguhnya yang meng-inspirasi dan mendasari  nenek pemilik 13,6 cucu melakukan semua ini.  “Sebagai pensiunan, mungkin saya tidak bisa memberi uang, tetapi setidaknya saya memeiliki waktu yang cukup menyiapkan satu sekolah tempat membekali siswa/i dengan  ilmu pengetahuan yang akan menjadi bekal hidup mereka di dunia dan akhirat. Apalagi, sebagian besar  yang ber-sekolah disini tergolong siswa/i kurang mampu secara ekonomi, tentu kehadiran sekolah ini akan membangun percaya diri mereka membangun mimpi dan tak kenal menyerah dalam memperjuangkannya”, pungkas beliau penuh semangat dengan mata berkaca-kaca.   



hikmah pulang kampung
                                                                                            diatas Kereta Sribilah perjalanan Rantau Prapat-Medan  
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved