Mem-budayakan Semangat Berqurban Sejak Usia Dini

Selasa, 21 Agustus 20180 komentar


Mem-budayakan Semangat Berqurban Sejak Usia Dini

tulisan ini disusun untuk memenuhi permintaan sebuah majalah sekolah 


Menilik Kemuliaan Bulan  DZulhijjah
Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan istimewa dan dimuliakan Islam. Hal ini bisa dilihat dari ragam tinjaun sejarah mapun sederetan amal ibadah yang dianjurkan untuk diperbanyak, khususnya di 10 (sepuluh) hari pertama.

Dalam tinjauan sejarah, ayat terakhir yang berisi tentang “disempurnakannya agama...Qs. Al Maidah: 3)  turun pada  Bulan Dzulhijjah. Bulan Zulhijjah juga disebut sebagai  Bulan Haji dimana ummat islam dari seluruh penjuru dunia berkumpul melaksanakan rukun Islam yang ke lima, yaitu“melaksanakan haji bagi yang mampu”.  

Sementara itu, ragam ibadah juga dianjurkan untuk diperbanyak pada Bulan Zulhijjah, antara lain dijelaskan berikut ini; (i) di sunnahkan melaksanakan Puasa Arofah bagi  yang tidak sedang melaksanakan haji. Bahkan Allah SWT memberi ganjaran special dimana Puasa Arafah dapat menggugurkan dosa-dosa selama dua tahun, yaitu dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang (HR. An Nasaa’i). Puasanya juga dianjurkan pada tanggal sebelumnya, yaitu tanggal 1 sampai dengan 8 Zulhijjah; (ii) memperbanyak Zikrullah (mengingat Alllah SWT), khususnya memperbanyak takbir, tahlil dan tahmid; (iii) memperbanyak membaca Alqur’an; (iv) memperbanyak sedekah. Bersedekah adalah wujud rasa syukur atas segala nikmat dan juga membangun kesadaran mendalam  bahwa segala sesuatu yang ada bersumber dari Allah SWT. Bersedekah juga merupakan bentuk kerendahan hati yang mewujud dalam semangat berbagi dan berkepedulian terhadap lainnya. Uniknya, bersedekah sesungguhnya bukan mengurangi tetapi justru melipatgandakan; (v) memperbanyak sholat sunnah; (vi) ber-qurban. Disamping sebagai aktivitas religius yang mewujud dalam penyembelihan hewan yang sesuai ketentuan hukum Syari’ah, qurban juga memiliki perspektif menarik lainnnya yang akan dibahas pada sub bahasan berikutnya dari tulisan ini. 

Singkatnya, kemuliaan yang terkadung di Bulan Dzulhijjah merupakan peluang yang terbuka dan begitu baik bagi setiap orang islam untuk meningkatkan kemuliaan dirinya dihadapan Sang Khalik. Dengan demikian, adalah sebuah kerugian besar bila Dzulhijjah tidak dimanfaatkan secara maksimal.    


Membincang Qurban
Secara kasat mata, Qurban merupakan ibadah yang dalam implementasinya berbentuk penyembelihan hewan.   Berkaitan dengan ibadah ini, untuk menghindari kesia-siaan, maka pastikan setiap ber-qurban dilandasi ketaqwaan dan ingin lebih mulia dihadapan Allah SWT. Sikap semacam ini juga sebagai upaya menghindarkan diri dari sikap sombong dan ria.

Sekilas tentang ber-qurban, Rasulullah SAW menetapkannya  sebagai bagian dari Syariah Islam, syiar dan juga ibadah kepada Allah SWT.  Berdasarkan jumhur ulama,  ber-qurban adalah sunnah muaqqadah dan madzhab Abu Hanifah senetapkannya wajib. Bahkan salah satu hadist  HR Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim mengatakan bahwa “Siapa yang memiliki kelapangan dan tidak berqurban, maka jangan dekati tempat shalat kami”. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka bagi yang memiliki kemampuan, hendaklah memanfaatkan  sebagai hartanya untuk berqurban.

Sementara itu, qurban juga memiliki pemaknaan luas  yang kesemuanya mengarah pada peningkatan kebaikan diri seorang hamba di dunia dan  akhirat,  yang antara lain dijelaskan sebagai berikut:
1.   Qurban  mengingatkan pada pengorbanan Nabi Ibrahim AS atas perintah Allah SWT dimana Beliau meng-ikhlaskan puteranya tersayang untuk disembelih. Apa yang dilakukan Nabi Ibrahim AS sungguh bukanlah perkara mudah.  Disatu sisi  Beliau begitu mencintai dan menyayangi  puteranya Ismail dan disisi lain keimanan dan ketaqwaannya selalu mendorongnya untuk mengikuti setiap perintah Allah SWT. Namun kebesaran Allah SWT hadir saat Nabi Ibrahim AS benar-benar menyembelih puteranya sendiri dimana Allah SWT menukar Ismail dengan seekor domba. Pengorbanan dan pembuktian keimanan  Ibrahim AS kepada Allah SWT pun akhirnya tidak sia-sia. Kisah ini membuktikan totalitas keimanan dari seorang Nabi Ibrahim AS dimana beliau siap mengorbankan apapun yang di miliki dan di cintai demi menjaga dan mempertahankan keimanannya kepada Allah SWT.
2.   lebih mengenal yang berujung per-erat Ukhwa Islamiyyah. Bertemunya antara orang yang berqurban dengan para penerima daging hewan qurban (biasa disebut mustahik) merupakan pintu masuk bagi peningkatan kuantitas dan kualitas interaksi serta pelajaran dan bekal hidup yang baik di berikutnya. Pertemuan semacam ini  juga akan melahirkan hikmah bagi keduanya yang antara lain dijelaskan singkat berikut ini :
Bagi yang ber-qurban :
a.      Menyaksikan langsung “respon kebahagiaan jujur dari kelompok penerima” efektif mempertebal kesadaran tentang perlunya rasa syukur atas segala kemurahan dan kasih sayang Allah SWT.
b.      Fakta bahwa masih banyaknya orang yang jarang meng-konsumsi daging karena keterbatasan ekonomi, selayaknya menjadi sumber energi untuk lebih ber-kinerja sehingga memperluas kesempatan untuk berbuat baik kepada sesama.   
c.       Pancaran kegembiraan dari para mustahik saat menerima daging qurban merupakan sumber  kebahagiaan, ketentraman bathin, ketenangan jiwa luar biasa dan juga sumber energi tambahan untuk menjadikan aksi berqurban sebagai rutinitas yang membahagiakan.   
d.      Meningkatkan solidaritas, kepedulian dan  kesetiakawanan. Iman yang menebal juga akan menggiring terbangunnya lompatan kemauan untuk senantiasa berbagi kebahagiaan terhadap sesama, baik secara materil maupun im-materil. Pada akhirnya, kesalehan sosial akan terbentuk dan terus tumbuh.
e.      Keterbatasan ekonomi akibat ke belum-beruntungan hidup yang disaksikan pada kelompok penerima hewan qurban akan menjadi inspirasi kepedulian lanjutan yang pada akhirnya saling mendukung dalam memperkuat diri, khususnya dalam hal membangun ekonomi. 
Bagi yang menerima daging hewan qurban
a.      Dipedulikan efektif menekan rasa iri. Aksi kepedulian efektif mengoreksi rasa iri dan menekan berkembangnya persepsi tentang kesombongan orang-orang yang memiliki kemampuan lebih secara ekonomi.   
b.      Meningkatkan kekerabatan dan ukhwa yang tidak didasarkan pada tingkat atau strata  ekonomi, tetapi oleh keinginan kuat mempererat persaudaraan dan persatuan tanpa kelas.
c.       Inspirasi lebih ber-energi dalam berjuang hidup sehingga memiliki kemampuan berposisi sebagai penyembelih qurban di waktu berikutnya.
d.      dan lain sebagainya.

Disamping sebagai media mempertebal keimanan dan ke-islaman serta membentuk kesalehan spiritual,  luasnya kebaikan yang ditimbulkan dari aksi ber-qurban, baik bagi yang berqurban maupun bagi yang menerima qurban, menjadi bahan/referensi  cukup untuk menjadikan “ber-qurban” sebagai bagian dari membangun kesalehan sosial. Artinya, dampak luas yang ditimbulkan dari keikhlasan ber-qurban  ikut membentuk terbangunnya karakter diri  yang berkepedulian dan responsif atas setiap kesusahan atau kesulitan yang sedang menimpa orang lain. Dalam tinjuan lebih makro, terbangunnya kesalehan sosial yang merupakan buah budaya ber-qurban akan menjadi perekat bangsa dan sekaligus menjadi penjaga persatuan dan kesatuan.


Membudayakan Semangat Ber-qurban Sejak dini
Nilai-nilai spiritualitas vertikal dan horizontal dari berqurban  layak menjadi inspirasi untuk mendidikkan semangat berqurban sejak usia dini (baca: dibangku sekolah). Dalam implementasinya perlu di format ke dalam pola edukatif dan motivasional yang berisi kombinasi antara teori dan praktek sehingga semakin meningkatkan pemahaman para peserta didik tentang makna luas ber-qurban. Dengan demikian, akan terbangun dan terpupuk kesalehan spiritual dan juga sosial di kalangan para peserta didik sejak mereka masih duduk di bangku sekolah. 

Terintegrasinya kesalehan spiritual dan sosial akan membentuk pribadi-pribadi  yang luar biasa dan berkemampuan menterjemahkan keimanannya ke dalam tindakan-tindakan keseharian secara bijak. Situasi semacam ini akan membimbing hidupnya senantiasa dalam kebaikan dan kebijaksanaan. Lebih dari itu, dalam diri para peserta didik juga akan terbangun pemahaman bahwa kesejahteraan hidup dan kemampuan berbagi merupakan imbas dari penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, peserta didik akan berkemampuan membuktikan bahwa Islam itu men-sejahterakan di dunia dan menyelematkan di akhirat. 

Menyisihkan Uang Jajan Sebagai Aksi Edukatif  Multi Dampak
Aksi menabung lewat menyisihkan uang jajan menjadi menarik untuk dilatihkan kepada segenap peserta didik.  menyisihkan sebagian uang jajan untuk ber-qurban” merupakan aksi edukatif  yang melatihkan peserta didik untuk menyisihkan hak nya untuk bersenang-senang  untuk keperluan ber-qurban. Kata kunci program ini terletak pada “menyisihkan uang jajan”. Artinya, program “menabung untuk ber-qurban” sesungguhnya bukan tentang uang, tetapi sebagai ajang melatihkan dan membudayakan diri berkepedulian dalam hal berbagi terhadap sesama.

Untuk itu, dukungan terbaik dari orang tua siswa/i bukanlah dengan menambah jajan putera/i nya, tetapi memotivasi putera/i nya agar senantiasa semangat berbagi dalam keadaan apapun, walau harus mengurangi sebagian dari kesenangan pribadi. Dengan demikian, pada saat penyembelihan hewan qurban atau ragam aksi sosial lainnya berlangsung, dalam diri mereka terbangun kebahagiaan yang luar biasa. Mereka pun bisa mendefenisikan ketersediaan hewan qurban itu sebagi prestasi atau hasil kemampuan dan konsistensi kemauan mereka dalam mengurangi jajan setiap harinya. Keberhasilan-keberhasilan semacam ini pun berpotensi mengembangkan imajinasi dan mimpi mereka untuk bisa berbuat baik yang lebih luas lagi, baik karena dorongan keimanannya maupun diinspirasi oleh kepedulian sosialnya yang sudah terbangun. 

Pada akhirnya, Heroisme spiritual semacam ini akan memberi dampak positif yang luas  yang mempengaruhi kualitas pertumbuhan pribadi segenap peserta didik. Mereka akan belajar bahwa diluar sana masih banyak orang yang hidupnya tergolong belum beruntung sehingga memerlukan kerelaan dan kepedulian dari orang lain. Pada diri Mereka pun akan terbangun semangat untuk menjadi pribadi produktif sehingga memiliki peluang yang lebih luas dalam mengembangkan kepedulian. Disisi lain, pada diri segenap peserta didik terbangun kesadaran komprehensif tentang hubungan yang pasti antara keimanan, penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi dan menjadi pribadi produktif.   

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved